
Echa tertidur pulas di dalam mobil, gadis kecil itu begitu senang seharian ini karena Rega dan Sena mengajaknya bermain. Dia melupakan kerinduannya terhadap Rena. Mungkin memang sangat aneh jika di pikirkan secara nalar. Anak seusianya sama sekali tak begitu peduli dengan adanya seorang ibu atau tidak di sampingnya. Echa kadang merengek meminta untuk bertemu ibunya tapi kadang dia sama sekali tak mengingatnya.
Rega menyandarkan tubuhnya di mobil, dia melirik Sena yang berdiri di sampingnya. Mereka memilih untuk mengobrol di luar karena takut mengganggu Echa yang terlelap.
"apa yang kau ingin bicara kan?" Tanya Rega.
Sena menghela nafas berat.
"kau tahu, tadi di sekolah Echa sangat nakal sekali. dia merusak mainan temannya, mengejek dan bahkan saat guru bicara dia seolah tak peduli. sama sekali tak merasa takut."
"apa kau serius? Echa tak mungkin melakukan hal itu. dia anak yang baik." Seru Rega tak percaya.
"aku juga berharap begitu, bahkan tadi gurunya menitip pesan padaku." Sena pun mengatakan semua yang di katakan guru Echa padanya tadi.
Rega sungguh tak percaya. Melihat Echa yang pulas di dalam mobil, gadis itu begitu polos dan lemah. Semua yang di katakan Sena membuatnya merasa tak percaya.
"kenapa begitu. ya..tuhan.." Rega meremas rambutnya. "apa kak Arfian tahu?"
Sena menggelengkan kepalanya.
"aku tidak tahu, tapi kurasa kak Rena tahu soal ini. soalnya tadi guru itu bilang, ibunya menyepelekan semua ucapannya sehingga meminta ku untuk mengatakan kembali pada orangtua Echa." Jelas Sena.
Rega menghembuskan nafas kasar, dia sudah menduganya. Rena hanyalah seorang ibu yang egois, tak peduli sama sekali dengan tumbuh kembang putrinya. Mengingat semua yang telah di lakukan Rena membuat Rega sangat merasa kesal.
"cih..wanita itu sungguh keterlaluan. pada anaknya sendiri bahkan tak peduli. aku malu mengakuinya sebagai kakak." Decih Rega kesal.
"lalu...apa yang harus kita lakukan? memberitahukannya pada pak Arfian?" Tanya Sena.
Mendengar Sena menyebut nama Arfian membuat Rega ingat akan sesuatu. Rasa cemburunya timbul kembali.
"humm..kau menyukainya?" Seru Rega keluar dari jalur topik pembicaraan.
Sena mengeryit. "menyukai apa?"
Rega mendengus.
"tentu saja kak Arfian. kau menyukainya kan?"
"ya..dia pria baik." Jawaban Sena membuatnya semakin merasa kesal. Dia mengepalkan tangannya menahan emosi.
"ooh.. ya, tentu saja kau akan menyukainya. dia tampan, kaya dan juga seorang duda." Ketus Rega.
__ADS_1
Sena mencebikkan bibirnya ke arah Arfian.
"kenapa kau malah membahas itu? kita sedang membicarakan masalah Echa."
Rega berdeham pelan, dia hanya sedikit emosional saja jadi terbawa suasana. Saat mendengar Sena memuji Arfian membuat nya merasa tak senang.
"sudahlah, kita pulang saja. kau itu selalu saja sewot pada ku. kalau tak suka padaku katakan saja." Ujar Sena lagi sambil masuk kedalam mobil, membanting pintunya cukup keras.
Rega mengusap wajahnya kasar, dia tak bermaksud seperti itu. Tapi dirinya memang tak bisa bersikap manis jika berhadapan dengan Sena.
...*********************...
Wanita yang baru di antarkan pulang oleh Arfian memberikan nomor kontak padanya. Meminta agar Arfian menghubungi nya jika terjadi sesuatu, karena dia berpikir Ben pasti akan melukai Arfian karena telah mengantarnya pulang.
Dan benar saja, entah tahu dari mana Ben sudah berdiri di pintu gerbang rumah Arfian. Pria itu terlihat sangat marah.
"kau berusaha merebutnya dari ku?" Geram Ben.
Begitu Arfian keluar dari mobil dia langsung menerjang nya dengan pukulan.
"lihat saja, akan ku patahkan tanganmu jika berani menyentuh nya." Ancam Ben.
Arfian menepis tangan Ben yang mencengkram kerah kemeja nya. Dia tertawa sinis.
Ben hendak melayangkan kembali pukulan kepada Arfian. Tapi, Echa dengan cepat berlari ke arah mereka begitu keluar dari mobil.
"Daddy...aaahhhh..."
Tubuh kecilnya terpental saat pukulan Ben mengenai kepalanya.
"Echa...." Pekik Arfian.
Sena bahkan sudah terduduk di aspal, kakinya mendadak lemas. Rega dengan cepat berlari kearah Arfian dan Echa.
"kau.." Arfian menyerahkan Echa yang tak sadarkan diri pada Rega.
Dengan cepat menerjang tubuh Ben. Memukulnya membabi buta. Arfian tak bisa menahan emosinya lagi. Ben yang juga terkejut karena telah salah sasaran hanya diam saja tak melawan sama sekali.
"jika terjadi sesuatu pada putri ku, tangan ku biarkan kau hidup." Desis Arfian.
Ben masih diam, wajahnya sudah babak belur. Dia melihat kearah Rega yang menggendong Echa, membawanya pergi dari sana.
__ADS_1
"Sena, cepatlah." Teriak Rega.
Sena langsung bangun, buru-buru membuka pintu mobil. Memangku Echa di gendongannya. Mereka langsung membawanya kerumah sakit tanpa menunggu Arfian lebih dulu.
"aku...aku tak sengaja melakukan nya." Lirih Ben.
Arfian menarik kerah baju Ben, hingga pria itu berdiri dengan terpaksa. Arfian sama sekali tak mendengar alasan apapun. Dia menyeret tubuh Ben menuju mobilnya. Mendorongnya dengan keras kedalam.
"kau harus bertanggung jawab." Desisnya.
Ben diam saja. Dia tak tahu dengan perasaannya saat ini. Merasa bersalah karena telah melukai seorang anak kecil atau karena Echa adalah putrinya. Ben memejamkan matanya, perasaannya sama sekali tak bisa dia mengerti.
...*************************...
Rega dan Sena duduk gelisah di ruang tunggu. Echa sudah di tangani oleh dokter. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu. Arfian pun belum datang karena pria itu terlebih dulu menyeret Ben ke kantor polisi.
Sena sudah menangis, dia tak bisa menahan kesedihannya.
"Rega, bagaimana Echa? apa dia baik-baik saja?" Rada berjalan tergesa menghampiri Rega yang tengah duduk dengan kepala menunduk.
Rega tak menjawab sama sekali, dia hanya menggelengkan kepalanya lemah. Rada menangis histeris, dia langsung datang begitu mendapat kabar tentang Echa yang masuk kerumah sakit.
"Echa..cucuku.." Tangisnya pecah di pelukan Rega.
"Rega.. Echa akan baik-baik saja kan?" Tanyanya. Rega mengangguk, sebenarnya dia tak yakin karena tadi dokter sempat mengatakan jika gadis kecil itu mengalami pendarahan di otak.
Sena menangkup wajahnya, tubuhnya bergetar. Rega yang melihat itu langsung menarik tubuh Sena kedalam dekapannya. Dia memeluk kedua wanita itu dengan erat, memberikan kekuatan bagi keduanya.
Sementara itu, Arfian membuat laporan jika Ben telah menyakiti anaknya. Dia tak ingin melepaskan Ben sedikit pun dari kesalahannya.
"Arfian..ku mohon, jangan lakukan ini?" Rena memohon pada Arfian.
Arfian menepis tangan Rena yang memegang tangannya. Dia semakin marah melihatnya, Rena lebih membela Ben di banding mengkhawatirkan putri nya sendiri. Rena datang secepatnya setelah menelponnya dan memberitahukan jika dia tengah di kantor polisi.
"kau ingin pria yang melukai putri mu di bebaskan?" Geram Arfian. "ibu macam apa kau ini?"
"aku tidak bisa tanpa Ben. jika dia di penjara...."
"dan aku tidak bisa tanpa putriku." Sela Arfian murka. "saat ini dia tengah berjuang di rumah sakit dan kau sama sekali tak peduli?"
Rena menangis keras. Dia juga peduli akan Echa, tapi dia tak bisa membiarkan Ben di penjara. Bagaimana hidupnya nanti tanpa seseorang yang menjamin kehidupannya. Ben selalu memberikan apapun yang dia inginkan meskipun terkadang pria itu selalu bermain fisik.
__ADS_1
...********************...