
Hanum merasa sedih melihat Leon yang menangis karena tak ingin di tinggalkan oleh Arfian. Ia memeluk tubuh putranya itu sambil terus menenangkan agar tak menangis lagi. Arfian tersenyum, mengecup kening Leon.
"Daddy nanti kemari lagi, hari ini Daddy harus menemani kakak Echa."
Leon menggeleng pelan, ia melepaskan pelukan Hanum. Memeluk erat tubuh Arfian sambil terus menangis. Anak kecil itu sulit sekali di tenangkan, Arfian kewalahan membujuknya.
"baiklah, malam ini saja Daddy menginap. humm..Leon senang?"
"hooollleee.... Daddy bobo baleng Leon." Soraknya.
Dengan seketika tangisnya berhenti. Hanum menghela nafas lega, rasanya senang mendengar keputusan Arfian. Wanita mengelus rambut Leon, dia bangga dengan putranya karena bisa membuat Arfian luluh.
Dia tahu sekarang, untuk menjauhkan Arfian dengan Echa hanya butuh Leon untuk melakukannya. Hanum mungkin tak sadar jika secara tak langsung dia telah memanfaatkan putranya sendiri demi menjerat pria itu.
Arfian berbaring di samping Leon. Hatinya tak tenang karena terus mengingat Echa. Setelah dilihatnya Leon tertidur nyenyak dia segera bangun. Mencoba menghubungi Rada dan menanyakan keadaan Echa.
Hanum mendengus melihatnya. Melirik Leon yang sudah terlelap. Ide gila muncul begitu saja saat Arfian tengah menelepon. Dia mendengar kalau Arfian akan segera pulang, itu tak bisa di biarkan.
Dengan sengaja Hanum berbisik pada Leon.
"Leon...sayang..."
Bocah kecil itu menggeliat saat merasakan tidurnya terganggu. Hanum tersenyum tipis melihat Leon yang membuka matanya.
Arfian tak melihat itu semua karena tengah memunggungi keduanya. Dia masih saja berbincang di telpon.
"bunda..."
"sayang, Daddy Arfian mau pulang." Bisik Hanum membuat Leon langsung bangun dan langsung turun dari kasurnya.
"Leon, kamu mau kemana nak.." Teriak Hanum kencang hingga Arfian berbalik melihatnya.
"Daddy jangan pulang.." Leon memeluk kaki Arfian.
__ADS_1
Arfian segera menyudahi telponnya. Mengangkat tubuh kecil Leon kedalam gendongannya. Hanum tersenyum puas karena Arfian kembali memutuskan untuk tetap tinggal dirumahnya. Bagaimana pun caranya ia akan membuat Arfian melupakan Echa, meskipun itu hal mustahil tapi Hanum akan tetap mencobanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Arfian terpaksa menginap karena sudah terlalu larut baginya untuk menyetir. Jarak rumah Hanum ketempat Rada sangatlah jauh, butuh waktu 6 jam untuk sampai kesana.
"humm...kau terpaksa menginap karena Leon. maaf ya." Hanum meletakkan teh hangatnya, ikut duduk di kursi ruang tamu.
"tak apa. dia masih kecil belum mengerti apapun."
"uumm...kau bisa tidur di kamar itu." Hanum menunjukkan sebuah kamar yang berada di pojok dengan dapur.
"ya, terimakasih." Arfian mengambil teh nya lalu meninggalkan Hanum.
Pria itu sudah sangat lelah, ia tak bisa lagi menahan kantuknya.
"maafkan aku Arfian, tapi ku harap kau lebih memilih kami di bandingkan Putri mu itu." Gumam Hanum.
Mungkin jika Hanum tahu kalau Echa bukanlah putri kandung Arfian, wanita itu akan semakin senang.
Entah apa yang terjadi pria itu tiba-tiba menyentuh tangannya tepat ketika Arfian tiba. Rena yang memang sengaja datang bersama Arfian langsung mengatakan hal-hal yang tidak-tidak, sehingga Arfian pun marah dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Jika mengingat kejadian itu Hanum masih merasakan sakit dan marah terhadap Arfian. Tapi, karena rasa cintanya yang masih ada di hatinya membuat wanita ini berharap jika dirinya dan Arfian bisa bersatu.
...*****************...
Echa merengek pada Rada karena Arfian tak jadi pulang. Ia tak bisa tidur jika tak bersama Arfian. Kebiasaannya dari kecil adalah tepukan di pantat yang selalu di lakukan Arfian. Meskipun sekarang Rada melakukan hal itu tapi Echa tetap tak bisa memejamkan matanya. Rasanya berbeda baginya.
"Daddy kenapa tak jadi pulang..."
"sayang, Daddy mungkin sedang sibuk." Rada sebenarnya kesal karena tahu Arfian tak pulang pasti Hanum lah penyebabnya.
Mengelus punggung Echa agar gadis kecil itu bisa tertidur.
"ayo..pejamkan matamu, nenek akan bernyanyi untuk mu." Rada mencoba segala cara agar Echa bisa tertidur, ini sudah sangat malam.
__ADS_1
Tak baik bagi anak seusianya jika masih terjaga di jam malam seperti ini. Perlahan Echa menutup matanya, mendengar suara Rada yang terdengar merdu menyanyikan lagu tidur untuk nya.
Rasa kantuk perlahan menyerangnya, ia pun tertidur. Rada menarik napas dalam-dalam, akhirnya usahanya untuk menidurkan Echa berhasil. Mencium keningnya lalu segera mematikan lampu tidurnya.
"wanita itu tak bisa di biarkan." Desis Rada.
Sangat yakin jika Hanum pasti melakukan hal licik di belakangnya. Ia harus mencari cara untuk membuat Arfian meninggalkan wanita itu.
Sementara itu saat ini Rena tengah melamun. Menatap bingkai foto pernikahannya bersama Arfian. Ia tak pernah meninggalkan foto ini, selama bersama Ben pun ia tetap menyimpannya di dalam dompet. Tadi siang ia sengaja mencuci foto itu menjadi ukuran besar, rasa rindunya tiba-tiba muncul hingga membuatnya memutuskan untuk memajang foto itu di kamarnya.
"Arfian, seandainya waktu bisa di ulang. aku tak akan mencoba menyakiti mu." Gumamnya pilu. "Ben mungkin cinta pertama ku, tapi kau adalah segalanya Arfian."
Tak terasa airmata mengalir begitu saja. Rena menangis kembali, hampir setiap hari ia meratapi nasibnya. Merasa menyesal karena telah menyakiti pria baik itu.
Rasa sesalnya semakin bertambah kala mengingat Hanum dan Arfian sudah kembali bersama. Marah, kesal dan kecewa terhadap dirinya sendiri semakin membesar.
Semua kenangan bersama Arfian terus berputar seperti kaset kosong di kepalanya. Rena bangun dari duduknya, berjalan kearah jendela.
Memandang langit yang mulai menggelap. Biasanya saat masih bersama Arfian, pria itu selalu mengelus rambutnya di malam hari hingga ia terlelap dalam tidurnya.
"haaaaaaaaah...." Menghembuskan nafas kasar. "tuhan sedang menghukum ku sekarang." Desisnya.
...*********************...
Liliana melirik Ben yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Pria itu membuatnya muak. Liliana meremas bantalnya, ingin sekali menutup wajah menyebalkan itu dengan bantal tapi Liliana tak bisa melakukan hal gegabah seperti itu.
"kau itu benar-benar seperti monster Ben." Gumam Liliana.
Perlakuannya terhadap Rena membuat Liliana merasa jika Ben sungguh gila. Pria itu mencintainya tapi terus menyiksanya. Liliana meraih ponselnya dan segera menghubungi Rena.
Ia ingin tahu apa wanita itu baik-baik saja. Keputusan Rena untuk pergi dari rumah ini adalah hal yang benar. Liliana mendukung keinginannya itu, ia mungkin dulu pernah membenci Rena karena telah merebut Ben darinya. Tapi, setelah beberapa bulan tinggal bersamanya membuat Liliana sadar jika sebenarnya Ben lah yang lebih pantas ia benci di bandingkan Rena.
...*********************...
__ADS_1