
Arfian, Rahel dan Raja duduk memperhatikan anak-anak yang sedang bermain dengan Haruka. Ketiga orang dewasa itu merasa tua jika seperti ini. Bahkan Arfian berulang kali menghela nafas panjang. Entah kenapa dia jadi berpikir bahwa Echa besar nanti dan menikah lalu apa dirinya masih akan jadi no 1 di hati gadis kecil itu.
"ada apa kak Ar?" Tanya Rahel merasa aneh karena Arfian terus saja menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya.
"Rahel, seandainya Echa dewasa nanti. apa dia masih tergantung pada ku?"
Rahel tersenyum, memang tak salah seorang ayah berpikir seperti itu. Tapi Arfian terlalu banyak berpikir saat ini. Usia Echa saja bahkan baru mau menginjak 6 tahun, kenapa dia begitu cemas.
"jangan terlalu banyak berpikir. kak Ar ini."
"aku hanya takut saja kehilangan Echa."
Rahel mengerti, mengelus punggung Arfian pelan. Pria ini sangat menyayangi Echa jadi wajar saja dia merasa ketakutan seperti ini.
Sementara itu Raja sedari tadi diam, memperhatikan Haruka yang terlihat bahagia bermain dengan Echa dan Leon. Wanita itu memang sangat polos dan lugu.
"kekasih mu seperti anak kecil." Celetuk Arfian yang memang tak tahu tentang Haruka.
Raja meliriknya sekilas lalu tersenyum tipis.
"humm..." Gumamnya.
"kak Ar, Haruka itu masih belasan tahun." Ujar Rahel membuat Arfian melotot.
"jadi...kau.. seorang pedofil." Ejeknya pada Raja.
Raja mendelik tak terima. Memangnya dia terlihat begitu tua hingga harus di sebut pedofil.
"aku baru 36 tahun." Sungutnya.
"apa bedanya? dia berapa Rahel?"
"kak Ar, sudahlah."
Arfian mengendikkan bahunya. Raja mendengus kesal, Arfian memang selalu menyebalkan dari dulu. Ucapannya tak pernah enak untuk di dengar.
"jika usia pria lebih tua itu hal yang biasa sekarang." Ucap Rahel. "kak Ar, jangan begitu."
"ck..ck..kau membela pria lain didepan kekasih mu."
"kak Ar..."
Raja tertawa remeh.
"kau bahkan lebih kekanakan. Hampir kepala 4 tapi masih bertingkah seperti bocah." Sindir Raja tajam.
"yakkk... apa aku bilang." Arfian tak terima. "usia sudah tua masih belum menikah? apa kau ingin menumbuhkan uban dulu."
Arfian tak sadar jika perkataannya tak menyinggung Raja. Rahel yang duduk disampingnya langsung memasang wajah garang. Tentu saja dia tersindir, karena di usianya yang sama dengan Raja belum menikah. Pacaran pun baru sekarang.
__ADS_1
Arfian menutup mulutnya rapat-rapat. Melihat Raja yang tersenyum penuh kemenangan membuat Arfian tersadar. Melirik Rahel perlahan. Menelan ludahnya melihat Rahel yang memasang wajah ketus.
"humm..aku bicara apa ya tadi.. hehehe.. Rahel, aku..."
"sudahlah." Ketus Rahel.
"mulutmu harimaumu, itu cocok untuk mu." Raja beranjak dari duduknya meninggalkan keduanya.
"maafkan aku Rahel. aku hanya.." Arfian menghela nafas. "Baiklah, aku bersalah."
Arfian memang tak bisa melihat orang yang di sayanginya marah. Menarik napas dalam lalu mengambil kedua tangan Rahel.
"kau pengecualian Rahel. Karena kau memiliki alasan untuk itu semua." Ujar Arfian merasa bersalah.
Rahel diam. Sebenarnya dia tak begitu marah pada Arfian karena tahu Arfian hanya ingin mengejek Raja.
...********************...
Hanum menarik nafas dalam. Melihat jam tangannya, sudah hampir petang tapi Arfian belum juga mengantarkan Leon pulang. Bukan takut Leon kenapa-kenapa, hanya saja ia segera bertemu dengan Arfian dan berbicara dengannya.
Akan mencoba kembali untuk mendapatkan hati Arfian. Hanum tetap tidak bisa mundur begitu saja, apalagi harus mengalah dari Rahel.
"uuhh... sepertinya lambungku kambuh." Ujarnya sedikit meringis.
Berjalan kekamar mencari obat pereda sakit. Sudah seminggu ini perutnya terasa sakit, dia hanya membeli obat pereda rasa sakit saja karena tak memiliki uang untuk pergi berobat.
Dengan menahan sakit yang semakin terasa perih Hanum berjalan menuju pintu begitu mendengar suara ketukan dari luar.
Leon memeluknya. Bocah itu langsung memamerkan mainan yang di belikan Arfian pada Hanum.
"lihat bunda, Daddy beli banyak mobil."
3 mobil ukuran sedang dan 2 yang cukup besar di letakan di lantai begitu saja oleh Arfian saat Hanum akan mengambilnya dari tangannya.
Sangat jelas jika Arfian tak ingin bersentuhan dengan wanita ini. Hanum hanya tersenyum menanggapinya.
"mau masuk..."
"Leon, Daddy pulang ya." Arfian sama sekali tak mempedulikannya. Langsung mencium kening Leon lalu pergi begitu saja.
Hanum terdiam. Merasa jika Arfian sudah sangat tak ingin berinteraksi dengannya. Hatinya merasa sakit juga kesal secara bersamaan.
"bunda, ayo masuk." Tarik Leon.
Hanum langsung membawa semua mainan Leon kedalam. Menutup pintu dengan keras, melampiaskan kekesalannya.
"eeuumm..." Meringis kembali saat perutnya terasa sakit.
Leon menatap wajah kesakitan Hanum. Bocah itu memegang tangan Hanum dengan khawatir.
__ADS_1
"bunda sakit?"
Hanum menggeleng pelan. Pura-pura baik, tak ingin Leon tahu jika dirinya tengah menahan rasa sakit.
Arfian sedikit merenung begitu masuk kedalam mobil. Dia begitu peka, saat melihat wajah Hanum tadi ia merasa jika wanita itu tak baik-baik saja. Tapi, karena terlanjur tak menyukainya jadi Arfian bersikap acuh. Meski begitu hatinya tetap saja merasa khawatir.
Ia masih memiliki hati nurani, tak sekejam itu untuk tak peduli pada orang lain.
...*****************...
Rahel mengajak Haruka dan Raja untuk mampir ke rumah Arfian sementara pria itu mengantarkan Leon pulang.
Dengan demikian Haruka pun percaya pada Raja, jika Rahel sudah tak lagi ada di hatinya. Raja pun meminta maaf soal kejadian kemarin malam yang sudah menyakitinya dengan mengucapkan kata-kata kasar.
"jadi...kak Ar itu seorang ayah tunggal?" Tanya Haruka.
"iya. dulu dia kakak kelas ku dan Raja."
"benarkah?" Haruka merasa tertarik dengan cerita Rahel.
"humm...apa kau tahu seperti apa penampilan Raja waktu SMA?"
Haruka mengangguk semangat. Tentu saja dia ingin tahu, karena pria itu tak pernah mengatakannya. Hanya sering bercerita soal Rahel saja.
"sudah cukup. itu bukan hal yang menarik untuk di bicarakan." Raja menutup telinga Haruka begitu Rahel akan mengatakannya.
"hahhaaa..apa kau takut Haruka melihat dirimu yang memakai kacamata tebal?" Goda Rahel.
"Rahel, ku rasa kau terlalu banyak bicara."
"hahha.. oke-oke. Haruka, aku buatkan jus ya. kau suka alpukat?"
"iya, umm..beri es batu agak banyak." Pintanya.
Rahel pun segera kedapur. Sepeninggalnya Rahel, Haruka langsung menggoda Raja.
"jadi..dulu kakak memakai kacamata?"
"jangan bertanya lagi. diamlah."
"humm...tak seru. Echa..ayo sayang." Haruka menghampiri Echa yang sedang bermain boneka didekat TV. Ikut duduk disampingnya dan memainkan boneka satunya.
Arfian masuk kedalam rumah. Menghela nafasnya melihat Raja yang duduk di ruang tamu. Tak menyangka jika Rahel akan mengajaknya kesini.
"jadi..kau kekasihnya atau seorang pengasuh?" Ujarnya melihat Haruka yang tengah bermain dengan Echa.
Raja mengabaikan Arfian. Lagipula berdebat pun percuma. Rahel kembali dengan dua jus alpukat.
"aku juga haus." Seru Arfian tak suka karena jus itu di berikan pada Raja dan satunya pada Haruka.
__ADS_1
"iya, tunggu sebentar." Rahel pun kembali kedapur untuk membuatkan jus yang baru.
...****************...