Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 39


__ADS_3

Hanum bangun pagi sekali, sengaja karena ada Arfian di rumahnya. Ia menyiapkan sarapan dan membangunkan Leon lebih awal. Tentu saja untuk kembali melancarkan rencananya, ia akan menggunakan Leon untuk menahan Arfian untuk pulang. Ini hari minggu, Hanum ingin sekali membuat Leon mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah anak itu dapatkan sebelumnya.


Mungkin mengajaknya jalan-jalan keluar atau pergi ke kebun binatang. Hanum tersenyum membayangkannya.


"sayang..kamu bangunkan Daddy ya?" Hanum mengelus rambut Leon.


Leon memanggil Arfian Daddy karena bocah itu mengira jika Arfian memang ayahnya. Dari lahir ia tak pernah tahu siapa ayah kandungnya jadi begitu Hanum mengajak Arfian kerumah langsung menganggap bahwa Arfian adalah ayahnya. Terlebih Hanum yang memang selalu menyuruh Leon memanggil nya seperti itu.


Leon sangat senang, ia langsung berlari menuju kamar dimana Arfian tidur. Bocah itu dengan susah payah membuka pintu. Hanum hanya diam saja sambil memperhatikan dari kejauhan, ia ingin tahu apa Arfian akan kembali terbujuk oleh Leon atau tidak.


Brug...


"Daddy..." Leon melompat keatas perut Arfian hingga pria dewasa itu terkejut dan bangun dengan cepat.


Hendak membentak tapi tak jadi saat melihat wajah polos Leon yang menatapnya.


"Daddy, ayo..angun.." Ujarnya dengan cadel.


Arfian memeluk tubuh Leon, memutar tubuhnya hingga Leon terjatuh kesamping.


"uumm..dasar nakal. Daddy hampir saja jantungan. humm..sudah wangi. apa Leon sudah mandi?" Arfian mencium bau sampo dari rambut bocah itu.


Leon mengangguk semangat.


"iya.. hali ini kita liat beluang ya."


Arfian mengerutkan keningnya. Ia bangkit dari tempat tidur, duduk bersila.


"tidak sayang. Daddy harus pulang. kakak Echa pasti menunggu Daddy."


Mendengar itu wajah yang tadinya ceria menjadi murung. Leon cemberut mendapatkan penolakan. Arfian menghela nafas panjang, ia tak bisa membuat Leon kecewa seperti ini. Mengelus kepalanya lembut.


"oke, Daddy mandi dulu. kita ke kebun binatang liat beruang. tapi.. sebelum berangkat kita jemput kakak Echa ya?" Bujuk Arfian.


"humm..oke Daddy."


"anak baik. Sekarang Leon kembali ke bunda. Daddy mau cuci muka dulu."


Leon mengangguk. Langsung berlari keluar kamar begitu Arfian menurunkannya dari atas kasur. Arfian tersenyum lebar, mungkin tak ada salahnya dia mengisi hari libur nya dengan jalan-jalan bersama calon putranya. Echa juga pasti akan senang, sudah lama ia tak mengajak Echa pergi keluar rumah.


Hanum langsung mengangkat tubuh Leon, mendudukkan nya di kursi.


"bagaimana?" Tanyanya penasaran.


"Daddy mau."


Hanum senang mendengarnya, ia tak bisa berhenti tersenyum. Sambil terus menaruh roti di atas piring Leon. Bocah itu melihat Hanum dengan heran lalu menatap piringnya yang sudah diisi beberapa lembar roti.


"unda, lotinya napa banyak-banyak?" Protesnya dengan kosakata yang masih belum benar.


Hanum terkejut, ia tertawa pelan. Mengacak rambut Leon gemas. Saking senangnya ia sampai tak sadar telah menaruh 10 lembar roti tawar di atas piring putranya itu.


"maafkan bunda ya."

__ADS_1


"ekhemmm..." Arfian berdeham membuat ibu dan anak itu melihat kearahnya.


Arfian masih memakai baju yang sama seperti kemarin karena tak ada baju ganti. Hanum langsung meletakkan piring di meja lalu menyendokkan nasi dan lauknya.


"makanlah dulu Ar." Ujarnya. "dan..maaf ya, aku tak punya baju ganti untuk mu."


"ya..tak apa. aku akan pulang dulu nanti."


Hanum melirik Leon lalu kembali melihat Arfian yang sudah mulai menyantap makanannya.


"uumm..Leon bilang dia ingin kekebun binatang.."


"aku tahu, dia sudah mengatakannya padaku."


"lalu..." Hanum menatap Arfian, meskipun sebenarnya dia sudah tahu jawabannya apa, tapi demi kelancaran rencananya pura-pura tak tahu apapun seolah hanya Leon yang menginginkannya.


"aku akan pulang dulu untuk berganti pakaian setelah itu aku akan kembali menjemput kalian." Jawabnya.


Arfian tak mengatakan akan menjemput Echa dan mengajaknya bersama mereka. Dia tahu, jika mengatakannya sekarang maka Hanum pasti akan menolak atau melarang Leon untuk pergi.


...***************...


Echa sudah siap-siap, Rada mendandaninya begitu selesai mendapatkan telpon dari Arfian. Nenek satu cucu itu terlihat sangat senang karena sekarang Echa sudah tak canggung lagi seperti dulu. Setelah kehilangan ingatannya Echa memang sempat tak ingin di sentuh olehnya.


"cantik sekali cucu nenek." Pujinya bangga.


Kaos putih yang di padukan dengan rok rempel warna pink sangat cocok di tubuh mungil gadis kecil itu. Rambutnya di ikat dua dan di hias pita kecil di setiap ujungnya.


"apa Daddy akan segera tiba nek?"


"hehe..iya nenek."


Sena tersenyum, ia ikut bahagia melihatnya. Echa sudah tak lagi murung dan kembali ceria seperti sebelumnya. Menghela nafas berat saat mengingat Rena, ia merasa sedih. Berpikir bagaimana jika Rena tahu kalau Echa telah kehilangan ingatannya dan melupakan dirinya.


Wanita itu pasti akan sangat sedih dan terpukul. Sebagai seorang wanita ia bisa merasakannya.


"ada apa?" Tanya Rega khawatir karena Sena mendadak diam.


"Rega, apa kau tahu dimana kakakmu sekarang?"


"tidak. kenapa?"


"kemarin aku bertemu dengan Ben, dia bersama seorang wanita dan aah..iya... Rihanna, kau ingat wanita itu kan?"


Rega mengangguk.


"dia menghubungi ku kemarin."


"untuk apa?"


"tentu saja menanyakan kak Arfian."


Rega melihat Rada yang masih sibuk mendadani Echa. Ia tersenyum tipis, berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"mamah, apa kau menyukai Rihanna atau kekasih kak Arfian yang sekarang?" Tanyanya tiba-tiba.


Rada yang sedang memoleskan lipsglos di bibir Echa langsung menghentikan kegiatannya. Melirik Rega dengan tatapan tajam.


"tidak keduanya."


Echa melihat Rega, lalu ikut bicara.


"Echa mau kakak Rahel saja." Ujarnya dengan polos.


Rega dan Rada saling melihat.


"siapa itu?" Tanya Rega.


"kakak Rahel teman ibu Leon." Jawaban Echa sama sekali tak membuat Rega mengerti.


"apa kakak yang pernah Echa ceritakan itu? kak Rahel yang selalu tersenyum manis." Timpal Sena, ia tak bisa menyimak terus melihat Echa yang kebingungan menjelaskan.


"iya..kakak Rahel baik.echa suka. ibu Leon jahat. matanya selalu melotot."


Ucapan seorang anak kecil memang tak perlu di ragukan lagi. Anak-anak seusia Echa pasti akan bicara jujur. Rada tersenyum, mengelus pipi echa lembut.


"iya, katakan pada Daddy. ajak kakak Rahel kemari. nenek mau bertemu dengannya."


"iya. Echa akan minta Daddy mengajaknya."


...***************...


Rahel membagikan nasi kotak yang sengaja dia bawa dari rumahnya. Membuatnya pagi-pagi sekali hanya demi memberikan makanan itu pada anak-anak jalanan. Kebiasaannya ini ia lakukan semenjak orangtuanya tak lagi hidup bersamanya.


Ayahnya yang dulu dia andalkan mencari nafkah justru malah membuatnya takut. Ia pun di telantar ibunya karena kelakuan sang ayah.


Memilih untuk tinggal sendiri di sebuah kosan. Bekerja keras demi hidupnya. Ia merasa anak-anak jalanan ini senasib dengannya, itulah yang membuat dirinya membagi makanan setiap hari libur seperti ini.


"kalian makan ya, Minggu depan kakak akan bawakan lagi."


Anak jalanan itu mengangguk kompak. Rahel merasa iba melihatnya, satu anak gadis yang masih kecil di gendong oleh anak laki-laki yang mungkin saja usia hanya beda beberapa tahun saja dengan anak gadis itu.


"ini adikmu?" Tanya Rahel.


"bukan. dia anak tetangga ku."


"tetangga mu? kenapa kau membawanya? nanti orangtua nya mencari dia."


"dia tak punya ibu, ayahnya bekerja setiap hari. aku di pinta ayahnya untuk menjaganya."


Rahel sangat tersentuh mendengarnya. Banyak sekali anak-anak kurang beruntung di luaran.


Tiiiinnn...


Rahel dan 4 anak itu melihat kearah mobil yang baru saja membunyikan klakson nya. Wanita cantik itu terkejut saat sadar siapa yang ada di dalam mobil.


"kak Ar.." Ujarnya. "anak-anak, kakak pergi dulu ya."

__ADS_1


Arfian tersenyum begitu Rahel sudah berada di dekat mobilnya. Ia hendak kerumah Rada untuk menjemput Echa, tak sengaja melihatnya. Tanpa berpikir lagi Arfian langsung menghentikan mobilnya, entah kenapa ia ingin sekali melihat wanita itu lebih dekat.


...********************...


__ADS_2