
"Ini meja Anda, Nona," ucap Riu mengantarkan Anaya pada meja yang tidak jauh darinya.
"Wah terima kasih, Tuan," sahut Anaya.
"Jangan panggil, Tuan. Panggil saja saya Riu karena saya hanya seorang asisten," jelas Riu tersenyum simpul walau dalam hati jengkel karena Anaya dirinya di omeli sepanjang pagi oleh Alta.
"Kalau begitu jangan panggil saya Nona panggil saja An," sahut Anaya. "Ehh tidak sopan kalau aku panggil Riu, bagaimana kalau aku panggil kakak saja?" saran Anaya menampilkan wajah imutnya dengan mulut bergelembung dan poni bertengkar di dahinya membuat gadis tersebut terlihat imut dan juga menggemaskan.
Riu memalingkan wajahnya takut terpesona dengan tatapan imut gadis tersebut. Hatinya sudah ketar-ketir salah tingkah, maklum sudah lama jomblo kalau dekat yang bening-bening suka membuatnya berdebar-debar.
"Kenapa? Kau tidak suka dengan nama panggilanku?" tanya Anaya yang heran ketika Riu terdiam saja.
"Tidak, aku suka," sahut orang. "Iya sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Kalau bingung dan tidak tahu bertanyalah," ucap Riu.
"Iya Kak," sahut Anaya tersenyum.
Gadis itu meletakkan berkas di tangannya. Lalu duduk dan menarik nafas dalam sebelum mengerjakan tugas yang di berikan padanya.
"Ayo, An. Semangat, kau pasti bisa. Buktikan pada Daddy dan Mommy bahwa kau bukan anak manja," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Anaya menyalakan komputernya. Gadis ini walau nakal dan suka berulah tetapi dia memiliki kemampuan di atas rata-rata.
"Astaga, banyak sekali," keluhnya.
"Baiklah, aku akan kerjakan pelan-pelan!" serunya dengan semangat dan yakin bisa mengerjakan tugas yang di berikan oleh Alta padanya.
"Angka-angka uang tak bergerak."
Riu geleng-geleng kepala mendengar celotehan Anaya apalagi meja mereka berdekatan tentu saja membuat dia mendengar ucapan gadis itu yang bermonolog sendiri. Mulutnya komat-kamit tetapi tangannya berselancar dengan cepat di atas stut keyboard komputer yang ada di depannya.
Sesekali gadis itu menghela nafas panjang, lalu menggerutu dan melanjutkan pekerjaannya.
"Sebenarnya ini bukan susah, hanya sulit," keluhnya.
Riu berjalan mendekati meja Anaya barang kali dia bisa sedikit membantu atau mengajari gadis tersebut.
"Bisa?" Riu melihat kearah komputer Anaya.
"Bisa sedikit, Kak," sahut Anaya yang menoleh sebentar lalu kembali fokus pada benda yang ada di depannya.
"Sebenarnya ini berapa lama sih tidak di kerjakan, kenapa banyak sekali?" tanya Anaya yang sebenarnya protes karena tugasnya yang begitu banyak.
__ADS_1
"Lima tahun," jawab Riu.
"What's?" pekik Anaya.
Riu terkekeh pelan. Padahal laporan tersebut sudah bertahun-tahun yang lalu tetapi Alta memang sengaja mengerjai gadis itu karena terlambat dan membuatnya kesal pagi-pagi.
"Sudah, kerjakan saja. Jangan banyak mengomel," ucap Riu menahan tawanya.
"Ck, dia benar-benar keterlaluan, Kak. Awas saja nanti," gerutu Anaya.
"Anggap saja tugas kuliah," sahut Riu.
Lelaki itu berdecak kagum ketika melihat Anaya yang begitu ahli memainkan tombol-tombol komputer seperti sudah biasa padahal belum memiliki pengalaman kerja.
"Ini sudah selesai?" tanya Riu setengah tak percaya.
"Iya, Kak. Sedikit lagi," sahut Anaya tanpa melihat kekagetan di wajah Riu. Dia masih fokus menyelesaikan pekerjaannya.
"Cepat sekali?" Riu menelan salivanya susah payah.
"Jangan remehkan kemampuanku, Kak. Aku lulusan komputer terbaik. Aku bahkan menguasai semua beberapa bidang IT," jelas Anaya menyombongkan dirinya. Kenyataannya memang begitu dia ahli di bidang seperti itu.
"Tentu." Anaya tersenyum simpul.
Riu manggut-manggut dan beroh-ria saja sambil menatap kearah layar komputer Anaya. Dia benar-benar tak menyangka jika gadis yang menjadi sekretaris barunya ini memiliki kekuatan jari secepat kilat. Lihat saja dari cara dia yang begitu ahli menekan-nekan tombol tersebut.
.
.
"Dad, apa kita tidak keterlaluan pada An? Dia belum terbiasa hidup di dunia luar," ucap seorang wanita paruh baya seraya mendesah dan meletakan secangkir teh tanpa gula.
"Tenang saja, Mom. Daddy sudah mengirim pengawal bayangan untuk mengawasi anak kita. Lagian biar si An mandiri dan cari uang sendiri," jawab sang suami.
Sang istri menarik nafasnya panjang. Jujur sebagai seorang ibu dia benar-benar panik membiarkan anaknya hidup sendirian di luar sana. Apalagi dunia luar itu sangat kejam dan terlebih putrinya belum memiliki pengalaman sama sekali.
"Tidak perlu khawatir, Mom. An bekerja di perusahaannya Tuan Alta," jelas sang suami.
"Tuan Alta putranya Tuan Christoper?" tanya sang istri.
Sang suami mengangguk dan mengiyakan.
__ADS_1
"Jangan ragukan kemampuan anak kita, dia pasti bisa," ucap sang suami menenangkan.
Sang istri tampak gelisah. Dia sangat kenal bagaimana kejamnya pemilik perusahaan tersebut yang tak segan-segan memberikan hukuman bagi siapa saja yang melakukan kesalahan. Apalagi anak perempuannya itu sangat ceroboh dan terlebih belum pernah yang namanya bekerja sebelumnya.
"Daddy tahu 'kan kalau An itu ceroboh? Bagaimana kalau dia melakukan kesalahan? Mommy takut dia di hukum." Sang istri mendesah.
"Percaya pada anak kita, Mom." Dia merangkul bahu istrinya dan mencoba menenangkan wanita yang dia cintai tersebut.
Wanita itu nengangguk. Walau dalam hati masih terus memikirkan anak perempuannya karena takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Apalagi itu anak bungsu serta anak perempuan satu-satunya, bisa mati jantungan dia kalau anak kesayangannya sampai mendapat kekejaman dari Christoper.
Sebenarnya dia tidak setuju dengan ide suaminya yang meminta anak perempuannya itu bekerja karena dia tahu anaknya itu manja. Tetapi lagi-lagi sang suami meyakinkan bahwa anaknya memiliki kemampuan yang unik dan pasti bisa melewati badai hidup di dunia luar sana. Anaknya itu harus merasakan bagaimana susahnya mencari uang agar tidak seenaknya menghamburkan uang.
.
.
"Ahhh, capeknya."
Anaya mengetak-retakkan tangannya. Hampir lima jam duduk di depan komputer serta menyelesaikan tugas pertama yang diberikan Alta padanya.
"Daddy dan Mommy pasti bangga melihat kerja kerasku," ucapnya sambil memuji dirinya sendiri.
"Aku memang hebat!" serunya sambil bertepuk tangan dan terkekeh pelan. "Aku harus buktikan bahwa aku bisa mencari uang yang banyak seperti punya Daddy," celotehnya lagi.
"Sudah selesai?" tanya Riu yang kembali di meja Anaya.
"Sudah, Kak. Periksa dulu." Anaya menyerahkan setumpuk berkas tersebut ada Riu.
Riu mengambilnya, lalu memeriksa satu persatu. Dia berdecak kagum, padahal Alta memberi Anaya waktu tiga harus tetapi selesai dalam waktu tiga jam. Benar-benar luar biasa.
"Bagaimana, Kak?" tanya Anaya sambil meretakan lehernya.
"Bagus," puji Riu. "Hem, bagaimana kau bisa menyelesaikannya dengan cepat?" tanya Riu penasaran. Pasalnya berkas ini laporan beberapa tahun yang lalu, dia dan Alta menyelesaikannya selama berbulan-bulan.
"Menggunakan jurus Nobita," canda Anaya.
"Serius Anaya?" cetus Riu.
"Ah, ini laporan yang gampang, Kak. Jadi ya aku selesaikan dengan cepat," sahut Anaya santai tetapi tidak dengan lelaki yang ada di depannya ini.
Bersambung...
__ADS_1