Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 91


__ADS_3

Echa menatap foto yang baru saja ia temukan di dalam laci meja belajarnya. Tersenyum tipis kala ingat masa-masa indah itu. Seorang bocah lelaki yang tersenyum dengan lebar terlihat sangat manis di matanya. Merindukannya karena sudah lama tak bertemu.


Ini sudah 2 minggu sejak Leon pergi. Tak ada lagi kabar tentangnya.


"sayang.." Rahel mengecup kening Echa. "kau merindukannya?" Mengambil foto itu lalu menyimpannya kembali.


Echa mengangguk sambil memeluk tubuh Rahel.


"kapan Leon kembali?"


"entahlah. mommy akan tidur. mimpi indah sayang, sudah belajarnya besok lagi saja." Rahel menuntun Echa ketempat tidur, menyelimuti tubuhnya lalu mengecup keningnya.


Gadis kecil itu memejamkan matanya. Berharap bisa bertemu Leon meski hanya dalam mimpi.


Arfian mengelap keringat di dahinya, ini sudah hampir jam 10 tapi Rahel belum juga kembali. Menyesal karena tadi ia tak langsung saja mengunci pintu kamarnya agar Rahel tak keluar untuk melihat Echa.


Ceklek..


Pintu terbuka, Rahel mengeryit melihat suaminya yang hanya mengenakan celana bokser saja.


"kenapa tak memakai baju?"


Arfian tak menjawab, menarik tangan Rahel dengan cepat lalu mengunci pintunya. Nafasnya nampak memburu.


"ada apa?" Rahel semakin kebingungan.


Arfian tak mengatakan apapun, segera menarik Rahel keatas kasur. Tadi ia tak mendapatkan obat dari Rega, yang katanya untuk penghilang rasa pegal. Tapi nyatanya, setelah obat itu di telan dan satu jam kemudian dirinya malah merasa kepanasan. Apalagi saat melihat Rahel, di matanya nampak begitu indah.


Malam pertama mereka banyak tertunda, tapi kali ini ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Hormonnya meningkat dengan sangat cepat, Arfian merasa ada yang tak beres dengan dirinya tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.


Hanya ingin menyentuh dan sentuh. Rahel mengerjapkan matanya linglung saat tangan besar Arfian tiba-tiba merayap masuk kedalam kaosnya.


Jantungnya berdetak kencang, ia tahu bahwa Arfian sedang menginginkan hal itu.


"kak Ar, kau..."


"ayolah..." Arfian sudah tak sabar. Tubuhnya semakin panas.


Rahel menelan ludahnya, mungkin inilah waktunya dia melepaskan segalanya. Perlahan memejamkan matanya kala sentuhan demi sentuhan ia rasakan.


Sensasi yang begitu menggelikan tapi terasa candu bagi keduanya. Arfian mungkin bukan untuk pertama kali melakukannya, tapi rasanya ia tak pernah sepanas ini. Rahel membuatnya gila.


"lakukan dengan lembut.." Lirih Rahel, wajahnya memerah. Menahan malu karena ini pertama kali baginya.


Arfian berusaha untuk mengontrol dirinya agar tak berniat dengan kasar. Efek obat yang dia minum sungguh membuatnya tersiksa.


"kak Ar, sebenarnya apa..."

__ADS_1


"Sepertinya...aah..Rega sengaja memberiku obat kuat." Arfian memejamkan matanya, hanya sentuhan kecil saja membuat darahnya berdesir.


Rahel menyentuh dada Arfian untuk menahan agar pria itu tak terlalu menindih tubuhnya.


Sementara itu tanpa mereka sadari, seseorang tengah tertawa senang karena rencananya berhasil.


"hahahaha.. kak Ar pasti sedang bercocok tanam sekarang." Girang Rega.


Rupanya dugaan Arfian benar. Rega sengaja menipunya dengan mengatakan jika obat yang dia berikan adalah untuk menghilangkan rasa pegal.


Sena mendengus.


"kau ini, jahil sekali." Komentarnya tak suka.


Rega mencolek dagu Sena lalu mengerling nakal kepadanya.


"bagaimana jika...kita..."


Plak..


"aah..." Rega berteriak keras saat punggungnya di pukul dengan sangat kencang.


Rada menatapnya tajam. Menarik Sena cepat lalu kembali memukul Rega.


"jangan macam-macam. kalian belum menikah." Serunya.


Rega hanya meringis mendapatkan tatapan tajam dari kedua wanita di depannya. Ia juga tak serius, hanya bercanda saja. Lagi pula dirinya begitu mencintai Sena, tak ingin merusak gadis yang di cintainya hanya karena nafsu. Ia mengerti dan paham akan batasannya.


...*****************...


Kris terus saja meminta Leon untuk belajar. Ia membayar beberapa guru les privat untuknya. Usianya yang masih kecil sama sekali tak membuat Kris untuk mengurangi segala kegiatannya.


Mulai dari jam 8 pagi, Leon harus sudah siap. Pertama ia harus mengikuti les matematika selama 2 jam. Lalu setelah itu di lanjutkan dengan les bahasa Inggris juga Korea.


Leon tak pernah memiliki waktu untuk bermain-main. Tubuh kecilnya nampak lelah tapi sama sekali tak membuat Kris bersimpati.


"ini hanya permulaan. kau harus bisa menguasai semuanya." Titah Kris.


Haeun memeluk tubuh Leon. Ia sungguh keberatan dengan cara Kris mendidik Leon. Tapi tak bisa berbuat banyak, Kris terlalu keras untuk di luluhkan.


"mamah.." Leon menggelengkan kepalanya saat guru bahasa Inggris nya tiba.


Haeun menghela nafas panjang. Tak banyak yang bisa ia lakukan, pilihan satu-satunya adalah menemani Leon selama les nya berlangsung.


"hello kid.." Guru muda berwajah cantik itu melambaikan tangannya.


Leon hanya tersenyum kecil. Tangannya terus menggenggam jemari Haeun.

__ADS_1


"apa hari ini tak bisa libur saja? Leon..."


"maafkan saya nyonya. tuan Kris bisa menarik semua bayaran saya jika hari ini tak mengajarkan tuan muda Leon."


Haeun menghembuskan nafas kasar.


"baiklah." Dengan terpaksa Haeun mengajak Leon masuk keruangan.


Dua jam lebih mereka akan berada di sana. Leon harus mendapatkan les bahasa Inggris karena ia sama sekali tak bisa berbahasa asing itu. Kris bahkan sengaja mencari seorang guru yang bisa berbahasa Indonesia agar bisa dengan mudah bersosialisasi dengan Leon.


"nyonya sebaiknya istirahat saja. Anda sedang hamil muda, tak baik jika terus duduk seperti itu."


"tidak apa. aku harus tetap menemani Leon." Haeun bersikeras, meski sebenarnya ia merasa tak nyaman karena kakinya terasa kebas dan perutnya sedikit tak nyaman.


Ia bisa menahannya demi Leon.


...********************...


Rahel menguap panjang, tubuhnya terasa sakit semua. Ia bahkan lupa apa yang terjadi tadi malam, kenapa semua bajunya berada di lantai.


Mencoba mengingat kembali. Matanya melebar kala ingat bagaimana dirinya menggila hanya karena sentuhan Arfian.


Semua kejadian tadi malam berputar dengan sangat jelas di kepalanya.


"oh.. memalukan." Lirihnya seraya membungkus tubuhnya dengan selimut.


Rahel tak berani melirik kearah samping dimana Arfian berada. Pria itu dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


"humm...sayang.." Suara serak khas bangun tidur membelai gendang telinga Rahel.


Dengan gerakan perlahan ia menoleh, Arfian tersenyum tipis. Merentangkan tangannya dengan posisi masih tertidur.


"A...apa?" Rahel memalingkan wajahnya.


"hehe..." Arfian terkekeh kecil. "semalaman kau meminta lebih, aku sampai merasa lelah sekali. tapi..."


"yaakkk..kak Ar..." Rahel memekik keras kala Arfian tiba-tiba menarik selimutnya dan menindih tubuh polosnya.


"A..apa yang akan kakak lakukan." Rahel memejamkan matanya. "A..aku harus bangun. ini sudah pagi." Mencoba mencari alasan agar Arfian melepaskan kungkungannya.


Arfian sama sekali tak bergeming dari posisinya. Rasanya ia tak pernah puas, ingin terus seperti ini.


"masih jam 4 dini hari." Arfian tak mau kalah. Mendekatkan wajahnya pada telinga Rahel. "ayo..kita lakukan lagi."


Rahel langsung menegang merasakan sesuatu di bagian pahanya. Arfian benar-benar sudah tak bisa mengontrol lagi rupanya.


...*********************...

__ADS_1


__ADS_2