
Seorang wanita mengeliat nyaman dibawah selimut tebalnya. Dia tampak terusik dengan pantulan cahaya matahari yang memancar diwajahnya.
Wanita tersebut menguap beberapa kali dan duduk sambil mengumpulkan nyawanya yang hilang di alam mimpi.
"Sudah siang," gumam nya menyimak selimut yang menutupi tubuhnya. "Lho Hubby di mana?" ujarnya melirik sekitar dan tidak mendapati sang suami.
Wanita itu turun dari ranjang lalu merapikan tempat tidur nya. Dia masih terlihat mengantuk tapi tak bisa tidur. Wajah bantal pagi hari, membuat wajah wanita tersebut malah terlihat menggemaskan dan manis apalagi tanpa polesan make up.
"Hubby, kemana yaaa?" gumam nya. Dia masih celinggak-celinguk mencari keberadaan suaminya.
Semalam dia kekalahan setelah pemberkatan. Untungnya pagi ini dia tidak muntah-muntah seperti biasa. Seperti nya memang bayi dalam kandungan nya ingin selalu didekat sang ayah.
"Selamat pagi sayang Mommy," sapanya sambil mengusap perut ratanya.
Aerin, wanita cantik yang telah dijebak oleh kekasih nya sendiri. Namun, siapa sangka akibat jebakkan tersebut membuat dia menemukan seorang pria yang tulis mencintainya. Pria sempurna dengan sejuta pesona. Pria yang bahkan takut jika kulitnya tergores meski hanya sedikit.
Aerin keluar dari kamarnya. Ya rumah ini benar-benar mewah dan besar serta letaknya juga jauh dari perkotaan. Sehingga tempat ini tenang dan cocok untuk merenungi nasib tanpa gangguan didunia luar.
"Selamat pagi Nona," sapa para pelayan yang berbaris rapi menyambut kedatangan Nona Muda mereka tersebut.
"Pagi Bik," balas Aerin. "Bik di mana suamiku?" tanya Aerin
Padahal Aerin berencana menyiapkan sarapan pagi untuk Alan. Tapi saat dia bangun, dia sudah tak mendapati di mana suami nya tersebut.
"Tuan Muda, sudah berangkat kerja Nona sejak tadi pagi," jawab Bik Surti, kepala pelayan di rumah mewah itu.
"Oh ya Nona. Tuan sudah siapkan sarapan untuk Nona. Pesan Tuan tadi agar Nona sarapan pagi," ucap Bik Surti lagi.
Aerin tersenyum hangat. Kenapa dia senang sekali saat Alan memperhatikan dan peduli padanya. Apa perlahan benih-benih cinta tumbuh didalam dada Aerin?
"Terima kasih Bik," sahutnya.
__ADS_1
Wanita itu duduk dikursi meja makan. Dia menatap lapar sarapan yang ada diatas meja. Bahkan dia tak peduli saat dirinya belum mandi. Yang pasti cacing-cacing didalam perut nya sudah demo ingin segera di beri makan.
Aerin makan dengan lahap. Rambut nya dia kucir kuda, sehingga menampilkan leher jenjang wanita hamil tersebut. Sejak hamil nafsu makannya bertambah kali lipat.
"Bik, jam berapa suamiku berangkat?" tanya Aerin dengan mulut penuh makanan.
Makanan tersebut dibuat oleh Alan, dia menyiapkan makanan bergizi agar pertumbuhan bayi dalam kandungan istrinya baik-baik saja. Sebab makanan yang sehat dapat memicu kesehatan bayi.
"Jam lima tadi, Nona," jawab Bik Surti sambil tersenyum melihat cara Aerin makan.
Aerin dan Anne dua orang wanita yang berbeda. Aerin terlihat apa adanya tanpa neko-neko. Sedangkan Anne sangat sombong. Dia merasa bahwa dirinya hebat dari yang lain, sehingga dia merendahkan orang dibawahnya.
"Kenapa pagi sekali, Bik?" tanya Aerin heran. Kalau jam lima suaminya berangkat, pasti Aerin tidak bisa setiap pagi bertemu dengan lelaki itu. Lantaran dia yang masih terlelap nyaman di alam mimpinya.
"Perjalanan menuju ke kota cukup jauh, Nona. Apalagi pagi-pagi Tuan ada meeting," jelas Bik Surti memberi pengertian. Dia tidak mau Aerin berprasangka buruk pada Alan.
Aerin manggut-manggut paham, lalu kembali melanjutkan makannya. Wanita ini sama sekali tidak peduli siapa pria yang menikahinya kemarin. Yang dia inginkan adalah anaknya mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua nya.
"Susu nya Nona," ucap Bik Surti mengingatkan.
"Terima kasih Bik." Aerin menunggak susu tersebut hingga tandas. "Ahh kenyangnya!" seru Aerin membuat para pelayan tersenyum gemes melihat tingkah wanita cantik tersebut.
Aerin menatap sekeliling nya, keasyikan makan wanita itu sampai lupa jika dirinya dikelilingi oleh banyak pelayan.
Wanita itu tersenyum canggung, dia malu sendiri karena makan tanpa tahu tempat. Padahal sudah menjadi pusat perhatian masih saja dia seperti tak malu.
.
.
.
__ADS_1
"Bagaimana Tuan?" tanya Yoas.
Alan benar-benar tak konsentrasi selama meeting berjalan. Yang ada dipikiran hanya Aerin. Dia merindukan wanita itu padahal baru beberapa jam yang lalu dia meninggalkan Aerin.
"Tuan," panggil Yoas sekali lagi.
Alan sontak berdiri dari duduknya, "Lanjutkan meeting nya Yoas. Aku mau keruangan," ucap Alan sambil keluar tanpa menunggu jawaban dari Yoas.
Semua orang melihat Alan heran. Tak pernah Alan mau meninggalkan meeting di saat sedang berlangsung seperti ini. Tak hanya para direksi yang heran tapi juga Yoas. Namun, Yoas memaklumi karena Alan sedang memikirkan istrinya.
Alan masuk kedalam ruangan nya. Lelaki tampan itu tampak gelisah sekali. Entahlah, dia benar-benar takut jika keberadaan Aerin di ketahui oleh istrinya, Anne. Apalagi keluarga Anne adalah keluarga paling kejam yang tak memiliki belas kasihan sama sekali dalam memberi pelajaran pada siapa saja yang berani mengusik kehidupan nya.
"Aerin," gumamnya.
Segera Alan mengambil ponselnya dan mengotak-atik layar ponsel tersebut dengan cepat.
Tut tut tut tut tut tut
Namun tak ada sahutan diluar sana. Wajah nya semakin panik. Segera Alan menelpon kepala pelayan disana untuk menanyakan apakah istrinya baik-baik saja. Lelaki itu menghela nafas lega saat mendengar kabar istrinya baik-baik saja dan sudah bangun serta sarapan pagi.
"Aerin. Aerin. Entah, magnet apa yang ada ditubuh mu sehingga aku bisa merasa ditarik masuk kedalam sana," ucap Alan sambil terkekeh.
Bisa dikatakan ini pertama kalinya Alan jatuh cinta di usia nya yang tak muda lagi. Baru merasakan yang namanya jatuh cinta benar-benar membuat hati nya berbunga-bunga. Dia seperti orang tidak waras yang terus tersenyum ketika mengingat wajah polos sang istri.
"Aku harap kau tidak akan meninggalkan ku setelah tahu semua nya, Aerin. Aku tak bisa bayangkan, seperti apa hidupku tanpa mu," lirih Alan.
Alan memejamkan matanya sambil meresapi segala kegelisahan dalam dada. Anne bukan wanita biasa yang bisa Alan remehkan. Wanita itu penuh ambisi ketika menginginkan sesuatu. Alan tak mau jika Anne menyakiti Aerin dan calon bayi nya.
"Kita berjuang bersama, Sayang. Kau dan aku serta anak kita akan bahagia selamanya," ucap Alan lagi terdengar lirih.
Berada di posisi Alan bukan hal yang mudah. Ketakutan akan kehilangan itu benar-benar merasuk kedalam jiwanya. Dia harus berperang dengan hati dan kenyataan. Alan hanya berharap bahwa dia dan Aerin bisa melewati semua ini. Dan Aerin tak akan pergi ketika tahu bahwa telah menjadi orang ketiga didalam hubungan rumah tangga nya.
__ADS_1
Bersambung....