Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Pagi Hari Di Minimarket


__ADS_3

Kedua telapak tangan Fatia ditempelkan pada gelas yang masih mengeluarkan kepulan asap. Gerimis yang sedari subuh tadi membuat telapak tangannya tampak pucat. Ia terpaksa keluar rumah menuju minimarket yang berada di ujung jalan ini karena perlengkapan dan bahan makanan sudah habis sama sekali.


Fatia menyeruput kembali minuman coklat yang  hanya berkurang sedikit. Sesekali menatap pada layar ponselnya yang sepi dari dering telepon, pun aplikasi chat, mungkin karena sekarang hari Sabtu, dimana semua teman-temannya dan rekan kerjanya lebih memilih menghabiskan waktu di balik selimut sampai matahari muncul atau quality times bersama keluarganya.


Ia menatap ke sekeliling gang di rumahnya. Masih sepi dan sunyi. Lalu menatap ke ujung gang yang menghubungkan dengan jalan yang lebih lebar, tampak beberapa kendaraan motor hilir mudik dan beberapa menit kemudian terdengar suara penjual sayur.


Kemudian, Ia membuka instagram dan meninggalkan jejak hati pada postingan terbaru dari teman-temannya. Tiba-tiba sebuah chat masuk dari Haris.


H : [I miss you. A lot.]


Wajah Fatia tak mampu menyembunyikan euforia yang bergejolak di dalam dadanya. Namun, ia hanya membalas dengan emoticon tersenyum dan pipi merona. Tak lama sebuah balasan masuk kembali.


H : [Kamu lagi dimana?]


F : [Minimarket dekat rumah nih.]


H : [Besok bisa ketemu?]


F : [Aku nggak bisa karena besok mau ke lokasi kliennya Erika.]


H : [Ok. Aku jemput hari Senin, kamu izin pulang cepat ya!]


Fatia terdiam sesaat.


H : [Haloo??]


F : [Oke.]


H : [I see you on Monday.]


Fatia menandaskan minuman coklat yang telah dingin dalam gelas kertas hijau itu, lalu menarik tas belanja hijau muda di sampingnya dan mengambil secarik kertas di dalamnya.


Mie instan, checked.


Roti tawar, checked.


Biskuit, checked.


Deterjen, checked.


Pengharum pakaian, checked.


Pengharum kamar mandi, checked.


"Oh iya, pengharum ruangan dan coklat seduh!" pekiknya segera beranjak seraya meninggalkan tas belanja begitu saja. Ia kembali menyusuri gang sempit yang dipenuhi rak-rak berisi sabun, pembersih lantai dan berhenti di depan pengharum ruangan yang tergantung rapi.

__ADS_1


Dengan sigap ia mengambil pengharum ruangan beraroma buah. Setelah itu, ia berjalan ke rak yang dipenuhi susu dan sereal. Lalu berjalan melenggang masuk dalam antrian kasir. Ia berada di barisan kedua sambil mengamati salah satu pengunjung yang berada persis di depannya merogoh tiap saku celananya.


"Duh, dompet saya ketinggalan lagi. Saya cari sebentar di mobil, Mba," ujarnya salah tingkah.


Fatia iba melihat laki-laki yang kebingungan itu walaupun dilihat dari penampilannya ia bukan orang yang sulit secara finansial.


"Sekalian saja, Mas," sambar Fatia ramah.


Laki-laki itu menoleh ke belakang.


"Nggak usah, Bu eh Mba," jawabnya kikuk lantas ia bergeser.


"Nggak apa-apa kok," tuturnya menaruh belanjaannya di meja kasir. "Sekalian ya, Mba," ujar Fatia pada sang kasir.


Kasir di hadapan Fatia tersenyum, kemudian menyerahkan gelas kopi pada laki-laki yang sudah berada di luar antrian.


"Terima kasih," ujarnya pada Fatia.


"Sama-sama."


Laki-laki yang mengenakan kaus polos, berlengan 3/4, warna abu-abu muda kombinasi hitam, ripped skinny jeans hitam dan sneakers berwarna putih yang berpapasan dengan Fatia di kasir, masih berada di parkiran minimarket. Mereka berdua bersitatap.


"Mba, saya nggak bawa cash. Boleh minta nomer rekeningnya? Nanti saya transfer saja," ujarnya menghampiri Fatia.


"Atau saya antar pulang?" Laki-laki klimis itu melirik tas belanjanya.


"Tempat tinggal saya dekat dari sini. Saya duluan ya."


"Tapi gerimis, Mba." Ia tetap bersikukuh.


"Saya bawa payung kok," jawabnya menunjuk payung berwarna pelangi yang menyandar di salah satu kursi.


"Nama saya Attar, Mba. Kalau nanti bertemu lagi, gantian saya traktir ya?"


Fatia hanya melempar senyum, kemudian berlalu dari hadapannya.


**


Sepanjang sisa liburan di akhir pekan, Fatia berjibaku membersihkan seisi rumah. Dengan hati-hati ia mengelap televisi yang menempel di dinding, setelahnya mengelap lemari panjang yang berada di bawahnya. Debu yang berasal dari lemari itu membuatnya beberapa kali bersin. Hari ini genap dua tahun ia tinggal di kontrakan elit milik Ibu Zaenab yang hanya ada lima pintu untuk di daerah ini. Namun, Ibu Zaenab juga masih memiliki beberapa kontrakan di beberapa lokasi lainnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, ia memiliki kontrakan sepuluh pintu dan semuanya terisi.


Memang Ibu Zaenab dikenal rendah hati dan ramah pada para penghuni kontrakan. Terkadang, ia juga memberikan makanan dan buah rambutan jika sedang berbuah pada Fatia dan penghuni lainnya. Fatia memutuskan mengontrak karena jarak rumah orangtuanya cukup jauh dari tempat bekerjanya dan sepanjang perjalanan sering kali macet, sehingga mau tidak mau harus meninggalkan sang Ibu bersama adik lelakinya. Biasanya setiap dua minggu atau satu bulan sekali, Fatia kembali ke rumah sekaligus berziarah ke pusara sang ayah.


Ponsel miliknya yang tergeletak di sofa, berdering.


Fatia bergegas memasang headset bluetooth-nya, "Halo, bunda cantik!" jawab Fatia bersemangat lantas menyandarkan tubuhnya pada sofa berwarna coklat susu itu.

__ADS_1


Terdengar kekehan dari seberang.


"Tia nggak nengokin Bunda nih?" tanya sang Ibu.


"Hari ini Tia nggak bisa, Nda. Masih bersih-bersih rumah nih, udah dua minggu nggak dibersihin. Besok juga, ada janji sama teman."


"Cie, mau janjian  sama siapa sih?" goda sang Bunda.


Fatia terkekeh.


"Sama teman kok. Tia lagi bantuin wedding organizer-nya Erika, besok mau penyelesaian dekor rumah mempelai wanitanya karena acara lamaran. Terus selesai dari situ mau langsung ke gedung cek kesiapan di sana, karena Sabtu depan kan acara akad nikah dan hari minggu acara resepsinya," jelas Tia santai.


"Skedul padat, ya?!"


"Iya, Nda, tapi lumayan untuk transport tambahan Tia."


"Ya udah, yang penting jangan lupa makan, Nak. Jangan terlalu cape, terus jaga diri baik-baik di sana."


"Siap, Bunda kece!"


"Kemal lagi ngapain, Nda?" tanya Fatia.


"Tuh lagi pada mabar*)  sama teman-temannya. Oh iya, Kemal dapat pekerjaan paruh waktu di kedai kopi, Kak. Minggu depan sudah mulai kerja," cerita sang Ibu.


"Bagus sih untuk pengalaman tapi jangan sampai kuliahnya jadi terganggu saja, Nda. Nanti dia bolos terus."


Wanita dalam balutan daster itu terkekeh. "Semoga nggak, Kak. Awas saja kalau ketahuan sering nggak masuk Bunda jewer telinganya!" ujarnya terkekeh.


Fatia tertawa renyah. "Nanti Tia awasin juga dari sini. Kalau begitu Bunda bisa pensiun jualan brownisnya dong."


"Nggak apa-apalah. Lumayan ada kesibukan di rumah selain bebenah," alasannya. "Eh kak, ya udah kalau begitu, kamu lanjut lagi bebenahnya."


"Oke, Nda. Jaga kesehatan ya. Dah!" Fatia mengakhiri percakapan.


Terdengar suara gaduh dari lantai dua. Fatia menarik bantal kursi kemudian merebahkan tubuhnya, "Istirahat sebentar, ah," gumamnya seraya mengusap layar ponsel.


Ia membuka playlist di ponselnya dan tak lama lagu berjudul "Location Unknown" milik Honne mengudara. Suara gaduh dari lantai dua diredam dengan alunan musik yang saat ini sedang digandrungi teman-teman sekantornya.


Perlahan, alunan musik itu pun terdengar samar.


***


catatan kaki :


) Mabar : Main bareng, untuk istilah dalam game online* yang dimainkan oleh beberapa orang atau bergrup.

__ADS_1


__ADS_2