
Mobil yang dikendarai oleh Yoas berhenti tepat didepan gedung pencakar langit. Setelah lima tahun berlalu, Yoas berhasil membangun perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang Pariwisata.
"Silakan turun Nona Muda," ucap Yoas sambil mengulurkan tangannya.
Aerin yang tadinya sedih terkekeh pelan. Tetapi bagaimanapun dia menyembunyikan kesedihan lewat senyuman dan tawa yang dia tampilkan, dia tetaplah wanita rapuh.
"Terima kasih Tuan Tampan," balas Aerin.
Aerin jarang dgsajb ke perusahaan Yoas. Dia lebih fokus mengurus butik dan usaha lainnya. Ya selama tahun, Aerin menjadi seifajb desainer yang cukup terkenal di negara tersebut. Karya-karya hasil desainnya telah mendunia dan bahkan banyak di minati oleh model dan artis papan atas.
"Sudah lama aku tidak kesini, Kak," ucap Aerin.
"Makanya sering-sering," sahut Yoas.
Tangan Aerin melingkar di lengan kekar Yoas. Dia memang sangat manja pada pria ini, apalagi Aerin tak memiliki saudara laki-laki.
"Apa kau senang Tuan Putri?" tanya Yoas dengan senyuman manis.
"Tentu," jawab Aerin.
Sekilas mereka seperti pasangan suami istri yang sangat serasi. Aerin yang tetap cantik meski memiliki empat anak. Yoas juga tampak dengan pakaian casual yang melekat di tubuh kekarnya. Mereka terlihat sempurna di mata siapa saja yang memandang.
Yoas membawa Aerin masuk ke dalam ruangan mewahnya. Tak mudah bagi Yoas untuk berada di titik ini.
"Kak," panggil Aerin.
"Iya Rin, kenapa?" tanya Yoas tersenyum hangat.
"Aku jadi memikirkan kata-kata Kakak tadi. Sebenarnya aku ingin kembali ke Indonesia, tapi aku takut Tuan Christoper dan Tuan Alta menyakiti anak-anakku," ungkap Aerin.
Yoas tersenyum hangat. Dia paham bahwa wanita ini benar-benar mencintai Tuan Muda-nya. Sebenarnya Yoas juga tidak keberatan jika membawa Aerin dan anak-anaknya pulang ke Indonesia, hanya saja keadaan belum benar-benar aman.
"Kau yakin ingin pulang ke Indonesia?" tanya Yoas.
"Aku ingin pulang dan menemui Kak Alan. Dia pasti tidak baik-baik saja, Kak. Aku merasa terjadi sesuatu padanya," ucap Aerin yang tak mampu membendung perasaan khawatirnya.
__ADS_1
"Kakak lihat kondisi, jika anak buah Tuan Christoper dan Tuan Alta tidak lagi mengawasi kita, maka Kakak akan mengajakmu membawa anak-anak ke Indonesia," jelas Yoas memberi pengertian.
Aerin mengangguk. Jujur saja perasaan rindunya terhadap Alan tak bisa lagi ditahan. Walau seribu kali dia mengatakan benci pada lelaki itu. Namun, hatinya tak sungguh-sungguh bisa berpaling. Dia begitu mencintai Alan, bahkan rasanya rela melakukan apa saja demi sang suami.
Awalnya Aerin memang membenci suaminya tetapi setelah tahu bagaimana beratnya kehidupan Alan, hatinya terenyuh sakit. Selama mereka menikah, Alan sama sekali tidak pernah melakukan hal-hal yang kasar padanya. Lelaki itu benar-benar mencintai nya sepenuh hati dan jiwanya.
"Kau yang sabar, Kakak berjanji akan mempertemukan kalian. Semoga takdir berpihak," ucap Yoas menenangkan.
"Terima kasih Kak," sahut Aerin mengembuskan nafasnya kasar.
.
.
"Kenapa Kak?" tanya Chana pada kakaknya, Shaka.
"Apa kau pernah berpikir mencari ayah kandung kita?" tanya Shaka kembali sambil menatap adik kecilnya Shena yang sedang bermain bersama teman-temannya.
Ke-empat bocah kembar itu masih duduk dibangku taman kanak-kanak, tetapi kecerdasan yang mereka miliki setara dengan anak sekolah dasar.
"Entahlah, Kakak tidak tahu. Kakak penasaran kenapa bukan Ayah dan Papa orang tua kandung kita. Kata Mommy, Daddy ada di Indonesia," jelas Shaka.
Aerin memang mengatakan jika ayah kandung anak-anaknya tinggal di Indonesia. Dia tak berani menceritakan kenyataan sebenarnya, sebab anak-anak sekecil itu belum pantas mengetahui hal yang membebani pikiran mereka.
"Indonesia itu di mana, Kak?" tanya Zanka lagi.
"Kakak juga tidak tahu letaknya di mana. Tetapi Kakak sering mendengar Mommy dan Ayah menyebut nama negara itu," sahut Shaka.
Shaka adalah si sulung dari ke-empat saudara kembar itu. Sikapnya tegas dan dewasa. Sejak kecil wajah dinginnya sudah terlihat. Dia juga sulit untuk didekati. Jiwa kepemimpinannya sudah terlihat sejak dini.
"Lalu bagaimana cara kita mencarinya, Kak?" tanya Chana.
Aerin tak pernah tahu jika anak-anaknya sudah dewasa sebelum waktunya, terutama Shaka yang paling tua. Dewasanya anak-anak itu tidaklah instan, semua adalah didikan dari dirinya. Dia tak mau anak-anaknya bergantung pada Yoas dan Yoel, karena tidak selamanya dua lelaki itu bersama Aerin. Harusnya Yoas dan Yoel sudah memiliki keluarga lain, tetapi karena rasa cinta mereka yang belum sanggup meninggalkan Aerin dan si kembar, keduanya harus melupakan hubungan asmara.
Padahal sudah sering Aerin meminta kedua lelaki itu mencari pasangan. Namun, lagi-lagi kedua saudara itu sepertinya terlalu lengket dengan Aerin dan anak-anaknya.
__ADS_1
"Kita tanya Ayah saja," saran Chana.
"Ck, tidak bisa, kita tanya Papa. Ayah sepertinya sengaja menyembunyikan keberadaan Daddy," sambung Zanka.
Ketiganya mengangguk setuju. Tidak ada yang mengira jiwa perbincangan mereka seperti orang dewasa. Sebenarnya sudah lama ketiganya ingin tahu keberadaan sang ayah. Tetapi sepertinya ibu mereka tidak ingin membahas hal tersebut.
"Kak, apa aku penasaran apa yang membuat Daddy dan Mommy berpisah?" ucap Chana tampak berpikir keras.
Archana, putra ketiga Aerin. Dia penyayang dan lemah lembut, sifatnya humble dan mudah bergaul. Dia paling suka berdebat dengan adik bungsunya, Shena. Tentang siapa yang masih kecil.
"Entahlah, Mommy tidak mau menceritakan hal ini," sahut Shaka menghela nafas panjang.
"Apa mereka sengaja di pisahkan? Atau memang mereka memutuskan pisah? Apa artinya Daddy tidak tahu kehadiran kita?" sambung Zanka menerka-nerka.
Arzanka, anak kedua dari empat bersaudara. Sifatnya pemberani tetapi sedikit ceroboh. Dia paling dekat dengan Yoel, karena menurut Zanka, Papa-nya tersebut selalu memahami apa saja keinginannya.
"Ck, bagaimana kita bisa tahu, Kak Kau tahu? Saat itu kita belum lahir," cetus Chana memutar bola matanya malas.
"Kakak 'kan hanya bertanya, kenapa kau sensi sekali sih?" gerutu Zanka pada adiknya.
Keduanya memang suka ber-adu argumen. Apalagi sifat Chana yang suka menebak sesuatu dengan salah.
Berbeda dengan Shaka yang memiliki kepribadian tenang. Dia tak pernah terlihat panik atau khawatir. Dalam keadaan apapun dirinya selalu bisa menguasai emosi. Sifat Alan melekat seratus persen pada anak sulungnya.
"Kakak," panggil Shena berjalan kearah ketiga kakaknya.
"Minum, Dek," ucap Shaka menyedorkan botol kecilnya.
"Terima kasih, Kak," sahut Shena mengambil botol tersebut dari tangan sang kakak.
"Lain kali jangan main sampai keringat begitu," omel Zanka mengusap keringat adiknya dengan tissue.
"Selu Kakak, Nana suka," sahutnya yang belum jelas menyebut huruf R.
"Ya seru, tapi tidak harus sampai berkeringat seperti itu. Sampai rumah nanti kau harus mandi," sambung Chana. Kembar yang satu ini pencinta kebersihan, dia tidak suka hal-hal jorok. Salah satu sifat Aerin melekat pada sosok Chana.
__ADS_1
Bersambung....