
Aerin mengeliat dibalik selimut tebalnya. Dia merasakan perutnya berat seperti sesuatu yang menimpa perutnya tersebut.
Wanita itu membuka matanya perlahan dan dia langsung disuguhkan dengan wajah tampan sang suami yang masih memeluknya erat. Aerin tersenyum hangat dan pegulatan panas mereka semalam terekam jelas dikepalanya. Suaminya ini sungguh ganas dan buas luar biasa.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Alan tanpa membuka matanya.
"Pagi, Bby."
Aerin turun perlahan dari ranjang, ahh dia malu sendiri saat mendapati dirinya tak memakai sehelai benang pun. Pakaian mereka berserakan dilantai. Baju penggantin itu sebagai bukti bahwa kini keduanya telah kembali bersama.
Aerin bergegas ke kamar mandi. Untung sudah tidak perawan seperti pertama kali melakukan, kalau perawan kemungkinan dia tidak bisa berjalan akibat kebuasan Alan.
Aerin menatap pantulan dirinya di depan cermin. Bekas tanda kemerahan di lehernya banyak sekali. Entahlah, suaminya itu seperti ahli lukisan saja yang melukis bagian lehernya dengan banyak tanda-tanda itu.
"Semoga ini awal yang baik, Bby. Aku berharap, kita akan bersama selamanya. Selamanya, Bby. Ternyata, kau memang jodohku. Walau di terpa oleh ribuan terjangan ombak hingga kini kita dipersatukan kembali oleh kehendak-Nya."
Aerin segera membersihkan diri didalam kamar mandi. Menggosok tubuhnya. Dia tak enak membangunkan suaminya yang tampak kelelahan itu. Aerin maklumin saja karena Alan memang sudah berusia. Perbedaan usia mereka 15 tahun. Namun, yang namanya cinta tak memandang usia, bukan?
Aerin keluar dengan handuk yang terlilit di dadanya dan handuk kecil yang menggulung rambut panjangnya. Wanita itu geleng-geleng kepala melihat suaminya yang masih terlelap dengan nyaman.
Segera Aerin memakai pakaiannya. Seperti biasa dia akan bangun pagi menyiapkan sarapan serta keperluan anak dan suami nya.
"Bby, bangun, bangun," teriak Aerin berhambur kearah kasurnya.
Sontak lelaki yang tengah terlelap itu terbangun dan langsung duduk.
"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi? Kau kenapa? Apa kau sakit?" cecar Alan meneliti tubuh istrinya.
"Hiks Bby, kau melupakan sesuatu," ucap Aerin pura-pura menangis sambil menyeka air matanya.
"Melupakan apa, Sayang? Aku melupakan mu karena belum minum obat?"
Aerin menggeleng dengan bibir menggerecut kesal.
"Apa Sayang? Ayo katakan," desak Alan. Dia panik bukan main.
"Hubby belum cium aku," ucapnya sambil tersenyum dengan menampilkan rentetan gigi putihnya.
"Ahhh Sayang, kau ini."
Cup cup cup cup cup cup.
Alan menghujani wajah Aerin dengan ciuman bertubi-tubi hingga membuat wanita itu terkekeh geli. Terakhir Alan mengecup bibir manis Aerin dan ******* bibir itu dengan lembut serta menyesapnya untuk mencari rasa manis dari bibir ranum wanita itu.
__ADS_1
Alan menyatukan kening mereka berdua. Nafas keduanya terengah-engah. Alan l mengusap bibir istrinya yang basah karena dirinya.
"Kau hampir membuatkujantungan Sayang," ucap Alan kesal.
Aerin tertawaan. Entahlah kenapa dia jadi suka jahil, apa karena ketularan ketiga putra kembarnya itu yang suka sekali menjahili paman-nya, Agam dan Alta.
"Sudah, Bby. Cepat mandi sana. Aku siapkan baju dulu. Hubby masuk kantor hari ini?" Aerin turun dari ranjang.
Alan juga turun dari ranjang dia tak memakai apapun. Bahkan adik kecilnya masih berdiri tegak akibat ulah Aerin yang mengerjai dirinya.
"Bby, pakai celana sana?" Aerin menutup kedua matanya, wajahnya sudah merah merona melihat benda panjang yang memasukinya tadi malam.
"Kenapa harus malu sih, Sayang? Semalam dia sudah membuatmu terbang melayang. Dan dia juga yang membuat ke-empat anak kembar kita ada," goda Alan sambil memakai celana boxernya.
"Bby, cepat masuk sana." Aerin setengah mendorong tubuh suaminya.
Alan tertawa lebar, tadi Aerin yang mengerjainya sekarang giliran dia yang mengerjai istrinya itu jadi setimpas satu sama.
.
.
.
.
Ke-empat anak kembar itu berhambur kearah meja makan menyusul kedua orang tua nya.
"Pagi juga anak-anak Daddy." Alan berjongkok menyambut ketiga anaknya. "Sayang Daddy dulu," pintanya menunjukkan pipinya.
Cup cup cup cup cup cup
Zanka, Chana dan Shena menghujani wajah Alan dengan banyak ciuman. Sedangkan Shaka mendelik sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kakak tidak ingin cium Daddy?" Alan menatap putranya heran, karena lelaki kecil itu hanya diam sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kakak sudah besar, Dad. Kakak tidak mau cium Daddy." Lelaki itu naik keatas kursi dan duduk dengan tenang disamping Aerin.
"Selamat pagi, Mommy," sapanya ramah.
"Pagi Kakak. Sayang Mommy dulu."
Cup cup cup cup cup cup cup
__ADS_1
Shaka menciumi bagian wajah Aerin dengan sayang hingga membuat wanita cantik itu tersenyum geli.
Alan mendengus kesal bahkan dia belum sadar dari keterkejutannya saat mendengar ucapan Shaka yang mengatakan jika dirinya sudah besar. Besar dari mana? Usianya baru lima tahun, masih sangat kecil. Bahkan anak-anak normal seusia mereka belum mengerti sepenuhnya.
"Kau mencium istri Daddy, Kak?" Alan merenggut kesal melihat Shaka yang mencium wajah Aerin.
"Dia Mommy, Kakak," sahutnya tersenyum santai.
Agam dan Alta yang mendengar keromantisan kedua pasangan baru tersebut, merasa jenggah. Maklum penggantin lama yang menikah lagi jadi terasa baru.
"Selamat pagi, Kak," sapa Aerin.
"Pagi Baby A," balas keduanya.
Ada Christoper juga yang sudah tersenyum hangat bersama Yoas dan Yoel yang masih selalu setia menemani Alan dan Aerin serta si kembar.
"Pagi Daddy, pagi Kak Yoas dan Kak Yoel," sapa Aerin juga.
"Pagi, Baby A."
"Pagi, Rin."
Mereka sarapan bersama dan sesekali di selingi canda dan tawa. Alan dan si kembar berebut perhatian Aerin, ayah dan anak itu seperti sedang lomba untuk menarik perhatian Aerin.
"Baby A, setelah ini Daddy akan pulang kerumah bersama Alta," jelas Christoper.
"Lho, buat apa? Daddy 'kan tinggal di sini?" tanya Aerin heran.
"Setelah Daddy pikir-pikir, Daddy ingin menghabiskan masa tua Daddy dengan Kakakmu yang tak laku-laku itu," celoteh Christoper terkekeh pelan.
Alta memutar bola matanya malas ketika di katakan jomblo. Sedangkan Agam tertawa lebar.
"Hem, dia memang tua Dad dan belum laku," sambung Agam menggoda saudara tirinya itu.
"Cih, tidak sadar diri kalau dia juga jomblo yang belum laku," singgung Alta.
Mereka yang ada di meja makan hanya terkekeh pelan mendengar perdebatan kedua lelaki yang sama-sama tua tetapi belum laku tersebut.
Christoper juga tersenyum simpul, setidaknya kesedihan setelah kehilangan Ratih bisa terobati dengan celotehan lucu para anak dan cucunya.
"Sudah lanjut makan," sanggah Aerin.
Setelah ini Aerin akan mengantar anak-anaknya ke sekolah baru yang sudah di urus olehnya dan Alan. Anak-anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu tampak semangat sekali untuk memulai pelajaran di sekolah yang baru, suasana yang baru serta teman baru.
__ADS_1
Bersambung...