Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Mangga muda.


__ADS_3

Alan sengaja meninggalkan pekerjaan nya untuk menemani Aerin hari ini. Menghabiskan waktu bersama istri tercinta nya tersebut.


"Hubby tidak bekerja?" tanya Aerin sambil bersandar di bahu Alan.


"Tidak Sayang, aku libur hari ini," sahut Alan mengusap kepala wanita itu.


"Bby, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Sudah lama aku disini tetapi kita belum pernah keluar bersama. Aku ingin jajanan dipinggir jalan," pinta Aerin manja. Sudah beberapa Minggu dia menikah dengan Alan dirinya merasa terkurung dalam rumah besar seperti ini.


Alan terdiam, bukan dia tidak mau. Bahkan bila perlu mengajak Aerin keliling dunia dia juga siap. Hanya saja hal itu berbahaya. Jika mereka keluar dan jalan-jalan ke kota, pastilah anak buah suruhan keluarga Hathaway akan menemukan Aerin.


"Lain kali saja ya Sayang. Aku ingin istirahat hari ini," ucap Alan berasalan.


Wajah Aerin berubah cemberut. Dia ingin seperti wanita lain yang ditemani suaminya atau sekedar menikmati udara segar.


"Lalu kapan kita jalan-jalan Bby, aku bosan," renggek Aerin.


Bagaimana tak bosan, hidupnya seperti ratu. Semua pelayan dan Alan memperlakukan nya seperti seorang tuan putri, apa-apa tidak boleh dilakukan sendiri.


Alan yang posesif luar biasa itu tentu tak membiarkan istrinya melakukan hal-hal yang aneh. Apalagi yang membahayakan Aerin. Alan ingin istri dan anaknya sehat, Aerin hamil muda yang tentu nya sangat rentan dan sensitif.


"Bby, aku ingin makan mangga muda. Tapi aku ingin Hubby yang petik langsung!" seru Aerin membayangkan buah mangga yang segar, apalagi ditambah dengan ulekkan sambal.


"Tidak Sayang, itu tidak baik untuk kesehatan mu," sergah Alan. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan calon anak mereka.


"Tapi Bby, aku ingin sekali makan mangga," renggek Aerin. Dia seperti melupakan rencana nya yang ingin jalan-jalan ketika mengingat buah mangga yang segar dan membuat air liur nya seperti mau menegur.


"Tuan, sebaiknya Anda ikuti saja perintah Nona Muda. Nona sedang hamil, Tuan. Ini permintaan bayi Anda," ucap Bik Surti menimpali.


Alan menghela nafas panjang. Permintaan Aerin aneh-aneh nanti juga tidak di makan habis. Kemarin semalam saja, Alan dibuat kesal setengah mati ketika Aerin minta es cream tengah malam. Ketika lelaki itu menolak sang istri malah merajuk dan tidak mau berbicara dengannya. Alan tak bisa di dinginkan oleh Aerin, jangankan saat wanita itu dingin padanya. Ketika Aerin tak mau dia peluk saja, hati Alan sakit setengah mati.


"Yoas petik kan mangga untuk istriku!" titah Alan.


"Bby, aku mau nya Hubby yang petik bukan Kak Yoas," sergah Aerin memeluk lengan suaminya.


Alan menghela nafas panjang. Lelaki itu tersenyum sambil mengusap kepala istrinya. Apapun akan dia lakukan untuk Aerin termasuk memanjat pohon mangga, walau dia tidak pernah yang namanya manjat pohon mangga, seumur hidupnya.


"Baiklah, Sayang. Kau tunggu disini," ucap Alan menarik hidung istrinya dengan gemes.

__ADS_1


"Aku ikut," seru Aerin berdiri dengan semangat.


Alan mendengus kesal. Padahal tadi dia sudah berencana menyurut pada pelayan untuk memanjat pohon tersebut. Kebetulan disamping mansion mewah Alan terdapat beberapa pohon buah-buahan yang seperti nya sengaja Alan tanam.


"Nanti kau kelelahan, bagaimana Sayang?" ucap Alan


"Aku tidak akan lelah Bby, aku sehat," jawab Aerin cepat sambil mengusap perut ratanya.


Alan bersyukur kehamilan Aerin tidak aneh seperti kehamilan wanita pada umum nya. Aerin hanya ingin makan beberapa barang yang untung nya bisa di cari di mansion mewah tersebut.


"Ya sudah ayo, Sayang." Alan mengulurkan tangannya agar Aerin menyambut tangan suaminya tersebut


Aerin berdiri dengan senyum sumringah, lalu berjalan dan memeluk lengan suaminya dengan manja.


Bik Surti dan Yoas serta beberapa pelayan menggeleng sambil tersenyum simpul. Aerin adalah wanita yang baik dan rendah Hati. Dia menghormati orang yang lebih tua dari dirinya. Aerin juga tidak semena-mena pada para pelayan yang melayani nya seperti ratu.


Alan berdiri didepan pohon mangga. Lelaki itu meneguk salivanya susah payah ketika melihat pohon mangga yang tinggi beberapa meter diatas nya. Bagaimana bisa dia memanjat pohon tersebut?


"Kenapa Bby?" tanya Aerin heran ketika suaminya hanya terdiam.


Jika bukan karena Aerin dan calon bayi nya. Mungkin Alan takkan mau memanjat pohon menyeramkan tersebut.


Alan naik perlahan, dalam hati pria itu terus berdoa semoga tidak jatuh. Sedangkan Aerin memberikan semangat pada Alan seperti suporter bola.


Alan memetik beberapa mangga untuk istrinya. Untung tidak ada semut yang bersarang di pohon mangga tersebut sehingga dia aman.


Alan turun dari pohon, pinggang nya serasa encok dan keringat dingin membasahi dahi lelaki tampan itu.


Aerin memunggut buah mangga yang ada ditanah dan menyimpan di baju nya. Alan mendelik melihat istrinya yang ceroboh.


Tanpa peduli pada suaminya wanita itu segera membawa mangga-mangga nya kedalam rumah untuk segera di eksekusi.


Alan merenggut kesal. Baru saja hamil Aerin sudah mengabaikan nya. Bagaimana jika wanita itu melahirkan nanti? Pasti dirinya akan dinomorduakan dan lebih fokus merawat bayi mereka.


Alan itu masuk sambil menghentakkan kaki dengan bibir menggerecut dan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra.


Lagi-lagi Yoas hanya menggeleng melihat pasangan romantis tersebut. Sejak bersama Aerin sifat asli Alan terlebih. Jika dia bersama Anne maka wajahnya akan dingin tak tersentuh.

__ADS_1


Alan menyusul Aerin masuk ke dapur. Wanita itu tampak mengupas kulit mangga.


"Sayang hati-hati nanti tangan mu terluka," tegur Alan melihat Aerin mengupas kulit mangga dengan pisau tajam.


Aerin malah tak menghiraukan dia benar-benar tak sabar untuk menyantap buah mangga tersebut, pasti sangat segar.


"Sambal nya sebanyak itu, Sayang?" Alan mendelik ketika melihat banyak biji-biji cabai di ulekkan Aerin.


"Iya Bby," sahut Aerin tanpa melihat suaminya.


"Sayang suruh pelayan saja," ucap Alan mendesah pelan.


"Aku bisa sendiri, Bby," jawab Aerin.


Aerin duduk dengan nyaman di sofa. Ditangannya ada sepiring buah mangga yang telah dia bersihkan serta sambal buata Aerin.


"Sayang jangan banyak-banyak. Kau bisa sakit," tegur Alan.


"Ini sedikit, Bby," jawab Aerin.


Alan menelan salivanya kasar ketika mendengar suara yang keluar dari mulut Aerin ketika dia mengigit daging mangga muda tersebut.


"Hubby, mau?" tawar Aerin.


"Tidak, Sayang. Kau makan saja," tolak Alan sambil tersenyum.


Seumur hidup, Alan tak pernah memakan barang aneh seperti itu. Jadi dia sama sekali tidak tertarik walau terlihat mengiurkan.


"Sayang, sudah ya. Jangan terlalu banyak," ucap Alan.


"Ck, kau ini bagaimana sih, Bby? Ini saja belum habis," protes Aerin.


"Tapi itu sudah setengah," ujar Alan kesal.


"Baru setengah, belum habis," sahut Aerin tak mau kalah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2