Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Koma


__ADS_3

Aerin masuk ke dalam ruangan rawat inap suami bersama ke-empat anak kembarnya. Tubuh wanita itu bergetar hebat ketika mengingat tembakkan yang terdengar memekik di telinga dan terjadi di depan matanya.


Ke-lima orang itu berjalan masuk dengan langkah pelan. Wajah mereka semua sama kecuali Shena kecil yang belum paham. Dia menggandeng tangan Shaka sambil celingak-celinguk menatap pria yang tertidur di atas ranjang tersebut.


"Hubby," gumam Aerin duduk di kursi samping ranjang Alan.


Suara mesin pendeteksi jantung terdengar menggema di seluruh ruangan serta alat-alat medis yang menempel di beberapa bagian tubuh Alan.


"Daddy," panggil ketiga anak kecil itu.


Shena yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja sambil menatap lelaki yang berada di atas ranjang terus. Dia baru sadar jika wajah lelaki itu sangat mirip dengan ketiga kakak kembarnya.


"Bangun, Bby. Ini aku. Kenapa kau rela mengorbankan nyawamu demi aku dan anak-anak?"


Aerin terisak lagi, dia tak bisa menahan air mata yang memaksa untuk keluar. Perpisahan yang cukup lama itu menguras emosi, tenaga dan waktu. Tetapi di saat sudah di pertemukan dia harus menerima kenyataan pahit ini.


"Iya Daddy, bangun. Buka mata Daddy," sambung Shaka sambil menangis juga.


Alan mengalami pendarahan hebat dan untungnya peluru itu tidak mengenai jantung, jika tepat tertuju pada jantung mungkin dia tidak akan bisa selamat.


Aerin mengenggam tangan suaminya. Demi apapun dia sangat merindukan lelaki ini, sudah lama sekali dia ingin bertemu Alan. Walau mulut selalu mengatakan benci tetapi hati tidaklah bisa bohong. Aerin hanya marah karena Alan tak jujur sejak awal bahwa dia sudah memiliki istri. Jika Aerin tahu dia tidak akan mau menikah dengan Alan dan memilih merawat bayi-bayinya seorang diri. Namun, menyesali semua yang terjadi tidak ada gunanya karena takkan mengembalikan semua seperti sediakala.


Shaka, Zanka dan Chana naik keatas brangkar Alan untuk menggapai wajah sang ayah.


"Sini, Dek." Shaka mengulurkan tangannya agar Shena naik.


"Iya, Kak." Gadis kecil itu menurut dan menyambut uluran tangan sang kakak.


"Daddy," panggil Zanka. "Dad, ini namanya Nana. Dia adik bungsu kami, tapi Daddy jangan heran kalau dia cerewet dan menyebalkan. Dia_"


"Kakak," protes Shena mendesah. "Nana tidak bawel," kilahnya melipat kedua tangan di dada dengan wajah kesalnya.


Aerin tersenyum simpul melihat keempat anaknya. Betapa dia beruntung dan bersyukur memiliki anak-anak luar biasa yang dewasa sebelum waktunya. Bahkan anak-anaknya itu yang menguatkan dirinya di saat dia tidak tahu bagaimana cara menjalani hidupnya.

__ADS_1


"Dih, kau 'kan memang bawel," sindir Zanka.


"Mommy," renggeknya manja.


Aerin terkekeh pelan seraya menyeka air matanya.


"Kakak tidak boleh seperti itu, ayo minta maaf," ucap Aerin lembut.


"Iya Mom," sahut Zanka dengan bibir menggerecut kesal.


"Kakak minta maaf." Sambil mengulurkan tangannya.


"Iya, Kak," balas Shena.


Mereka kembali terdiam sambil menatap wajah Alan yang terlelap dengan oksigen yang di tempelkan di bagian hidungnya.


"Bby." Aerin mengusap punggung tangan suaminya. "Apa kau tak ingin melihat mereka? Mereka merindukanmu, Bby. Aku juga sangat merindukanmu," ucapnya lirih. Lagi-lagi air mata yang dia tahan setengah mati itu menetes dengan deras membasahi pipi cantiknya.


"Kalau Zanka ingin punya senjata api yang banyak sekali, sambil main perang-perangan," sambung Zanka. Pria kecil ini suka main game tembak dan mengotak-atik aplikasi dan bahkan membuat beberapa aplikasi yang dia gunakan sebagai permainan game-nya.


Shaka tak berbicara apapun. Dia hanya ingin sang ayah terbangun dan kembali berkumpul bersama mereka. Alan sempat kritis di mana detak jantungnya berhenti berdetak tetapi karena memang belum waktunya dia meninggalkan dunia ini, sehingga Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup kedua kali.


"Bby, kau dengar 'kan? Anak-anak ingin sepertimu. Ayolah, bangun. Apa kau tak ingin memelukku seperti dulu, Bby?" tanya Aerin mengusap kepala suaminya.


Dia tatap wajah itu dalam waktu lama. Rindu, dia benar-benar merindukan sosok lelaki ini. Waktu lama yang dia lewati tanpa Alan, sangatlah berat. Saat mereka di pertemukan kembali tetapi justru dalam keadaan yang seperti ini.


Shaka menatap ibunya kasihan. Dia bisa lihat betapa sang ibu mencintai ayahnya. Andai saja dia bisa meminta kepada Tuhan agar memberikan mukjizat pada ayahnya untuk segera bangun, maka Shaka akan melakukannya.


.


.


"Huh, kita mau kemana sih, Bu?" gerutu Lisa sambil menyeret kopernya. Mereka juga baru sampai di bandara internasional kota Sidney.

__ADS_1


"Ck, kau yang lebih tahu, kenapa tanya Ibu?" protes Jasmine.


"Aku 'kan sudah bilang, aku tidak mau ikut. Sekarang Jo hilang tanpa kabar, lalu kita mau kemana?" omel Jasmine kesal.


"Bisa tidak jangan mengomel terus?" cetus Jasmine. "Harusnya kau itu memikirkan cara bagaimana kita bisa sampai apartemen Jo," tukas Jasmine kesal karena Lisa terus mengomel dari tadi.


"Huh, memikirkan cara bagaimana sih, Bu? Jo saja tidak mengabari sejak kemarin. Ponselnya juga tidak aktif," sahut Lisa memutar bola matanya malas.


"Sudahlah, duduk dulu," ajak Jasmine. Kedua wanita berbeda usia itu duduk di bangku tunggu bandara dengan Lisa yang sibuk mengotak-atik ponselnya sambil menghubungi Jo.


Jasmine celingak-celinguk melihat orang yang berlalu lalang di bandara, orang-orang dengan tubuh tinggi dan badan besar. Orang luar negeri memang memiliki porsi tubuh yang lebih tinggi dari orang Indonesia.


Hingga tatapan wanita itu tertuju pada dua pasangan yang tengah berjalan dengan di ikuti oleh beberapa bodyguard di belakang mereka.


"Apa aku tidak salah lihat?" gumam Jasmine mengucek matanya berulang kali dan memastikan penglihatannya.


"Benar, itu Ratih," ucapnya sambil menutup mulut dan tak percaya. "Jadi selama ini Ratih di nikahi oleh Tuan Robson, pengusaha kaya itu?" ucapnya lagi menerka-nerka.


"Kenapa sih, Bu?" tanya Lisa yang tadinya sibuk dengan ponsel di tangannya


"Lihat itu." Jasmine memutar kepala anaknya. "Itu Ratih," tunjuk Jasmine.


Mata Lisa membulat sempurna ketika melihat wanita tersebut.


"Bu, serius itu Bibi Ratih?" tanya Lisa yang juga tidak percaya.


Jasmine mengangguk. Dia juga tak percaya jika wanita yang berhasil dia usir itu ternyata memiliki kehidupan yang jauh lebih beruntung dari dirinya.


"Tutup wajah!" suruh Jasmine.


Kedua wanita itu melindungi wajah mereka dengan tas kecil yang mereka bawa. Keduanya takut jika Ratih melihat, lebih tepatnya bukan takut pada Ratih tetapi pada Robson. Apalagi di masa lalu, keduanya begitu jahat pada Ratih dan memfitnah wanita itu berselingkuh agar di ceraikan oleh Rollies.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2