Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 12


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Arfian langsung meminta Sena untuk berganti pakaian. Cukup tak nyaman baginya melihat seorang wanita lajang memakai celana panjang ketat di rumah nya. Dia pria, seorang pria normal yang memiliki hasrat.


Sena langsung mengeluarkan semua baju yang dia bawa dari dalam tasnya begitu berada di dalam kamar. Dia sangat takjub dengan kamar yang luasnya hampir dua kali lipat dari kamarnya dulu. Kasurnya pun sangat empuk dan juga selimut yang lembut.


Baru beberapa menit saja menginjakkan kakinya di rumah Arfian, Sena sudah merasa betah. Di tambah sikap Arfian yang ramah membuatnya nyaman.


Rega menghampiri Arfian yang baru saja akan memasuki kamarnya.


"kak, kok dia sudah datang? bukannya besok? terus mamah mana?" Berondongnya.


Arfian melonggarkan dasinya. Tak langsung menjawab pertanyaan Rega, dia masuk ke kamar nya lebih dulu. Membuka dua kancing kemejanya lalu duduk diatas kasur.


"bukannya bagus, besok kau tak perlu mengantarkan Echa sekolah. kau bisa kembali ke kosan mu besok."


Rega menarik nafas dalam-dalam. Dia sebenarnya tak ingin kembali kesana begitu tahu Sena akan tinggal di sini. Dengan cepat dia memikirkan cara yang tepat agar Arfian mengizinkannya tinggal di sini juga.


"uummmm....kau seorang pria lajang.. maksud ku status kakak duda." Ujarnya terbata.


Arfian menatap wajah Rega yang terlihat begitu tegang.


"lalu..." Arfian menaikan alisnya sebelah.


"maksud ku tak baik seorang pria dan wanita berada di dalam satu rumah. itu akan..."


"menimbulkan fitnah. begitu maksud mu?"


Rega mengangguk.


"ya..dan dia seorang gadis."


"jika dia bukan gadis jadi tak masalah begitu?"


"Bu..bukan.. maksud ku..." Rega kehabisan kata-kata.


Arfian tertawa melihatnya. Dia tahu jika pria di depannya ini tak ingin pergi.


"katakan saja jika kau tak ingin kembali ke kosan." Ujar Arfian.


Rega tertawa malu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"tapi, bukan karena ada dia ya. aku hanya takut akan timbul fitnah jika hanya kakak dan dia berdua di rumah." Ucapnya, masih saja tak ingin mengakui isi hatinya.


"iya, apapun yang kau katakan akan ku anggap benar." Arfian membuka kemejanya, melemparkannya ke atas kasur lalu masuk kedalam kamar mandi.


"yes.." Rega sangat senang karena Arfian mengerti keinginannya tanpa harus bersusah payah mengatakan semuanya.


Dia pun keluar dari kamar Arfian. Tersenyum lebar begitu melihat siluet Sena yang berjalan menuju dapur. Dengan cepat dia pun mengikutinya.


Sena nampak bingung melihat keadaan dapur yang begitu asing. Hanya ada kompor di sana, piring dan alat masak lainnya tak ada satupun.


"di dalam lemari. dasar udik." Ujar Rega sambil membuka kulkas, mengambil botol air.


Sena mendelik mendengar kata-kata terakhir yang di lontarkan Rega.

__ADS_1


"aku memang udik. lalu apa itu masalah bagimu?" Ketus Sena.


Rega terdiam. Dia tak bermaksud menyakiti Sena dengan kata-katanya, hanya saja entah kenapa lidahnya selalu bertentangan dengan hatinya.


"maaf." Ujar Rega akhirnya. "piring dan gelas di sana." Rega menunjukkan letaknya lalu berjalan ke arah kanan.


"dan ini alat masaknya." Lanjutnya sambil membuka lemari yang menempel di dinding.


Sena diam memperhatikan. Hatinya merasa senang karena Rega mau bicara dengannya.


"kalian sedang apa?" Arfian memasuki dapur dengan Echa di gendongannya.


"itu..pak, aku mau buat makan malam."


"tak perlu. aku sudah memesannya. Echa, bermain dengan kak Sena." Arfian menyerahkan Echa pada Sena. "Sena, temani Echa. sementara Rega tunggu pesanan datang."


"lalu kakak mau kemana?"


"ada perlu sebentar." Arfian mengecup kening Echa sekilas. "sayang, Daddy keluar sebentar."


"umm.. hati-hati Daddy."


Seperginya Arfian, kedua orang dewasa itu saling menatap canggung. Sena merasa canggung karena sikap Rega yang tak seperti dulu. Sementara Rega, karena dia tak bisa berkata manis apalagi harus bersikap ramah. Dia terlalu gengsi mengakui isi hatinya.


...*******************...


Arfian memarkirkan mobilnya, dia buru-buru turun begitu melihat Rena yang sudah menunggu. Wanita itu terlihat pucat dan kurang sehat. Matanya bahkan sembab dan sedikit bengkak. Menandakan jika dia tak baik-baik saja.


Saat Arfian baru selesai mandi, ponselnya berdering. Rena memintanya datang dengan suara serak karena menangis. Begitulah, kenapa Arfian sekarang berada di sini bersamanya.


"hum..dia baik."


Rena menghela nafas lega. Dia meminta Arfian untuk duduk di sampingnya, suasana taman yang sepi membuat keduanya merasa larut dalam suasana.


"aku seharusnya pergi ke luar negeri besok. tapi..." Rena menarik napas dalam. "Ben membatalkan semuanya dan kami akan menikah Minggu depan." Ujarnya sambil menyerahkan surat undangan kepada Arfian.


Arfian memandang kertas berwarna merah gold itu dengan perasaan berkecamuk. Tangannya terasa berat untuk mengambilnya.


"sebenarnya aku ingin membatalkan pernikahan ini." Ucap Rena sambil menarik tangan Arfian, meletakkan undangan itu di tangannya.


Arfian masih terdiam, dia tak bisa mengucapkan apapun. Hatinya bergemuruh hebat dengan kenyataan yang ada.


Mereka baru saja berpisah beberapa minggu yang lalu. Dan sekarang sebuah undangan telah dia terima. Rasanya terlalu berat bagi Arfian untuk menerimanya.


"aku..Arfian, aku tak ingin menikah dengan Ben." Isaknya.


Arfian mengerutkan keningnya. Dia tak mengerti kenapa Rena sekarang mengatakan hal itu. Wanita di depannya ini terlihat frustasi.


"Ben sangat menakutkan. aku terpaksa menikah dengannya karena takut dia marah melakukan hal menakutkan padaku." Lanjutnya.


"apa maksud mu mengatakan itu semuanya?" Tanya Arfian.


Rena menghapus airmatanya, menatap Arfian dengan sendu.

__ADS_1


"bisakah kau memeluk ku?" Pintanya.


Arfian tertegun, sempat terkejut tapi dengan cepat dia membalikkan keadaan.


"ini pilihan mu, jalani saja. kita sudah bukan siapa-siapa." Dengan tenang Arfian berujar. "aku akan pergi. tak baik jika Ben sampai melihat kita berdua."


"tunggu Arfian..." Rena menahan Arfian dengan memegang tangannya.


Dengan cepat dia memeluk Arfian. Menangis keras sampai baju Arfian basah karena airmata nya. Arfian terdiam, tak membalas atau pun menolak pelukan Rena. Semuanya terlalu mengejutkan baginya.


Cekrek....Cekrek...


Sebuah bidikan kamera dari kejauhan. Seseorang tengah memperhatikan mereka sambil mencuri beberapa foto. Orang itu tersenyum puas dengan hasil yang di dapat nya.


"bagus, kau akan tahu akibatnya."


Arfian mendorong tubuh Rena begitu tersadar. Dia menatap Rena dengan tak suka.


"apa yang kau lakukan? tak sepantasnya kau melakukan ini."


"Arfian, ku mohon. bawa aku pergi." Pintanya tak tahu malu. "kita hidup bersama lagi. dengan Echa putri kita."


Arfian mendengus mendengarnya.


"jangan bodoh Rena. ini semua terjadi karena dirimu."


"aku tahu. aku menyesal."


"cukup Rena."


"tidak.." Rena tetap bersikeras. "kau menolak ku karena wanita itu kan?"


"wanita itu?"


"ya.. wanita yang di toko baju itu. kau menolak ku karena dia kan?" Rena sedikit. berteriak.


Arfian benar-benar marah sekarang. Dia menepis tangan Rena yang menyentuh lengannya. Dia tak menyangka jika Rena bisa berbuat segila ini.


Tanpa banyak bicara Arfian langsung pergi meninggalkannya. Dia tak peduli dengan Rena yang berteriak memanggilnya. Baginya semua sudah berakhir, Rena bukanlah wanita yang pantas dia perjuangkan.


"Arfian...." Rena berlari mengejar mobil Arfian yang melaju cepat. "Arfian..." Isaknya pilu.


Rena terduduk di aspal, menangisi kebodohannya.


Seseorang yang sejak tadi bersembunyi pun keluar dari persembunyiannya. Berjalan menghampiri Rena.


"wah..wah..drama yang luar bias bagus. tak menyesal aku melihat semuanya." Ucap orang itu dengan nada mengejek.


Rena mendongakkan kepalanya. Dia memandang orang itu dengan penuh amarah.


"Rihanna, kau sengaja membututi ku."


"ck..kurang kerjaan. kau pikir aku memiliki waktu luang untuk mu. dasar wanita jelek." Rihanna memandang rendah Rena.

__ADS_1


Rena mengepalkan tangannya. Wanita ini selalu saja membuatnya kesal.


...*************************...


__ADS_2