Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Rindu


__ADS_3

Alan merenggut kesal saat Anne terus menempel padanya dan memaksa lelaki itu untuk makan malam bersama keluarga nya malam ini.


Alan masuk kedalam kamarnya. Entah kenapa rasanya hampa? Dia ingin sekali pulang kerumah dan menemui Aerin. Seharian dia tidak mendengar kabar dari istrinya tersebut. Entah apa yang Aerin kerjakan, sehingga membuat wanita itu tak bisa mengangkat ponselnya?


"Aerin, apa kau baik-baik saja?" tanya Alan sambi berbaring diatas kasur king size nya.


Alan tak boleh lenggah, seperti nya Anne mencurigai gerak-gerik nya. Alan tak mau nanti malah membuat istri dan calon bayi mereka dalam bahaya.


Alan menatap langit-langit kamar, sembari tersenyum manis membayangkan wajah cantik sang istri. Jantungnya berdegup kencang saat bayangan Aerin yang tersenyum melintas begitu saja.


"Aku berjanji Aerin suatu saat kita akan hidup bahagia tanpa gangguan dari pihak mana pun," ucap Alan.


Mungkin untuk saat ini dia harus menahan segala rindu yang menghantam dadanya dan tak bisa mengatakan pada dunia, bahwa Aerin adalah miliknya. Tetapi suatu saat, ketika dia sudah lepas dari jeratan Anne. Dia akan membawa istrinya pergi sejauh mungkin, di mana hanya ada mereka berdua saja bersama anak yang Tuhan titipkan untuk melengkapi kebahagiaan mereka.


Alan bangkit dari tempat tidurnya, lalu bergegas ke kamar mandi. Tak apa untuk sementara waktu dia mengikuti perintah Anne. Bukan berarti Alan menjadi budak wanita itu, Alan hanya tak mau jika keegoisan nya malah menyakiti Aerin dan calon anak nya.


Lelaki itu mengguyur tubuhnya dibawah shower. Pikirannya mulai berkelana kemana-mana. Seandainya dia bertemu Aerin, sebelum dia menikahi Anne. Pasti hidupnya akan bahagia dan dia tak perlu repot-repot bersembunyi seperti ini.


Setelah mandi, lelaki itu memilih pakaian didalam almari nya. Impian Alan adalah ingin di pakaikan dasi dan jas oleh istrinya sebelum dia berangkat bekerja. Namun, untuk saat ini dia belum bisa mewujudkan impian nya tersebut. Bahkan untuk pagi hari saja, dia harus berangkat sebelum istrinya bangun. Agar Aerin tak curiga.


"Sayang, kau sudah siap?" tanya Anne melangkah masuk kedalam Alan.


Alan melirik Anne lalu kembali fokus pada jam yang dia pasang di pergelangan tanganya. Baginya Anne hanya wanita kesepian yang melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.


"Alan, aku mau didepan orang tua ku, kita harus mesra," pinta Anne. "Supaya mereka mengira bahwa kita sudah saling mencintai," sambungnya.


"Menutupi kedok jika selama ini kau meminta orang lain untuk memuaskan dirimu," jawab Alan tersenyum sinis.


Mereka tak jauh beda, baik Alan mau pun Anne sama saja. Anne yang haus belaian seorang suami, mencari tempat lain untuk menuntaskan hasratnya. Begitu juga dengan Alan yang menikah secara diam-diam karena kesalahan satu malam. Kesalahan yang menumbuhkan benih didalam rahim wanita yang telah dia renggut kesucian nya.

__ADS_1


Alan keluar dari kamar tanpa peduli pada teriakkan Anne yang memanggil namanya. Sebenarnya hubungan rumah tangga mereka memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Namun, Anne masih saja memaksa agar Alan menerima dirinya sebagai istri. Padahal dia pun memiliki orang lain di belakang sang suami.


"Alan tunggu."


Wanita itu langsung memeluk lengan Alan dengan manja sambil keluar dari rumah mewah mereka.


"Lho, Yoas kemana?" tanya Anne yang tak melihat asisten suami nya itu.


"Dia sedang ada pekerjaan," jawab Alan langsung masuk kedalam mobil.


Yoas di perintahkan Alan untuk menjaga Aerin dirumah mereka. Walau disana banyak pengawal dan penjaga. Namun, tetap saja Alan khawatir jika terjadi sesuatu pada istrinya tersebut. Apalagi Aerin sedang menggandung, bisa saja banyak orang yang ingin mencelakainya.


"Tumben?" kening Anne berkerut heran. Pasalnya Alan dan Yoas bak suami istri yang kemana-mana selalu bersama. Bagai paku lekat di papan.


Alan tak menjawab dia menyalakan mesin mobil lalu melajukan nya dengan kecepatan tinggi. Bisa dibilang ini pertama kalinya dia satu mobil dengan Anne, berdua saja. Dia tak pernah sedekat ini dengan Anne. Bukan karena Alan tak memiliki rasa sopan santun terhadap istri sendiri. Tetap ini ulah Anne yang membuat dirinya menjadi jijik dengan wanita tersebut.


.


.


Secepatnya wanita itu berlari kearah pintu keluar saat melihat mobil sang suami memasuki pekarangan rumah


"Hu_"


Senyum nya memudar saat yang keluar dari mobil bukan suaminya. Entah karena kehamilannya atau memang dia yang selalu menempel pada lelaki itu, tiba-tiba saja dia merindukan suaminya.


"Selamat sore, Nona," sapa Yoas.


"Kak, di mana suami ku?" tanya nya celingak-celinguk kearah mobil barangkali ada Alan di sana.

__ADS_1


"Maaf Nona. Malam ini Tuan tidak bisa pulang karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tuan meminta saya untuk menjaga Nona disini," jelas Yoas sambil membungkuk hormat.


Aerin menghela nafas lemas. Wanita itu masuk seraya menghentakkan kakinya kesal. Padahal tadi dia sudah berangan-angan ingin memeluk suaminya itu sampai puas. Pokoknya dia sangat merindukan lelaki itu. Aerin tak tahu, entah kenapa dia begitu ingin dekat Alan.


"Kapan dia pulang Kak?" tanya Aerin dengan bibir menggerecut kesal dan tangan yang terlipat didada. Dia duduk disofa.


Seharian wanita itu menunggu suaminya pulang. Aerin ingin memasak dan menyambut Alan seperti istri pada umumnya. Alan pasti senang jika tahu bahwa dia ahli memasak. Namun, dia harus kecewa ketika yang datang bukan suaminya saja malah asisten dari suaminya yang pulang.


"Kemungkinan besok atau lusa, Nona," jawab Yoas berdiri disamping Aerin..


"Aish, kenapa lama sekali sih Kak? Aku rindu suamiku. Aku ingin memeluk nya," ungkap Aerin sambil menggerutu.


Yoas tersenyum gemes. Pasti Alan akan senang jika tahu bahwa Aerin merindukan nya. Yoas tahu betapa cinta nya lelaki itu pada istri keduanya. Bahkan Alan rela mengorbankan apa saja demi Aerin, tak peduli jika nyawa menjadi taruhannya.


"Tuan pasti pulang, Nona," jawab Yoas menyembunyikan senyumnya. "Oh ya Nona. Dimana ponsel Anda, kenapa saat Tuan memanggil, Anda tidak menjawab nya?" tanya Yoas.


Alan sampai uring-uringan menunggu sambutan telpon dari istrinya itu. Tetapi Aerin malah tak mengangkat panggilan telponnya.


"Aish, ohh iya astaga. Entah di mana aku meletakkan ponsel ku, Kak?" Aerin menepuk jidatnya.


Seharian dia habiskan berbicara dengan ikan-ikan peliharaan Alan yang ada dikolam belakang. Sehingga dia lupa entah dimana dia meletakkan benda pintar tersebut.


"Ya sudah, Kak. Aku masuk kamar dulu," ucap nya sambil berdiri.


"Nona, apakah Anda sudah makan?" tanya Yoas.


"Nanti saja, Kak. Aku mau menelpon suamiku dulu," jawab Aerin.


"Baik Nona. Jangan telat makan," pesan Yoas. Lebih tepatnya dia menyampaikan pesan Alan.

__ADS_1


Sebelum kembali ke rumah tersebut, Alan sudah berpesan segala hal untuk disampaikan pada Aerin.


Bersambung...


__ADS_2