Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Season 2. Part 05.


__ADS_3

Agam menatap heran gadis yang ada di depannya ini. Jika dilihat dari sisi manapun gadis ini sama sekali tidak menarik. Baik dari cara berpakaian dan sikapnya.


"Siapa namamu?" tanya Agam melipat kedua tangannya di dada.


"Amora, Tuan," jawab gadis itu tersenyum simpul dengan menampilkan gigi susulannya.


"Kau tahu kesalahanmu apa?" Amora menggeleng dengan cepat membuat Agam merenggut kesal.


"Yakob, katakan padanya. Apa kesalahannya!" titah Agam.


Yakob mengangguk lalu melihat kearah Amora yang juga melihatnya.


"Anda tidak minta maaf saat menabrak Tuan tadi, Nona," sahut Yakob menjelaskan.


"Maaf, Tuan. Saya lupa." Amora cenggesan. "Kalau begitu sekalian saja saya minta maaf, Tuan," sambungnya membungkuk hormat dan satu tangan yang terletak di dada.


"Apakah harus di ingatkan supaya minta maaf?" cetus Agam.


Amora mengangguk dengan wajah polosnya. Gadis itu tersenyum tanpa dosa setelah membuat Agam kesal karena sudah menabraknya. Padahal dia sedang membuat semua orang terpesona dengan senyumannya tetapi terbuyarkan karena Amora.


Agam tampak berpikir dan menatap Amora dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Usiamu berapa?" tanya Agam.


"Untuk apa Anda ingin tahu umur saya, Tuan? Apa Anda ingin memberi saya hadiah?!" serunya.


"Jangan ge-er," cetus Agam mencebik kesal. "Cepat katakan usiamu berapa?" desaknya.


Amora mengangguk santai, "Usia saya 22 tahun kurang 5 bulan, 2 minggu dan 3 hari, Tuan," jelasnya lengkap supaya Agam tidak bertanya lagi.


Yakob menahan tawanya. Jika di lihat-lihat sepertinya Amora sosok gadis ceria yang menyenangkan. Walau terlihat suka membuat orang kesal dan naik darah karena ucapannya yang tak bisa di atur.


"Kau lulusan apa?" tanya Agam lagi seperti sedang wawancara.


"Management bisnis, Tuan. Lulusan tahun ini dan mendapat predikat lulusan terbaik," jelasnya lagi dengan dengan senyuman manisnya.


"Stop! Bisakah kau menjawab satu pertanyaan dengan satu jawaban ini bukan ujian matematika," omel Agam.


Agam mendelik padahal dia tidak bertanya tentang lulusan. Mau lulusan terbaik atau lulusan terburuk itu bukan urusannya karena dia tidak peduli.


Sementara Amora cenggesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maaf, Tuan," gadis itu memaksakan seulas senyum. "Ada apa Anda memangil saya ke sini?" tanya Amora yang kembali di tujuan awal kenapa lelaki ini memanggilnya kesini?


Agam terdiam sejenak, dia juga bingung untuk apa dia memanggil gadis ini ke sini? Dia menatap Amora dari ujung kaki sampai ujung rambut.

__ADS_1


"Kau, jadi sekretarisku," ucap Agam.


"What's?" pekik Amora.


"Ck, jangan teriak-teriak ini bukan hutan," protes Agam kesal.


Bukan hanya Amora yang terkejut tetapi juga Yakob. Dia melihat Agam tak percaya. Atau sebenarnya tuan-nya itu memiliki rencana karena sudah di buat kesal oleh gadis tersebut.


"Sekretaris, Tuan?" ulang Amora memastikan.


Agam hanya mengangguk dan malas untuk menjelaskan. Dia memang butuh sekretaris tetapi belum mendapatkan orang yang sesuai dengan kriterianya. Jika di lihat Amora terlihat cerdas dan cepat tanggap. Semoga saja dia tidak salah memilih


"Kenapa? Kau tidak mau?" tanya Agam menatap gadis tersebut tajam.


Amora tampak berpikir sejenak. Dia seperti menimbang-nimbang. Lalu menatap Agam curiga, rasanya aneh saja jika tiba-tiba dirinya di angkat jadi sekretaris padahal baru masuk beberapa Minggu dan kepintarannya juga tidak terlihat menonjol. Jadi apa yang membuat Agam mau mengangkat dirinya jadi sekretaris? Bukankah hal tersebut mencurigakan?


"Aku beri waktu 10 menit untuk berpikir."


"Apakah ada pilihan lain?"


"Tidak," sarkas Agam cepat.


Amora menarik nafasnya dalam sangat dalam lalu dia hembuskan perlahan.


"Bagus." Agam mengetuk-ngetuk pulpen di atas meja seolah sedang berpikir keras.


"Yakob, berikan semua daftar tugasnya," titah


"Baik, Tuan!"


Mata Amora membulat sempurna saat melihat sebuah buku dengan tebal ratusan lembar.


"Pelajari buku itu, semua tugas yang harus kau kerjakan ada di dalamnya," jelas Agam.


Amora mengangkat buku besar tersebut lalu melihat Agam.


"Tuan, ini seperti kitab suci di film Kera Sakti," ucap Amora dengan kepala yang menggeleng.


"Iya mungkin isinya tentang kekuatan mengambang di atas air," sahut Agam asal.


"Yakob, bawa dia keluar dan suruh kerjakan apa yang ku perintahkan tadi!" suruh Agam.


.


.

__ADS_1


"Kau!" tunjuk Alta pada Anaya.


"Nama saya Anaya, Tuan. Bukan kau," ralat gadis itu.


"Alah, saya tidak peduli," sarkas Alta. "Kau ikut denganku!" perintahnya. "Kau bisa menyetir?"


Anaya mengangguk, "Bisa, Tuan," sahut gadis itu cepat.


"Bawa mobil!" Alta melemparkan kunci mobil pada Anaya.


Anaya mengambil dengan cepat kunci mobil tersebut lalu berjalan mengikuti Alta dari belakang. Dia seperti bodyguard yang mengikuti kemanapun Alta pergi.


"Silakan masuk, Tuan." Anaya membuka pintu mobil dan membiarkan lelaki itu masuk.


Alta masuk tanpa mengucapkan terima kasih. Lelaki itu tampak tak bersemangat karena desakan dari sang ayah yang memintanya untuk segera menikah. Jangankan menikah dekat dengan perempuan saja dia tidak pernah.


Anaya menjalankan mobilnya dengan pelan, sesekali dia melirik kearah kaca mobil dan melihat Alta yang menatap kosong ke arah jendela mobil. Di balik wajah sanggar dan cetus lelaki itu ternyata memiliki sisi rapuh.


"Hem, butuh teman curhat, Tuan?" Anaya melirik kearah Alta.


"Ck, kau pikir aku sedang patah hati?" cetus Alta.


"Memangnya Tuan tahu apa yang sedang saya pikirkan?" tanya Anaya tersenyum tanpa dosa.


"Sudahlah, berbicara denganmu. Membuat kepalaku semakin pusing," cetus Alta lagi yang malas meladeni Anaya berbicara.


Lelaki itu kembali melamun. Entah apa yang sedang dia pikirkan oleh lelaki berusia matang tersebut.


'Menikah itu butuh persiapan dan resiko, selain persiapan mental. Calonnya juga harus di persiapkan. Sedangkan aku belum pernah menjalim hubungan dengan wanita,' batin Alta.


'Daddy dan Mommy benar-benar keterlaluan. Sampai sekarang mereka tidak menanyakan kabarku. Baiklah, baiklah. Lihat saja nanti aku akan buktikan bahwa aku bisa mencari uang yang banyak,' ucap Anaya dalam hati dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra.


Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Alta sibuk masalah menikah sedangkan Anaya memiliki nasib hidupnya dan sampai sekarang kedua orang tua nya itu sama sekali tidak mengabarinya.


Hingga mobil yang Anaya kendarai berhenti di depan sebuah restaurant mewah. Seperti biasa di jam makan siang, Alta dan Agam selalu makan bersama. Walau keduanya bukan saudara kandung tetapi keduanya menyanyangi dan saling support satu sama lain dan meski berakhir dengan pertengkaran dan perdebatan singkat.


"Kenapa diam?"


"Saya menunggu di sini saja, Tuan," sahut Anaya mengangguk dan membungkuk hormat.


"Ikutlah!" suruh Alta.


"Saya tidak akan menolak jika di ajak, Tuan!" seru gadis itu dengan senyuman sumringahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2