
Disebuah ruang persalinan tampak seorang wanita tengah berjuang mengeluarkan bayi dalam kandungannya.
Disampingnya seorang pria yang tidak lain adalah suaminya, dengan setia menemani wanita itu. Sambil menggenggam tangan sang wanita dan sesekali mengecup tangan itu sebagai ciuman tanda cinta kepada wanita itu untuk menyalurkan kekuatan.
"Ayo, Sayang. Kau pasti bisa," ucapnya.
"Bby, sakit," rintih wanita itu.
Meski ini bukan pertama kalinya dia melahirkan tetapi jujur saja dia sedikit takut. Kehamilannya kali ini memang sedikit rewel dan aneh.
"Tahan ya Sayang. Sebentar lagi dedek bayi nya keluar," ucap sang suami. "Wanita hebat," bisiknya.
Wanita itu hanya mengangguk sambil meringgis dan menunggu pembukaan sepuluh. Kenapa lama sekali? Rasanya dia tidak sabar agar bayi dalam perutnya segera keluar. Sakitnya luar biasa. Ahh dia jadi merindukan kedua ibu-nya, perjuangan seorang ibu melahirkan bukanlah sesuatu yang mudah.
"Nyonya, siap-siap untuk mengejan. Ini sudah mau pembukaan sempurna."
Aerin mengangguk saja. Pokoknya yang dia inginkan adalah bayinya segera lahir.
"Aaaaaaaaaaaa."
"Ayo, Nyonya. Sedikit lagi," ucap sang dokter.
"Aaaaaaaaaaaa."
"Ayo Sayang. Semangat," Alan menyemangati wanita itu.
"Bby, sakit," rintihnya. Tanpa sadar wanita itu menangis. Ternyata perjuangan seorang Ibu melahirkan anak-anaknya memang tidaklah mudah.
"Aaaaaaaaaaaa."
"Owe owe owe owe owe," suara tangis bayi itu terdengar menggema.
Sang dokter memberikan bayi tersebut kepada perawat agar segera dibersihkan dan tak lupa memotong pusarnya.
"Nyonya, saya akan menjahit bagian area sensitif Anda. Mungkin ini akan sedikit sakit karena area sensitif Anda kotak cukup lebar," jelas dokter.
Aerin sudah meringgis duluan. Dia merasakan itu ketika kelahiran pertama anak kembarnya dan sekarang dia akan kembali merasakannya.
"Sayang." Alan memeluk Aerin berusaha memberikan kekuatan pada wanita itu. "Semua akan baik-baik saja. Okee. Aku disini," ucap nya mengecup kening wanita itu.
Sekarang Alan juga mengerti bagaimana beratnya perjuangan sang istri melahirkan anak-anaknya. Dia bersyukur Tuhan berikan satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya yang dulu. Alan tak bisa bayangkan bagaimana dulu Aerin melewati masa-masa sulitnya melahirkan anak tanpa suami. Pasti sangat berat.
Mengingat penderitaan Aerin dulu tanpa sadar lelaki itu menangis dalam diam sambil mengecup punggung tangan istrinya, dia berjanji tangan ini akan dia jaga dengan baik hingga akhir hayat.
__ADS_1
Sang dokter menjahit area sensitif Aerin yang koyak cukup lebar. Wanita itu meringgis kesakitan bahkan terdengar bunyi seperti meletup saat jarum-jarum itu dimasukan dan dikeluarkan dari sana. Aerin tak bisa jelaskan betapa sakitnya saat jarum itu menyusul area sensitifnya.
"Selamat Tuan. Nyonya. Bayi anda berjenis kelamin laki-laki," ucap sang dokter memberikan bayi itu pada Alan.
"Terima kasih, Dok," senyum Alan.
Alan menyambut anggota baru di keluarga kecilnya. Lelaki itu menangis terharu melihat wajah kedua anaknya yang tampak imut dan juga menggemaskan meski masih merah.
"Owe owe owe owe."
Alan membisikan doa di telinga munggil bayi itu. Membisikan segala doa dan harapannya untuk kedua anaknya itu. Semoga kelak, kedua anaknya yang baru lahir ini tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berbakti kepada kedua orang tua.
"Sayang, anak kita." Alam meletakkan bayi itu di dada bidang Aerin.
"Bby." Aerin pun menangis bahagia. Berkat Tuhan dalam hidupnya tak bisa Rachel ucapkan dengan kata-kata.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu. Sangat," ucap Alan.
"Aku mencintaimu, Bby. Aku bahagia sekali. Sekarang kita punya lima anak. Semoga kita selalu bahagia ya, Bby," ucap Aerin sambil menepuk-nepuk bayinya. "Sepertinya aku beri dia ASI, Bby. Dia terlihat lapar."
"Iya Sayang."
Aerin memberikan ASI kepada anaknya. Sebentar lagi dia akan dipindahkan kedalam ruangan rawat inap. Ahh Aerin tak sabar melihat ekspresi ke-empat anak kembarnya menyambut kelahiran adik-adik mereka.
"Sudah Sayang." Senyum Alan mengusap kepala Aerin.
"Arkanza Arkin."
.
.
.
Dikediaman Alan tampak orang-orang tengah sibuk mempersiapkan acara mewah untuk menyambut kelahiran anak Alan dan Aerin yang baru saja lahir ke dunia.
Shaka, Zanka, Chana dan Shena menyambut adik mereka gembira. Bahkan ke-empatnya tampak antusias untuk ambil alih membantu persiapan menyambut adik mereka.
Anak-anak Aerin memang terdidik segala segi. Meski dulu mereka tumbuh tanpa seorang ayah. Nyatanya itu tidak mempengaruhi mental mereka sama sekali.
"Mommy, Nana mau gendong dedek Kanza," pintanya.
"Waahh memang bisa?" goda Aerin.
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Sekalang 'kan Nana sudah menjadi kakak. Nana sudah besal," seru gadis kecil itu.
"Ck, katanya sudah besar menyebut huruf R saja masih belum bisa," singgung Zanka
"Zanka," tegur Aerin menggeleng kepalanya sambil tersenyum salut.
"Maaf, Mom." Pria kecil itu langsung kikuk. "Mom biar Zanka yang gendong dedek Kanza," pintanya.
"Sini, Son."
Kedua anak kembar memangku adik mereka dengan senang dan gembira. Sementara Shaka dana Chana sibuk membahas sesuatu dengan Alan. Entah apa pembahasan antara ayah dan anak itu. Keduanya tampak serius.
Para tamu undangan berdatangan. Ada Christoper dan Alta. Robson dan Ratih serta Agam dan Rollies datang bersama Bik Inem. Tampak Yoas dan Yoel sibuk memerintah para pelayan untuk menata makanan. Ada Arkin dan Bella juga tak mau ketinggalan menyambut anggota baru di keluarganya.
"Hai cucu Oma." Bella dan Ratih menciumi bayi itu dengan gemes. "Ampun deh gemes banget," serunya.
"Oma mau gendong?" tanya Shena.
"Wahh boleh Sayang. Sini," ujar Bella.
Alan dan Aerin tersenyum bahagia ketika kelahiran anaknya.
"Sayang ,aku bahagia sekali." Alan memeluk Aerin dari belakang.
"Aku juga bahagia, Bby," senyum Aerin.
"Terima kasih sekali lagi, Sayang." Alan mengecup ujung kepala istrinya.
Acara mewah itu berlangsung dengan meriah. Ucapan selamat juga tak henti-hentinya terucap.
Dan terakhir setelah acara selesai. Semua anggota keluarga mengambil foto bersama, sebagai moment abadi yang mungkin akan dikenang hingga nanti. Semoga kali ini semua hidup bahagia bersama selama-lamanya.
Kebahagiaan kini menyelimuti kehidupan Alan dan Aerin. Tentunya semua itu tidak di dapat dengan mudah. Ada harga yang harus mereka bayar. Butuh waktu hampir 6 tahun untuk keduanya bisa mencapai puncak kebahagiaan. Butuh waktu lama untuk keduanya mereka saling memperjuangkan satu sama lain.
Alan masih tak menyangka jika kini Tuhan memberinya banyak berkat setelah dia merasa takkan pernah bahagia. Menikahi wanita yang tak dia cintai dan hidup dalam kurungan wanita tersebut selama 15 tahun. Dan sekarang dia boleh menerima berkat yang sama sekali tak pernah dia bayangkan.
"Aku mencintaimu seumur hidupku."
"Aku juga Bby. Selama hidupku hanya ingin bersamamu."
Alan mengecup bibir manis sang istri lalu menyesap bibir manis wanita tersebut.
T-A-M-A-T
__ADS_1