Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Setelah sekian lama


__ADS_3

5 tahun kemudian...


"Anak-anak sarapannya sudah siap," panggil seorang wanita yang tampan sibuk menata makanan diatas meja dan dibantu oleh beberapa pekerja.


"Iya Mommy," jawab ke-empat anak kembar itu secara bersamaan.


"Kakak, Shena belum bisa pasang," renggek sang adik.


"Sini biar Kakak yang pasang," ucap si sulung membantu adiknya memang dasi.


"Bisa, Kak?" tanya yang nomor dua.


"Sedikit lagi," sahut sang kakak.


"Ayo cepat, Mommy dan Ayah sudah menjnggu," ajak yang nomor tiga.


Ke-empat bocah itu keluar dari kamar dengan tas yang menggantung dipunggung mereka.


"Mommy," panggil si bungsu.


"Wah, anak Mommy sudah cantik," puji sang ibu. "Sudah bisa pasang dasi sendiri, Nak?" tanyanya berjongkok merapikan seragam sekolah anak-anaknya secara bergantian.


"Tadi Kakak yang pasang," jawab si bungsu.


"Makanya cepat besar biar tahu pasang dasi," singgung yang nomor dua.


"Mommy," renggek gadis kecil itu.


"Son, tidak boleh begitu," tegur sang ibu sambil mengusap rambut panjang putri kecilnya.


"Maaf Mommy," sahutnya menunduk.


"Ya sudah tidak apa-apa. Ayo kita sarapan," ajak sang ibu.


Ke-empat anak kembar itu duduk dikursi mereka masing-masing sambil menunggu sang ibu mengambilkan makanan.


"Selamat pagi anak-anak, Ayah," sapa sang ayah yang sudah siap dengan seragam kantornya.


"Pagi Ayah," sahut ke-empatnya.


"Pagi Mommy," sapanya juga pada wanita yang berstatus ibu itu dengan senyuman jahil.

__ADS_1


"Pagi juga, Kak," balasnya. "Kak Yoel, belum bangun?" sambil meletakkan piring di depan masing-masing anaknya.


"Dia masih kelelahan karena pulang malam," jawabnya.


Wanita itu mengangguk dan mengambilkan sang lelaki makanan juga.


"Sarapan, Kak," ucapnya.


"Terima kasih, Rin," jawabnya.


"Sebelum makan, mari kita berdoa."


Mereka mengucapkan doa syukur atas berkat yang dirasakan sepanjang hidup mereka. Terkadang mengucap syukur dalam bentuk apapun dapat meningkatkan rasa bahagia dihati.


"Bagaimana pekerjaan, Kakak?" tanyanya.


"Seperti biasa," jawab lelaki itu tersenyum. "Hari ini ke kantor?" tanyanya melihat wanita itu yang belum memakai pakaian kantornya.


"Tidak, Kak. Aku ambil cuti soalnya mau antar anak-anak ke sekolah," jawabnya.


"Biar Kakak saja," ucap lelaki itu.


"Aku dengan Kakak," jawab wanita itu terkekeh.


"Cie yang sudah ingin menikah," goda wanita itu.


"Kenapa Ayah dan Mommy tidak menikah saja?" tanya si bungsu.


Kedua orang dewasa itu langsung terdiam. Pernah anak-anaknya mengira jika lelaki yang mereka panggil ayah ini adalah ayah kandung mereka. Tetapi setelah di jelaskan oleh sang ibu, mereka langsung merasakan kecewa.


"Sudah lanjut makan," ucap si sulung yang tak mau ribut masalah hal seperti itu.


Setelah makan sang ibu bersiap-siap mengantar ke-empat anaknya bersama lelaki yang dia panggil kakak itu.


Aerin Putri Nadine, lima tahun telah berlalu. Kehidupannya kian berubah. Dia setengah mati berjuang agar tetap hidup dan ayah serta ibu untuk ke-empat anaknya. Akhirnya dia berada dititik, di mana tak berhenti mengucap syukur. Aerin wanita biasa yang memiliki kelemahan tersendiri, jika tak ada Yoas dan Yoel dia tak yakin apakah bisa melewati masa-masa tersulit tersebut.


"Kenapa melamun?" tanya Yoas melirik wanita tersebut.


Aerin menghela nafas panjang lalu tersenyum pada Yoas.


"Kak, aku rindu sama Kak Alan. Sudah lima tahun kami tak berjumpa, apa kabar dia?" Aerin tersenyum kecut.

__ADS_1


Beribu kali dia mengatakan membenci lelaki itu tetapi hatinya tak bisa berbohong bahwa hari berganti perasaan itu kian menusuk sangat dalam. Bahkan dia tidak tahu bagaimana caranya agar melupakan lelaki tersebut, suaminya.


"Apa perlu kita pulang ke Indonesia?" tanya Yoas.


Aerin menggeleng, "Aku takut Tuan Christoper dan Tuan Alta mencelakai anak-anak, Kak. Aku tidak mau anak-anakku kenapa-kenapa," jelas seraya menghela nafas panjang.


Jujur Aerin ingin sekali bertemu dengan suaminya untuk sekedar bertanya kabar. Tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Bukankah pulang ke Indonesia sama saja memasukkan diri kedalam kandang buaya?


"Kakak yakin suatu saat nanti kau dan Tuan Alan pasti bertemu," ucap Yoas menenangkan. Bukan hanya Aerin yang merindukan sosok Alan tetapi Yoas juga rindu pada Tuan Muda-nya tersebut.


"Kak, apa aku benar-benar pelakor? Seandainya aku tahu dari awal jika Kak Alan sudah menikah dengan Nona Anne, aku tidak mungkin mau menikah dengannya," ucap Aerin dengan nada sendu dan juga terdengar lirih. Matanya kembali berkaca-kaca ketika mengingat perpisahan menyakitkan itu.


Bayangan Aerin kembali terngiang saat mendengar panggilan lirih Alan. Suaminya itu dihajar dan pukul sangat kuat oleh Christoper. Perpisahan itu terjadi disaat Aerin sudah menaruh hati sepenuhnya pada sang suami.


"Tidak, Rin. Kau tidak jadi pelakor. Selama ini Tuan Muda tidak pernah mencintai Nona Aerin. Dia menikahinya wanita itu karena hutang Tuan Arkin pada Tuan Christoper. Tuan Muda tersiksa dengan pernikahannya," jelas Yoas memberi pengertian pada Aerin.


Jelas Yoas tahu kehidupan Alan seperti apa, dia menemani tuan-nya itu sejak belasan tahun lamanya dan bahkan dia tahu seluk beluk kehidupan sang tuan.


"Jadi Kak Alan tidak pernah mencintai Nona Anne?" tanya Aerin penasaran.


"Iya Rin. Kalau Tuan Alan mencintai istrinya, dia pasti tidak akan pernah menikahimu. Tetapi Tuan Alan hanya mencintaimu," jelas Yoas lagi.


Aerin bersandar lemah di jok mobil. Wanita itu memejamkan matanya sejenak. Apapun tentang suaminya dia tidak pernah tahu. Bahkan betapa sakitnya suaminya itu menjalani pernikahan kurang lebih 10 tahun.


"Saat bertemu denganmu, kehidupan Tuan Muda berubah. Dulu dia tidak pernah tersenyum apalagi tertawa. Hidupnya ditekan oleh kekuasaan Nona Anne," jelas Yoas lagi menceritakan tentang Alan.


Lagi-lagi Aerin terdiam. Dadanya sesak mendengar penderitaan sang suami. Aerin melirik jarinya, cincin yang pernah dia lepaskan di depan Alan karena ingin berpisah. Kini melingkar dengan sempurna di jarinya.


"Aku tidak pernah tahu penderitaan suamiku, Kak. Aku pikir selama ini dia baik-baik saja," ucap Aerin terdengar lirih.


"Tuan Muda akan baik-baik saja, selama kau berada disampingnya," sahut Yoas.


"Sudah lima tahun berlalu, aku tidak tahu bagaimana kehidupan suamiku sekarang, Kak. Apakah dia sudah makan? Apakah tidurnya nyenyak?" cecar Aerin. Tanpa sadar buliran bening tanpa warna itu meleleh begitu saja membasahi pipi mulusnya.


Yoas menepikan mobilnya. Dia menatap wajah Aerin sembari jari-jari yang menyeka air mata wanita itu.


"Tuan Muda akan baik-baik saja, Rin. Kakak yakin suatu saat nanti kalian akan dipertemukan kembali," ucap Yoas.


"Tapi aku rindu suamiku, Kak. Aku bisa mengatakan benci dan tak ingin bertemu dengannya. Tetapi hatiku tak bisa bohong sama sekali bahwa aku ingin memeluk tubuhnya."


Yoas merengkuh tubuh Aerin masuk kedalam pelukannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2