
Hukuman.
"Tangkap perempuan iblis itu, Son. Berikan hukuman setimpal padanya," titah Christoper mengusap pipinya sambil berdiri.
"Iya Dad. Kita harus segera menyelamatkan Baby A," ucap Alta.
"Ayo."
Kedua pria itu keluar dari rumah mewah yang sudah mereka tempati selama beberapa hari setelah kedatangan di Sidney.
"Alan dan Agam sudah ada disana," ucap Alta.
"Baik. Kirim anak buah sebanyak mungkin untuk mengepung Anne," perintah Christoper.
Lelaki paruh baya itu tampak tak tenang, dia duduk dengan gelisah. Dia benar-benar takut dan tak sabar bertemu Aerin. Bagaimana jika Anne benar-benar mencelakai putrinya?
"Anne, dia tidak akan bisa menyakiti Baby A lagi. Dia harus mendapatkan hukuman karena sudah membuat Baby A menderita," ucap Christoper dengan rahang yang mengeras kuat.
Lelaki paruh baya itu meneriaki supir yang menggemudikan mobil yang dia tumpangi.
"Daddy harus tenang," ucap Alta menenangkan padahal dirinya juga sama seperti sang ayah yang panik.
"Bagaimana Daddy bisa tenang, Son? Adik dan keponakanmu dalam bahaya! Kau lihat sendiri bagaimana kejamnya Anne pada mereka? Daddy tidak akan memaafkan Anne jika dia melakukan hal yang kejam pada Baby A," ucap Christoper dengan nafas memburu.
Christoper adalah pria paling kejam, tidak ada yang bisa meredakan amukannya jika kemarahannya sudah meledak. Dia tidak memiliki perasaan dan belas kasihan pada orang-orang yang berani mengusik hidupnya apalagi sampai menyakiti orang-orang yang dia sayangi.
Tampak urat-urat leher Christoper mengeras. Matanya merah dengan rahang yang mengeras kuat dengan tatapan yang seperti siap menerkam siapa saja yang ada di depannya.
"Apa kau sudah menangkap wanita iblis itu, Son?" tanya Christoper ditengah kepanikannya.
"Sudah, Dad. Ternyata wanita itu menyusul kita kesini. Sepertinya dia sudah mengira kalau kita akan menangkapnya," jelas Alta.
Christoper tersenyum mengejek, "Dia tidak akan bisa lepas dari hukuman Daddy. Lihat saja nanti, dia akan merasakan yang lebih parah dari Mommy dan Baby A," ucapnya.
.
__ADS_1
.
"Lepaskan, kalian siapa?" Ema memberontak ketika beberapa pria berbaju hitam memasung tangannya.
"Jangan macam-macam, lepaskan aku!" sentak Simon yang juga ikut tertangkap bersama Ema.
"Diam!" hardik salah satunya. "Jangan banyak bicara, cepat masuk," sambil mendorong tubuh Simon masuk ke dalam mobil.
Simon dan Ema tak bisa melawan, keduanya pasrah ketika tangan keduanya di ingat. Dalam hati bertanya-tanya siapa yang menangkap mereka?
"Kalian siapa?!" hardik Ema berusaha melepaskan ikatan tali di tangannya.
Namun, ketiga pria yang menangkap mereka itu tak menjawab sama sekali malah fokus melihat ke depan seperti patung.
Emma bergeser mendekat kearah Simon. Dia ketakutan sendiri saat melihat tatapan dingin ketiga pria tersebut.
Hingga mobil tersebut berhenti di depan sebuah markas yang tidak jauh dari hutan. Keduanya di tarik keluar dari mobil dengan paksa tanpa peduli pada teriakkan Ema dan Simon yang minta di lepaskan.
Brak!
"Awww." Ema meringgis kesakitan.
"Siapa kalian?" tanya Simon dengan wajah merah penuh amarah.
"Kami anak buah Tuan Christoper," jawab salah satunya.
Mata Ema membulat sempurna, pantas saja dia di cegat saat menuju bandara dan hendak menyusul suaminya itu ke Sidney. Ternyata orang-orang ini suruhan lelaki itu. Ema menatap tiga pria itu dengan marah.
"Lepaskan aku! Aku akan adukan kalian pada suamiku!" ancam Ema.
"Kami disuruh oleh Tuan Christoper untuk memberikan Anda hukuman," jawab salah satunya.
Ema terkejut, apa suaminya sudah tahu apa yang dia lakukan. Tidak, tidak Christoper tidak boleh tahu. Dia tidak siap menerima hukuman dari lelaki kejam itu.
.
__ADS_1
.
"Kenapa, Bunda?" Robson membawa nampan berisi makanan untuk istrinya. Kondisi istrinya ini memang belum pulih.
"Ayah, apa sebaiknya kita susul saja si kembar ke Sidney? Entah kenapa perasaan Bunda tidak enak, Bunda terus memikirkan Baby A," ucap Ratih menghela nafas panjang.
"Bunda, kondisi Bunda belum pulih. Ayah tidak berani mengajak Bunda kesana. Apalagi suhu alam yang berbeda," jawab Robson geleng-geleng kepala sambil mengaduk bubur di dalam mangkuk yang masih mengeluarkan asap mengepul tersebut.
Ratih menghela nafas panjang dan menatap suaminya dengan senyuman hangat. Betapa Ratih bangga memiliki suami seperti Robson yang selalu memperlakukannya dengan baik. Setelah di patahkan oleh banyak lelaki.
Jujur saat pertama menikah dengan Robson, Ratih tak begitu mencintai suaminya. Tetapi cinta itu bertumbuh seiring berjalannya waktu dan saat ini perasaannya tak bisa di jelaskan dengan kata-kata, betapa dia mencintai lelaki ini sepenuh jiwa dan raganya.
"Ayah, terima kasih ya," ucap Ratih.
Pernikahan pertamanya berakhir tragis karena dirinya yang berasal dari keluarga miskin. Dia di usir dari rumah setelah melahirkan selama 3 bulan. Membawa bayi yang masih merah di bawah guyuran hujan. Tidak hanya itu, dia di kejar-kejar oleh orang suruhan orang tua mantan suaminya. Lalu Ratih bertemu dengan lelaki baik yang dia anggap akan menjadi pelabuhan cinta terakhirnya serta menjadi ayah untuk Baby A. Namun, lagi-lagi hubungan tersebut hancur karena orang ketiga. Sialnya lagi dia yang jahat di mata anaknya. Sang suami memutarbalikkan fakta seakan dirinya yang mendua.
"Terima kasih untuk apa, Bunda?" tanya Robson sambil menyuapi istri tercintanya. Pernikahan mereka sudah berumur belasan tahun tetapi keduanya seperti penggantin baru saja.
"Karena Ayah sudah menerima Bunda apa adanya tanpa mempermasalahkan masa lalu Bunda," ucap Ratih dengan kata berkaca-kaca. Dia dibuang tak berharga oleh dua lelaki tetapi Tuhan menggantinya dengan yang lebih baik.
"Harusnya Ayah yang berterima kasih karena Bunda sudah hadir di kehidupan Ayah dan Agam. Semoga kita selalu bahagia selamanya, Bunda," sahut Robson.
Ratih tersenyum hangat lalu kembali menyambut suapan suaminya.
"Bunda tidak sabar ingin bertemu dengan Baby A," ungkap Ratih.
"Iya Bunda, Ayah paham. Tetapi Bunda harus fokus dulu pada kesehatan Bunda," jelas Robson sabar.
"Iya Ayah."
Mereka bukan pasangan muda. Mereka dua orang yang sama-sama patah hati di masa lalu. Sama-sama kehilangan sosok orang yang begitu mereka cinta. Walau dalam versi yang berbeda-beda.
Robson kehilangan istrinya ketika Agam lahir, sang istri mengalami pendarahan hebat sehingga membuatnya tak bisa tertolong. Dia hidup dalam kesedihan dalam waktu lama apalagi harus membesarkan Agam seorang diri tanpa sosok seorang istri.
Semua berubah setelah pertemuannya dengan Ratih. Wanita itu seperti cahaya yang mampu menerangi kegelapan perjalanan hidupnya bersama sang putra. Sikap Ratih yang lemah lembut dan jiwa keibuannya berhasil meluluhkan hati beku Robson. Mereka menikah, lebih tepatnya Robson meminta wanita itu menjadi istrinya dan ibu dari anaknya. Walau dia tahu Ratih tidak mencintainya karena masih ada orang lama yang melekat di hatinya. Tetapi siapa sangka justru kini keduanya larut dalam perasaan yang sama.
__ADS_1
Bersambung....