Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Because It's Friday!


__ADS_3

Seperti pagi yang sebelum-sebelumnya, Fatia selalu datang lebih awal dibandingkan teman-teman sekantor lainnya, terkecuali office boy yang tinggal di kantor. Wanita yang berbalut blouse biru muda dan skinny jeans berwarna biru gelap memulai paginya dengan mengarsip beberapa berkas asli dan berkas fotokopi dari asli yang cukup tebal. Alunan musik dari headset yang dipasang di kedua telinganya menggemakan lagu milik musisi muda Shawn Mendes berjudul "Wonder",  membuatnya begitu berapi-api.


Ia mengambil tangga lipat aluminium untuk menaruh kembali ordner berwarna hitam di rak besi bertingkat berwarna kombinasi kuning dan biru navy dan menjajarkan beberapa ordner yang tidak berdiri tegak. Saat akan menaruh tangga itu di tempat semula, seseorang menepuk pundaknya.


“Eh!” ucap Fatia, sontak menoleh ke belakang dan menemukan Santi salah satu teman kantor, Seniornya, yang meja kerjanya bersebelahan dengannya.


“Masih pagi udah rempong banget sih,” ujarnya seraya menaruh ibu jari di mesin absen fingerprint.


“Bikin kaget aja, Mba San. Biasa cicil filling daripada numpuk,” jawabnya. “Sarapan dimana pagi ini, Mba?” tanya Fatia berdiri di hadapannya.


“Tadi aku sarapan mie ayam Bangka,” jawab wanita paruh baya itu seraya menaruh tas dan jaketnya di lemari loker besi karyawan bertuliskan namanya.


“Ih udah lama banget nggak makan mie ayam itu. Minggu depan apa kita makan siang di situ yuk, Mba?” ajak Fatia yang memang menggemari mie ayam.


“Boleh aja,” jawabnya menghidupkan komputer.


Kemudian, disela-sela pembicaraan Fatia dan Santi, seorang wanita bertubuh sintal dengan suara ketukan dari heels-nya yang sudah terdengar lebih dulu dibandingkan pemiliknya, muncul di pintu penghubung.


“Good Morning, Mba-mbaku,” sapa Ina riang seraya menenteng tas kerja berwarna beige.


“Morning!” jawab Fatia dan Santi bersamaan.


“Lagi pada bahas apa sih?” tanya Ina nimbrung.


“Fatia pengin makan mie ayam Bangka minggu depan,” ujar Santi.


“Ikut! Udah lama sih kita nggak makan di situ, Mba,” ceracau Ina.


“Hari Senin aja kali, ya?” ide Santi.


“Boleh. Sekalian ajak yang lain juga, Mba,” cetus Ina.


“Mba Ambar gimana?” tanya Fatia.


“Duh, dia sih nggak bakal mau ikut deh. Yang ada malahan nitip.” Santi sangat mengenal  Ambar.

__ADS_1


“Nggak apa-apa sih yang penting kita ajak aja, Mba,” saran Fatia.


Santi terkadang jengah dengan sikap Ambar yang selalu merasa menjadi orang paling lama dan tangan kanan dari atasannya. Sikapnya tersebut juga dikarenakan adanya hubungan keluarga  antara sang atasan dan Ambar, hal yang lumrah, bagaimanapun perusahaan butuh orang yang sangat bisa dipercaya untuk mengurus keuangan. Namun, Ambar seakan berada di atas angin sehingga kerap kali bersikap semena-mena terhadap pegawai lain.


Bahkan, Santi beberapa kali bersitegang dengan wanita paruh baya itu dan yang paling menjadi pusat perhatian pegawai lainnya, ketika mereka berdua berdebat soal invoice serta berkas asli yang sudah diserahkan oleh Santi pada Ambar sehari setelah transaksi dengan klien, akan tetapi Ambar merasa tidak pernah menerima dari Santi.


Kemudian Santi menyudahi perdebatan dan meminta bantuan Fatia serta Ina untuk menggeledah tiap sudut ruangan, termasuk meja kerjanya juga ruangan sang atasan, tetapi nihil. Hanya ruangan Ambar yang belum tersentuh sama sekali. Santi dengan wajah bersungut-sungut meminta izin untuk mencari di ruangan Ambar hingga wanita paruh baya itu pun turun tangan.


Dalam kurun waktu lima belas menit, berkas yang menjadi sumber perdebatan ditemukan oleh Fatia yang tertumpuk oleh berkas lain dan juga buku catatan milik Ambar. Sementara, si empunya ruangan tetap saja merasa tidak bersalah dengan mengatakan, “Lain kali jangan main taruh aja di meja. Barang-barangku kan juga banyak.” Wanita itu berjalan dengan wajah ketus, sementara, Santi hanya diam sambil menaruh tumpukan berkas lainnya dengan kasar.


“Terserah kalian ajalah. Aku sih malas ngajak dia,” ujar Santi.


Selang beberapa menit setelah nama Ambar tercetus dari Fatia, seorang wanita paruh baya mengenakan blouse putih dan rok span berwarna abu-abu muda berjalan gontai memasuki pintu penghubung.


“Pagi Mba Ambar,” sapa ketiga pegawai itu serentak. Terkejut.


“Pagi,” jawabnya yang terlihat semringah pagi ini.


Aroma segar terhidu oleh penciuman ketiga pegawai yang tadinya sedang seru mengobrol. Bukan hal baru, kalau Ambar datang suasana menjadi hening seketika, wanita itu melarang keras para pegawai terlalu banyak bersenda gurau karena berimbas pada dirinya yang kerap kali ditegur keras oleh sang atasan.


Bukan hanya itu, jika berbicara dan ingin bertanya apapun pada wanita itu harus bisa tahan dengan suara nyaringnya yang menusuk ke telinga, ketika suasana hatinya sedang buruk akibat tekanan dari pemilik perusahaan dan sering amarahnya  meledak-ledak. Fatia pun membaca situasi terlebih dulu apabila ada pekerjaan yang ingin ditanyakan padanya atau kalau ingin aman, ia akan menyuruh salah satu junior seruangan untuk mendatangi ruangan ‘Si Sumbu Pendek’, begitu nama kecil yang akhirnya disematkan untuknya oleh Fatia, Santi juga beberapa teman kerja lainnya saat makan siang bersama-sama.


“Udah, mba,” jawab mereka bertiga bersamaan lagi.


Ambar terkekeh.


“Kalian kayak anak sekolah dasar aja jawab barengan gitu,” ujarnya kembali berjalan melewati Fatia lalu meja kerja Santi.


Fatia, Santi dan Ina ikut terkekeh, meskipun mereka ragu apakah yang diucapkan oleh Ambar merupakan sebuah lelucon belaka atau sindiran.


“Oke. Selamat bekerja!” jawabnya keluar dari ruangan.


Mereka bertiga bertukar tatapan karena kejanggalan akan sikap Ambar pagi ini, karena Ia bertanya soal sarapan dan mengucapkan selamat bekerja.


“Because it’s friday!” bisik Ina terkikik.

__ADS_1


**


Sejak tiba sekitar satu jam lalu di minimarket yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal Fatia, ia enggan beranjak dari sana padahal coklat panas dan kudapan yang dipesannya telah tandas. Wanita yang sedang memakai headset itu mengedarkan pandangan ke sekitar minimarket, ia kerap kali melakukan hal yang serupa tetapi tak membuatnya jenuh sama sekali. Suasana hatinya sedikit membaik saat duduk di tempat yang sama sambil mendengarkan lagu-lagu secara acak.


Sebelumnya, siang hari hingga sore hari menjelang pulang kantor tadi, sang pemilik perusahaan  datang dengan membawa setumpuk amarah karena Ambar luput membuat invoice yang jumlahnya cukup besar dan berimbas pada Santi serta Fatia yang harus berjibaku mempersiapkan dokumen penyerta sebagai syarat pembayaran tagihan itu.


Sebuah chat masuk dari laki-laki yang sudah setahun belakangan selalu ada di sisinya. Haris.


H : [Maaf, aku nggak bisa jemput kamu hari ini. Udah sampai di rumah?]


F : [Nggak apa-apa kok. Udah sih tapi masih di minimarket hehehe…]


H : [Sedang apa di sana?]


F : [Duduk sambil dengerin musik.]


H : [Sebaiknya pulang aja. Udah hampir jam 9 malam.]


F : [Sebentar lagi, Mas. Lagipula kosanku hanya beberapa langkah aja dari sini.]


H : [Tapi kan sepi di sekitar sana.]


F : [Setengah jam lagi aku pulang, besok kan libur juga.]


Fatia lantas memotret ke dalam minimarket dan mengirimkannya pada Haris.


F : [Di sini cukup ramai pengunjung sih.]


Sebuah stiker laki-laki lansia bertuliskan “Terserah!”


F : [Oke, sepuluh menit lagi dan aku akan pulang, tuan bawel!]


H : [Oke.]


Fatia mengirimkan stiker wanita lansia menyeringai.

__ADS_1


Haris mungkin satu di antara beberapa laki-laki yang perlahan-lahan  mencairkan dinding es di relung jiwa Fatia hingga berhasil membuatnya leluasa bercerita akan masa lalunya secara gamblang dan berkompromi untuk berkencan kemana pun yang Haris inginkan. Di menit-menit yang tersisa, ingatan Fatia memutar ulang pertemuan awal dengan laki-laki paruh baya itu.


***


__ADS_2