
Alan duduk dengan tatapan kosong dan hampa. Dia bahkan sama sekali tak menyimak apa yang di jelaskan oleh para kliennya. Pikirannya berkelana entah kemana?
"Bagaimana Tuan?" tanya salah satu direksi pada Alan.
Namun lelaki itu tak menanggapi, dia tetap diam seperti patung hidup tak bernyawa. Tatapan kosong dan hampa, seperti tak memiliki gairah untuk hidup.
Semua yang ada didalam ruangan saling melihat satu sama lain. Beberapa bulan terakhir Alan memang banyak diam, setelah perpisahan nya dengan Aerin. Asisten kepercayaan nya Yoas dan Yoel pun hilang tak berkabar, Alan seperti kehilangan separuh hidupnya. Sementara kedua orang tua nya juga selalu di ancam oleh Christoper.
Alan ingin sekali mencari di mana Aerin tetapi semua pergerakan nya di awasi oleh Anne dan keluarga nya. Alan benar-benar hidup terkurung didalam kekuasaan orang-orang kejam tersebut.
Anne yang hadir diruangan meeting menghela nafas panjang. Dia memutuskan berhenti menjadi modeling dan ingin fokus mengurus Alan serta membantu suaminya mengembangkan perusahaan.
"Suami saya sudah paham. Meeting cukup sampai disini, untuk sesi yang lain nanti akan di jelaskan oleh sekretaris suami saya," ucap Anne mewakili.
Alan berdiri dari duduknya dia langsung melenggang keluar tanpa peduli pada orang-orang yang menatapnya dengan aneh. Dia tak bisa memfokuskan perasaan nya pada siapa pun selain Aerin, apa kabar istrinya? Apalagi wanita itu sedang menggandung anaknya.
Alan masuk kedalam ruangannya dan mengunci pintu, dia tidak mau Anne datang dan menganggu dia lagi. Alan sedang ingin menikmati rasa rindu yang menggembang didalam dada nya.
Lelaki itu duduk lemah disofa sambil menunduk, suara isakkan keluar dari mulutnya. Hatinya remuk redam dan juga hancur menerima semua kenyataan yang seolah hendak menghempaskan seluruh tubuhnya.
"Hiks hiks Sayang, aku merindukanmu, sangat. Kau di mana, aku ingin bertemu dengan mu," ucap Alan.
Lelaki itu menangis didalam ruang kerjanya. Rapuh dan tak berdaya. Dia merasa gagal menjadi seorang suami yang tak bisa menjaga istrinya sendiri. Andai saja dia bisa bergerak lebih cepat menjaga dan melindungi istrinya.
"Aerin, maafkan aku. Maafkan aku," ucap Alan penuh penyesalan.
Bayangan terakhir ketika dirinya hendak menutup mata. Alan masih teringat ketika Aerin mengulurkan tangan hendak menggapai nya dan dia tak bisa menyambut uluran tangan wanita itu. Sungguh takdir begitu kejam memisahkan mereka yang tak tahu apa-apa tentang rindu.
"Kalian baik-baik disana. Aku berjanji suatu hari nanti akan menemukan kalian. Kita akan kembali bersama dan hidup bahagia selamanya," ujarnya lagi.
Tentang lelaki yang patah hati bernama Alan Arkin. Kepedihan telah membawa jari-jari nya mengusar rambutnya dengan kasar. Pertemuan nya dengan Aerin bukan suatu kebetulan, tetapi takdir yang sudah tertuliskan. Tetapi kenapa disaat di sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya malah dipaksa oleh keegoisan semua orang yang tak mau dia bahagia.
__ADS_1
Cinta membawa luka yang tidak pernah ia bayangkan. Kebahagiaan yang sudah lama-lama ia idamkan. Kini hilang bersama semua kenangan. Kepergian Aerin meruntuhkan separuh jiwa Alan. Dia tudos memiliki tujuan hidup dan jalan. Semua jalan terasa buntu. Semua terasa sakit disiksa waktu.
Andai saja waktu itu dia membawa Aerin pergi sejauh mungkin pasti semua tidak akan seperti ini. Pastilah dia akan kembali menuai kebahagiaan. Tetapi dia terlalu takut jika ada yang menemukan keberadaan Aerin. Sekarang, dia bahkan harus kehilangan istrinya tersebut.
.
.
"Hiks hiks."
Tangis Ratih pecah sambil memeluk foto Aerin. Sekian belas tahun lamanya dia tak berjumpa dengan anak perempuan nya tersebut, tetapi dia harus menerima kenyataan bahwa putrinya itu menghilang.
"Bunda."
Robson memeluk istrinya. Tangannya terulur mengusap punggung sang istri. Dia tahu betapa Ratih sangat menyayangi putrinya tersebut. Namun, sebuah kenyataan malah menghempaskan semua harapan yang tersematkan.
"Hiks hiks, Ayah. Bunda ingin bertemu Aerin. Bunda merindukan dia," ucap Ratih.
Robson tak bisa berbuat apa-apa. Walau Aerin bukan anak kandung nya tetapi dia juga menyayangi Aerin walau tak pernah dekat dengan anak tirinya tersebut. Bagi Robson apapun yang membuat Ratih bahagia itu adalah yang terbaik walau mungkin berbeda dengan pendapat dan keinginan nya.
"Ayah berjanji akan menemukan Aerin dan membawa nya tinggal bersama kita. Bunda tenang yaaa?" ucap Robson menenangkan.
Aerin hilang bak ditelan bumi, bahkan jejak kakinya pun tak terlihat. Entah kemana wanita itu pergi? Apakah masih hidup atau sudah dibunuh oleh Christoper dan Alta.
.
.
"Kenapa Dad?" tanya Alta.
"Apa kau merasakan hal yang sama, Son ketika melihat Aerin?" tanya Christoper tanpa melihat putranya.
__ADS_1
Alta terdiam, dia kembali mengingat wajah Aerin. Memang ada sesuatu yang aneh ketika menatap wajah Aerin.
"Daddy merasakan apa?" tanya Alta.
"Daddy seperti melihat sosok Ibu mu di raga Aerin," jawab Christoper jujur.
Alta terdiam, dia masih ingat ketika usianya 10 tahun. Saat itu dia dan ayah nya di paksa meninggalkan sang adik yang masih bayi bersama sang ibu yang baru satu Minggu setelah melahirkan. Setelah ini mereka tak pernah lagi bertemu selama 25 tahun lamanya.
"Tatapan mata nya seperti Ibu mu. Entah kenapa Daddy merasakan sakit melihat air matanya terjatuh," ucap Christoper lirih.
Alta lagi-lagi terdiam. Saat dia memeluk tubuh Aerin dengan paksa dan wanita itu memberontak, Alta merasakan sesuatu yang memang tak biasa, seperti ada ikatan batin antara dirinya dan Aerin.
"Apa Aerin Baby A?" tanya Alta.
"Daddy belum bisa memastikan nya karena tidak ada informasi yang menunjukkan masa lalu Aerin," jelas Christoper menghela nafas panjang. Rasanya mustahil, jika Aerin putrinya.
"Lalu Mommy di mana, Dad?" tanya Alta.
Alta masih ingat wajah sang ibu saat selesai melahirkan, pucat tak berdarah. Seorang wanita baru saja melahirkan selama seminggu harusnya masih dirawat, tetapi sang ibu malah di usir dari rumah oleh neneknya karena sang ibu hanya seorang wanita biasa.
"Daddy tidak tahu," jawab Christoper menunduk menahan tangis di depan anaknya.
Alta memejamkan matanya sejenak. Bayangan dirinya yang melayangkan tamparan di wajah Aerin masih terngiang, kenapa rasanya sakit.
"Ini hanya perasaan Daddy, Alta. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin Aerin bukan anak Daddy dan adikmu," kilah Christoper menyeka sudut matanya. Entah kenapa mengingat kejadian 25 tahun yang lalu benar-benar meremukkan dadanya. Dirinya di paksa berpisah oleh kedua orang tua nya dengan sang anak dan sang istri.
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan vote guys...
Mampir ke kaeya baru author...
__ADS_1
Menikahi Brondong
Berbagi suami dengan adikku.