
Aerin menyusupkan kepalanya didada bidang Alan seraya menyesap bau harum tubuh lelaki itu.
Alan terkekeh geli. Ada-ada saja istrinya ini. Saking rindunya Aerin tidak mau melepaskan pelukan suami nya. Dia menempel seperti anak ayam pada induk nya.
"Bby, jangan pergi lagi ya," pinta Aerin.
Alan tersenyum sambil mengusap kepala Aerin. Mereka baru saja melakukan olahraga ranjang. Kerinduan yang tersemat dalam dada membuat keduanya juga merindukan sentuhan lembut dari kulit masing-masing.
"Aku 'kan bekerja, Sayang. Kalau aku tidak bekerja kita mau makan apa?" ucap Alan terkekeh pelan.
"Tapi aku tidak mau jauh dari mu, Bby," ucap Aerin sendu.
"Aku tidak akan kemana-mana, Sayang. Aku akan selalu bersamamu," sahut Alan memeluk tubuh Aerin. Mereka berdua tanpa sehelai benang yang menempel di tubuh.
Aerin melingkarkan tangannya di perut Alan. Dia benar-benar tak ingin kehilangan tubuh ini. Bisakah waktu berhenti saja di mana mereka bisa menghabiskan waktu hanya berdiam.
Tanpa sadar air mata Alan menetes. Ada perasan bersalah yang menyeruak masuk kedalam hatinya. Tak tega membohongi Aerin. Namun, dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak berjanji untuk selalu berada didekat Aerin. Tetapi selama Aerin bersama nya, semua akan baik-baik saja. Dunia nya akan aman jika bersama wanita tersebut.
"Hubby menangis?" Aerin mendongkakkan wajah nya menatap sang suami.
"Aku hanya merasa bahagia bisa memiliki mu, Sayang," sahut Alan
"Aku juga bahagia memiliki mu, Bby," jawab Aerin tersenyum.
Alan mengecup bibir wanita itu dengan gemes. Bibir Aerin hanya milik nya. Dia tidak ingin kehilangan bibir ini selamanya. Meski Alan tahu jika perlahan waktu akan membongkar semua hal yang dia sembunyikan selama ini.
"Ya sudah ayo kita tidur, Sayang," ajak Alan menaikkan selimut mereka.
"Selamat tidur Hubby," ucap Aerin mengecup pipi suaminya.
"Selamat tidur Honey," balas Alan mencium kening Aerin.
Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut Aerin. Seperti nya Aerin kelelahan karena olahraga ranjang mereka tadi. Apalagi keduanya sudah lama tak saling menyentuh, tentu nya butuh kehangatan dan sentuhan.
__ADS_1
Alan menyingkirkan anak rambut Aerin. Dia menatap lama wajah yang terlelap didalam dekapannya ini. Demi Tuhan, Alan sangat mencintai Aerin. Alan tidak tahu akan seperti apa hidupnya tanpa Aerin. Hidupnya akan hancur jika wanita itu pergi meninggalkan nya.
Alan menangis didalam keheningan malam. Bersama lampu-lampu yang temaram. Memikirkan takdir hidupnya yang kejam. Menikah dengan wanita yang tidak dia cintai. Dikurung dalam sangkar keluarga wanita itu. Tidak memiliki kebebasan sama sekali. Disaat itu juga Alan menemukan Aerin diantara miliaran manusia di bumi. Saat cinta yang ingin dia ramun bersama Aerin memekar, banyak hal yang kini berkecambuk diperasaan Alan. Bagaimana jika identitas nya yang beristri diketahui oleh Aerin? Atau bagaimana jika Anne dan keluarga nya menemukan keberadaan Aerin? Apakah semua akan baik-baik saja? Apa Aerin akan tetap berada di sampingnya.
Semua ketakutan itu kini menghantam bagian dada Alan. Tak sanggup. Dia tidak akan sanggup jika hal itu benar-benar terjadi. Aerin adalah nafas hidupnya, dia rela melakukan apa saja asal istrinya tetap berada disamping nya. Tak peduli jika dunia mungkin akan menyerangnya atau bahkan dunia akan membunuhnya. Alan hanya ingin bersama Aerin sampai akhir hidupnya.
'Istriku Aerin, kau adalah nafas hidupku. Kaulah jantung hatiku. Aku takkan biarkan kau pergi meninggalkan insan yang lemah ini. Kita akan bersama selamanya. Sekalipun badai menghadang aku takkan melepaskan genggaman tanganmu. Biarkan aku selalu bersama mu, menghabiskan akhir dari usia. Aku berjanji akan menjagamu. Jiwa dan raga ini hanya untuk mu. Bersamamu kutemukan arti dan makna dari hidup yang sesungguhnya,' ucap Alan dalam hati memeluk erat tubuh Aerin dalam tangis.
.
.
Aerin mengeliat di balik selimut tebalnya. Dia merasakan perutnya berat, secepat nya wanita itu membuka matanya. Dia tersenyum ketika melihat wajah tampan Alan yang berada tepat didepan wajahnya.
"Tampan nya suami ku," ucap Aerin dengan iseng menarik-narik hidung Alan dengan gemas.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Alan dengan mata terpejam.
Segera Aerin menjauhkan tangannya merasa ketahuan menganggumi wajah suaminya. Wanita itu malah setengah mati.
"Hahah Hubby!" seru Aerin tertawa lepas. Wajahnya terasa geli ketika bibir kenyal itu mengenai wajah nya.
"Habisnya, kau ini sangat menggemaskan, Sayang," ucap Alan menarik kedua pipi Aerin.
"Hubby, sakit," renggek Aerin manja.
"Hehe maaf Sayang, habisnya kau ini sangat menggemaskan," ujar Alan mengusap merah istrinya.
Alan turun dari ranjang sontak saja kelelakian nya berdiri.
"Hubby," pekik Aerin menutup kedua matanya, dia terkejut melihat senjata suaminya yang sudah berdiri tegak seperti itu.
"Tidak perlu ditutup, Sayang. Dia sudah membuatmu mendesah semalam," goda Alan mengedipkan matanya jahil.
__ADS_1
"Bby." Aerin mendesah pelan dengan wajah kesalnya.
Alan terkekeh, lalu mengangkat tubuh Aerin dari ranjang.
"Bby." Aerin terkejut dan langsung memeluk leher lelaki itu.
"Kenapa hmmm?" masih sempat-sempatnya Alan mencuri ciuman di bibir istrinya.
"Bby, aku malu," ucap Aerin menyembunyikan wajahnya didada bidang Alan.
Aerin juga polos tanpa sehelai benang. Mengingat permainan panas mereka semalam, membuat wanita itu salah tingkah sendiri. Dia kewalahan menyeimbangi suaminya yang liat diatas ranjang.
"Tidak usah malah, Sayang. Aku suamimu. Aku sudah melihat semua bagian dari tubuhmu dan bahkan aku sudha menikmatinya," goda Alan tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Aerin yang merah akibat godaan sang suami.
Sejak hamil, Aerin semakin cantik dan pesonanya tak bisa membuat Alan beralih. Rasanya Alan ingin mengusir semua pelayan laki-laki di mansion mewahnya agar tak ada yang menikmati wajah cantik sang istri.
Alan mendudukkan Aerin didalam bathtub.
"Sayang biar aku yang memandikan mu yaa," ucap Alan.
"Tapi Bby, harusnya aku yang melayani mu. Bukan sebaliknya," sahut Aerin.
"Tidak ada hukumbya seperti itu, Sayang. Siapapun boleh melayani siapa. Jangan bilang begitu ya. Sekarang biarkan aku yang melayani mu," jelas Alan mengecup kening sang istri.
Alan ingin menghabiskan hari ini bersama Aerin, menjadi suami yang siaga dan selalu ada disetiap kali Aerin membutuhkan dirinya.
"Bby," panggil Aerin.
"Iya Sayang, kenapa?" tanya Alan melirik istrinya dengan senyum. Tangannya sibuk menggosok punggung wanita hamil itu.
"Terima kasih ya Bby," ucap Aerin tersenyum manis. Aerin sangat mencintai lelaki ini, dia menyukai semua hal tentang Alan.
"Aku yang harus berterima kasih, Sayang. Karena kau sudah hadir di hidupku," balas Alan. "Aku sangat mencintaimu. Sangat," sambungnya kemudian. Ungkapan cinta Alan takkan habis hanya dengan kata-kata. Perasaan nya terhadap wanita ini tak bisa digambarkan dengan apapun.
__ADS_1
Bersambung....