
"Kau baik-baik saja?" tanya Alan panik.
"Jangan mendekat," bentak Aerin.
Sungguh Aerin tak mampu mencium bau tubuh Alan yang menurut nya sangat bau. Jangan kan mencium bau tubuh lelaki itu menatap wajah Alan saja membuat perutnya serasa di kocok-kocok.
"Ck, apa maksud mu? Bagaimana bisa aku bau?" protes Alan tidak terima. "Aku wangi dan tampan," ucapny penuh percaya diri.
"Tuan, saya mohon cepat keluar dari sini! Saya benar-benar tidak bisa melihat wajah Anda," mohon Aerin menangkup kedua tangannya didada dan memohon.
"Tapi_"
"Tolong, Tuan," potong Aerin mendorong tubuh lelaki itu keluar dari toilet.
Alan keluar dengan wajah kesalnya. Baru kali ini ada orang yang berani mengusirnya. Seumur hidup dia tidak pernah di usir. Aerin adalah orang pertama yang mengusir nya.
"Sayang, apa yang kau lakukan disini?" tanya Anne menghampiri suaminya.
"Anne, kenapa kau disini?" tanya Alan heran melihat istrinya. Dia tidak takut ketahuan oleh Anne bahwa dia bersama Aerin didalam toilet.
"Harusnya, aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan ditoilet wanita?" tanya Anne penuh selidik. Gerak-gerik Alan seperti menyembunyikan sesuatu dan Anne curiga bahwa Alan sekarang sedang berbohong.
"Bukan urusanmu," ketus Alan kesal. Sebenarnya dia bukan kesal pada Anne, tapi kesal karena di usir oleh Aerin.
"Bukan urusanku?" kening Anne berkerut heran. "Sudahlah, Ayo. Tuan Ru ingin bertemu dengan mu, Sayang!" seru Anne sambil menggandeng tangan Alan dengan manja.
Ingin sekali Alan menepis tangan wanita itu dengan kasar, namun dia tidak bisa karena sekarang mereka sedang menutupi kedok masing-masing. Dia harus bersikap seperti biasa saja.
Alan mengikuti Anne ketika wanita itu menarik tangannya. Sesekali Alan menoleh kearah pintu toilet, wajahnya masih panik meninggalkan Aerin sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada wanita itu? Alan tak bisa bayangkan bagaimana hidupnya jika memang hal yang tak diinginkan terjadi pada Aerin.
Alan tak tahu kenapa dia bisa sepanik itu saat melihat wajah pucat Aerin? Biasanya juga kalau Anne sakit dia biasa saja? Kenapa kali ini terasa berbeda.
"Kau kenapa?" tanya Anne menyelidiki wajah suaminya saat lelaki itu terus menoleh kearah pintu toilet wanita yang masih tertutup.
__ADS_1
Alan tak menjawab dia berjalan mengikuti Anne, mesku pikirannya tak pernah tenang.
Tampak Agam berjalan kearah toilet. Lelaki tampan yang satu ini juga terlihat panik saat Aerin belum kembali dari toilet. Sama seperti Alan dia juga panik, karena memang dari kemarin Aerin Tampa pucat tak seperti biasanya.
"Kenapa Tuan Agam?" tanya Anne yang kebetulan berpapasan dengan Agam ketika dia dan Alan keluar dari area toilet.
"Apakah Anda melihat Aerin, Tuan?" tanya Agam. Terlihat sekali wajah lelaki itu tak biasa.
"Aerin?" ulang Anne bingung. "Aerin siapa Tuan?" tanya Anne sedikit penasaran. Siapa wanita bernama Aerin, kenapa Agam sangat panik saat dia tidak ada? Seperti nya bukan wanita sembarangan.
Berbeda dengan Alan yang terdiam. Tak ada yang sadar jika tangan lelaki itu mengepal dan rahangnya mengeras kuat. Dia tidak suka ketika melihat Agam yang terlalu perhatian pada Aerin. Dia tahu tak seharusnya dia cemburu, karena dia sudah memiliki istri. Tapi Alan tak bisa mengontrol pikiran nya sendiri
"Aerin kekasih saya, Nona," jawab Agam dengan senyum.
Mata alat membulat sempurna saat Agam mengatakan jika Aerin adalah kekasih nya. Benarkah demikian? Kenapa rasanya dia tidak percaya dan tidak suka?
"Kekasih Anda?" ulang Anne lagi. "Wah pasti cantik, Tuan. Apakah boleh saya bertemu dia?" sambung Anne. Tentu Anne penasaran seperti apa wanita yang menjadi kekasih Agam. Sebab Agam ini terkenal anti wanita, jika ada wanita yang bisa menaklukkan hatinya bukankah hal tersebut sungguh luar biasa
"Tentu Nona," sahut Agam. "Kalau begitu saya akan menyusulnya," pamit Agam
Agam melenggang dan berjalan pelan. Sedangkan Alan menampilkan wajah dinginya. Dia benar-benar penasaran, ada hubungan apa Agam dan Aerin? Benarkah Aerin kekasih Agam? Sejak kapan? Bukankah tadi Agam memperkenalkan Aerin sebagai staf dan rekan kerjanya. Kenapa sekarang lelaki itu malah mengaku, jika Aerin adalah kekasihnya?
"Aku tidak sabar ingin bertemu dengan kekasih Tuan Agam. Pasti dia sangat cantik dan terlahir dari keluarga kaya," seru Anne.
Alan mendengar tak suka, "Untuk apa?" ketus lelaki itu. Dia akan mencari tahu hubungan Agam dan Aerin.
"Aku hanya penasaran, Sayang. Seperti apa wanita yang sudah membuat Tuan Agam itu jatuh cinta," jelas Anne tersenyum sumringah. Dia benar-benar penasaran.
Alan memutar bola matanya malas. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun. Dia tidak akan biarkan Agam mendapatkan hati Aerin. Aerin adalah miliknya, sejak malam itu wanita yang sudah menghabiskan malam dengannya adalah miliknya. Tak peduli dengan status nya yang sudah memiliki istri.
.
.
__ADS_1
Tok tok tok
"Aerin, apa kau didalam?" tanya Agam mengetuk pintu toilet. "Kau baik-baik saja?" tanya nya lagi.
"Tunggu sebentar, Tuan," sahut Aerin dari selama.
"Aerin, kau tidak apa-apa?" tanya Agam dibalik pintu. Aerin adalah staf nya jika terjadi sesuatu pada Aerin, tentu itu tanggungjawab nya karena dia yang membawa wanita tersebut datang kesini.
Aerin keluar dari toilet dengan wajah pucat. Bahkan polesan make-up diwajahnya sudah luntur.
"Aerin, kau baik-baik saja?" tanya Agam sambil menangkup wajah Aerin.
Aerin menggeleng seraya tersenyum, "Saya baik-baik saja, Tuan," sahutnya.
"Kau tidak baik-baik saja, Aerin. Ayo kita kerumah sakit," ajak Agam. Bagaimana dia tak panik. Wajah Aerin tak hanya pucat tapi juga tatapannya sendu, seperti sedang menahan sakit.
"Tuan, saya tidak apa-apa. Acaranya masih panjang. Saya baik-baik saja," jawab Aerin.
Wanita keras kepala ini memang berpegang pada pendiriannya. Tak mungkin dia pulang, sementara ini acara penting untuk Agam. Dia wanita kuat, yang masih mampu berdiri. Hanya saja dia tidak bisa melihat wajah Alan.
Agam menyeka keringat yang mengucur didahi Aerin. Apalagi rambut Aerin yang semakin berantakan, kenapa malah terlihat seksi di mata Agam?
"Ya sudah, ayo. Jangan jauh-jauh dari saya. Jika sudah tidak mampu, katakan saja ya. Acara tidak lama lagi. Setelah selesai, saya akan antar kamu pulang," ucap Agam lembut.
Ya Agam sudah lama menaruh rasa pada Aerin, hanya saja dia tidak bisa mengungkapkan perasaan nya karena Aerin sudah memiliki kekasih. Namun, baru kemarin dia tahu jika Aerin sudah putus dari Jo, karena satu dan lain hal.
"Iya, Tuan!" sahut Aerin dengan nada lemahnya
Sejujurnya tubuh Aerin benar-benar sakit. Tapi Agam terlalu baik padanya. Dia tidak mau mengacaukan acara lelaki itu hanya karena dirinya yang lemah.
"Peluk tangan saya," suruh Agam melingkarkan lengan Aerin ditangannya.
Aerin tak bisa menolak karena dia memang butuh pegangan untuk berdiri kuat.
__ADS_1
Bersambung....