Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Season 2. Part 04.


__ADS_3

Agam Robson pria berusia 39 tahun. Dia bukan pria muda tetapi pria matajg dengan usia dewasa. Trauma masa lalu karena di tinggal pergi oleh orang yang begitu dia cinta kini masih melekat sepenuhnya di dalam dada.


"Pagi, Ayah. Pagi Bunda," sapanya pada kedua orang itu.


"Pagi juga, Son," balas Robson dan Ratih yang sudah menunggu ajak mereka itu di meja makan.


"Ayo, Son. Sarapan." Ratih mengoleskan roti dengan selai kesukaan Agam.


"Terima kasih, Bunda," balas Agam.


Ketiga sarapan pagi seperti biasa sembari berbincang-bincang hangat. Begitulah kegiatan setiap pagi, sesibuk apapun Agam dia tidak lupa luangkan waktu untuk kedua orang tua nya.


"Son, apa kau tak ingin memiliki keluarga seperti Baby A?" tanya Robson pada putranya itu.


Agam sejenak terdiam dan heran juga mendengar pertanyaan dari sang ayah. Selama ini kedua orang tua nya tak pernah mempermasalahkan dirinya yang tak memiliki pasangan hidup dan belum menikah di usia dewasa.


"Kau sudah cukup dewasa, Son. Carilah pasangan yang bisa menemanimu dalam suka dan duka," ucap Robson menasehati putranya tersebut.


Setelah sarapan Agam berpamitan untuk berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan menuju kantor lelaki itu diam saja. Sembari melamun dengan tatapan kosong. Apa yang ayahnya katakan memang benar seharusnya dia sudah memikirkan kehidupan berumah tangga. Tetapi jujur saja hingga kini dia belum menemukan wanita yang bisa dia ajak bersama dan kerjasama untuk saling mencintai.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Yakob asisten Agam.


"Hem, Yakob apa kau pernah berpikir untuk menikah?" tanya Agam. Asistennya itu juga sudah cukup berumur dan sampai sekarang masih betah dalam kesendirian.


Yakob terdiam sejenak. Lalu menggeleng dengan cepat.


"Saya belum memikirkan hal tersebut, Tuan," jawab Yakob jujur. Dirinya yang terbiasa di sibukkan oleh pekerjaan dan sama sekali belum tertarik untuk menikah.


"Kenapa?" tanya Agam penasaran.


"Tidak apa-apa, hanya saja saya masih ingin menikmati masa muda saya, Tuan," jawab Yakob sambil mengangguk hormat.


Agam manggut-manggut, asistennya itu saja belum memikirkan untuk menikah begitu juga dengan dirinya yang masih ingin menikmati masa mudanya.


"Apa aku terlihat tua, Yakob?" Agam menatap pantulan dirinya di kaca mobil.


Yakob sebenarnya ingin menjawab iya tetapi takut jika Agam mengamuk.


"Anda hanya dewasa, Tuan," kilah Yakob seraya memaksakan senyum. Padahal lain di mulut lain di hati.


"Tidak apa, yang penting aku tampan," sahut Agam tersimpul dan percaya diri. "Aku bahkan lebih tampan dari Alta," celetuknya. Agam terkekeh pelan membayangkan ada Alta di dekatnya pasti saudara tirinya itu akan protes.

__ADS_1


Yakob tersenyum simpul tetapi dalam hati mengatai kepercayaan diri tuan-nya tersebut.


Mobil yang di tumpangi oleh Agam berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit. Saat dia turun, dirinya langsung menjadi pusat perhatian terutama bagi kaum hawa yang masih jomblo. Agam adalah pria tampan kesayangan sejuta umat, wajah tegas dan pemberani dengan tatapan dingin yang terlihat begitu menantang bagi para wanita.


Brak!


Tak sengaja seseorang menabrak punggung belakangnya.


"Aww," rintih gadis tersebut terjerembab di atas lantai.


Semua orang menatap kearah gadis itu termasuk Agam yang berbalik.


"Aw, sakit," jeritnya mengelus pantatnya.


Agam melipat kedua tangannya di dada dan menatap gadis tersebut dengan penuh selidik. Siapa gadis ini? Apa karyawan baru atau karyawan lama? Pasalnya dia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya.


"Apa Anda tidak ingin membantu saya, Tuan?" sindirnya sambil berdiri.


"Kenapa harus aku bantu? Memangnya salahku?" Agam memincingkan matanya dengan senyuman mengejek.


"Dasar tidak punya hati. Tampan-tampan tapi kejam," sindirnya.


"Kau bilang apa?" Agam menatap gadis itu tajam.


"Kau baru sadar aku tampan?" Agam memperbaiki jasnya yang setengah bergeser.


"Iya, Tuan. Soalnya kemarin saya amnesia," jawab gadis itu menampilkan rentetan gigi putihnya.


Agam tak menanggapi dia berjalan saja masuk ke dalam lift dan di ikuti oleh Yakob yang meneteng tas kerja Agam.


"Siapa gadis itu?" tanya Agam.


"Sepertinya dia karyawan marketing yang baru masuk beberapa Minggu lalu, Tuan," jelas Yakob.


"Aku baru melihatnya," ujar Agam lagi sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya.


"Dia beberapa hari tidak masuk, Tuan," jawab Yakob lagi.


.


.

__ADS_1


"Ra, kau benar-benar cari masalah dengan boss sendiri," ucap temannya geleng-geleng kepala.


"Boss?" ulang gadis itu.


"Iya, yang kau tabrak tadi adalah Tuan Agam, CEO dan pemilik perusahaan ini," jelas temannya gemes sendiri karena sikap gadis tersebut.


"CEO?" ulangnya.


Gadis itu duduk dengan tenang di bangkunya.


"Lalu?" Dia melirik temannya.


"Siapa yang berani bermasalah dengannya pasti akan di berikan pelajaran," jelas Dini.


Gadis itu beroh-ria saja dan sama sekali tidak tertarik dengan apa yang di katakan oleh temannya.


"Kau tidak takut?" Dini memincingkan matanya kearah gadis tersebut.


"Takut apa?" keningnya mengerut heran.


"Iya takut, siapa tahu nanti kau di panggil," ucap Dini.


Gadis itu acuh saja sambil menyalakan komputernya. Dia bernafas lega karen terbebas dari anak buah lelaki yang ingin menikahinya. Lelaki tua bangka, perut buncit dan sudah memiliki lima orang istri tetapi masih keukeh ingin menikahinya karena hutang kedua orang tua nya. Untung saja dia memiliki otak cerdas gemerlang sehingga bisa mengakali orang-orang berbadan besar itu.


"Huh, semoga saja mereka tidak menemukanku. Aku harus kabur, tapi kemana? Mau tinggal di kost? Gajian saja belum." Dia baru masuk beberapa Minggu lalu di perusahaan ini dan satu Minggu tidak masuk dengan alasan izin sakit, padahal dia takut karena takut ketahuan.


"Satu-satunya cara supaya itu orang tidak mengejarku adalah cari pacar baru. Tapi siapa yang mau jadi pacarku?" Dia tampak berpikir keras dengan jari yang dia ketukan di ujung pelipisnya. "Kenapa sampai saat ini belum ada laki-laki yang mau sama aku? Padahal aku cantik! Cerdas dan cerdik. Punya banyak ide," serunya bermonolog sendiri.


Teman-temannya yang satu ruangan dengan gadis tersebut hanya geleng-geleng kepala saja saat mendengar celotehannya.


"Cari pacar sewaan saja?" ujarnya. "Tapi siapa?" Dia mendesah pelan.


"Selamat pagi Nona Amora."


Gadis yang tengah asyik berceloteh sendiri itu sontak menoleh kearah lelaki nya.


"Eh, selamat pagi, Tuan." Dia sontak berdiri dan memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.


"Maaf Nona, Anda di panggil Tuan Muda ke ruangannya," ucap Yakob menyampaikan maksud kedatangannya menemui gadis itu.


"Hah? Untuk apa, Tuan?" Perasaan gadis itu mulai ketar-ketir. Dia melirik teman-temannya yang saling berbisik.

__ADS_1


"Anda ikut saya saja, Nona. Nanti juga Anda akan tahu," jawab Yakob tersenyum simpul. Dia juga tidak tahu apa maksud Agam memanggil gadis ini ke ruangannya.


Bersambung....


__ADS_2