
Rahel tak bisa tidur karena kejadian tadi siang, bayangan saat Arfian menciumnya sungguh membuat wanita itu tak bisa melupakannya. Ciuman pertamanya telah diberikan pada pria yang dicintainya. Tersenyum tipis sambil menyentuh bibirnya, masih terasa hingga sekarang.
Begitu juga dengan Arfian, meskipun ini bukanlah kali pertama baginya. Tapi, tetap saja tidak bisa melupakannya. Wajah Rahel yang tersipu terus terbayang di benaknya. Wanita itu sudah memutar balikkan keadaan sekarang, rasa sakit yang Arfian rasakan sama sekali tak ada lagi jejaknya.
Arfian sudah tak ingat lagi dengan masa lalu kelamnya. Hanya ada rasa bahagia didalam hatinya.
Tok...Tok...
Rahel bangun dari tidurnya, segera membuka pintu. Rada berdiri dengan Echa di gendongannya.
"Rahel, Echa ingin tidur dengan mu."
"kemarilah." Rahel mengambil alih Echa.
"kalau begitu nenek tinggal ya?"
"iya nenek."
"anak pintar." Rada mengecup kening Echa. "Rahel, besok pagi mamah akan pulang."
"loh, kenapa? ibu bisa menginap lebih lama bukan?"
Rada menggeleng. "tidak, sekarang ada kamu yang mengurus Arfian dan Echa."
"humm..iya. apa Rega dan Sena juga?"
"iya. Rahel, coba panggil mamah jangan ibu. bagaimana pun kau itu calon istri Arfian." Seru Rada membuat Rahel malu.
Wanita itu mengangguk pelan. Rada tersenyum puas, lalu menutup pintu. Rahel membawa Echa kekasur, memeluk gadis kecil itu erat.
"selamat malam sayang, bobo indah ya." Bisik Rahel, mengecup pipi Echa.
Echa tak lagi menjawab karena sudah tertidur.
Rada masih berdiri di depan kamar Rahel. Mencoba untuk melihat kembali keadaan Echa sekarang, membuka pintunya pelan-pelan karena takut mengganggu.
Hatinya menghangat melihat bagaimana Rahel yang memeluk Echa dan cucunya yang terlelap begitu damai.
"mamah.." Sena menghampiri Rada.
Ia hendak kedapur untuk mengambil susu, karena Rega yang memintanya. Meskipun tadi siang dia sudah menggerutu karena terus di suruh tapi tetap saja Sena melakukannya sampai malam tiba.
"lihat Sena, wanita itu adalah bidadari yang tuhan berikan untuk Echa."
Sena melihat ke dalam. Tersenyum tipis, setuju dengan apa yang dikatakan Rada.
"mamah..." Sena mengelus lengan Rada saat sadar kalau wajah calon mertuanya begitu sendu.
Rada menghela nafas panjang.
__ADS_1
"seandainya putriku tak melakukan hal buruk itu.."
"sudahlah, mamah jangan terus mengingat hal itu."
Sena tahu jika Rada masih saja tak bisa melupakan sosok putrinya. Hati seorang ibu pasti akan sangat terluka saat anaknya berbuat salah. Rada selalu saja mencoba untuk melakukan hal yang terbaik bagi Arfian dan Echa untuk menebus kesalahan Rena.
Sena menutup pintu kamar Rahel pelan, mengajak Rada untuk kembali masuk ke kamarnya. Sampai melupakan niatnya untuk mengambil susu.
Rega melihat kebelakang, mendengus kesal karena Sena tak kunjung juga kembali. Ia pun bangun dari duduknya, mencoba untuk mencari Sena.
Berdecak pelan begitu melihat Sena yang sedang berjalan menuju kamar bersama Rada. Rega pun segera menghampirinya.
"kenapa kau malah disini? aku kan memintamu mengambil kan susu."
Rada mendelik tajam, mengambil gelas yang ada di tangan Sena lalu memberikan nya pada Rega.
"buat sendiri." Ujarnya. "ayo..Sena, temani mamah tidur saja."
Rega menghembuskan nafas kasar melihat Sena yang di seret masuk kedalam. Terpaksa dia harus membuatnya sendiri.
...*******************...
Hanum mengambil ponselnya, memotret Leon yang sedang terbaring di atas kasur. Putranya kembali demam karena seharian bermain diluar. Mungkin dia harus melakukan sesuatu agar bisa bertemu kembali dengan Arfian.
"bunda..."
"iya sayang."
Rengekan Leon dari semalam memang ingin bertemu dengan Arfian. Putranya itu pasti sangat merindukannya.
"tapi sayang..."
"tidak jadi." Leon menggeleng cepat. Ia ingat dengan kata-kata Hanum saat di panti waktu itu.
Jangan pernah merindukan pria itu, harus membencinya. Takut ibunya akan marah jika dirinya terus meminta untuk bertemu dengan Arfian.
"bunda bilang Leon halus benci Daddy." Lirihnya pelan.
Hanum diam. Memang benar, dia yang meminta Leon untuk tidak menyukai pria itu. Hanum hanya ingin balas dendam pada mereka, dengan mendoktrin Leon sedari kecil. Mungkin saja saat dewasa nanti Leon akan membalas segala rasa sakit hatinya.
Tapi, wanita itu berpikir kembali. Jika seperti itu maka tak akan ada yang membiayai putranya, Arfian sudah mengirim banyak uang kemarin ke ATM nya untuk Leon.
Jika Leon sampai menolak segala yang di berikan Arfian maka hidupnya akan semakin susah. Oleh karenanya, Hanum kembali berencana untuk mendekati Arfian.
Menyingkirkan Rahel dengan cepat dan menarik perhatian semua orang di rumah itu. Terutama Echa dan Rada. Hanya dua orang itulah yang harus dia kendalikan.
...******************...
Rahel melambaikan tangannya, rumah kembali sepi karena semuanya sudah pulang. Hanya tinggal dirinya dan Echa saja di rumah karena Arfian sudah berangkat kerja.
__ADS_1
Echa memicingkan matanya saat melihat seseorang yang dikenalnya berdiri diluar pagar.
"kak Rahel tunggu."
Rahel menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam.
"ada apa?"
"itu...Leon..itu Leon kak." Teriaknya girang melihat Leon.
Sudah lama tak bertemu membuatnya merindukan bocah kecil itu. Rahel pun segera menghampirinya. Sedikit tak senang karena Hanum ada di sana.
"Rahel..." Hanum langsung memegang tangan Rahel.
Rahel berjengit kaget.
"maafkan aku. aku selama ini sudah salah padamu." Isaknya.
Rahel merasa tak enak karena mereka berada di luar. Dengan cepat mengajak Hanum dan Leon masuk.
Wanita itu menangis dan meminta maaf padanya. Rahel merasa jika Hanum tengah merencanakan sesuatu, tidak mungkin wanita itu berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu. Sangat hafal dengan sikapnya.
"sayang, bawa Leon kekamar ya? main di didalam saja." Rahel meminta Echa untuk membawa Leon.
Anak-anak itu tak boleh melihat hal yang tak seharusnya mereka ketahui. Rahel tak ingin Leon melihat ibunya berlutut sambil menangis seperti ini.
Setelah kedua anak itu pergi Rahel segera meminta Hanum untuk duduk di kursi.
"ada apa dengan mu?" Tanya Rahel menatap penuh curiga.
Hanum menghapus airmatanya.
"Rahel, aku tahu sudah sangat keterlaluan terhadap mu. Arfian mencintai mu, aku merelakan dia sekarang."
Rahel diam, tak mengerti dengan apa yang dikatakan Hanum. Tiba-tiba saja jadi begitu pengertian. Merasa semakin curiga ada yang tidak beres dengan ini semua.
"aku hanya minta satu hal padamu. biarkan aku bekerja di sini, aku bisa memasak, mencuci dan melakukan hal yang lain juga." Pintanya sambil terus menangis.
"apa uang yang kak Ar kemarin berikan padamu tidak cukup?" Tanya Rahel membuat Hanum menelan ludahnya.
Rupanya Rahel tahu perihal uang yang di transfer Arfian kemarin. Apa wanita ini sangat berharga sekarang hingga hal kecil itu pun Arfian memberitahukan nya.
"bukan begitu. aku hanya merasa tak enak. Leon bukan lah putra Arfian. Kami hanya orang asing, jika Arfian terus memberikan ku uang. aku merasa malu." Alasan yang masuk akal, Rahel tak bisa berkata lagi.
"aku akan mengatakannya pada kak Ar nanti." Akhirnya Rahel pun harus mencoba untuk tidak menaruh curiga.
Mungkin saja Hanum memang sudah sadar sekarang. Mengerti dengan apa yang terjadi, cinta itu tak harus di paksakan. Karena hati lah yang menentukannya.
Hanum tersenyum samar. Rencananya sepertinya akan berhasil.
__ADS_1
...*****************...