Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 29


__ADS_3

Arfian sangat senang saat mendengar kabar jika Echa telah sadar dari komanya. Dengan segera dia menuju rumah sakit. Harapannya terkabul. Arfian tak lagi merasakan takut kehilangan.


Airmatanya tak bisa di bendung kala melihat gadis kecil itu. Ia duduk ketakutan di kelilingi perawat dan dokter yang tengah memeriksanya.


Arfian merasa ada yang aneh, matanya memicing melihat bagaimana tiga perawat itu memegang tangan dan kaki Echa. Lalu melirik Rada yang tengah terisak.


"mamah.." Panggilannya membuat Rada langsung menoleh dan menghambur kedalam pelukan Arfian.


"Echa tak ingat apapun.." Isaknya.


Bagai tersambar petir, Arfian terkejut bukan main. Ia melepaskan pelukannya. Berjalan menuju ranjang pesakitan Echa.


"dokter..." Ujarnya.


Dokter muda itu tersenyum lalu mempersilahkan Arfian untuk semakin mendekat. Salah satu perawat pun mundur perlahan agar Arfian bisa berdiri tepat di dekat Echa.


Gadis kecil itu perlahan mendongak, matanya yang berkaca-kaca dan hidung merahnya membuat Arfian sangat iba.


Tangan Arfian terulur hendak menyentuhnya, tapi reaksi yang diberikan Echa membuat Arfian mengeryit. Gadis ini memandangi wajahnya dengan tatapan ketakutan seolah ia orang asing yang baru di lihatnya.


"maaf pak, bisa ikut saya." Dokter itu meminta Arfian untuk mengikutinya.


Arfian menggigit bibirnya, hal yang paling menakutkan justru kini ia rasakan. Pikiran negatif berputar di kepalanya.


Dokter pria yang terlihat sangat muda itu memperlihatkan hasil ronsen. Dia menarik nafas dalam sebelum menjelaskan apa yang terjadi pada pasiennya itu.


"putri bapak mengalami amnesia disosiatif. Dia melupakan semuanya, bahkan jika terlalu parah ia pun bisa melupakan nama nya sendiri. Karena trauma pada kepalanya akibat pukulan yang cukup keras. Tapi, setelah saya periksa..." Dokter itu menatap wajah Arfian serius. "ia masih mengingat siapa dirinya. hanya saja dia lupa siapa orangtuanya. Hanya ingat satu kata yang sering dia ucapkan, yaitu Daddy."


Dunia rasanya menimpa seluruh tubuhnya. Arfian lemas mendengar penjelasan sang dokter. Bagaimana anak sekecil Echa harus mengalami hal seperti ini.


Kenapa tuhan begitu tak adil pikirnya. Kenapa harus Echa, putrinya.


"yang sabar pak Arfian. Anda harus menerimanya dengan lapang."


"iya dokter." Jawabnya begitu pelan.


"usahakan untuk tidak membuatnya berpikir terlalu keras karena bisa mempengaruhi syaraf-syaraf otaknya."


Setelahnya, Arfian kembali keruangan Echa. Gadis itu sudah kembali tertidur. Rada tengah mengelus rambutnya dengan berurai airmata.


"mamah.." Arfian menyentuh pundak Rada. "apa Echa mengatakan sesuatu?"


Rada menggelengkan kepalanya. Menghapus airmatanya.

__ADS_1


"dia hanya terus menggumamkan kata Daddy sedari tadi. Bahkan Echa tak ingat siapa mamah." Tangis Rada kembali pecah saat ingat betapa Echa ketakutan padanya.


Arfian memeluk Rada. Ia pun sama sedihnya. Perlahan Arfian menjelaskan semuanya pada Rada.


"apa yang harus aku lakukan? Echa melupakanku mah."


Arfian melepaskan pelukannya. Seketika itu juga tubuhnya merosot kelantai, wajahnya di tangkup dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis, pertahanannya selama ini hancur begitu saja mengetahui kenyataan yang begitu pahit tentang putrinya.


Rada pun hanya bisa mengelus kepala Arfian dengan tangis yang sama-sama keras. Kedua orang dewasa itu terlihat sangat rapuh.


...****************...


Rena mencengkram lengan Hanum dengan kuat. Ia tak terima dengan hadirnya kembali wanita berparas cantik ini, apalagi dengan status yang begitu membuatnya marah. Ia tak suka jika Hanum yang akan menggantikan posisinya disisi Arfian.


"lepaskan. kau sungguh menjijikan." Cibir Hanum. Mengelap lengannya dengan tisu seolah Rena adalah sampah yang kotor.


"kenapa kau kembali? sudah aku katakan bukan, jauhi Arfian."


"hahaha..kau sebegitu menginginkan Arfian dulu, memfitnahku yang waktu itu berstatus kekasihnya. Dengan polosnya kau pura-pura mendekati Arfian karena Ben mencampakkan mu. Ahh...dan sekarang kau selingkuh dengan Ben di belakang Arfian.. mu..na..Fik.." Hanum menatap wajah Rena dengan pandangan meremehkan.


"dan..tuhan memang adil. Mempertemukan kami kembali. Membuat kami kembali bersatu." Lanjut Hanum membuat Rena semakin murka.


"kau..aahh..." Rena menjerit keras saat tangan yang ia angkat untuk menampar Hanum di tepis begitu kuat.


"jangan coba-coba melakukan nya." Ancam Hanum. "aku tak mau berurusan dengan manusia rendah seperti dirimu."


"kurang aj*r..." Desis Hanum.


Ia lekas berdiri hendak membalas Rena. Namun baru juga akan melakukannya seseorang dengan cepat menahan pergerakan tangannya. Hanum melotot tajam kearah si pelaku.


"apa yang kau lakukan?"


"jangan sakiti kekasihku." Rupanya itu Ben.


Ia sengaja keluar untuk mencari Rena karena khawatir wanita itu tak akan kembali lagi. Sudah hampir jam 10 tapi tak ada tanda-tanda Rena akan pulang, jadi ia segera keluar untuk mencarinya.


Rena berjalan kearah Ben.


"Ben, lepaskan." Rena menarik tangan Ben yang mencengkram lengan Hanum.


Hanum meringis, pergelangan tangannya memerah karena cengkraman Ben yang tak main-main.


"kita pulang." Ben menarik Rena, tak memperdulikan Hanum sama sekali.

__ADS_1


Mereka berdua masuk kedalam mobil. Ben harus cepat mengendari mobilnya agar cepat sampai kerumah. Ia harus mendapatkan penjelasan dari Rena. Kenapa dia terlibat pertengkaran dengan seseorang di tengah jalan pada malam hari seperti ini.


Ben memang tak pernah mengenal Hanum sebelumnya. Meskipun sebenarnya Hanum dan Rena adalah saudara sepupu. Itu dikarenakan Hanum yang hanya terlahir dari seorang wanita yang tak di restui oleh keluarga Rena atau orangtua dari Rada.


Lebih tepatnya, Hanum merupakan putri dari kakak lelaki Rada yaitu paman Rena.


Entah bagaimana nanti jika Rada bertemu dengannya. Apa akan sama seperti Rena, membencinya.


...*******************...


"siapa?" Sena menatap wajah Rega yang terlihat tegang setelah mendapat telpon dari seseorang.


Rega tak langsung menjawab, ia memasukkan ponselnya kedalam saku lalu melihat Sena dengan pandangan sendu. Jelas sekali kalau ia tengah merasakan sesuatu.


"Rega... ada apa? siapa yang menghubungimu?" Sena menjadi cemas karenanya.


"mamah.." Lirihnya.


"mamah? A..apa katanya.. kenapa kau terlihat seperti ini? apa bibi..."


"Echa sudah siuman."


Mata Sena melebar. Ia senang mendengarnya tapi kenapa Rega malah terlihat sedih mendapatkan kabar bahagia itu.


"lalu apa yang membuat sedih. seharusnya kau bahagia. syukurlah..aku senang sekali mendengarnya. cepat kita kerumah sakit."


Sungguh rasanya Sena tak bisa membendung rasa bahagianya. Ia tak sabar ingin segera bertemu gadis kecil itu. Buru-buru beranjak dari duduknya.


"tunggu..." Rega menahan Sena untuk pergi. Tangannya di pegang erat.


Kening Sena mengerut bingung melihat Rega yang malah meneteskan airmatanya. Seorang pria seperti Rega menangis. Sena kembali duduk, menatap Rega dengan penuh pertanyaan.


Tangannya terulur menghapus airmata yang menetes membasahi pipinya.


"kenapa menangis?" Tanyanya bingung.


"Echa...." Rega menangis karena tak bisa membayangkan bagaimana dirinya bisa kuat nanti ketika bertemu gadis itu, sementara dirinya sudah tak ada di ingatannya lagi.


"ada apa dengan Echa? ia baik-baik saja kan, kau bilang Echa sudah siuman."


Rega menggelengkan kepalanya. Menghela nafas panjang.


"ia amnesia."

__ADS_1


Sena sungguh terkejut. Pernyataan Rega membuatnya tak bisa mengatakan apapun. Seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa itu mengalami hal sekeras itu. Tak bisa di bayangkan bagaimana shocknya Sena.


...*******************...


__ADS_2