
Aerin membuka matanya perlahan. Dia memegang kepalanya yang terasa berdenyut sakit. Sekilas wanita itu seperti belum menyadari di mana dia berada.
"Aku di mana?" gumamnya.
Lalu dia melihat putri kecilnya yang tertidur sambil memeluknya. Aerin mengusap kepala anaknya. Wanita itu sejenak melamun dalam kesendirian.
"Maafkan Mommy, Sayang," gumamnya lirih.
Shena yang mendengar gumaman sang ibu sontak terbangun serta menatap ibunya dengan sendu.
"Mommy," lirih Shena.
"Nana."
Ibu dan anak itu saling berpelukan sambil menangis.
"Nak, wajahmu kenapa? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Aerin panik melihat pipi Shena yang merah dan terlihat bekas tamparan jari di sana. Bahkan darah kering juga membekas di sudut bibirnya.
"Hiks hiks, Mommy. Aunty jahat itu talik-talik tangan Nana, sakit. Lalu tampal wajah Nana," adunya sambil merenggek serta mempraktekkan Anne yang menarik tangannya tadi.
Air mata Aerin langsung luruh. Hatinya benar-benar terasa berdenyut ketika mendengar penjelasan polos dari anaknya. Dia usap pipi lembut nan halus tersebut.
"Apa sekarang masih sakit?" tanya Aerin dengan simbahan air mata.
"Masih, Mom. Pedih," adunya juga dengan air mata berlinang.
"Mommy, tiup ya, Sayang," ucap Aerin.
Shena mengangguk dengan wajah polosnya lalu membiarkan sang ibu meniup bagian pipinya yang memang masih terasa pedih dan pedas. Entah sekuat apa Anne menampar gadis kecil itu sehingga terlihat jarinya tercetak di wajah Shena.
Aerin meniup pipi putrinya dengan air mata yang tak berhenti menetes. Dia merasa bersalah tak bisa melindungi putri kecilnya. Harusnya sebagai seorang ibu dia menjadi sayap pelindung. Tetapi justru dialah yang menyebabkan penderitaan anak-anaknya.
"Mommy, Nana takut pada Aunty itu. Dia kasal, bentak-bentak Nana. Bilang Nana anak halam," jelas Shena. Gadis kecil dengan pikiran polos tersebut mengadukan semua yang dia rasakan tanpa ditutupi.
"Anak halam itu apa, Mom?" tanyanya lagi. Gadis kecil nu memang memiliki jiwa ingin tahu yang tinggi.
Air mata Aerin kembali jatuh deras. Sakit, hatinya bagai di tusuk oleh ribuan pisau. Anak sekecil ini tak seharusnya mendengarkan ucapan yang menyakiti perasaannya. Perasaannya masih sensitif dan tidak paham.
Aerin merengkuh tubuh anaknya tanpa berani berkata apapun. Air mata yang leleh menandakan bahwa dia tak sanggup menjawab pertanyaan anak perempuannya.
"Mommy."
Gadis kecil itu tak bertanya apapun, dia membalas pelukan sang ibu lalu menangis bersama.
Brak!
__ADS_1
Anne membuka pintu dengan kasar. Sontak pelukkan Aerin dan Shena terlepas.
"Nona Anne," gumam Aerin memeluk anaknya kian erat.
Anne masuk bersama Jo dan beberapa pengawal yang mengekor di belakang mereka.
"Hai pelakor," sapa Anne tersenyum ramah. "Apa kabarmu perebut suami orang?" tanyanya berjongkok menyamakan tingginya dengan Aerin yang terduduk diatas tanah.
Aerin dan Shena saling memeluk dengan wajah ketakutan. Wajah Aerin tampak pucat, dia takut jika Anne melukai anaknya lagi.
"Kenapa takut? Aku bukan hantu!" ledek Anne. "Apa kalian lapar?" tanyanya dengan senyuman mengejek.
"Berikan dia makan!" titah Aerin.
Seorang pengawal melempar dua bungkus roti pada ibu dan anak tersebut. Saat gadis kecil itu ingin mengambilnya tetapi dengan segera Aerin menggeleng melarang anaknya mengambil roti tersebut. Jujur saja dia pun lapar, tetapi feeling-nya mengatakan jika ada sesuatu yang tidak beres.
"Mommy, Nana lapar," ucapnya dengan sendu.
Anne tertawa mengejek, entah kenapa dia sangat suka melihat penderitaan Aerin yang berlipat kali ganda ini?
"Sabar ya, Nak. Nanti kita pasti makan. Tahan dulu laparnya." Hati ibu mana yang tak akan sakit saat mendengar anaknya merenggek kelaparan.
Anne kembali berjongkok, senyumnya seperti iblis yang siap menerkam musuhnya.
"Kenapa tidak di makan? Takut di racuninya?" tebak Anne.
"Hoh, ternyata kau berani juga pelakor," ledek Anne.
Wanita itu kembali berdiri dan melihat kearah para anak buahnya.
"Pindahkan mereka, ikat ibunya. Siksa dia, patahkan jari tangan dan jari kakinya," titah Anne. "Pastikan gadis kecil itu melihat penyiksaan ibunya," ucapnya lagi.
Badan Aerin bergetar ketakutan. Belum juga dia merasakan penyiksaan tersebut tetapi tubuhnya sudah bergidik ngeri.
"Baik Nona," jawab ketiga pengawal tersebut.
"Apa tidak terlalu kejam?" tanya Jo yang kasihan melihat Aerin.
Sekilas tatapan Jo dan Aerin bertemu. Tatapan aneh yang menyeruak masuk ke dalam rongga dada Jo. Tatapan itu seperti memutar balik semua kenangan yang pernah dia dan Aerin lewati beberapa tahun silam.
"Mommy, hiks hiks. Mommy," teriak Shena.
"Nana," teriak Aerin juga memanggil anaknya.
"Mommy jangan pelgi, jangan tinggalkan Nana Mommy. Mommy," teriaknya terdengar menggema. "Lepaskan, Nana. Nana ingin belsama Mommy," pekiknya memberontak. Tetapi percuma karena tubuh sekecil itu tidak akan bisa melawan kekuatan pria yang memegangi dirinya.
__ADS_1
.
.
"Apa kau sudah menemukan dengan lokasinya, Son?" tanya Alan.
"Sudah, Dad. Mereka ada di gedung tua tengah hutan. Tetapi sepertinya perjalanan ke sana tidak mudah," jelas Shaka. "Banyak jebakan yang mereka pasang," timpal lelaki kecil itu lagi.
"Apakah ada cara lain, Son?" tanya Alan lagi.
Ayah dan anak itu seperti sibuk berdiskusi. Alan tak lagi mau meremang dalam kesedihan, dia harus menyelamatkan istri dan anaknya disana.
"Ada, Dad. Shaka sedang mencari sistem keamanan di sana," sahut Shaka.
"Yoel, beri aku ruang!" pinta Alan.
"Silakan, Tuan."
Yoel berdiri dan mempersilakan Alan menggantikan posisinya melacak keberadaan Aerin dan Shena serta mencari sistem pelacak untuk bisa masuk ke sana.
Sementara Agam dan Yoas menenangkan Zanka dan Chana yang sedari tadi menangis sambil memanggil nama ibu dan adiknya. Dalam keadaan seperti ini, sisi anak-anak mereka terlihat seperti bocah pada umumnya. Pikiran mereka terlalu sensitif dan polos, apalagi melihat orang yang mereka sayang di siksa seperti itu tadi.
"Apa Daddy menemukannya?" tanya Shaka. Alan dan Shaka seperti bersaing menunjukan kemampuan mereka di bidang IT.
"Sebentar, Son. Sepertinya Daddy tahu jalan ke sana," ucap Alan yang sibuk mengotak-atik laptopnya.
"Apa kau bisa meretasnya, Dad?" tanya Shaka tanpa melihat sang ayah.
"Tentu," jawab Alan tersenyum.
"Lakukan, Dad!" suruh Shaka.
Alan dan Shaka kembali melanjutkan aksi mereka mencari pintu masuk ke dalam gedung tua tersebut. Sebab banyak jebakan yang sengaja di pasang. Sepertinya Anne memang sudah tahu jika akan ada menyelamatkan wanita yang ingin dia lenyapkan tersebut, sehingga dia menyiapkan segala kemungkinan dari keamanan yang dia buat.
"Dapat, Son." Alan menekan tombol enter.
Shaka melirik kearah laptop sang ayah. Lelaki kecil itu manggut-manggut. Dia baru tahu jika ayahnya juga memiliki kemampuan yang sama dengan dirinya.
"Kita lewat jalur udara saja, sepertinya kalau memasuki hutan tersebut dengan mobil, sedikit susah," jelas Alan.
Bersambung ...
Apakah mereka berhasil menyelamatkan Aerin???
Yuk ikutin terus...
__ADS_1
Ohh ya pada udah gak sabar, kenapa sih thor sengsara Mulu?? Kalian tenang aja Aerin pasti akan bahagia.. ikutin terus alurnya... Makasih semua ..