
Arfian tersenyum dipaksakan saat tamu tak diundang itu menggendong Echa dan memberikan banyak sekali hadiah, dari makanan sampai beberapa boneka berukuran sedang dan besar. Echa terlihat senang sehingga Arfian tak tega untuk meminta gadis itu menolak pemberiannya.
"Rihanna, kau membelikannya banyak barang. aku tahu kau pasti ada maksud di balik semua itu." Ujar Arfian dengan cepat begitu Echa masuk kedalam rumah.
Rihanna tersenyum, ternyata niatnya sudah diketahui dengan mudah oleh pria ini. Sepertinya akan sulit mendapatkannya, ia terlalu berhati-hati dan memiliki rasa curiga yang tinggi.
"kau tak salah pak Arfian." Ucap Rihanna.
Berpikir jika sebaiknya ia berterus terang daripada harus pura-pura sok jual mahal. Gadis seperti dirinya memang tidak suka dengan hal yang bertele-tele apalagi soal perasaan.
"katakan apa mau mu?"
"aku menyukaimu." Lantang dan penuh percaya diri mengatakan kata-kata itu.
Arfian sempat terkejut, tapi segera bersikap tenang kembali. Dulu Rahel pun pernah seperti ini. Gadis itu menyatakan cintanya didepan umum dan berakhir dengan penolakan karena Arfian lebih memilih Hanum.
"astaga..." Gumamnya pelan. Arfian mengucapkan kalimat itu bukan karena Rihanna tapi karena dirinya yang tiba-tiba saja mengingat Rahel.
Rihanna mengeryit heran.
"kenapa kau malah diam? aku bilang aku menyukaimu." Ulang Rihanna.
Arfian menghela nafas panjang. Matanya menatap Rihanna dengan tajam.
"kau seorang gadis. Tak sepantasnya kau.."
"apa salahnya jika seorang gadis mengatakan suka pada pria yang di sukainya?" Sela Rihanna cepat.
Gadis metropolis itu tak ingin menyerah begitu saja. Ia akan berusaha meyakinkan Arfian kalau dirinya layak dan pantas. Bahkan Rihanna meyakinkan dirinya bahwa dia harus menyayangi Echa juga. Dia akan menerima Echa dan tak akan membuat anak kecil itu harus tumbuh besar tanpa seorang ibu.
Arfian langsung bungkam, mungkin untuk zaman dulu memang tabu jika seorang gadis mengatakan cinta lebih dulu. Tapi sekarang sudah lebih maju, bahkan gadis pun akan lebih agresif dibandingkan seorang pria.
"aku akan pulang, tapi ku harap pak Arfian mempertimbangkan apa yang aku katakan." Katanya lalu pergi.
Wanita itu sungguh tak memiliki rasa malu. Ia secara terang-terangan menunjukan bahwa dirinya sangat mengharapkan Arfian.
"Daddy.." Panggil Echa membuyarkan lamunan Arfian.
"ah..sayang."
"mana Tante nya? kok tak ada."
"tantenya sudah pulang. Umm..ayo sayang."
Rihanna tersenyum lebar saat mengingat bagaimana terkejutnya wajah Arfian waktu dia menyatakan perasaannya. Sangat yakin jika pria itu suatu saat nanti akan luluh padanya.
"bagus, aku akan terus menemuinya dan membuat dia jadi milikku."
__ADS_1
Ia melajukan mobilnya dengan cepat. Di pertengahan jalan menuju rumahnya Rihanna memilih untuk berhenti sebentar di sebuah cafe. Ia ingin membeli sesuatu untuk ibunya.
"satu latte dan dua cake cokelat ya." Pesannya. "di bungkus saja."
"baik, anda bisa menunggu sebentar."
Rihanna berjalan menuju kursi kosong yang ada di jajaran kedua dari depan. Ia mengutak-atik ponselnya hingga tak tahu jika didepannya ada seorang anak kecil yang tengah berdiri.
Brug..
Anak itu terjatuh karena tertabrak olehnya. Dengan cepat Rihanna mematikan ponselnya, memasukan kedalam tas.
"kau tak apa?" Tanyanya panik, karena anak tersebut akan menangis.
"hei.. apa-apaan kau ini." Tiba-tiba ada yang mendorongnya hingga Rihanna hampir saja terjatuh.
"Leon, sayang kau tak apa?" Wanita yang baru mendorong Rihanna langsung memeluk anak itu.
Rihanna memutar matanya jengah. Lagipula dia tak sengaja untuk apa wanita itu marah padanya.
"kau.. berani ya melukai putraku."
"Bu Hanum, sudahlah. sepertinya mbak ini tak sengaja."
Rihanna berdecak kesal. Dia menepis tangan Hanum yang menunjuk wajahnya.
"apa kau bilang.."
"Bu Hanum sudah. mbak maaf ya." Wanita satunya menarik Hanum dan Leon agar tak terjadi keributan.
"menyebalkan. wanita gila dasar." Desisnya.
Hanum melepaskan tangan Rahel yang memegang lengannya. Dia tak suka ada orang yang melukai Leon, mau di sengaja ataupun tidak. Baginya tetap saja sama.
Rahel menghembuskan nafasnya. Tak mengira jika Hanum akan marah hanya karena ketidaksengajaan seperti tadi. Dia melihatnya sendiri kalau wanita tadi tak sengaja menabrak Leon.
Ketiga wanita itu tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Pertemuan yang tak di sengaja itu akankah menjadi awal dari perjalanan mereka untuk mendapatkan satu pria yang sama.
...****************...
Rena mengemasi barang-barang miliknya. Tetap tinggal di rumah milik Liliana membuatnya merasa tak enak. Ia tak ingin terus merepotkan orang lain. Apalagi saat tahu kalau Liliana saat ini telah membuat Ben hampir seperti orang yang kehilangan akal nya.
Pria itu setiap hari akan berteriak keras memanggil namanya dan terkadang marah hingga semua barang-barang yang ada di kamarnya hancur.
"lihat.. kondisi rumah ini seperti kapal pecah." Ujar Liliana sambil memperlihatkan keadaan rumahnya.
Rena menghela nafas, tak tahu harus apa. Ben seperti itu karena Liliana sering memberikan obat-obatan tanpa sepengetahuannya. Rupanya wanita itu tak main-main, dia sungguh ingin membalas perbuatan Ben padanya.
__ADS_1
"ana, aku tak bisa melihatnya seperti itu." Ujar Rena. "aku akan kembali kesana, kau pergilah."
Liliana memandang layar ponselnya, tak mengerti dengan jalan pikiran Rena saat ini. Kenapa wanita itu memilih untuk kembali kepada Ben.
"aku matikan panggilannya ya." Rena menekan tombol merah di layarnya.
Tak bisa terus melakukan video call karena ia harus secepatnya menemui Ben.
Liliana melirik Ben yang tak sadarkan diri di sampingnya. Ia berdecih pelan, sungguh belum puas membalas dendam terhadapnya.
"jika tak ada hukum sudah ku habisi kau." Geramnya.
Ben menggeliatkan tubuhnya, memegang perutnya yang terasa perih dan bergejolak. Rasanya ingin sekali mengeluarkan isinya karena sangat mual.
Dengan susah payah bangkit dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Sepertinya dia tak sadar jika di kamar ada Liliana yang tengah memperhatikannya dengan pandangan tak suka.
Rena sengaja menyewa sebuah mobil agar bisa cepat-cepat tiba. Tapi begitu sampai di depan rumah Ben hatinya mendadak ragu. Ia tak yakin untuk masuk kedalam.
"apa aku temui dia besok saja." Gumamnya.
Setelah lama berpikir akhirnya dia memutar kembali tujuannya. Mungkin dia harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Ben, bisa saja pria itu akan memukulnya jika bertemu nanti mengingat bahwa Ben percaya kalau Rena sudah berusaha untuk melenyapkannya dengan mencampurkan obat tidur di kopi yang dia minum.
Tanpa sadar Rena kini telah berada di depan pintu rumah artian. Ia mengangkat tangannya, mengetuk pintu depan pelan.
Mungkin bertemu dengan Echa akan membuat hatinya lebih baik.
Tok..Tok...
Empat ketukan terakhir pintu pun terbuka, menampilkan sosok Arfian yang sangat ia rindukan. Rena memang egois, di sisi lain dia mengkhawatirkan Ben tapi juga masih merindukan Arfian.
"Arfian..."
Pria itu tak bicara apapun, langsung menutup pintu depan cepat. Tak membiarkan Rena untuk masuk.
"bicaralah." Ujarnya.
Rena merasa kecewa karena Arfian lebih memilih untuk berbincang diluar, tak mempersilahkan nya masuk kedalam.
"Ar, aku ingin bertemu Echa."
"tidak bisa."
"tapi kenapa? aku ibunya, merindukan Echa apa tak boleh?"
Arfian diam. Dia hanya takut terjadi apa-apa pada Echa. Karena dokter sudah menyarankan untuk tidak membuatnya berpikir keras. Jika sampai di pertemukan dengan Rena, ia takut Echa akan kebingungan dan malah membuatnya stres. Karena selama ini gadis itu sama sekali tak mengingat Rena adalah ibunya.
Echa mengira jika ibunya telah tiada meskipun Arfian tak mengatakan itu.
__ADS_1
...*******************...