
"Bby, ini rumah siapa?" tanya Aerin saat mereka sampai disebuah rumah bertingkat.
"Ini rumah kita, Sayang," jawab Alan. "Kau suka?" sambung nya.
"Suka Bby," seru wanita itu.
Alan membeli rumah baru untuk nya dan Aerin, rumah yang jauh dari jangkauan Anne dan keluarga nya. Hanya ini cara satu-satunya yang Alan lakukan untuk melindungi istri dan calon bayi nya. Alan benar-benar takut jika sampai Anne mengetahui pernikahan nya dengan Aerin.
"Ayo Sayang masuk," ajak Alan menggandeng tangan Aerin.
Aerin mengangguk. Gaun penggantin tersebut masih melekat ditubuh ramping nya. Wanita itu berdecak kagum melihat rumah mewah yang dibelikan oleh suaminya. Aerin merasa seperti sedang bermain drama Korea yang di mana seorang lelaki bucin pada pasangan nya.
"Selamat datang Tuan Muda. Selamat datang Nona Muda," sapa para pelayan yang sudah berjejer rapi menyambut kedatangan Alan dan Aerin.
"Terima kasih Bik. Terima kasih Paman," jawab Aerin tersenyum ramah. Wanita cantik itu memang ramah pada siapa saja.
Alan melingkarkan tangannya di pinggang Aerin, entah kenapa dia ingin selalu menempel pada wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut.
Tempat ini aman dan jauh dari jangkauan Anne dan keluarga nya. Alan juga sudah menyiapkan pengawalan ketat untuk istrinya. Dia tidak mau keberadaan Aerin malah diketahui oleh banyak orang. Bukan Alan takut jika dia ketahuan berpoligami, yang dia takutkan ini akan membahayakan keselamatan istri dan calon anaknya.
"Bby, ini kamar kita?" tanya Aerin berdecak kagum.
"Iya Sayang," sahut Alan.
Aerin seperti gadis kampung yang masuk kota, beberapa kali wanita cantik itu menggeleng seraya menganggumi keindahan bangunan mewah yang di persiapkan sang suami untuk nya.
"Bby, kamar ini besar sekali!" seru Aerin.
Alan tersenyum gemes. Ya dia sudah berjanji akan membuat Aerin bahagia. Alan tak peduli jika setelah ini akan banyak tantangan yang mereka hadapi berdua.
"Sayang," panggil Alan sambil membalikkan tubuh Aerin agar menghadapnya.
"Iya Bby, kenapa?" tanya Aerin
__ADS_1
Keduanya masih memakai pakaian penggantin. Selesai pemberkatan, Alan segera membawa istrinya ke rumah yang dia beli. Meski awalnya Bella mengajak Aerin tinggal bersama mereka untuk beberapa waktu. Namun, Alan menolak karena takut jika Anne malah menemukan Aerin nantinya.
Alan memeluk pinggang ramping istrinya hingga menempel didada. Dia masih tak menyangka, jika malam kelam itu malah mempertemukannya dengan cinta sejati yang dia cari selama ini. Ya, Alan bahkan tak pernah membayangkan bahwa akan bertemu dengan seseorang yang benar-benar pas di hatinya. Dia pikir, selamanya dia akan terjebak bersama Anne dalam pernikahan yang saling menyakiti tersebut.
"Kenapa, Bby?" tanya Aerin menatapnya wajah suaminya.
Jika waktu itu Aerin membenci Alan karena perbuatan lelaki itu. Sekarang, tidak tahu kenapa? Aerin merasa nyaman dan terlindungi saat bersama lelaki ini.
"Apapun yang terjadi, aku mohon jangan pergi," ucap Alan seraya melingkarkan tangan Aerin dilehernya. Dia setengah menunduk untuk menggapai wajah istri cantiknya.
Aerin menatap bola mata Alan. Kenapa dia melihat kekosongan di mata suami nya itu? Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Kenapa tatapan Alan tampak menyembunyikan kesedihan.
"Aku tidak akan pergi Bby, selama kau tidak memintaku," sahut Aerin tersenyum.
Seandainya Aerin tahu siapa lelaki yang menjadi suaminya ini, akan Aerin akan menerima Alan? Atau pergi dan tak mampu bertahan.
Alan memiringkan kepala nya lalu mengecup bibir manis Aerin. Entah sejak kapan, bibir ini seolah menjadi candu baginya.
Aerin membalas ciuman Alan. Keduanya larut dalam ciuman hangat tanpa menuntut. Sifat Alan berubah seratus delapan puluh derajat saat bersama Aerin. Bahkan dia seperti melihat dirinya tumbuh kembali bersama wanita ini.
"Ayo, mandi Sayang. Aku akan memandikan mu," ucap Alan langsung mengangkat tubuh Aerin dengan hati-hati.
"Hubby," pekik aerin terkejut sambil memeluk leher Alan.
Alan terkekeh pelan, dengan jahilnya lelaki itu mengecup bibir istrinya.
Alan akan memulai kehidupan baru bersama istri nya. Tidak akan ada yang berhak menghancurkan kebahagiaan nya saat ini. Meski Alan tahu ini salah, tapi apakah dia tak berhak bahagia?
Selama sepuluh tahun Alan terjebak dalam pernikahan yang menyiksa jiwa dan juga raganya. Bersama dengan Anne dalam kurun waktu yang lama tak jua membuat lelaki tersebut mencintai seorang Anne, putri pengusaha ternama yang memiliki kekayaan berlimpah.
Namun, kenapa hati Alan malah terpikat pada pesona seorang Aerin? Wanita biasa yang tak memiliki kelebihan apa-apa. Sifat Aerin yang cuek dan judes meski sebenarnya manja menjadi daya tarik tersendiri bagi Alan. Baginya sifat Aerin ini termasuk langka. Dia menyukai Aerin yang cerewet.
"Bby, harusnya aku yang memandikan ku," protes Aerin saat sang suami meletakkan nya didalam buth up.
__ADS_1
"Tidak apa. Aku saja Sayang," sergah Alan sambil membuka resleting gaun istrinya.
"Bby, aku malu," ujar Aerin menahan tangan Alan yang membuka kancing gaun nya.
"Kenapa malu, Sayang? Aku suami mu. Aku juga sudah melihat dan merasa bagian tubuh mu," goda Alan mengedipkan matanya jahil.
"Bby," renggek Aerin dengan wajah merah merona.
"Sudah jangan malu. Aku takkan memintamu melayani ku malam ini. Aku tahu kau lelah," seru Alan sambil mengecup kening Aerin.
"Terima kasih Bby sudah mengerti," sahut Aerin.
Jujur saja Aerin masih trauma dengan kejadian malam itu. Bayangan adegan panas itu masih terekam jelas dikepala Aerin.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alan sambil mengusap perut rata Aerin
"Ya seperti biasa Bby," jawab Aerin tersenyum. Jika pun Aerin tak memiliki suami, dia bersedia merawat bayi dalam perut nya. Bayi ini adalah kado terindah dalam hidup Aerin. Meski dia hadir dengan cara yang salah.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Alan sambil menggosok punggung sang istri.
"Aku ingin seblak, Bby," jawab Aerin. Membayangkan makanan kesukaan nya itu membuat air liur nya serasa mau menetes.
Alis Alan saling bertautan, lelaki itu tampak bingung. Dia baru pertama kali mendengar nama makanan itu.
"Apa itu, Sayang?" tanya nya penasaran dan juga bingung.
"Aishh itu lho Bby, makanan pedas yang lengkap sama toping bakso," jelas Aerin.
"Ck, tidak bisa. Kau tidak boleh makan pedas," tolak Alan. Dia tidak akan menjaga pola makan Aerin. Apalagi Aerin sedang hamil, pastinya harus makan, makanan yang bergizi.
"Ayolah, Bby. Ini demi bayi kita," rayu Aerin sambil mengedipkan matanya. Sehingga membuatnya imut dan menggemaskan.
Alan memalingkan wajahnya takut terpesona melihat tatapan Aerin yang benar-benar menggoda nya. Dia takut tak bisa menahan diri nanti. Kasihan Aerin jika harus dipaksa untuk melayani nya.
__ADS_1
Bersambung....