Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 36


__ADS_3

Liliana langsung berdiri dari duduknya saat mendengar Rena mengatakan Ben ada di rumah sakit dan dalam keadaan kritis. Ia tersenyum senang, langsung mengambil kunci mobil.


"kalau begitu ayo cepat kita lihat. mungkin saja nyawanya tak tertolong." Ujar Liliana bersemangat.


Tapi berbeda dengan Rena, wanita itu justru terlihat pucat pasi. Ia tak pernah mengira akan kehilangan Ben seperti ini. Rencana Liliana memang melenyapkan Ben, seolah pria itu tewas karena sebuah kecelakaan.


Dengan mencampur kopi dan obat tidur, Ben pasti akan mengantuk berat hingga tak bisa mengemudi mobil dengan benar. Membuatnya tak konsentrasi menyetir hingga terjadilah kecelakaan. Tapi sepertinya tuhan berkehendak lain, Ben langsung menepikan mobilnya begitu merasakan kepalanya pening dan matanya susah untuk terbuka.


Liliana tak pernah menduga itu, ia hanya mengira saat ini keadaan Ben pasti sangat buruk. Setidaknya tak tewas pun pria itu akan mendapatkan cacat pada tubuhnya. Rasa sakit karena di permainkan cinta nya oleh akan terbalaskan.


"tunggu..." Rena menahan langkahnya, wanita itu menyerahkan ponselnya pada Liliana.


"apa? kenapa...." Liliana mengerutkan keningnya saat melihat riwayat panggilan di ponsel Rena.


"jika Ben kritis, perawat itu tak akan menghubungi ku." Ucap Rena.


"maksudmu?"


"Rena is my heart, nomor ku di kontak Ben."


Liliana terdiam, ia menatap Rena tak percaya. Hampir saja dia terjebak dalam permainannya sendiri. Rena mengangguk lalu menarik tangan Liliana agar mengikutinya ke kamar.


"my wife, perawat pasti akan langsung menghubungi kontak mu yang di beri nama seperti itu. Tapi, perawat itu malah menghubungi ku. Jika bukan Ben yang memintanya maka perawat itu...."


"kau benar. lalu apa rencana kita selanjutnya?"


"haaaaah, aku tak ingin terlibat lagi. kau urus saja dirimu." Rena memberikan cincin emas pada Liliana.


Cincin itu diberikan padanya 3 bulan lalu, Rena tak ingin menyimpannya. Mungkin Liliana lebih pantas darinya. Ben pasti akan memaafkan Liliana dan mengira dirinya di balik semua ini.


Pria itu tak mungkin melepas tambang emasnya hanya demi wanita seperti dirinya.


"ini..."


"temui Ben, katakan padanya aku telah pergi."


"kau ingin pergi? meninggalkan Ben?"


Rena mengangguk. Ia sudah tak sanggup lagi untuk bertahan. Ben terlalu menakutkan dengan segala perbuatannya. Sikapnya yang sering berubah dan tempramen nya yang tinggi membuat Rena tak bisa lagi untuk tetap di sisinya.


"aku akan pergi dari kota ini."

__ADS_1


"meninggalkan putri mu?"


"ya, lagipula putri ku lebih bahagia dengan Arfian."


Liliana terdiam. Dulu dia sempat berpikir untuk membalas Rena karena telah berani merebut Ben. Untung saja waktu itu dia mengetahui semuanya dengan jelas, Rena tak sepenuhnya salah. Wanita itu tak pernah tahu kalau Ben kekasihnya. Jadi, hanya kemarahan terhadap Ben yang tak pernah hilang. Sementara kemarahannya terhadap Rena telah tergantikan oleh rasa simpati.


Rena sama seperti dirinya. Hanya di permainkan oleh pria itu. Bahkan Rena sampai kehilangan segalanya, keluarga, suami dan putrinya. Liliana lebih beruntung, tak ada satupun yang hilang dari nya.


"kau yakin? kau akan pergi kemana?"


"entahlah, mungkin akan pergi jauh dari kota ini. aku akan memulai semuanya dari nol."


Liliana menghela nafas. Mengeluarkan dompetnya lalu mengambil salah satu kartu miliknya. Ia menyerahkan nya pada Rena.


"aku tahu..kau tak punya sepeserpun. ambil ini."


"tidak. aku..."


"anggap saja kau meminjamnya dari ku. nominalnya tak banyak... hanya ada 27 juta. tapi kurasa itu cukup untuk mu."


Rena sempat terkejut mendengarnya, uang sebesar itu di berikan padanya begitu saja. Ia menatap Liliana dengan tatapan bingung.


"pergilah." Lirih Liliana. Ia tak akan menahan Rena ataupun melarangnya.


Rena tersenyum, memeluk Liliana cukup lama sambil menggumamkan kata maaf dan terimakasih.


"maafkan aku dan terimakasih banyak."


Liliana membalas pelukan Rena.


"aku akan mengantarmu sekalian kerumah sakit. Ben pasti sudah menunggu."


...*****************...


Rahel duduk tak nyaman di kursinya. Ia merasa canggung karena Hanum sedari tadi terus saja bersikap ketus terhadap Echa. Merasa tak enak kepada Arfian, pria itu setidaknya akan merasa marah dan sakit hati karena putrinya di perlakukan seperti itu.


"Hanum, apa kau ingin menjemput Leon?" Tanya Arfian, ia masih mencoba sabar dengan sikap wanita itu.


Hanum mengangguk lalu kembali memainkan ponselnya. Mengirim pesan pada seseorang. Menepis tangan Echa yang mencoba menyentuh lengannya.


"Echa, kakak punya ini. mau tidak?" Rahel langsung bertindak saat melihat gadis kecil itu akan menangis.

__ADS_1


Mengeluarkan permen susu rasa melon lalu membuka bungkusnya. Memberikan nya pada Echa sehingga gadis itu tak jadi menangis.


"tak apa kan kak Arfian, ini hanya permen." Ujar Rahel takut Arfian melarangnya.


"ya, tak apa. maafkan aku Rahel, apa bisa minta tolong sebentar?" Arfian menghentikan mobilnya tepat di depan toko kue.


"ya..apa yang bisa aku lakukan kak?"


Arfian melirik Hanum sekilas, lalu melihat ke arah Rahel yang masih memangku Echa.


"ikut kami turun." Ujarnya sambil keluar dari mobil. Arfian berjalan ke arah belakang, membukakan pintu belakang tepat di mana Rahel duduk. Karena tahu wanita itu pasti kesulitan membuka pintu dengan Echa di pangkuannya.


Rahel dengan canggung keluar dari mobil, merasa tak enak pada Hanum yang membuka pintunya sendiri. Arfian bukan tanpa sebab mengajak Rahel ikut mampir ke toko itu. Ia tahu Hanum tak akan mau menjaga Echa.


"pilihlah untuk Leon." Arfian meminta Hanum mencari satu kue. Sementara dirinya memesan satu kue lain.


"Daddy, apa hari ini Echa ulang tahun?" Tanya gadis itu saat Arfian memesan satu cake.


"tidak sayang. ini untuk nenek."


Rahel tersenyum melihat Echa cemberut. Gadis itu marah karena Arfian tak membelikannya kue.


"Leon saja di belikan." Ujarnya cemburu.


Hanum sudah selesai memilih dan sedang menunggu kuenya di bungkus. Senang karena Arfian mengingat putranya. Dia merangkul lengan Arfian.


"terimakasih Arfian."


"ya, dia suka coklat bukan?"


"hummm..."


Rahel menarik napas dalam. Melihat Arfian dan Hanum sedekat itu membuatnya cemburu. Ia tersenyum masam saat ingat masa lalunya. Dari dulu Arfian memang lebih peduli dengan Hanum. Menolaknya dan mengatakan dengan apa adanya, jika dia sangat menyukai Hanum. Meminta maaf padanya karena tak bisa membalas perasaannya.


Tapi, tak ada sedikitpun dalam hatinya rasa benci kepada Hanum. Rahel sadar dan menerimanya dengan lapang.


"kakak, mau kue juga?" Tanya Echa, ia kira Rahel menginginkan sesuatu karena dari tadi hanya diam melihat kearah etalase kaca yang dipenuhi banyak sekali kue.


"aah..tidak kok.kakak tak suka kue." Jawab Rahel, mengecup pipi Echa gemas.


Gadis kecil dalam gendongannya itu tertawa geli karena Rahel terus menciumi pipinya.

__ADS_1


Arfian ikut tersenyum melihatnya, sementara Hanum hanya diam.


...****************...


__ADS_2