
"Awwww."
Anne meringgis saat merasakan kakinya tertembak senjata api.
Alan berjalan masuk dengan wajah tenang sambil menatap Anne dengan tajam.
"Alan," gumam Anne.
"Hubby," gumam Aerin dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak akan bisa melepaskan mereka, Alan," ucap Anne menodongkan senjata tersebut di kepala Aerin. "Wanita ini harus mati," ujarnya lagi dengan senyuman seperti iblis.
"Mommy," panggil ketiga anak kembar itu.
"Son." Air mata Aerin luruh, sungguh dia sangat merindukan ketiga anaknya.
"Apa mau mu Anne?" tanya Alan menatap istri pertamanya itu dengan penuh kebencian.
"Tidak banyak, hanya ingin pelakor ini mati!" sahut Anne.
Alan berjalan mendekat, tatapannya tertuju pada Aerin. Dia tatap sepuasnya perempuan tersebut, sudah lama sekali dia tak melihat tatapan hangat dan teduh yang terpancar di mata Aerin.
"Jangan mendekat! Atau aku akan menembakkan pistol ini di kepalanya!" ancam.
Langkah Alan langsung terhenti tangannya mengepal kian kuat.
Dor dor dor dor dor
Alan menembak kaki Anne dan Jo secara bergantian.
"Arghhhhhhhhhhhhh."
Kedua orang itu tersungkur di atas tanah sambil meringgis kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, Alan?!" hardik Anne.
Alan berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Anne. Dia tersenyum mengejek.
"Jangan kau pikir sudah menang karena bisa mengurungku selama ini, Anne." Dia mencengkram dagu wanita itu dengan kasar. "Kau tidak tahu aku siapa? Aku bahkan bisa mengeluarkan usus-usus perutmu jika aku mau," tukas Alan menghempaskan dagu wanita itu dengan kasar.
Yoas dan Yoel dengan cepat melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Aerin. Tangan dan kaki nya merah bekas tali tersebut, entah berapa kuat anak buah Anne mengikatnya sehingga meninggalkan bekas dan bahkan luka.
"Mommy," teriak ketiga anak kembar tersebut.
Semua anak buah Anne habis di kepung oleh anak buah Alan dan Agam, tak satupun yang tersisa semua tergelatak di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa.
"Mommy," teriak Nana juga.
Shena berhamburan kearah Aerin dan memeluk ibunya itu dengan menangis hebat. Tangan Aerin terasa sakit dan perih dan dia gunakan untuk mengusap punggung keempat anaknya secara bergantian. Wanita itu seperti sudah tak bisa bergerak, seluruh tubuhnya terasa remuk dan terpatah-patah.
"Mommy, apa kau baik-baik saja?" tanya Shaka mengusap pipi basah Aerin.
__ADS_1
"Mommy, kenapa wajahmu merah? Kenapa ada darah?" tanya Zanka dengan linangan air mata.
"Mommy, ini pasti sakit?" sambung Chana yang memperbaiki rambut Aerin yang berantakkan.
"Hiks hiks hiks, Mommy."
Aerin menatap anak perempuannya itu dengan sendu. Dia memaksakan senyum, lidahnya seolah kelu karena tubuhnya benar-benar sakit. Dia tidak hanya di ikat tetapi juga di pukul.
"Nana, lapar?" tanya Aerin.
Shena nengangguk dengan cepat. Sejak di sekap dia belum makan sama sekali, tenaga juga terasa lemah karena tidak ada pasokan makanan.
Anne menatap benci mereka semua. Wanita itu meraba pistol yang terjatuh tidak jauh darinya.
"Awasssssss."
DOR
Suara pistol itu menghantam tubuh seseorang yang memeluk tubuh lima orang yang begitu dia cintai.
"DADDY."
.
.
Christoper dan Alta turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam gedung tua itu. Keduanya terkejut ketika melihat suasana gedung yang hancur dan penuh dengan mayat manusia berserakan di berbagai sudut. Bau amis menyeruak masuk ke dalam indra penciuman mereka.
"ALAN," teriak Anne menggema bersamaan dengan pistol yang terjatuh di tangannya.
"Apa yang sudah kau lakukan, Anne?" tanya Christoper mendekat dengan suara berteriak.
Semua seperti tersadar saat mendengar teriakkan Christoper.
"Alan."
"Tuan Muda."
"Daddy."
"Hubby," gumam Aerin.
Alan menatap sendu wajah istrinya. Matanya merah dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.
"S-sayan-ng, ak-ku merindukanmu."
Brak!
Alan tergelatak di tanah dengan darah yang keluar dari punggungnya.
"Daddy." Shaka, Zanka dan Chana menangis histeris sambil memeluk Alan.
__ADS_1
Sementara Aerin terdiam dengan seluruh tubuh yang seperti mati rasa. Shena hanya memeluk sang ibu, dia tidak tahu kenapa ketiga kakaknya memanggil lelaki yang tertembak itu dengan panggilan daddy.
Begitu juga dengan yang lainnya. Agam, Yoas dan Yoel seperti mati berdiri. Ketiga pria itu syok dan jiwa serasa keluar dari raga.
Christoper dan Alta juga terdiam yang terdengar hanya tangisan ketiga lelaki kecil itu yang memanggil nama sang ayah sambil memeluk tubuh lemah itu diatas tanah.
.
.
"Lepaskan aku!" pinta Ema dengan suara melemah.
Wanita paruh baya itu di siksa habis-habisan oleh anak buah Christoper. Tubuh Ema di bantai menggunakan cambuk sesuai dengan perintah Christoper.
Sementara Simon di gantung terbalik, wajahnya sudah sekarat karena pukulan dan sayatan senjata tajam di beberapa bagian tubuhnya.
"Kita apakan dia setelah ini?" tanya salah satu anak buah pada boss yang mengepalai mereka.
"Tuan Besar meminta kita melemparnya di kandang Cowe," sahut sang boss.
"Wah sepertinya akan seru melihat bagaimana Cowe mencabik-cabik tubuh mereka," ujar salah satunya sambil tertawa.
Tubuh Ema seketika menegang ketika mendengar ucapan orang-orang di depannya ini. Wanita itu terduduk dan tak mampu lagi berdiri karena tubuhnya di cambuk oleh anak buah Christoper.
"Aku mohon jangan. Ampuni aku!" pinta Ema dengan suara lemahnya.
Berbeda dengan Simon yang sudah tak berdaya apalagi di gantung seperti hendak di panggang. Dia sudah memasrahkan dirinya dan menunggu ajak menjemput. Di detik terakhirnya lelaki paruh baya itu menyesal karena pernah berhubungan dengan prai bernama Christoper serta dia ingin bertemu putrinya Anne yang tidak pernah dia lihat secara langsung.
"Seret dia!" titah Olga, kepala rombongan.
"Baik Boss!" sahut kedua anak buahnya yang lain.
"Aku tidak aku. Aku tidak mau. Aku mohon jangan. Tolong aku, tolong aku," teriak Ema ketakutan sambil berusaha menepis tangan-tangan pria yang menyeretnya dengan kasar.
Namun, sekuat apapun dia berteriak tak membuat para pria itu melepaskan dirinya. Telinga mereka seolah tuli dan tak mendengar permohonan yang terdengar menyayat hati.
Ema di masukkan ke dalam kandang harimau peliharaan Christoper dalam sekejap tubuh wanita itu di terkam habis-habisan oleh hewan buas itu. Teriakkan histeris yang memekik telinga itu benar-benar membuat bulu bergidik ngeri. Bahkan ketiga pria yang menyerat Ema bergidik ngeri hingga bulu kuduk mereka berdiri serta membayangkan jika tubuh mereka yang di cabik oleh harimau tersebut.
Simon menatap sendu wanita yang pernah dia cintai itu. Setelah ini giliran dirinya. Entahlah, sebelum pergi dia membayangkan wajah sang putri yang lama ingin dia temui tersebut itu. Namun, belum juga mereka bertemu sudah harus terpisah untuk selamanya.
"Turunkan dia!" titah Olga.
"Baik Boss."
Ketiga pria berbaju hitam itu menurunkan tubuh Simon yang di gantung secara terbalik itu.
"Kurung dia. Tuan meminta dia bertahan!" perintah Olga.
Simon tak merespon apapun, untuk apa Christoper mempertahankan dia hidup jika dalam keadaan sekarat seperti ini? Bukankah lebih baik dia mati bersama mantan kekasihnya itu?
Simon melihat tubuh Ema yang di cabik-cabik menjadi beberapa bagian oleh harimau tersebut.
__ADS_1
Bersambung....