Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Membunuh perasaan


__ADS_3

Yoas dan Yoel tampak sibuk memasukkan barang-barang Aerin beserta ke-empat anaknya kedalam tas berukuran kecil.


"Kak, terima kasih ya," ucap Aerin.


Aerin tersenyum melihat kepedulian dua orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Jika tidak ada Yoas dan Yoel, Aerin tidak akan tahu seperti apa hidupnya.


"Sama-sama, Rin," jawab Yoas sedikit canggung memanggil wanita itu dengan nama. Sudah terbiasa memangil Aerin nona, membuat nya merasa kesusahan harus menyebut nama Aerin.


"Ayo," ajak Yoel.


"Iya Kak."


Mereka keluar dari ruangan rawat inap Aerin. Yoel mendorong kursi roda Aerin. Sementara Yoas membawa ke-empat bayi Aerin didalam box yang sama. Sedangkan untuk barang-barang di bawa oleh salah satu asisten Yoas.


"Rin, kita langsung kerumah baru ya. Kakak mendapatkan bonus dari perusahaan dan cukup untuk membeli rumah baru," ucap Yoas berjalan sejajar dengan kursi roda Aerin


"Wah benarkah, selamat Kak semoga selalu sukses," seru Aerin.


Yoas dan Yoel tersenyum. Yoas sengaja membeli rumah yang kemungkinan nya jauh dari jangkauan orang lain. Dia takut jika Christoper masih mencari keberadaan Aerin. Yoas takkan biarkan lelaki itu menyiksa Aerin lagi. Walau terselip rasa bersalah di hati Yoas karena sudah memisahkan Alan dan Aerin. Namun, dia berharap jika suatu hari nanti Aerin dan Alan kembali bersama.


"Pelan-pelan," ucap Yoel melindungi kepala Aerin saat wanita itu hendak masuk kedalam mobil.


Aerin masuk dengan pelan, wanita itu tampak tak sabar menggendong anak perempuan nya.


"Cantik sekali, anak Mommy ini," ucap nya terkekeh pelan sambil menciumi wajah perempuan nya tersebut.


Yoas duduk disamping Aerin sambil menggendong dua bayi dipelukkan nya. Sementara Yoel duduk disamping kemudi.


Yoas dan Yoel terkekeh mendengar Aerin yang berceloteh dengan bayi-bayi nya. Wanita itu tampak bahagia dengan kehadiran anak-anak nya. Jujur saja, Yoas bosan menemani Aerin yang bermandikan air mata setiap hari menangisi perpisahan nya dengan Alan. Yoas tahu memang tidak mudah berpisah dalam keadaan seperti itu, apalagi Aerin dalam kondisi hamil dns begitu butuh sosok seorang suami.


"Aduh, Shaka buang air kecil," gerutu Yoel.


Yoas dan Aerin terkekeh. Apalagi Yoel pencinta kebersihan dan rapi.

__ADS_1


"Son, kau tega pada Papa. Sekarang Papa bau sekali," cetus Yoel memasang wajah kesal nya seolah bayi laki-laki itu memahami ucapannya.


Aerin menggeleng sambil tersenyum gemes. Wanita itu sudah membayangkan masa-masa tua nya yang akan bahagia bersama ke-empat anaknya. Sekarang Aerin paham kenapa Tuhan memberinya ujian begitu banyak karena Tuhan ingin menyatakan cinta-Nya lewat malaikat kecil yang hadir dikehidupan berat Aerin.


'Bby, apa kau tahu, anak-anak mu kembar empat. Pasti kau akan sangat bahagia menyambut kelahiran mereka. Mereka sangat lucu dan juga menggemaskan. Bby, seperti nya aku harus menikam hatiku sendiri untuk membunuh segala rindu yang menyesak kan dada. Aku sadar bahwa kita tidak akan mungkin bersama. Oleh sebab itu, aku akan mengikhlaskan mu dengan Nona Anne. Aku adalah orang ketiga di rumah tangga kalian,' ucap Aerin dalam hati.


Aerin menahan lelehan bening dipipinya. Bohong jika dia tak rindu Alan, dia sangat merindukan sosok suaminya itu. Alan membuat Aerin percaya akan kata cinta. Lelaki itu tulus mencintai dia apa adanya. Lelaki itu memperlakukan dia bak ratu, setelah dirinya di anggap babu.


Mungkin mulut Aerin mengatakan benci pada pria itu tetapi tidak dengan hatinya. Kerinduan kian menyelip masuk kedalam rongga hatinya. Hingga membuat dirinya kehilangan arah hidup.


"Kau baik-baik saja?" tanya Yoas tersenyum hangat.


"Aku rindu Hubby, Kak," jawab Aerin dengan mata berkaca-kaca.


Yoas dan Yoel terdiam, mereka paham perasaan Aerin saat ini. Apalagi melihat betapa cinta nya Alan pada Aerin, pasti sangat menyakitkan jika di paksa seperti ini.


Tidak terasa mobil yang membawa mereka sampai dirumah baru yang di beli Yoas. Rumah mewah yang terdiri dari dua lantai. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi bentuk nya memikat hati.


"Kak, serius ini rumah baru kita?" tanya Aerin setengah tak percaya. Matanya berbinar-binar menatap bangunan mewah tersebut.


Aerin menatap kagum rumah mewah milik Yoas tersebut. Dia pikir asisten suami nya tersebut miskin tetapi ternyata memiliki uang yang banyak untuk membeli rumah semewah ini.


Mereka berjalan masuk kedalam. Rumah tersebut sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas serta beberapa pekerja disana.


.


.


"Hai anak-anak Ayah," sapa Yoas yang baru saja pulang bekerja.


Aerin melirik tersenyum, dia sedang mengganti pempers putra pertama nya.


"Kak Yoel, mana Kak?" tanya Aerin.

__ADS_1


"Biasa. Dia sedang ada bisnis diluar," sahut Yoas. "Oh ya bagaimana Shena hari ini? Apa dia rewel?" cecar Yoas.


"Tidak Kak. Shena sudah lebih tenang hari ini," sahut Aerin.


Beberapa hari yang lalu bayi munggil berjenis kelamin perempuan tersebut memang sedikit rewel karena demam tinggi. Entah karena perubahan musim atau daya tahan tubuh nya sedang melemah.


"Apa perlu Kakak cari kan pengasuh?" tanya Yoas.


Sebab Yoas dan Yoel tidak bisa selalu menemani Aerin dalam mengurus anak-anak nya karena kesibukan dalam dunia pekerjaan.


"Tidak perlu, Kak. Kan ada Bik Maryam yang bantu," jawab Aerin.


Yoas mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya ini bukan pertama kali nya dia menawarkan pengasuh untuk membantu Aerin, sudah sering. Namun, lagi-lagi wanita itu menolak karena dia ingin mengasuh anaknya sendiri. Aerin tak ingin anak-anaknya kekurangan kasih sayang. Walau jujur saja dia kewalahan karena ke-empat bayi kembar itu tidak mau minum susu formula dan lebih memilih ASI sebagai makanan pokok mereka.


Alhasil porsi makan Aerin pun bertambah dari biasanya. Wanita itu cepat lapar setelah menyusui ke-empat anaknya. Namun, tubuh Aerin tetap ideal tidak seperti wanita setelah melahirkan pada umumnya. Padahal dia tidak pernah olahraga atau sekedar lari pagi.


"Ya sudah kalau butuh apa-apa, jangan sungkan," ucap Yoas.


"Terima kasih, Kak," balas Aerin. "Kakak mandi sana dan ganti baju, kita makan malam bersama. Aku akan memasak makanan kesukaan Kakak!" seru Aerin tersenyum simpul. Yoas seperti kakak nya sendiri, lelaki ini sudah mengorbankan banyak hal untuk dirinya.


"Iya, Sayang." Yoas mengacak rambut Aerin dengan gemas.


"Kakak." Aerin merenggut kesal.


"Ya sudah Kakak mau membersihkan diri dulu," pamit Yoas berdiri dari duduknya.


"Iya Kak, jangan lama-lama," pesan Aerin.


Yoas mengangguk lalu masuk kedalam kamarnya. Lelaki itu menghela nafas panjang.


"Aku harus memperketat penjagaan pada Aerin dan anak-anak. Seperti nya anak buah Christoper sudah menemukan jejak ku," gumam Yoas.


Yoas mengambil benda pipih didalam saku celana nya lalu menghubungi seseorang. Yoas takut jika Christoper dan Alta menemukan persembunyian mereka. Dia tak bisa bayangkan, apa yang akan dilakukan kedua pria itu pada Aerin?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2