Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Season 2. Part 07.


__ADS_3

Dua orang gadis masih bergelayut nyaman di bawah selimut tebal. Keduanya saling tarik-tarikan tanpa peduli dengan sinar matahari yang sudah memancar menyinari wajah cantik kedua gadis tersebut.


Kring kring kring


Anaya menyambar jas weker yang terasa berisik di atas meja. Gadis itu memincingkan satu matanya untuk melihat jam. Hingga matanya membulat sempurna ketika melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Astaga," pekiknya.


Amora juga ikut mengeliat di bawah selimut tebal tersebut saat mendengar teriakan sahabatnya.


"Kenapa sih, An? Berisik tahu," protes Amora kembali memeluk bantal gulingnya.


"Sudah jam 7."


Sontak mata gadis itu terbuka lebar. Dia berhambur dari ranjang dan mengambil handuk sembarangan.


"An, cepat aku bisa telat," sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Mandi di dapur saja, Ra. Aku masih lama!" teriak Anaya dari dalam kamar mandi.


Kedua gadis itu mandi secepat kilat seperti sedang berlomba siapa yang duluan selesai.


"Ra, pesan taksi. Kuotaku habis," ucap Anaya yang sibuk memasang pakaian di tubuhnya.


"Ck, apakah tidak ada wifi disini?" protes Amora.

__ADS_1


"Habis. Aku belum bayar sewanya," sahut Anaya.


Kondisi apartemen Anaya sangat berantakan dengan baju yang berserakan kemana-mana. Kedua gadis itu memang tidak peduli terhadap kebersihan, apalagi mereka sudah sama-sama telat.


"An, sepertinya kita butuh pembantu," ucap Amora sambil masuk ke dalam mobil.


"Siapa yang akan bayar?" Anaya memasang wajah kesalnya. "Gajian saja belum, boro-boro memberikan orang gaji," sambungnya lagi seraya sibuk memasang makeup di wajah tipis mereka berdua.


"Iya juga ya," sahut Amora menyimpan alat makeupnya.


Sang supir hanya geleng-geleng kepala saja mendengar celotehan kedua gadis yang sedang menumpang di belakangnya tersebut. Dia pusing sendiri saat Anaya dan Amora malah berdebat siapa yang akan mengaji pembangunan. Padahal keduanya bisa bagi tugas saat pulang dari kantor. Tetapi karena rasa malas membuat keduanya harus berdebat.


"Aku yakin sampai kantor pasti jadi peyek," desah Anaya. Bossnya itu killer bukan main yang memiliki hobby mengomel dan marah-marah.


"Kalau aku jadi mie rendang," sahut Amora yang sudah membayangkan dirinya di semprot habis-habisan bossnya.


"Dih, kenapa menuduhku? Bukankah kau sama saja," sanggah Amora yang tidak terima di tuduh.


.


.


Amora menunduk dengan jari jemari yang saling meremas satu sama lain. Sedangkan di depannya Agam sudah memasang wajah tak bersahabat. Bagaimana tidak, tugas meeting yang harusnya di kerjakan malam hari dan paginya sudah bisa di pakai untuk bahan presentasi di depan para direksi tetapi belum di kerjakan oleh Amora. Tidak mungkin terkejar.


"Maaf, Tuan. Semalam say_" Amora kembali merenungi nasibnya.

__ADS_1


"Saya apa?"


Agam memijit pelipisnya yang terasa berdenyut baru beberapa hari gadis ini menjadi sekretarisnya tetapi sudah membuat kepalanya pusing bukan main. Jika saja bukan karena karena butuh sekretaris mungkin dia sudah memecat Amora.


"Saya kesiangan, Tuan," jawab Amora jujur. Gadis ini paling tidak bisa berbohong karena sejak kecil dirinya memang sudah di latih untuk berkata jujur walau mungkin akan ada akibat yang dia terima.


"Kenapa bisa kesiangan?" tanya Agam menyelidik. Sedangkan Yakob geleng-geleng kepala. Ini salah Agam yang mengangkat Amora sembarangan tanpa melalui test.


"Semalam saya habis curhat sama An, Tuan," jawabnya lagi sambil menunduk dan memainkan jari-jari tangannya. Keringat dingin membasahi dahi gadis itu. Jangan sampai dia di pecat, kalau di pecat mau kabur ke mana lagi? Dirinya saja seperti burunon yang keberadaannya di cari oleh lelaki tua itu.


"Curhat apa?" tanya Agam mengintimidasi.


"Hiks, begini, Tuan." Amora menyeka air matanya. "Jadi saya itu kabur dari rumah karena ada aki-aki tua yang mengejar saya. Terus memaksa saya jadi istri ke-enamnya, hiks," ucap Amora dengan lelehan bening di pipinya.


Tanpa sadar Agam tersenyum sambil menggeleng. Ada-ada saja gadis ini. Kabur dari rumah hanya karena di paksa menikah dengan aki-aki.


"Lalu apa hubungannya dengan pekerjaan?" Agam menatap gadis itu penuh selidik.


Sementara Yakob menahan senyumnya. Dia semakin penasaran dengan sosok Amora yang berbicara apa adanya. Sangat cocok dengan Agam yang tegas dan tidak mau bertele-tele. Anggap saja seperti air dan minyak yang tak mungkin bersatu tetapi bisa berdampingan.


"Kan ceritanya curhat, Tuan. Lalu kami sampai subuh dan kesiangan," jawab Amora jujur. Andai ada Anaya sudah pasti dia mendorong kening sahabatnya itu yang bicara terlalu polos dan apa adanya.


"Apa orang tuamu tahu jika aku bekerja di sini?" tanya Agam lagi. Dia menghela nafas panjang ternyata, Amora ini ilegal.


Gadis itu lagi-lagi menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Mungkin orang mengatakan dia lebay. Namun, sungguh dia takut sekali pada pria yang mengejarnya itu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2