
Semua terasa mimpi bagi Rahel juga Hanum. Semua berbanding terbalik dengan dulu. Hanum yang dulu selalu di pilih Arfian dalam setiap hal kini malah tersisih begitu saja. Justru Rahel, yang sedari dulu selalu di minta untuk tidak mendekatinya sekarang dipilih Arfian sebagai pendamping hidupnya.
Mungkin dulu Arfian hanya mengandalkan pikiran dan sifat egoisnya, bukan perasaan seperti sekarang. Kini usianya sudah sangat matang, tahu mana yang benar-benar harus dia pertahankan dan mana yang sebaiknya dia tinggalkan.
Rahel melihat wajah serius Arfian yang mengatakan dengan jelas bahwa dia memilihnya. Ada rasa bahagia yang tak dapat ia ungkapkan. Sungguh, cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan kini sudah tersambut.
"kau mengatakan itu hanya mencoba untuk membohongi ku kan?" Hanum masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Arfian menggenggam tangan Rahel, ia mengangkat tangannya kedepan Hanum. Menunjukkan jika semua yang dia katakan adalah kenyataan yang harus di terima oleh wanita itu.
"Rahel adalah wanita yang kucari selama ini. dia baik, juga menyayangi putriku tanpa syarat apapun." Jelas Arfian.
Rahel melihat Echa di sampingnya, gadis itu langsung memeluk pinggangnya.
"iya, kak Rahel baik." Timpalnya setuju dengan perkataan Arfian.
Hanum menggeleng cepat, masih tak ingin percaya dengan apa yang telah di lihat dan didengarnya.
"Arfian, tidak boleh seperti ini. kau tahu, aku sudah tak bekerja lagi.." Hanum berlutut di hadapan Arfian. Harga dirinya telah hilang saat ini.
Memilih memohon pada pria itu tanpa rasa malu sedikit pun. Leon yang sedang di kamarnya tak mendengar apapun, masih duduk dengan manis di atas kasur sambil bermain robot kesukaannya.
"bagaimana dengan masa depan Leon? dia harus sekolah, tak boleh menderita karena tak memiliki ayah." Lanjutnya.
Rahel melepaskan tangan Arfian yang masih menggenggam tangannya. Dia berjalan mendekati Hanum, menyentuh pundaknya lalu berucap dengan sangat pelan.
"Hanum, kau tak boleh seperti ini. kau itu seorang wanita tak baik..."
"jangan pura-pura peduli jika pada kenyataannya kau menikam ku dari belakang." Sela Hanum cepat. Menepis tangan Rahel kuat.
Arfian langsung menahan tubuh Rahel. Menatap Hanum dengan marah. Tak sepantasnya dia melakukan semua itu pada Rahel, sementara dulu hingga sekarang Rahel lah yang selalu ada di sampingnya.
Lagi pula ini keputusan Arfian, hidupnya hanya dirinya sendiri yang menentukan bukan oranglain.
"sebaiknya kita pulang saja." Ajak Arfian pada Rahel.
"tunggu...." Hanum menahan Arfian. "jangan seperti ini, kau mencintaiku. hanya aku."
"sudah Hanum, jangan mempermalukan dirimu lagi." Tutur Arfian. "kau bukan mencintaiku, kau hanya membutuhkan seseorang untuk menopang hidupmu dan Leon. sebaiknya kau cari pria lain."
Hanum merasa tertohok. Dia terdiam mendengar perkataan Arfian. Memang benar adanya, ia hanya ingin seseorang yang bisa menjamin segalanya.
__ADS_1
Arfian dan Rahel pun pergi. Meskipun Echa tetap ingin bertemu Leon tapi Arfian sama sekali tak menggubrisnya. Menggendong Echa lalu memaksa gadis itu masuk kedalam mobil.
Leon merasa haus, bocah itu turun dari kasurnya. Mencoba mencari keberadaan Hanum. Berlari dengan cepat begitu melihat Hanum terduduk di lantai luar sambil menangis.
"bunda.." Panggilnya dengan suara khas anak-anak.
Hanum langsung menghapus kasar airmatanya, menoleh kearah Leon. Tersenyum tipis saat melihat putranya.
"bunda, nangis?" Tanyanya.
Hanum menggelengkan kepalanya. Tak boleh terlihat lemah dihadapan Leon. Hanum segera berdiri, berjalan menuju Leon dengan cepat.
"mata bunda hanya kemasukan debu. Rasanya perih sekali." Katanya dengan pura-pura mengucek matanya.
Leon menarik lengan Hanum, meminta agar ibunya sedikit berjongkok. Anak lelaki itu berjinjit supaya bisa mencium mata Hanum.
"debu nakal." Ucapnya lalu mengecup mata kiri Hanum. "Leon cium bial sembuh." Katanya lagi seraya mencium mata kanannya.
Hanum menggigit bibirnya, rasanya ingin menangis dengan keras mendapatkan perhatian seperti ini. Seandainya Leon sudah dewasa dan mengerti semuanya apa dia akan masih bersikap seperti ini terhadap dirinya.
Ibu yang selalu bersikap egois tanpa memikirkan perasaan putranya. Dadanya sangat sesak, mengingat kejadian tadi. Arfian dengan begitu tegas menyatakan bahwa dirinya lebih memilih Rahel.
Sakit hatinya tak bisa ia lupakan begitu saja. Rahel yang selalu ada di bawahnya kini telah menjadi penghalang baginya.
"uummm...kak Ar." Rahel merasa jika dirinya harus bertanya kepada Arfian tentang kejadian di rumah Hanum tadi.
Harus mendapatkan kepastian yang jelas tentang hubungannya saat ini. Jika Arfian mengatakan semuanya hanya demi membuat Hanum menjauh maka Rahel pastikan dirinya pun akan memilih untuk pergi.
Tak ingin perasaannya kembali tersakiti. Wanita itu menghela nafas panjang.
"apa kak Ar benar-benar memilih ku?" Tanyanya sambil menatap Arfian.
"uhuk..." Arfian tersedak minumannya. Ia mengerjap beberapa kali.
Melihat wajah serius Rahel membuat Arfian merasa bahwa dia harus memperjelas status mereka sekarang.
Keadaan rumah yang sepi karena hanya tinggal mereka berdua di ruang keluarga. Echa sudah tertidur sepulangnya dari rumah Hanum. Gadis itu marah karena tak di izinkan bertemu dengan Leon.
"aku tahu ini terdengar aneh. tapi, Rahel..." Arfian meletakkan gelas keatas meja. "aku serius dengan apa yang ku katakan tadi."
Rahel diam, menatap mata Arfian yang sama sekali tak terlihat berbohong. Pria itu begitu serius sekarang.
__ADS_1
"apa kak Ar menyukai ku?" Tanya Rahel.
Arfian menelan ludahnya. Merasa gugup seketika, ia berulang kali menggosok telapak tangannya keatas paha. Bingung harus melakukan apa dan memulai semuanya dari mana.
Tring...
Sebuah pesan masuk di ponsel Rahel membuyar keduanya. Rahel langsung mengambil ponselnya.
"raja..." Gumamnya senang.
Rahel tersenyum lebar. Buru-buru membalas pesannya. Terlihat jelas wajahnya begitu bahagia mendapatkan pesan dari pria itu.
Tanpa ia tahu, bahwa wajah Arfian kini sudah berubah masam. Pria itu tak suka saat mendengar nama Raja di sebut.
"apa dia mengirimkan sesuatu yang membuat mu bahagia?" Ujarnya dengan ketus.
Rahel mengangguk, lalu memberitahu Arfian apa pesan yang dikirim Raja padanya.
"humm..dia mengajakku jalan-jalan besok."
Arfian langsung mendengus. Berdiri dengan cepat. Kesal karena momen romantis yang akan tercipta malah terganggu seperti ini.
"besok kau harus mengantar Echa kesekolah." Terdengar jelas nada cemburu dari ucapannya.
Rahel tersenyum tipis, tahu dengan jelas kalau Arfian tengah kesal sekarang. Tapi, menggodanya seperti ini sungguh menyenangkan baginya.
Mulai yakin jika Arfian sudah menyukainya. Karena yang dia tahu, seseorang cemburu karena cintanya. Rahel sangat senang mengetahui kenyataan ini.
"aku tidak akan pergi kok."
Arfian langsung menghentikan langkahnya. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan di katakan Rahel.
"jika kak Ar tak mengizinkan."
Tersenyum lebar mendengarnya. Dengan cepat pria itu berbalik, tersenyum hangat kearah Rahel.
"tidurlah ini sudah larut." Ujarnya. "mimpi indah."
"uumm..mimpi indah juga." Balas Rahel seraya beranjak, bergegas masuk kedalam kamarnya.
Arfian lagi-lagi tersenyum. Hatinya merasa hangat, Rahel sudah membuat rasa sakit yang di alaminya perlahan memudar sedikit demi sedikit.
__ADS_1
...*********************...