Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 37


__ADS_3

Rada menyambut kedatangan Arfian dan Echa dengan sangat senang. Mencium Echa lalu menggendongnya kedalam. Ia merasa tak suka dengan Hanum yang beberapa menit lalu di kenalkan Arfian padanya.


Firasat sebagai seorang nenek, mengatakan jika Echa tak akan bahagia dengan calon ibu barunya itu. Wajahnya yang ketus juga penampilannya yang modis, persis ibu tiri yang ada di dalam sinetron.


"sepertinya ibu mertua mu tak menyukai ku?" Bisik Hanum, menyerahkan Leon kepada Arfian karena merasa pegal sedari tadi terus menggendong nya.


Arfian hanya tersenyum menanggapi, membawa Leon masuk mengikuti Rada.


"ambilkan kue nya di dalam mobil." Ujar Arfian pada Hanum.


Wanita itu dengan malas memutar langkahnya kembali, mengambil kue yang masih berasa di dalam mobil. Lalu segera menyusul Arfian dan Leon.


"Echa, apa wanita itu baik padamu?" Tanya Rada, mendudukkan Echa di sofa.


Gadis kecil yang masih sangat polos itu menggelengkan kepalanya, ia menjawab dengan jujur seperti apa Hanum.


"ibu Leon selalu melotot padaku."


Rada tak suka mendengarnya, ia tentu saja marah pada wanita itu. Berani sekali memelototi cucu kesayangannya. Kemarahannya semakin bertambah kala melihat Arfian yang masuk dengan Leon di gendongan nya. Ia mendengus keras.


"ck...ck... kau ini, putrimu saja tak di akui tapi kau malah dengan senang menyambut oranglain." Sindir Rada, matanya melirik Hanum yang berdiri di belakang Arfian.


Hanum tahu kata-kata itu untuknya, dengan cepat meletakkan kue itu keatas meja. Mengambil Leon dari gendongan Arfian dengan paksa lalu pergi dari sana.


Ia merasa tak senang di perlakukan seperti itu.


"mamah, Arfian kemari ingin merayakan ulang tahun mamah. bukan malah seperti ini." Seru Arfian.


"salahmu sendiri membawa wanita itu kemari. Echa bilang dia itu jahat. anak kecil tak mungkin bohong."


Arfian diam, melihat Echa yang memandangnya dengan tatapan polos. Menghela nafas panjang, dia tak bisa menyalahkan siapapun. Hanum memang selalu ketus dan bersikap kasar pada Echa, jadi wajar saja putri nya itu mengatakan semuanya pada Rada saat mendapat pertanyaan dari neneknya itu.


"aku akan menyusulnya. mamah jaga echa." Memilih segera menyusul Hanum yang sudah keluar kembali.


Hanum hendak masuk kedalam mobil, tangannya di cekal Arfian dengan cepat.


"tunggu Hanum."


Hanum menepis tangan Arfian. Dia marah karena Rada telah menyinggungnya. Ia tahu jika Rada adalah bibi nya, tapi wanita itu sepertinya tak mengingat siapa dia. Hal yang membuat Hanum semakin marah besar, mengingat dulu keluarganya di usir dari kediamannya hanya karena ibunya yang tak pernah di terima oleh keluarga Rada.


"aku mau pulang saja. lagipula Leon sepertinya tak nyaman berada di sini."


"Hanum, maafkan mamah. beliau hanya..."


"dia ibu Rena. sikapnya bahkan tak jauh berbeda dengan putrinya. cih..." Decih Hanum lalu masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"antar kami pulang." Ujarnya kemudian.


Arfian menghela nafas panjang. Ia melihat kebelakang di mana Rada dan Echa berdiri, keduanya memperhatikan Arfian dan Hanum tepat didepan pintu.


"hum...tante itu apa selalu seperti itu?" Tanya Rada pada Echa.


Echa mengangguk. Seingatnya Hanum tak pernah bersikap baik padanya ataupun pada Arfian.


"tapi nenek, teman Tante itu baik."


"teman Tante itu?"


"uumm...iya. siapa ya...." Echa mencoba mengingat namanya. "aah..kakak Rahel."


"apa dia baik? padamu dan Daddy?"


Echa menggelengkan kepalanya.


"Echa tak tahu apa kak Rahel baik pada Daddy. tapi kak Rahel baik pada Echa."


Rada menghembuskan nafasnya. Matanya menyipit kala Hanum menatap ke arahnya. Wajah Hanum seolah mengingatkannya pada seseorang yang entah siapa.


"Hanum Salsabiela..." Gumam Rada terkejut begitu ingat. Ia tak mengenal Hanum yang sekarang karena telah banyak berubah.


Rada menggigit bibirnya, ia ingat sekarang jika Hanum adalah putri yang dulu di usir dari rumah. Hatinya menjadi gelisah mengingat kejadian bertahun-tahun lamanya itu. Tak menyangka jika sekarang ia bisa melihatnya kembali dalam keadaan seperti ini.


"Daddy kenapa pergi?" Echa merenggut melihat mobil Arfian yang melaju meninggalkan rumah Rada.


"humm...Tak apa, kan ada nenek. ayo kita ke toko kelontong, ada kak Sena di sana."


Echa pun kembali tersenyum mendengar nama Sena. Rada berharap Arfian dan Hanum tak jadi menikah, ia sungguh tak menginginkan itu terjadi.


...*********************...


Ben sudah kembali dari rumah sakit. Ia masih belum sehat sepenuhnya tapi memaksa untuk pulang karena tak melihat Rena. Liliana belum mengatakan soal kepergian Rena, ia ingin tahu dulu seperti apa reaksi Ben.


"dokter bilang kau harus banyak istirahat." Liliana meletakkan teh hangat di meja.


Ben hanya meliriknya sekilas lalu menatap Liliana.


"sebenarnya dimana wanita itu? jangan katakan kau melindunginya dari ku. aku tahu orang yang memberikanku obat tidur itu adalah dia kan?"


Liliana menelan ludahnya. Benar apa kata Rena, Ben tak akan menyalakahkan dirinya. Bagi Ben ia lebih berharga daripada Rena. Meskipun rasa cintanya lebih besar terhadap wanita itu tapi terkalahkan hanya karena materi yang di miliki oleh Liliana.


"aku tidak tahu Ben. dia hanya mengatakan akan pergi." Jawab Liliana. Sebenarnya ia tahu dimana Rena sekarang karena dirinya pula yang memberikan tempat tinggal baru baginya.

__ADS_1


Ben menarik lengan Liliana supaya duduk di sampingnya.


"katakan saja ana. aku tak akan memarahimu."


Liliana mengelus pipi Ben lembut.


"Ben, aku benar-benar tak tahu." Ujarnya meyakinkan.


Ben menghela nafasnya, dimatanya Liliana adalah wanita yang baik juga jujur. Dalam hatinya ada kemarahan terhadap Rena. Sangat yakin jika Rena lah pelakunya, karena dia memiliki alasan yang kuat untuk mencelakakan nya.


Kebenciannya terhadap Ben karena tak mengakui Echa dan telah menjadikannya yang kedua. Ben yakin itu, Rena melakukannya karena itu semua.


Tak ada yang tahu jika sebenarnya Rena adalah wanita yang tulus mencintainya di bandingkan Liliana. Rena reka kehilangan segalanya demi dirinya, pengorbanannya sama sekali tak pernah di lihat oleh Ben.


Sampai saat ini saja Rena masih memikirkan pria itu. Berharap Ben baik-baik saja.


"maafkan aku Ben, aku tak bermaksud melukai mu tapi kau sendiri yang membuatku melakukan semua itu." Gumam Rena.


Saat ini dia tengah berada di sebuah rumah sederhana yang ada di sekitar pantai. Liliana memberikan rumah ini padanya, letaknya sangat jauh dari tempat asal Rena. Butuh waktu 9 jam perjalanan untuk sampai ketempat ini.


Rena menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara pantai yang terasa sangat sejuk. Banyak sekali orang-orang yang bermain di pesisir pantai, menjadi pemandangan indah baginya.


"humm...echa, maafkan mommy sayang." Ia jadi teringat Echa begitu melihat seorang anak kecil seusia Echa berlari di hadapannya.


Tersenyum miris melihat keluarga kecil itu. Mengingat dulu dirinya dan Arfian. Sebelum bertemu kembali dengan Ben, hubungannya dengan Arfian sangat baik. Selalu tertawa dan tak pernah sedikitpun merasakan susah ataupun gelisah dalam hatinya.


Penyesalan memang selalu datang di saat kita telah kehilangan segalanya. Rena menyesal telah mengkhianati Arfian.


...*******************...


Leon menguap panjang di pangkuan Arfian. Sebelum ia kembali kerumah Rada, Hanum memintanya untuk masuk kedalam. Karena Leon terus merengek ingin di temani Arfian. Bocah kecil itu bahkan sudah memanggilnya Daddy.


"dad, matan..." Ujarnya sedikit cadel karena usianya yang baru 2 tahun.


Menyodorkan sepotong cokelat pada Arfian.


"tidak sayang, kau makan saja." Tolak Arfian.


Leon langsung memasukannya kedalam mulut, terkikik geli saat Arfian menggelitik pinggangnya.


Hanum tersenyum bahagia melihat kedekatan putranya dan Arfian. Jika boleh ia ingin hidup bertiga saja setelah menikah nanti. Meskipun pernikahan mereka hanya sebuah perjanjian tapi Hanum berharap banyak.


Seandainya saja Echa tak ada di kehidupan Arfian, ia akan sangat merasa bahagia. Hanya ada dirinya, Leon dan Arfian, di pastikan hidupnya bahagia tanpa harus melihat gadis kecil yang seperti benalu itu.


Hanum selalu melihat bayangan Rena pada Echa, itulah sebabnya ia tak menyukai gadis kecil tak bersalah itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2