Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Menemukan


__ADS_3

Aerin wanita cantik berusia 25 tahun. Dia tengah tersenyum hangat sambil mengusap perut nya yang setengah membuncit. Usia kehamilan nya memasuki bulan ketiga.


"Sehat-sehat ya Nak," ucap Aerin


Wanita itu tampak bahagia seraya duduk ditaman dan menikmati bunga-bunga yang bermekaran dengan indah. Harum mewangi dari bunga-bunga tersebut menyeruak masuk kedalam indra penciuman nya. Rasa bahagia kian menyeluruh di hatinya.


"Bunda," gumam Aerin.


Satu nama yang kini masih melekat dihati wanita cantik tersebut. Dia masih ingat pertemuan terakhir nya bersama sang ibu sepuluh tahun yang lalu. Walau dia membenci wanita yang telah melahirkan nya itu. Namun jauh didalam hati Aerin dia sangatlah menyanyangi sang ibu. Rindu kian menggembang dalam dadanya. Dia berusaha kuat untuk tak menangis.


"Aku rindu Bunda," lirihnya.


Aerin adalah anak yang manja. Namun, dia dipaksa dewasa ketika menghadapi perpisahan kedua orang tua nya di usia remaja. Saat anak-anak seusia nya sibuk menghabisi waktu dengan kedua orang tua nya. Maka berbeda dengan Aerin yang harus menyaksikan pertengkaran dan perdebatan ayah dan ibu nya setiap hari. Aerin masih ingat kekerasan yang dilakukan ayah nya pada sang ibu. Saat sang ibu di usir dari rumah, Aerin ingin ikut dengan ibunya. Namun, wanita paruh baya itu malah menolak dan membiarkan dia hidup dengan sang ayah. Hal itulah yang menimbulkan kebencian dihati Aerin hingga kini.


"Sebentar lagi aku menjadi seorang Ibu. Sebentar lagi aku akan dipanggil Mommy," ucap nya terkekeh.


Aerin menikmati semilir angin yang melayangkan rambut panjangnya. Jujur saja dia bosan sendirian di mansion semewah ini. Aerin tak suka ketika para pelayan menganggap dirinya sebagai seorang ratu, Aerin ingin berteman baik tanpa membedakan antara majikan dan membantu. Namun, para pelayan malah menolak karena memang status mereka adalah babu di rumah tersebut.


"Nona, ini salad Anda," ucap Bik Surti meletakkan sepiring buah-buahan pada Aerin.


"Terima kasih Bik," ujar Aerin. "Bik temani aku disini," pinta Aerin.


Ketika bangun Aerin tak lagi mendapati suaminya. Padahal kemarin dia sedang bahagia-bahagia nya di temani oleh lelaki itu. Apalagi Aerin benar-benar diperlakukan seperti ratu di istana dongeng.


"Suamiku berangkat jam berapa Bik?" tanya Aerin sembari memasukkan buah itu kedalam mulutnya.


"Subuh tadi, Nona," jawab Bik Surti.


"Bik, kadang aku berpikir heran. Kenapa suami ku selalu berangkat subuh? Apakah perjalanan menuju kantor nya sangat jauh Bik?" tanya Aerin.


Aerin ingin sekali seperti seorang istri pada umumnya yang menyiapkan makanan dan pakaian kerja untuk suaminya lalu mengantar lelaki itu mengais rejeki. Namun, kenapa impian sederhana itu tidak bisa Aerin wujudkan? Padahal dia ingin sekali melakukan hal tersebut untuk suami tercinta nya.

__ADS_1


"Nona kenapa menangis?" tanya Bik Surti panik.


Alan sudah berpesan pada seluruh pelayan agar menjaga istrinya dengan baik. Jangan sampai Aerin sedih atau merasa tidak nyaman. Sebab Alan tidak bisa membiarkan wanita tersebut terluka.


"Aku hanya sedih Bik karena belum bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku," ucap Aerin lirih. Wanita itu meletakkan piringnya lalu mengusap air matanya dengan kasar.


"Nona, Nona sudah menjadi istri yang baik untuk Tuan Muda. Jadi Nona jangan berpikiran seperti itu," sahut Bik Surti mengelus pundak Aerin.


Aerin adalah wanita sederhana yang tidak menatap orang sebelah mata. Sifatnya ramah dan baik hati sehingga semua pelayan yang bekerja dirumah mewah tersebut.


"Tetapi aku merasa gagal Bik. Setiap kali aku bangun suamiku sudah berangkat bekerja. Harusnya aku yang mengurus semua kepergiannya," ucap Aerin menangis segugukan. Wanita hamil ini memang sensitif dan mudah merasa bersalah. Walau bukan salahnya dia akan merasa itu salahnya. Bagaimana reaksi Aerin jika tahu bahwa dia telah menjadi orang ketiga di rumah tangga sang suami?


"Nona." Bik Surti merebahkan kepala Aerin dibahu nya.


"Hiks hiks Bik, apa aku benar-benar tak pantas menjadi seorang istri?" ujar Aerin menangis segugukan.


"Sttttt... Nona jangan katakan itu lagi. Nona adalah istri terbaik untuk Tuan," ucap Bik Surti menenangkan. .


Aerin memeluk Bik Surti yang sudah dianggap sebagai ibu nya sendiri. Disini dia merasa aman dan nyaman karena semua orang menyanyangi dia. Sedangkan dulu, dia hanya dianggap sebagai benalu oleh ibu dan kakak tirinya. Apapun yang Aerin lakukan selalu salah.


.


.


.


Alta tersenyum devil melihat Aerin dari jauh. Benar dugaan nya jika Alan menyembunyikan sesuatu.


"Wanita itu telah di nikahi oleh Tuan Alan beberapa bulan yang lalu karena hamil anak dari Tuan Alan," jelas asisten Alta.


"Apa?" pekik Alan terkejut. "Bagaimana bisa dia hamil anak Alan?" tanya Alta setengah tak percaya.

__ADS_1


"Memang benar begitu kejadiannya Tuan. Nona itu di jebak oleh kekasihnya sendiri, namun Tuan Alan yang malah masuk kedalam kamar Nona tersebut," jelas sang asisten panjang lebar.


Rahang Alta mengeras. Ini ternyata yang disembunyikan oleh Alan. Lelaki itu ternyata sudah mengkhianati adiknya. Lihat saja nanti, Alta akan membalas semua perbuatan Alan pada Anne.


"Siapa namanya?" tanya Alta.


"Nona Aerin, Tuan," jawab sang asisten.


"Nama yang bagus sesuai orang nya," ucap Alta tersenyum devil. "Alan. Alan, lihat saja nanti. Kau akan rasakan pembalasan ku. Aku akan membunuh wanita itu dan kau akan merasakan kehilangan yang teramat sangat." Lelaki itu tampak menyerupai iblis dengan tatapan yang licik.


"Wanita itu cantik juga. Apa kau sudah mencari tahu asal usulnya?" tanya Alta tanpa beralih dari Aerin yang tampak menangis dipelukkan Bik Surti.


"Sudah saya kirim ke email Anda, Tuan," jawab sang asisten.


"Apa Paman Arkin dan Bibi Bella sudah tahu hal tersebut?" tanya Alta.


"Sudah Tuan. Sejak awal Tuan Arkin dan Nyonya Bella tahu jika Tuan Alan akan menikahi Nona Aerin," jawab sang asisten.


Rahang Alta kembali mengeras. Ternyata keluarga itu mencoba bermain-main dengannya. Apa Alan tidak tahu dia sedang berhadapan dengan siapa?


"Jalan!" titah Alta.


"Baik Tuan."


Lama Alta menatap Aerin. Pantas saja Alan terpikat pesona wanita itu. Dilihat dari jarak jauh saja aura kecantikan Aerin begitu mempesona apalagi ketika dirinya masih hamil.


"Aerin," ucap Alta tersenyum.


Nama wanita tersebut begitu melekat di bayangan Alta. Entah kenapa dia bisa terpesona dengan senyuman Aerin? Padahal selama ini banyak wanita cantik yang mendekati nya. Tetapi dia sama sekali tdiak tertarik dan tak melirik. Namun, saat melihat Aerin dari hati jauh hatinya seorang di belokkan oleh wanita cantik tersebut.


**Bersambung......**

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote ya guys... Love u banyak-banyak


__ADS_2