
Arfian terlihat sekali sangat kelelahan karena kurang tidur. Dia bekerja juga menunggu Echa di rumah sakit. Meskipun nyonya Rada sudah memintanya untuk pulang dan tidur sebentar di rumah, pria dewasa itu mengabaikannya. Dia tak bisa tenang dan terus khawatir tentang Echa yang masih belum juga sadar dari komanya.
Sudah hampir dua minggu gadis kecil itu terbaring lemah dengan berbagai alat bantu menopang kehidupan nya.
Rena bahkan selama ini pun tak pernah datang untuk menjenguk atau sekedar menanyakan kabarnya. Wanita ini terlalu sibuk mengurus hidupnya sendiri. Dia mengejar Ben setiap waktu, tak ingin pria itu meninggalkannya karena dia tahu Arfian tak menginginkannya lagi. Maka jalan satu-satunya adalah tetap berada di samping Ben, meskipun selalu di perlakukan tidak baik.
Setelah waktu itu, Rega dan Sena mengeluarkannya dari sekapan Ben dan bicara empat mata dengan nyonya Rada, sama sekali tak mengetuk pintu hati nya. Rena tetap pada pendiriannya, memilih Ben dan meninggalkan semuanya.
"Arfian, kenapa kau begitu keras kepala. tubuh mu bisa kelelahan dan kau akan jatuh sakit jika seperti ini terus." Nyonya Rada tak bisa melihat menantunya itu terus mengabaikan kesehatannya hanya karena Echa.
Arfian menggeleng cepat.
"mamah, Echa saja tak makan dan tak minum. mana bisa aku makan selagi putriku tertidur." Ujarnya dengan sendu.
Jemari panjangnya membelai pipi Echa yang semakin hari tambah kurus saja. Rada menghela nafas panjang. Ingin sekali mengatakan jika Echa bukanlah anak kandungnya, kenapa Arfian harus peduli sampai sejauh ini. Tapi ia tidak tega melakukannya karena tahu Arfian pasti akan terluka.
Maka dari itu Rada memilih untuk keluar dari ruangan, menemui Rega dan Sena yang duduk di ruang tunggu.
"wajah kakak waktu itu sangat kacau. Sepertinya Ben sering melukainya." Ujar Rega begitu nyonya Rada duduk di depannya.
"jangan pedulikan dia. mamah sudah tak ingin mendengar nama ataupun melihat wajahnya."
Sebenarnya hatinya menjerit keras saat teringat kembali pertemuannya dengan Rena minggu lalu. Wajah putri kesayangannya penuh lebam dan sorot matanya menyiratkan kesedihan. Tapi, dengan sekuat tenaga mengubur rasa kasihan itu ketika ingat betapa kejamnya wanita terhadap Echa dan Arfian.
"mah, sebaiknya mamah bujuk kak Rena. mungkin saja Echa akan bangun jika..."
"tidak Rega." Bentak Rada. "jangan menyebut namanya kata mamah. apa kau tuli?"
Rega mengatupkan bibirnya. Baru kali ini dia mendengar nada yang begitu tinggi keluar dari bibir Rada. Selama ini dia tak pernah dibentak ataupun di pukul oleh wanita paruh baya itu. Sadar akan apa yang baru terjadi, Rada langsung menyentuh tangan Rega.
"dengarkan mamah, kakakmu sama sekali tak peduli dengan Echa. jangan pedulikan dia lagi. mamah mohon Rega." Suara dan pandangannya melembut.
Perlahan Rega mendekat, memeluk Rada. Dia menyesal karena telah mengungkit wanita itu hingga membuat nyonya Rada kembali bersedih.
Sena yang sedari tadi hanya diam memperhatikan keduanya pun angkat bicara. Dia tak tega harus melihat Rada seperti itu.
"bibi, tenang saja. aku yakin Echa akan segera bangun."
Rada melihat wajah Sena, dia melepaskan pelukan Rega lalu mendekati Sena. Memegang kedua tangannya, dengan penuh harap dia memohon.
"Sena, bibi mohon padamu. jadilah pengganti Rena."
__ADS_1
Sena langsung menarik tangannya.
"apa yang bibi katakan?"
"mamah, kak Arfian tak akan menyetujui itu. kenapa mamah ingin Sena dan kak Arfian bersatu?" Protes Rega. Sena mengangguk.
Rada berlutut di hadapan Sena. Dia hanya ingin melihat Arfian bahagia, yakin jika Sena yang mampu membuat pria itu melupakan Rena dan menyembuhkan lukanya.
"bibi, jangan seperti ini." Sena merasa tak enak. Dia berusaha membuat Rada untuk bangun.
"ku mohon Sena."
Sena menggigit bibirnya, melirik Rega yang melihat ke arah lain. Pria itu terlihat jelas tak menyetujui permintaan Rada tapi tak bisa mengatakannya secara langsung. Sena menghela nafas, dengan berat hati dia menyetujui permintaan Rada karena tak mau membuat wanita itu kecewa.
"ummm... baiklah."
Mendengar jawaban Sena, Rega langsung memandang wanita itu tak setuju. Bagaimana pun hatinya terluka jika Sena benar-benar bersama dengan Arfian. Meskipun menginginkan hal terbaik bagi Arfian tapi jika wanita itu adalah Sena, ia merasa sangat keberatan.
Sena menghela nafas, meyakinkan dirinya sendiri. Merasa jika Rega tak menyukainya maka lebih baik dia mencoba membuka hati untuk Arfian.
...************************...
Setetes air mata menuruni pipinya, saat terlintas wajah Arfian. Mendadak merindukan pria yang selalu memanjakannya itu sebelum hal ini terjadi. Lalu wajah Ben terlintas begitu saja saat Rena mengingat kejadian tadi malam.
Pria itu dengan kasar dan tak berperasaan memukul juga memarahinya habis-habisan hanya karena dia meminta Liliana untuk menjauhi Ben. Rena terus bertahan meski tahu jika Ben lebih peduli terhadap Liliana.
"Arfian...hiks...maafkan aku." Rena menangis merasa bersalah terhadap Arfian.
Setiap Ben memperlakukannya dengan buruk, ia selalu teringat akan kesalahannya kepada Arfian.
Dia menangis semakin keras saat wajah putrinya terlintas di pikirannya. Ingin kembali memutar waktu tapi tak mungkin terjadi, semua penyesalan dia rasakan karena keegoisannya.
"Echa.. maafkan mommy. kau pasti benci mommy kan?" Lirihnya.
Bel pintu berbunyi, Rena buru-buru menghapus airmatanya. Keluar dari kamar dengan tergesa, takut jika itu Ben. Pria itu tak suka menunggu. Sikap Ben sekarang sangat gampang marah juga tak sabaran, sungguh tak ada lagi Ben yang lembut dan perhatian.
"tunggu sebentar..." Rena berlari menuju pintu dan membukanya.
Senyumnya pudar saat tak hanya Ben yang ada di sana. Liliana pun berdiri dengan manja sembil bergelayut di lengan Ben. Wanita seolah menunjukkan pada Rena jika posisinya lebih penting daripada dirinya.
"apa ini? kenapa kau membawa wanita murahan ini kemari?" Rena mendorong tubuh Liliana dengan kasar.
__ADS_1
Ben yang tak terima itu langsung melindungi Liliana dengan tubuhnya. Dia menatap tajam Rena, seolah mata itu akan menelan Rena hidup-hidup.
"mulai hari ini liliana akan tinggal disini. kami akan menikah besok."
"apa?" Rena seketika terkejut dan membulatkan matanya.
Liliana yang melihat ekspresi Rena pun tersenyum mengejek. Dia berkata dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi.
"aku akan menjadi istri pertama dan kau hanya akan jadi simpanan Ben sampai kapanpun."
Rena mengepalkan tangannya. Dengan cepat menarik tangan Ben.
"kau serius? Ben, kau tak bisa melakukan ini padaku. kita sudah menyebarkan undangan pernikahan."
Ben terkekeh. "hanya menyebarnya sajakan. lalu apa masalahnya, kau hanya perlu bilang pada mereka jika pernikahan kita batal. bukan kah itu mudah?"
"Ben, kau tak bisa memperlakukan ku seperti ini. kau keterlaluan." Rena memukul tubuh Ben sambil menangis.
Liliana tersenyum senang melihat Rena. Dia dan Rena sungguh buta, memperebutkan seorang pria macam Ben. Mereka berdua mencintai pria yang salah.
...*********************...
"ya, aku mencintaimu." Rega to the point dan membuat Sena terkejut.
Sena terdiam cukup lama, dia tak mengira jika Rega akan mengatakan kalimat itu dengan begitu mudah. Sengaja menyeretnya sampai ke taman rumah sakit hanya untuk mengatakan itu.
"kau..kau serius?" Sena menengadahkan kepalanya menatap wajah Rega.
Pria itu mengusap wajah nya kasar. Menarik nafas panjang lalu membelakangi Sena.
"aku menyukaimu sejak dulu. saat kau masih bertubuh gendut. Dan rasa suka itu berubah menjadi cinta sekarang." Akunya.
Sena memandang punggung pria tampan itu. Dia tak tahu harus berkata apa. Sudah berjanji pada nyonya Rada untuk menjadi pendamping Arfian.
"maafkan aku." Ujar Sena lalu berlari meninggalkan Rega begitu saja.
Pria itu tertawa miris. Hatinya terluka tapi merasa sedikit lega telah mengakui perasaannya secara langsung. Dia berharap Sena akan bahagia dengan pilihannya.
"kak Arfian akan menyayangi dan mencintai mu dengan tulus." Gumam Rega.
...*********************...
__ADS_1