Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 102


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Echa tumbuh menjadi gadis yang cantik juga begitu dewasa. Ia sangat menyayangi adiknya, hingga apapun akan ia lakukan untuk nya.


Rahel dan Arfian merasa jika hubungan keduanya begitu erat meskipun bukan saudara kandung.


"Echa sudah besar ya mas." Rahel menghela nafas, menatap putri kecilnya yang dulu begitu cengeng.


"humm..iya, dia tumbuh dengan sangat baik. berkat dirimu."


"lihat itu..." Rahel tersenyum tipis melihat Echa yang sedang mencoba mengganti popok adiknya yang berusia 2 tahun itu.


"dia akan jadi ibu yang baik seperti mu." Puji Rahel.


Setiap hari Echa memang selalu membantu Rahel menjaga adiknya, seorang bocah berusia 2 tahun yang begitu aktif.


Sehingga Rahel sering kerepotan jika akan membersihkan rumah. Maka Echa lah yang akan menjaganya, bahkan gadis itu selalu memandikan dan menidurkan adik kecilnya itu.


Rahel merasa sangat terbantu dengan apa yang di lakukan Echa. Pekerjaan rumah nya terasa begitu ringan berkat putrinya itu.


"sayang..." Rahel memanggil Echa.


"iya mommy?"


"besok hari pernikahan om Rega dan Tante Sena. apa kau ingin mencari gaun hari ini?"


Echa melirik Arfian, seolah meminta izin. Arfian pun mengangguk setuju lalu segera mengeluarkan kartu miliknya.


"ini pakailah, kau bisa membeli gaun yang bagus. jangan pikirkan soal harga." Ujarnya, karena biasanya Echa akan selalu menolak jika harga baju yang akan dia beli melebihi uang jajannya sebulan.


Alasannya karena tak mau boros, dia ingin belajar menabung seperti apa yang di ajarkan Rahel padanya.


"Daddy serius?" Tanyanya berbinar. Langsung mengambil kartu berwarna biru itu cepat.


"iya. kau bisa belanja sendiri atau ajak mommy saja. biar Daddy yang menjaga Arga." Arfian menggendong Arga.

__ADS_1


"kita belanja bersama saja mas." Pinta Rahel. "sekalian cari makan siang."


"baiklah, kalau begitu kau ganti baju Arga. mommy dan daddy akan bersiap." Arfian menyerahkan Arga kembali pada Echa.


Echa langsung mengganti baju adiknya. Lalu ia pun bergegas mengambil jaketnya, tak perlu berdandan memakai make up atau hiasan lainnya. Ia tak menyukai itu semua.


Rega dan Sena memutuskan untuk menikah setelah berpacaran begitu lama. Rega memang sengaja melakukannya, karena ia ingin menamatkan pendidikannya terlebih dahulu.


Setelah wisuda, Rega langsung melamar Sena. Tak lama kemudian mereka pun memutuskan untuk menikah. Rada tentu saja tak pernah keberatan dengan keputusan Rega, ia mendukungnya.


Di mana yang saat ini, Rena putrinya akan kembali ke Indonesia atas permintaan Rega. bagaimana pun juga ia adalah kakaknya. Rega ingin Rena hadir menyaksikan semuanya.


Rada sempat menolak tapi Rahel dan Arfian meyakinkan dirinya bahwa Rena memang harus hadir. Lagipula hubungan mereka sudah lebih baik.


Arfian juga memutuskan untuk memberitahukan pada Echa jika Rena dan Ben adalah orangtua kandungnya.


Mereka tak ingin hubungan anak dan orangtua terus terpisahkan. Echa berhak tahu apa yang terjadi dan siapa dia sesungguhnya.


...*******************...


Saat Rena mengatakan akan kembali ke Indonesia untuk menghadiri acara pernikahan adiknya, Haeun langsung meminta tolong padanya untuk membawa Leon bersama mereka.


Putra sambungnya itu terlihat tak bahagia jika terus tinggal di sini. Kris terlalu keras mendidiknya sampai Leon tak memiliki waktu untuk bermain.


Padahal di usianya saat ini, Leon seharusnya menikmati masa-masa remajanya bukan belajar bisnis dan membaca buku seharian.


"Haeun, di mana Leon?" Wanita itu menggigit bibirnya, takut jika Kris akan marah jika tahu kalau Leon sudah tak ada lagi di sini.


"aku..tidak tahu..." Jawabnya.


Kris hanya mengerutkan keningnya lalu kembali masuk kedalam ruang kerjanya. Ia sama sekali tak curiga ataupun mencoba untuk mencarinya.


Leon duduk di kursi belakang dengan tampang datarnya. Rena dan Ben telah membawanya kembali ketanah kelahirannya, tapi dirinya sama sekali tak menunjukkan rasa bahagia sama sekali.

__ADS_1


Rena melirik Leon lalu tersenyum.


"Leon, kau tak senang?" Tanyanya.


Ben yang sedang menyetir pun ikut meliriknya. Awalnya ia tak setuju saat Rena memintanya untuk mengajak Leon, tapi karena ia merasa kasihan maka Ben pun memutuskan untuk mengajaknya.


Leon tak menjawab, hanya menatap keluar dengan pandangan sendu. Hatinya bergemuruh hebat, sudah sangat lama ia tak menginjakan kakinya di tanah air.


Bayangan-bayangan dirinya masa kecil dan Hanum terus berputar di kepalanya. Ia merindukan sosok ibu, Hanum mungkin bukan ibu yang selalu bersikap lembut padanya tapi Leon tahu jika Hanum sangat menyayanginya.


Ben menyentuh tangan Rena lalu menggeleng pelan. Meminta agar Rena tak banyak bicara pada Leon. Ia tahu jika pemuda itu tengah gusar, mungkin membiarkan dia akan lebih baik.


Rena mengerti, tak lagi bertanya atau mengatakan apapun.


"om..turunkan aku di depan." Akhirnya Leon membuka suara.


Ben langsung menghentikan mobilnya.


"Leon, kau tahu kan dimana kita akan bermalam hari ini?" Tanya Rena.


Leon mengangguk lalu segera keluar dari mobil. Ia tak banyak bicara, hanya mengangguk dan kadang menggelengkan kepalanya.


Ben pun segera melajukan mobilnya kembali. Mereka tak perlu khawatir Leon akan tersesat, bagaimana pun juga Leon pernah tinggal di kota ini.


Meskipun lama tinggal di negeri orang, tapi ia masih mengingat dengan jelas jalan-jalan juga tempat-tempat lainnya.


Leon sengaja turun di depan sebuah bangunan tua. Dulu, bangunan itu sangat indah. Di kelilingi banyak bunga juga pohon-pohon yang begitu tinggi.


Tapi hari ini, Leon menyaksikan sendiri. Bangunan yang dulu sering ia kunjungi bersama Hanum kini nampak tak terurus.


Beberapa pohon tumbang juga bunga-bunga yang tak ada lagi karena mengering.


"bunda..." Gumamnya pelan.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2