Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Karma


__ADS_3

Rollies tersenyum kecut melihat figura yang terpampang di nakas kamarnya. Fotonya bersama sang mantan istri dan putri tunggal mereka.


"Ratih," gumamnya.


Secara diam-diam Christoper meminta para orang suruhannya untuk mengirimkan dokter agar Rollies melakukan beberapa perawatan. Walau awalnya dia sempat marah karena Rollies mengusir Aerin ketika mengetahui anaknya hamil. Namun, Aerin meminta ayahnya untuk tidak menaruh dendam pada Rollies. Bagaimanapun lelaki itulah yang telah merasanya sejak kecil hingga dewasa. Bahkan Aerin begitu dekat dengan ayah tirinya tersebut. Aerin tak ingin ayah kandungnya membenci ayah tirinya.


Oleh sebab itu perlahan kondisi Rollies sedikit membaik. Tentunya dengan perawatan mahal yang tak main-main.


"Betapa aku bodoh telah membuang permata berharga demi sampah yang tak berguna seperti Jasmine," ucapnya penuh penyesalan.


"Aku berharap kau bahagia, Ratih," ucap Rollies. Dia baru tahu jika Ratih adalah mantan istri dari Christoper, seorang milyader kaya raya yang merajai dunia bisnis asia.


Rollies sudah bisa berbicara normal tetapi belum bisa berjalan seperti biasa. Dia harus melakukan beberapa terapi dan pemeriksaan.


"Baby A." Dia mengusap wajah Aerin yang terpampang di dalam foto itu. "Ayah merindukanmu, Girl. Kapan kita bisa bertemu? Ayah ingin memelukmu dan meminta maaf karena sudah mengusirmu dari rumah. Apa kabar cucu ayah? Apakah dia sudah besar? Ayah ingin bertemu dengannya dan mengajaknya bermain." Rollies terkekeh membayangkan dirinya bertemu dengan anak Aerin lalu bermain di taman bersama cucu-nya tersebut.


Sederhana, kebahagiaan seorang ayah adalah ketika di masa tua nya bisa memiliki kesempatan untuk melihat cucunya. Tetapi tidak semua seberuntung itu, terutama Rollies. Dia mandul dan tak bisa memiliki anak. Spermanya tidak bisa membuahi sang indung telur. Menyadari dirinya yang tak bisa memiliki keturunan membuat Rollies begitu menyanyangi anak tirinya, Aerin. Tetapi sayang semua hancur karena kedatangan Jasmine dan Lisa.


"Bolehkah, Nak?" tanyanya lirih. "Bolehkah Ayah menginginkan itu semua darimu? Sekali saja, Ayah ingin menebus semua kesalahan ayah padamu," ucap Rollies luruh. Dia seka air matanya dengan kasar.


Sekarang dia hidup sendirian dan sebatang kara. Jasmine dan Lisa entah kemana karena sejak beberapa minggu terakhir kedua wanita itu hilang bak di telan bumi setelah mengambil hak warisan harta Rollies. Tetapi hak yang mereka ambil itu tidak jua menjadi milik mereka karena pengacara Rollies tidak mau memberikan akta atas nama Aerin pada keduanya dengan alasan Aerin masih hidup. Oleh sebab itulah keduanya berambisi datang ke Sidney dengan niat menghabisi nyawa Aerin agar semua harta Rollies jatuh ke tangannya.


"Apa impian Ayah terlalu tinggi, Nak?" tanya Rollies lagi.


"Ayah tahu kau pasti sangat membenci ayah karena telah mengusirmu dari rumah," ucap Rollies tersenyum kecut.


"Selamat siang, Tuan," sapa seorang wanita paruh baya.


"Ada apa?" tanya Rollies mengusap air matanya.


"Dokter Zora sudah datang, Tuan," lapornya.


"Baik," jawab Rollies.

__ADS_1


Awalnya Rollies sempat menolak dokter kiriman dari Christoper karena dia tidak ingin berhutang budi. Dia heran kenapa pria sekejam Christoper bisa tiba-tiba baik dan memberikan dia pengobatan gratis?


"Mari, Tuan."


Lelaki itu mendorong kursi roda Rollies dan keluar dari kamarnya.


.


.


"Hiks hiks hiks. Lisa, Ibu lapar," renggek Jasmine.


Lisa menghela nafas panjang dia melirik ibu-nya.


"Aku juga lapar, Bu. Tetapi bagaimana lagi? Tidak ada makanan disini," cetus Lisa kesal.


Mereka di kurung tanpa di beri makan dan minum. Sepertinya Christoper benar-benar memberi hukuman pada kedua wanita tersebut. Jasmine dan Lisa adalah salah satu penyebab penderitaan Ratih dan Aerin sebelum mereka terpisah.


"Kenapa mereka kejam sekali?" Jasmine menangis terisak sambil memegang perutnya yang benar-benar sudah terasa kosong.


"Mana Ibu tahu," jawab Jasmine sambil menangis.


Tidak lama kemudian datang dua orang pria berbaju hitam sambil membawa makanan di dalam nampan.


Jasmine dan Lisa bagai melihat anjing yang mengejar tulang. Air liur mereka hampir menetes ketika melihat makanan lezat tersebut.


Sementara kedua pria itu tersenyum lalu saling melihat. Salah satunya membuka borgol lalu memberikan makanan tersebut pada dua wanita yang sudah kelaparan bak anjing tersebut.


"Makanlah!" suruhnya.


Tak butuh waktu lama kedua wanita yang tengah kelaparan itu menyantap makanan yang mereka berikan. Padahal mereka tidak tahu entah taburan apa yang di campur dalam makanan tersebut.


Seketika makanan itu habis tak tersisa. Keduanya makan seperti orang sesat yang sudah berhari-hari tidak makan.

__ADS_1


Namun, Jasmine merasakan tubuhnya gatal dan terlihat bintik-bintik merah di beberapa bagian tubuhnya.


"Aduh, ada apa ini? Kenapa gatal sekali?" jerit Jasmine menggaruk-garuk tangannya.


Begitu juga dengan Lisa mulai merasakan hal yang aneh di tubuhnya. Dia juga menggaruk beberapa bagian tubuhnya. Kuku Lisa yang panjang membuat kulitnya luka-luka seperti di cakar kucing karena terus di garuk ketika merasakan gatal di beberapa bagian tubuhnya.


"Hahahahah."


Kedua pria berbaju hitam itu tertawa puas ketika melihat Jasmine dan Lisa yang seperti gila apalagi rambut mereka acak-acakan karena bagian kepala yang gatal juga mereka garuk.


"Itulah akibatnya berani-berani bermain dengan Tuan kami, sekarang Anda merasakan karma-nya, Nona," ledek salah satunya.


Namun, Jasmine dan Lisa sudah tak mendengarkan lagi karena sibuk menggaruk tubuh mereka. Bahkan Jasmine melepaskan bajunya karena gatal yang luar biasa.


Di samping sel Jasmine dan Lisa tampak Jo dan Anne yang masih meringguk. Kedua orang itu tak peduli pada apapun terjadi di sekitar mereka.


"Alan," gumam Anne. "Kau milikku Alan," ucapnya lirih. "Aku tidak akan melepaskanmu untuk wanita pelakor itu," sambungnya lagi.


Dalam keadaan sekarat pun dia masih berambisi untuk mendapatkan Alan kembali. Padahal hukum karma telah dia terima.


Jo yang meringguk seperti orang mengigil terlihat menggenaskan. Tatapan kosong seperti tak memikirkan apapun.


"A-aerin."


.


.


"Apa Anda sudah siap, Tuan?" tanya dokter yang menangani terapi Rollies.


Lelaki paruh baya itu hanya mengangguk dan membiarkan sang dokter bekerja untuk tubuhnya. Dia tak mengharapkan banyak kalaupun tak bisa berjalan kembali setidaknya dia masih di berikan satu kesempatan untuk bertemu anak dan cucunya.


"Tahan ya, Tuan. Mungkin ini sedikit sakit."

__ADS_1


Rollies nengangguk saja sambil meringgis kesakitan saat dokter tersebut mengurut bagian kakinya yang sempat mati rasa. Dia mengalami stroke berat yang sebenarnya sulit sembuh tetapi karena perawatan mahal dan dokter spesialis yang sudah memiliki banyak pengalaman di bidang tersebut akhirnya Rollies bisa kembali berbicara walau belum bisa berjalan.


Bersambung.......


__ADS_2