Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Kehidupan baru


__ADS_3

"Arghhhhhhhhhhhhh."


Didalam ruang persalinan seorang wanita tengah berjuang melahirkan bayi-bayi nya. Beberapa kali dia berteriak ketika kontraksi mulai menyerang bagian perut nya.


"Ayo Nona, Anda pasti bisa," ucap salah seorang pria yang mengenggam tangan wanita tersebut.


"Iya Nona. Ayo Nona!" seru sang pria yang satu nya.


"Arghhhhhhhhhhhhh."


"Kak Yoas. Kak Yoel, sakit. Aku tidak mampu. Aku tidak kuat," racau wanita itu dengan teriakkan menggema.


"Anda pasti bisa, Nona," jawab salah satu nya.


"Tenang Nona. Pelan-pelan. Ayo kita coba lagi," sahut yang satu nya.


Para dokter dan perawat yang bertugas membantu persalinan tersebut tampak ikut menyemangati.


"Ayo Nona sekali lagi," ucap sang dokter.


"Arghhhhhhhhhhhhh."


"Owe owe owe owe."


Sang dokter mengambil bayi pertama dan memberikan nya pada suster.


"Owe owe owe owe." Bayi kedua keluar.


"Owe owe owe owe." Bayi ketiga juga keluar.


"Owe owe owe owe." Bayi keempat keluar.


"Cepat bersihkan bayi-bayi nya," suruh sang dokter.


"Dok, dia pendarahan," lapor sang perawat.


Dokter kembali berjuang menyelamatkan sang ibu yang mengalami pendarahan hebat. Berusaha menahan darah agar tak keluar banyak. Apalagi melihat wajah wanita itu yang tampak pucat seperti tak berdarah. Perlahan mata wanita itu tertutup.


"Dok, pasien pingsan," ucap suster.


"Ambil oksigen," perintah sang dokter.

__ADS_1


Sementara keempat bayi yang baru saja di lahirkan tersebut, segera di bersihkan dan di bawa keluar dari ruang persalinan. Sedangkan sang ibu masih berjuang melawan kematian.


"Masukkan transfusi darah," perintah sang dokter.


"Baik Dok," sahut seorang perawat.


"Kondisi pasien kritis, Dok," lapor yang lain nya.


"Persiapkan ruang operasi," titah sang dokter.


"Baik Dok."


Para dokter dan perawat berjuang menyelamatkan wanita yang baru saja mengalami pendarahan hebat tersebut. Dia melahirkan normal tanpa operasi, bahkan keempat bayi nya sehat tanpa kekurangan satu pun.


"Dok, tolong selamatkan dia," ucap sang pria sambil menangis.


"Kami akan usahakan yang terbaik, Tuan. Tetapi sebaiknya Anda menunggu diluar."


Lelaki itu terpaksa keluar dan sesekali melihat wanita yang tenang di tangani oleh para dokter dan perawat.


"Kak, bagaimana keadaan Nona Aerin?" tanya Yoel.


Yoas menggeleng dengan lemah, "Dia masih ditangani oleh dokter," sahut Yoas.


Berbekal kemampuan yang di miliki dan Yoel yang berpengalaman tinggal di luar negeri, akhirnya mereka bisa bertahan hidup walau harus mencari pekerjaan disana.


"Kakak takut Nona, kenapa-kenapa," ucap Yoas menyeka air matanya.


Aerin sudah dianggap seperti adik sendiri bagi Yoas. Apalagi sifat Aerin yang lemah lembut dan ramah. Bahkan wanita itu tidak memandang dari asal usulnya. Walau seorang majikan sifat Aerin tetap rendah hati. Dia tak memandang sebelah asisten suaminya tersebut.


"Bagaimana si kembar?" tanya Yoas berusaha tenang untuk tidak panik.


"Mereka sudah ada diruangan bayi," jawab Yoel.


"Ya sudah temani lah si kembar, biar Kakak yang menjaga Nona disini," suruh Yoas pada adiknya.


"Iya Kak," sahut Yoel langsung menuju ruangan bayi.


Yoas duduk dengan wajah frustasi nya. Dia tak tega melihat penderitaan Aerin. Apalagi mengingat perlakuan Christoper dan Alta pada Nona Muda-nya tersebut membuat hati Yoas kian sakit. Aerin tak hanya sebagai majikan tetapi juga adik yang begitu di sayangi oleh Yoas.


"Saya berjanji akan menjaga Anda, Nona. Suatu saat Anda akan bertemu kembali dengan Tuan Muda," gumam Yoas menyandarkan punggung nya di tembok.

__ADS_1


Beberapa bulan terakhir, mereka hidup apa adanya di Negara asing tersebut. Untung saja Yoas memiliki beberapa tabungan selama menjadi asisten Alan. Uang tersebut lah yang dia gunakan untuk bertahan hidup sampai mendapatkan pekerjaan. Yoas dan Yoel bekerja di perusahaan pertambangan. Pengalaman yang mereka miliki selama bekerja dengan Alan, mengantarkan mereka menemukan pekerjaan yang lebih layak.


Walau belum sepenuhnya bisa memberikan kehidupan yang layak pada Aerin. Setidaknya mereka tidak lagi hidup kekurangan seperti awal-awal datang ke negara ini.


"Semoga Anda baik-baik saja, Nona," gumam Yoas.


.


.


"Owe owe owe."


"Cup cup, kesayangan Ayah, jangan menangis ya, Sayang. Mommy sedang tidur," celetuk Yoas menggendong bayi perempuan Aerin.


"Hai jagoan Papa, wahh pintar sekali ya!" seru Yoel juga.


Kedua lelaki itu menjadi pengasuh keempat anak Aerin. Sementara Aerin belum sadarkan diri setelah mengalami pendarahan. Dia masih terlelap dengan nyaman diatas brangkar rumah sakit. Dia tampak tenang walau tangisan keempat anak nya terus menggema.


"Kak, belum ada perubahan tentang, Nona?" tanya Yoel.


"Belum. Nona belum menunjukkan reaksi nya," sahut Yoas.


Yoas menatap Aerin, sedih sekali melihat penderitaan wanita ini. Kenapa masalah dalam hidupnya tak pernah berhenti? Ada-ada saja yang membuat nya seperti orang yang tak layak bahagia.


Yoas meletakkan bayi perempuan satu-satunya disamping Aerin. Dia menatap wajah pucat yang dipenuhi dengan selang-selang tersebut. Masih ingat sekali perjuangan Aerin selama masa kehamilan nya, di mana-mana wanita itu harus membawa keempat nyawa di dalam perut nya dan bahkan tanpa seorang suami.


"Nona, kapan Anda bangun? Apa Anda tidak ingin melihat bayi Anda? Mereka merindukan Anda, Nona," lirih Yoas mengusap kepala Aerin. "Bangun Nona, perjuangan Anda masih panjang. Anda harus kuat demi anak-anak Anda," sambung Yoas lagi.


Yoel juga turut merasakan kesedihan. Beberapa bulan terakhir hidup dalam kesederhanaan bersama Aerin, membuat dia belajar banyak hal. Dari wanita itu dia belajar kuat dan tegas sebagai seorang lelaki. Belajar menjadi pejuang tangguh melawan kejamnya kehidupan.


"Iya Nona, Nona Kecil terus menangis mencari Anda," sambung Yoel.


Kedua kakak beradik itu hanya bisa menghela nafas panjang saat tidur ada respon atau sahutan dari Aerin. Wanita tersebut terlelap nyaman dalam tidur nya tanpa terganggu sedikit pun.


"Kak, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yoel yang bingung melihat keadaan Aerin, sudah beberapa Minggu wanita itu koma.


Dokter tak menjelaskan apapun, Aerin sudah melewati masa kritisnya. Namun, entah kenapa wanita itu tak juga bangun dari tidurnya.


"Nanti akan Kakak tanya kan lagi pada dokter," jawab Yoas. "Bawalah Nona Kecil istirahat," suruhnya.


Yoas dan Yoel menginap dirumah sakit demi menjaga Aerin dan keempat anaknya. Anak-anak yang baru lahir itu berada diruangan yang sama dengan sang ibu. Sebenarnya para dokter sudah memerintahkan agar keempatnya dibawa pulang saja. Namun, tak ada yang merawat mereka dengan terpaksa Yoas dan Yoel menetap dirumah sakit bersama Aerin dan keempat anaknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2