
Seorang pria tampak duduk dengan tatapan kosong nya. Dia duduk dikursi roda dengan pakaian rumah sakit yang membungkus tubuh kekarnya. Hampir satu Minggu dia di rawat dirumah sakit tersebut, akibat pukulan sang ayah mertua di beberapa bagian wajah dan perutnya.
"Alan ayo makan dulu, dari kemarin kau tidak makan," ucap Anne sambil menggaduk-aduk bubur didalam mangkuk nya.
Pria itu tak menghiraukan sama sekali ucapan istrinya. Dia terlalu asyik dengan lamunan nya sendiri. Lelaki itu seperti patung hidup yang tak bisa bicara atau merespon ucapan orang lain.
"Alan, sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Anne yang mulai jenggah dengan sikap suaminya.
"Di mana Aerin?" tanya Alan tanpa melihat wanita tersebut.
"Aku tidak tahu," kilah Anne masih asyik menggaduk-aduk mangkuk dan mangkuk nya.
Alan menatap Anne tajam. Dia melihat wanita itu bagai iblis yang harus di lawan. Andai saja dia punya kekuatan dan kekuasaan, dia akan balaskan semua dendam nya pada wanita ini.
"Katakan di mana istriku?" sentak Alan berdiri dari kursi rodanya. "Kau akan merasakan pembalasan ku Anne, jika sampai terjadi sesuatu pada Aerin dan calon bayi ku," ancam Alan menatap ****** wanita yang dia anggap iblis tersebut.
Bukannya takut, Anne malah terlihat santai sambil tersenyum penuh kemenangan. Tujuannya adalah menjadikan Alan miliknya. Tak peduli jika lelaki ini sama sekali tidak mencintai dirinya.
"Apa kau bisa membalas ku Alan?" ledek Anne. "Kau tidak akan bisa melawan ku. Kau tahu, tak hanya Aerin yang akan menjadi korban tapi juga kedua orang tua mu," ucap Anne berdiri seraya menatap suaminya penuh cinta.
Alan tak dapat berkutik, tubuhnya seketika melemah ketika mengingat kedua orang tuanya. Dia masih berharap jika ayah dan ibu nya baik-baik saja walau dia tak yakin. Apalagi Christoper adalah manusia paling jahat yang pernah Alan kenal. Sungguh Alan menyesal pernah menikah dengan Anne. Wanita ini tak lebih dari jelmaan iblis yang mencari mangsa untuk memperluas kerajaan nya.
"Jangan lupakan Alan bahwa nasib hidupmu ada ditanganku. Kau ingin tahu di mana Aerin?" Anne mengelus dada bidang lelaki tersebut. Bagaimana Anne tak tergila-gila pada Alan, lelaki ini benar-benar tampan dan memikat hati.
Alan langsung menatap Anne dengan seluruh wajah merah menyala seperti siap membakar jerami.
"Katakan di mana?" sentak Alan penuh amarah.
__ADS_1
"Hem, kenapa aku harus mengatakan di mana dia? Percuma kau tahu keberadaan nya, kau takkan bisa kembali bersama nya," ucap Anne dengan senyuman mengejek.
Anne tersenyum meledek sang suami. Dia bahagia karena akhirnya menjadi pemenang dalam cerita ini. Dengan kekuasaan yang dia miliki, dia bisa membuat Alan menjadi miliknya hanya dengan jentikan jari. Masalah lelaki ini tak mencintai nya, bagi Anne itu bukan masalah. Yang terpenting, Alan bisa berada disampingnya hingga akhir usia.
"Kau lihat saja nanti Anne, setelah aku memiliki segala nya aku akan membalaskan dendam ku. Aku akan mencari Aerin kembali dan kau takkan bisa menghalangi ku," ucap Alan dengan ekspresi mengeras dan tangannya yang mengepal, pembuluh darah tampan tegang dilehernya menahan amarah dan kebencian.
"Aku menunggu pembalasan mu Alan," jawab Anne dengan enteng nya. Anne mendekati telinga Alan lalu berkata, "Aerin dan bayi mu sudah mati."
Deg
.
.
"Bagaimana?" tanya Agam dengan wajah frustasi nya.
Agam menatap asisten nya tajam dan nyalang, tatapan matanya seperti siap menerkam sang asisten hidup-hidup.
"Jangan katakan sembarangan Yakob, aku yakin Aerin masih hidup," sanggah Agam.
Agam yakin jika adik nya itu masih hidup. Walau kemungkinan itu sangat kecil. Hatinya kembali teriris sakit ketika melihat rekaman CCTV di iPad Yakob. Selama ini Agam tak pernah menyadari jika Aerin adalah adik yang selalu di ceritakan oleh ibu nya sendiri.
Bodohnya lagi, Agam jatuh cinta pada adik tirinya sendiri. Melihat wajah teduh Aerin, seperti menariknya masuk kedalam imajinasi Aerin.
"Maaf Tuan," ucap Yakob menunduk.
"Terus cari keberadaan Aerin sampai ditemukan. Aku yakin jika adikku masih hidup!" titah Agam.
__ADS_1
"Baik Tuan Muda," jawab Yakob.
Agam mengusap wajahnya frustasi, perasaan bersalah dan menyesal menyeruak masuk kedalam dadanya. Dia tak menyangka jika wanita yang dia cintai dan benci itu adalah adik tirinya sendiri. Mengingat wajah Aerin membuat Agam semakin tenggelam dalam perasaan tersebut. Andai saja dia bisa menemukan Aerin lebih cepat, pasti adik nya itu takkan merasakan siksaan seperti ini.
"Baik, kau boleh keluar," usir nya.
"Saya permisi Tuan Muda," pamit Yakob. Agam hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan dari sang asisten.
Agam menyandarkan punggung nya karena lelah. Darah mendesir merangkak naik ke wajah, sehingga membuat wajah nya merah padam. Dia menyesal pernah membenci Aerin. Andai saja dia tahu dari awal jika Aerin adalah adiknya, Agam pasti sudah mengajak wanita itu tinggal bersamanya.
"Maafkan Kakak Aerin," gumam nya.
Lelaki itu menoleh kearah figura diatas mejanya. Entah kapan tepatnya? Dia pun tak tahu, perasaan nya pada Aerin tumbuh begitu saja. Apalagi Agam tahu seberapa apa hidup Aerin, wanita itu selalu di siksa oleh ibu tiri dan kakak tirinya. Agam mengetahui semua kehidupan Aerin tetapi dia tidak tahu bahwa Aerin adalah wanita yang di cari oleh ibu nya selama ini.
"Semoga kau baik-baik saja, Aerin. Kakak jadi akan membawa mu pulang. Kita akan tinggal bersama Ayah dan Bunda. Bunda pasti bahagia menerima mu, apalagi mendengar bahwa kau hamil," ucap Agam terkekeh pelan sambil mengusap wajah Aerin yang terdapat didalam foto tersebut.
Agam sangat menyayangi Ratih sang ibu tiri. Sifat Ratih yang lemah lembut dan tak pernah marah padanya. Apalagi Ratih selalu mendukung apa saja yang Agam lakukan. Agam sudah kehilangan sosok seorang ibu sejak lahir karena dia ditinggal pergi saat masih bayi. Kehadiran Ratih seolah mampu mengobati semua rasa rindu yang menggembang didalam dadanya.
"Kakak baru sadar kalau kau sangat mirip dengan Bunda. Seharusnya Kakak menyadari ini sejak awal," ucap Agam lagi penuh penyesalan.
Bertahun-tahun mengenal Aerin, dia tak bisa mengenali bahwa wanita tersebut adalah perempuan yang selalu dirindukan oleh ibu nya. Agam yang saat itu hanya menganggumi saja tanpa berpikir bahwa dia dan Aerin memiliki ikatan saudara tanpa hubungan darah.
Lama Agam bermonolog sendiri, memikirkan nasib adiknya yang hidup sendirian di luar sana. Agam berharap Aerin baik-baik saja. Apalagi adiknya sedang menggandung.
"Tunggu Kakak Aerin. Kakak berjanji akan menemukan mu. Kita akan hidup bahagia bersama Ayah dan juga Bunda."
Bersambung...
__ADS_1