
Echa duduk dengan gelisah menunggu kedatangan Leon. Sudah sangat tak sabar ingin segera bertemu dengannya. Ia begitu merindukan bocah kecil itu, sedikit merasa penasaran apakah Leon sudah tumbuh menjadi pria yang tampan dan tinggi atau malah sebaliknya.
Rena tersenyum tipis melihat Echa.
"kau sudah tak sabar sayang?"
"iya. apa Leon selama ini tinggal bersama mommy?"
Rena mengangguk. Lalu menceritakan semuanya, kenapa Leon bisa tinggal bersama Rena dan Ben. Echa menghela nafas panjang, tak menyangka jika kehidupan Leon selama di Korea sangat berat.
Ia pikir, selama ini Leon hidup dengan bahagia. Bersama ayah dan ibu sambungnya.
Ceklek...
Mendengar pintu di tutup, Echa langsung berdiri dan melihat siapa yang datang. Tubuhnya mendadak kaku saat matanya berpapasan dengan tatapan mata Leon yang begitu tajam.
"kau..." Echa terkejut, rupanya pria yang ia temui waktu itu adalah Leon.
Leon yang dulu begitu lucu dan lebih pendek darinya. Sekarang sudah menjelma menjadi pria yang sangat tampan juga begitu tinggi.
Echa menelan ludahnya, tak menyangka jika Leon akan tumbuh menjadi pria seperti ini.
"aku pulang." Seru Leon cepat.
Melewati Echa begitu saja, ekspresi wajahnya bahkan begitu dingin. Tak ada senyuman ataupun raut bahagia.
Leon mencuri pandang melalui ekor matanya. Sebenarnya ia merasa terkejut, tak menyangka jika anak gadis yang sering di bicarakan Rena dan Ben adalah Echa. Pantas saja, setiap Rena menyinggungnya Leon selalu merasakan debaran jantungnya berdetak kencang.
Rena dan Ben menepuk pundak Echa. Mereka memberi isyarat pada gadis itu untuk mendekati Leon.
Dengan ragu Echa berjalan mendekati Leon yang tengah berdiri di depan jendela. Menarik napas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"kau.. Leon.." Ujarnya pelan nyaris seperti bisikan.
Leon berbalik. Wajahnya masih datar, matanya menatap Echa seperti ingin menelannya saja. Echa bergeming, Leon sungguh seperti orang asing. Echa merasa canggung.
Tanpa berkata apa-apa Leon berjalan meninggalkan Echa, ia melemparkan tasnya ke atas kursi lalu duduk dengan angkuh.
Rena dan Ben tak mengerti sama sekali dengan sikap Leon.
"Leon, kenapa kau begitu? bukan kah kau dan Echa..."
"itu dulu." Selanya cepat.
__ADS_1
Rena langsung mengatupkan bibirnya. Ben yang tak ingin ada keributan langsung merangkul pundak Rena, ia membawa istrinya keluar. Memberikan ruang pada Echa dan Leon untuk saling bicara.
Echa tersenyum lebar, merasa sangat bahagia. Ia mencoba untuk tidak bersikap canggung.
"adik kecil ku sudah besar. kau sangat tampan." Ujarnya, duduk di samping Leon dengan senyum yang lebar.
Leon hanya meliriknya tanpa minat.
"oh..ya, bagaimana rasanya tinggal di Korea? kau seperti oppa-oppa Korea sekarang."
"berhenti bicara." Ketus Leon.
"apa?"
"apa kau tuli?"
Echa langsung diam. Tak menyangka Leon yang selalu bersikap manis dan manja padanya dulu sekarang begitu ketus juga berkesan dingin.
"Leon, kau..."
"jangan menganggap dirimu hebat." Tutur Leon. "kau berbohong soal ibu ku, kau juga berbohong...."
"apa maksudmu?"
Leon rupanya masih menyimpan rasa kesalnya pada Echa. Karena Echa yang selalu mengatakan bahwa ibunya akan kembali dan kata-kata lainnya.
"Leon..itu hanya ucapan anak kecil. kita sekarang..sudah dewasa. tak seharusnya..."
"tetap saja. aku membencimu."
Echa sungguh tak percaya jika Leon akan bersikap begitu kejam di pertemuannya ini. Bayangan tentang Leon yang ramah dan juga manja seketika hilang begitu saja.
Leon beranjak dari duduknya.
"jangan menganggap dirimu penting. kau hanya masa lalu bagiku." Ucapan Leon sungguh menyakitkan bagi Echa.
Gadis itu terpaku di tempatnya. Tak percaya dengan semua yang dikatakan Leon.
...*********************...
Rahel merasa ada yang tidak baik, ia melihat Arfian yang sedang menidurkan putranya.
"mas, aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada Echa."
__ADS_1
"Rahel, jangan terlalu parno. Echa bersama ibu dan ayahnya. dia pasti baik-baik saja." Arfian mencium kening anaknya lalu menghampiri Rahel yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur.
"tapi..aku merasa tak enak hati."
Arfian mengelus pipi Rahel.
"kau ini, ayo.. sebaiknya keluar." Ajak Arfian.
Arfian membawa Rahel keruang tengah. Wanita itu nampak khawatir dengan keadaan Echa.
"apa kau takut Echa pergi meninggalkan kita?" Tanya Arfian.
Rahel mengangguk lesu, tentu saja. Itu adalah ketakutan terbesar dalam hidup nya. Rahel tak akan sanggup harus berpisah dengan Echa. Ia pasti akan merasa sangat kehilangan.
Melihatnya tumbuh dan selalu bersama setiap waktu membuat Rahel dan Echa sangat terikat. Keduanya selalu tergantung satu sama lain.
Bahkan Rahel tak pernah bisa bersikap keras pada gadis itu, Echa adalah putri kesayangannya.
...*********************...
"tunggu..." Echa mengejar Leon yang hendak pergi keluar.
Ia berdiri didepan menghadang langkah Leon dengan tangan yang di rentangkan.
"minggir."
"tidak. aku akan tetap berdiri di sini sebelum kau memaafkan ku. apa kau membenci ku karena aku selalu berbohong? waktu itu kita sama-sama masih kecil apa kau...."
"aku tak ingin membahasnya, minggir atau ku seret?" Leon menatap Echa dengan penuh ancaman.
Echa tak mau mengalah begitu saja. Ia menempelkan punggungnya pada pintu.
Leon berdecak kesal. Dengan kasar ia menarik lengan Echa lalu menghempaskan tangannya dengan keras.
Bruk
Tubuh Echa terhempas kelantai. Leon sendiri nampak terkejut, ia tak bermaksud untuk melakukan itu. Hanya ingin menyingkirkannya saja dari jalan.
Echa meringis karena sikutnya yang terbentur keras.
"Leon...". Mendongak menatap tak percaya pria di hadapannya.
Leon langsung membuang muka dan pergi begitu saja.
__ADS_1
...***********************...