Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri

Terjebak Pernikahan dengan Pria Beristri
Happy Ending A & A


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian......


Seorang wanita cantik tengah duduk di depan cermin. Dia tersenyum menatap pantulan dirinya yang terlihat begitu cantik. Dia tak menyangka bahwa dirinya akan secantik ini.


"Mommy."


Empat bocah kembar berlari masuk menghampirinya.


Wanita itu tersenyum hangat sambil menyambut keempat buah hatinya.


"Ayo Mommy. Daddy sudah menunggu," ajak putri kecilnya.


"Iya Mommy," sambung putra sulungnya.


"Wahhh Mommy cantik sekali. Andai saja Zanka sudah besar. Pasti Zanka yang akan menikahi Mommy," ujar putra keduanya.


"Ck, kau bicara apa? Mana boleh menikahi Mommy sendiri?" protes yang paling Chana.


Wanita itu hanya tersenyum gemes mendengar percakapan anak-anaknya yang terdengar begitu lucu.


"Sudah jangan beltengkal." Shena menagahi kedua kakak kembarnya.


"Ayo Mom," ajak Shaka dan Zanka mengandeng tangan wanita itu untuk menemui sang ayah yang sudah menunggu sejak tadi.


Ya hari ini adalah hari pesta pernikahan Alan dan Aerin. Pesta yang seharusnya di rayakan lima tahun yang lalu. Namun karena banyaknya masalah hingga membuat mereka terpisah cukup lama dan sampai akhirnya cinta kembali menyatukan mereka.


Alan tak main-main menyiapkan pesta untuk sang istri serta menyambut ke-empat anak kembarnya. Dia membuat pesta yang takkan dilupakan oleh sang istri. Alan ingin menebus semua kesalahannya pada Aerin selama lima tahun ini.


Shaka, Zanka dan Zanka mengenakan stelan jas yang sama dengan tuxedo yang dipakai oleh Alan. Sedangkan Shena memakai gaun putih yang sama seperti Aerin dan bentuknya juga sama. Hanya saja yang Shena kenakan versi kecilnya.


Ke-empat bocah itu tak kalah tampan dan cantik seperti kedua orang tuanya. Apalagi mereka sangat kompak dan terlihat lucu dengan pakaian mewah yang mereka pakai.


"Sayang."


Alan mengulurkan tangannya untuk menyambut A-aerin yang terlihat begitu cantik hari ini. Gaun mewah yang sengaja Alan pesan langsung dari desainer ternama dunia memang melekat pas di tubuh istrinya.


Aerin menyambut tangan Alan dengan senyuman menggembang. Dia tak menyangka hari ini bisa duduk di pelaminan bersama cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhirnya


Kebahagiaan menyelimuti keluarga besar itu. Pernikahan mewah yang digelar dikediaman mewah Aerin itu dihadiri oleh tamu-tamu terhormat. Rekan-rekan bisnis Alan, Christoper, Robson, Agam, Alta, Arkin dan juga Rollies. Turut hadir dalam acara tersebut.


"Selamat ya, Sayang." Bella memeluk menantu kesayangannya itu dengan senyuman.


"Terima kasih, Bu," balas Aerin.


"Selamat ya, Nak." Arkin juga ikut memberi ucapan selamat pada menantunya.


"Terima kasih, Ayah."


"Aerin."


"Daddy."


Aerin berhambur memeluk ayah kandungnya itu. Sekarang dia memiliki empat ayah. Satu ayah kandung, dua ayah tiri dan satu ayah mertua. Aerin di kelilingi oleh ayah-ayah yang begitu menyayangi dirinya.


"Selamat ya, Baby A. Doa Daddy menyertai mu. Daddy akan bahagia jika kau bahagia," ucapnya seraya mengecup kening putrinya itu dengan sayang.

__ADS_1


"Terima kasih, Daddy."


"Sttt, jangan menangis." Chris mengusap pipi Aerin. "Nanti make-upnya luntur," sergahnya ketika anak perempuannya itu hendak menangis.


Rollies juga naik ke atas pelaminan. Senyuman menggembang di wajah lelaki paruh baya itu. Di sisi akhir hidupnya melihat Aerin bahagia. Dia juga bahagia.


"Aerin."


"Ayah."


Aerin dan Rollies saling berpelukan. Pelukan hangat seorang ayah yang tak memiliki hubungan darah. Tetapi walau begitu rasa sayang di hati tak bisa di ukur dengan apapun.


"Selamat berbahagia ya, Sayang. Jadilah istri dan ibu yang baik untuk cucu-cucu Ayah," pesan Rollies pada anak tiri yang dia rawat sejak bayi.


Rollies menyeka air mata putrinya. Kini tinggal mereka berdua yang tersisa. Rollies hanya memiliki Aerin dan tidak memiliki keluarga lain lagi. Mungkin juga setelah ini dia akan memutuskan hidup bersama anaknya itu. Aerin meminta Rollies tinggal bersamanya.


Robson dan Ratih juga naik ke atas pelaminan. Pasangan paruh baya yang tak muda lagi itu terlihat romantis dan cocok dengan pakaian yang mereka pakai.


Christoper dan Rollies harus menerima kekalahan karena mereka telah menyia-nyiakan wanita hebat yang tak mampu mereka perjuangkan.


"Selamat ya, Sayang." Ratih memeluk Aerin dengan sayang. Wanita yang sering dia panggil Baby A itu kini telah tumbuh dewasa dan memiliki anak-anak yang imut dan juga menggemaskan.


"Terima kasih, Bunda," balas Aerin.


"Aerin."


Agam dan Alta naik keatas pelaminan.


"Kakak."


"Semoga kau bahagia ya, Baby A," ucap Alta terkekeh.


"Kakak, aku sudah besar dan tua bukan Baby A lagi," protes Aerin.


"Kau tetap Baby A baginya, Aerin. Karena dia masih anak-anak," sambung Agam tertawa lebar.


"Dih."


Alta memutar bola matanya malas. Mereka bagai anjing dan kucing, suka bertengkar tetapi selalu bersama.


Alan dan Aerin ikut terkekeh sambil menggeleng saja. Alta dan Agam sama-sama pria dewasa yang hampir berkepala empat namun masih betah dalam kesendiriannya. Belum juga berniat mencari teman hidup.


"Aerin, selamat ya Baby A-nya Kakak." Agam juga ikut memberikan semangat pada kedua mempelai tersebut.


"Terima kasih Kakakku yang paling tampan, tapi belum laku," goda Aerin membalas pelukan kakaknya.


"Hem, tunggu saja. Kakak akan bawa calon kakak ipar untukmu, bersiap-siaplah," ucap Agam menyombongkan dirinya sambil memperbaiki jasnya yang setengah bergeser.


"Cih, seperti sudah punya calon saja. Padahal masih jomblo," sindir Alta.


Agam terkekeh. Sampai sekarang dia belum memiliki tambatan hati. Entahlah, dia belum siap memiliki serius setelah kepergian sang kekasih hati di masa lalu.


"Alan kami titip Aerin ya," ucap Agam dan Alta bersamaan.


"Terima kasih, Sayang. Aku bahagia," bisik Alan mencuri ciuman di pipi istrinya.

__ADS_1


"Hubby, masih banyak orang malu," ucap Aerin malu karena Alan menciumnya di depan banyak orang.


"Biarkan saja. Siapa yang akan melarang mencium istri sendiri? Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kau milikku."


Aerin terkekeh lucu. Suaminya ini memang sudah bucin parah padanya.


Acara berlangsung cukup lama. Para tamu terus berdatangan memenuhi tempat pesta.


Setelah acara selesai. Alan langsung mengendong istrinya menuju kamar mewah mereka.


Setelah puas merayu ke-empat anaknya, akhirnya Alan menang. Tentu saja dengan rayuan gombalnya yang berjanji akan memberikan adik untuk ke-empat anak kembarnya. Shena yang ingin sekali punya adik begitu senang mendengar ucapan Alan. Sedangkan Shaka, Zanka dan Chana, sebenarnya tidak setuju karena tak bisa tidur jika tanpa belaian Aerin seperti biasa. Namun, Aerin memberi pengertian pada para anak-anaknya.


Alan menurunkan tubuh istrinya dengan pelan.


"Apa aku berat?" tanya Aerin menatap suaminya yang ngos-ngosan.


"Tidak, Sayang," sahut Alan.


"Mau mandi bersama?" tawar Alan tersenyum devil. Sebagai lelaki normal dia sungguh merindukan kepuasan di atas ranjang. Namun dia takkan memaksa Aerin.


"Boleh, Bby." Aerin tersenyum simpul.


Setelah selesai mandi. Aerin menyiapkan pakaian suaminya seperti biasa. Dia tersenyum hangat.


"Sayang."


Alan memeluk Aerin dari belakang. Dia mencium bahu wanita ini. Harum wangi tubuh Aeerin selalu menjadi candu untuknya.


"Bby, pakai baju dulu," ucap Aerin gugup. Suaminya hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya.


"Untuk apa? Nanti juga pasti dibuka." Alan mengerlingkan matanya jahil sambil tersenyum menggoda.


Alan membalikkan tubuh Aerin. Dia menatap wajah cantik istrinya.


Alan mencium bibir Aerin dengan lembut. Dia ******* bibir manis sang istri yang selalu membuatnya candu. Tangan Aerin melingkar di leher Alan. Dia membalas ciuman suaminya.


Ciuman yang awalnya lembut kini semakin menuntut. Ciuman Alan turun dileher jenjang milik istrinya, dia mengigit dan menyesap leher itu hingga meninggalkan bekas kemerahan disana tanda cinta dan kepemilikan bahwa Aerin adalah milik Alan.


Perlahan Alan membaringkan Aerin diatas ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka. Tangan Alan yang satunya bekerja meremes dua benda kenyal milik istrinya. Sejak melahirkan bukit kembar Aerin semakin membesar dan membuat Alan. Dia nerasa tertantang untuk menikmatinya.


Alan melepaskan baju atas Aerin. Sedangkan wanita itu sudah mendesah. Dia merasakan gairah yang memuncak.


Alan membenamkan wajahnya dikedua benda kenyal itu. Dia menghisap benda berwarna pink muda tersebut dan memilinnya dengan tangan lalu menyesap dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


Alan turun kebawah. Dia merasakan lembah istrinya sudah basah.


"Sayang, aku akan memasukkannya."


Aerin mengangguk dengan mata terpejam. Jujur saja dia pun tak sabar agar segera dimasukkan oleh sang suami.


Lalu terjadilah malam indah mereka berdua. Entah sudah berapa kali Alan melakukannya hingga dia ambruk disamping sang istri.


"Terima kasih, Sayang."


Alan memeluk Aerin dan terlelap bersama tanpa sehelai benang setelah melakukan pergulatan panas mereka berdua.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2