Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 40


__ADS_3

Arfian tersenyum canggung, Rahel memang cerewet dan tak bisa diam sewaktu di zaman sekolah dulu. Mengatakan cinta padanya dengan sangat polos dan jujur. Tapi kini wanita kelahiran bulan september ini sangat tenang dan dewasa. Membuat Arfian merasa jika Rahel yang dulu benar-benar sudah tak ada lagi.


"kenapa mengajakku kak Ar? dimana Bu Hanum?" Tanya Rahel.


Rahel sudah duduk di dalam mobil tepat di samping Arfian yang tengah mengemudi.


Arfian tak tahu harus menjawab apa. Dia pun secara spontan mengajaknya, tak ada alasan yang jelas untuk itu. Arfian berdeham pelan lalu menjawab dengan santai.


"aku hanya ingin mengajakmu bertemu dengan Echa, karena kurasa putriku menyukai mu. saat bersama mu dia terlihat senang." Jawaban yang di lontarkan Arfian membuat Rahel tertawa kecil.


"hehehe..ya, aku juga menyukai putri kecil kak Ar itu. dia sangat manis."


Arfian tersenyum mendengarnya. Hanum bahkan belum pernah sekalipun mengatakan hal baik tentang Echa.


Sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol. Arfian merasa sangat nyaman dengan Rahel, dia tak lagi secanggung tadi.


Bahkan keduanya tertawa bersama saat menceritakan hal-hal konyol yang mereka lakukan sewaktu di sekolah. Arfian terus menggoda Rahel, mengatakan jika dulu dia sama sekali tak pernah absen mengejarnya. Hingga wanita itu mendelik kesal.


"jangan katakan lagi. aku tahu dulu itu sangat memalukan. Terus mengejar kak Arfian meski terus di tolak." Ujarnya dengan ekspresi wajah di buat masam.


"hahha..maafkan aku Rahel. dulu kau dekat dengan Hanum, itulah sebabnya aku mengenalmu. aku selalu menganggap mu seperti adikku." Tanpa sadar Arfian mengucapkan kalimat yang membuat Rahel kecewa.


Meski tahu Arfian hanya menyukai Hanum tapi didalam hati kecilnya Rahel masih saja berharap ada setitik cinta baginya. Katakan saja, tak ada manusia yang akan benar-benar rela kehilangan cintanya. Rahel selalu menyimpan cinta pertamanya itu didalam hati terdalam. Sampai saat ini bahkan dirinya belum pernah dekat dengan pria manapun karena tak bisa melupakan sosok Arfian.


Cinta bertepuk sebelah tangan. Itulah yang dia rasakan dari dulu hingga sekarang. Rahel hanya berharap yang terbaik bagi Arfian. Meskipun tak bisa memilikinya dengan melihatnya bahagia saja itu sudah cukup baginya.


"hei..kau mau terus duduk di sini?" Arfian menepuk lengan Rahel.


Rahel terperanjat, lamunannya buyar seketika. Melihat kedepan, rupanya mereka sudah tiba. Ia pun segera turun mengikuti Arfian.


Dengan ragu berjalan masuk kedalam. Menarik napas berat saat melihat tak hanya Arfian di ruangan itu, tapi masih ada dua wanita dan satu pria yang melihat kearahnya. Rahel menelan ludahnya, ia mendadak gugup.


"A..ha..hai.." Ujarnya kaku. Senyumnya pun nyaris tak terlihat.


"kak Rahel.." Panggil Echa. Gadis kecil itu berlari ke arahnya.


Rahel tersenyum lebar, rasa gugupnya lebur seketika dengan kehadiran Echa. Mereka yang ada di sana saling menatap, Echa sama sekali tak terlihat takut padanya. Malah keduanya saling berpelukan, Echa bahkan mencium pipi Rahel.


"dia..."


"dia adik kelasku dulu mah." Ujar Arfian. "apa semua barang Echa sudah di bereskan?"


"ya. Rega cepat ambil barang Echa di kamar." Titah Rada.

__ADS_1


Rega pun segera mengambilnya. Rada mendekati Rahel, tersenyum lembut kala wanita muda itu melihatnya.


"kau sangat cantik." Puji Rada.


Rahel tersenyum malu, pasalnya pujian seperti ini jarang sekali ia dapatkan. Atau malah belum pernah ia dengar sama sekali.


"Arfian, mamah lebih setuju jika..siapa namamu nak?" Tanya Rada pada Rahel.


"Rahel...Tante."


"ya, jika Rahel yang menggantikan ibu Echa." Lanjut Rada blak-blakan.


Arfian dan Rahel sampai terbatuk mendengarnya. Kedua orang itu saling menatap canggung, Arfian langsung mengambil tas Echa yang di bawa Rega.


"terimakasih Rega. ayo Echa..." Ujarnya terburu-buru.


Rahel melihat wajah ketiganya, ia merasa jika dirinya harus mengatakan sesuatu sebelum pergi.


"ahh..kalau begitu. sampai jumpa lagi." Ujarnya dengan sopan lalu segera menyusul Arfian.


...*******************...


Hanum mencebikkan bibirnya kesal, melihat jam tangannya berulang kali. Sudah dua jam lebih tapi Arfian belum juga tiba, setiap ponselnya di hubungi selalu saja suara operator yang menjawabnya.


Leon pun merenggut, melemparkan mobil mainan yang di pegangnya ke lantai. Ia kesal karena Arfian belum tiba juga.


"sebentar sayang... mungkin...nah..itu dia."


Baru saja ingin mengatakan akan segera tiba, suara deru mobil terdengar dari luar. Hanum langsung mengangkat tubuh Leon, membawanya keluar.


"kau lama seka...li." Hanum mendadak merubah ekspresi wajahnya saat melihat Arfian tak hanya sendiri.


"kak Echa.." Teriak Leon senang. Bocah itu memaksa untuk turun dari gendongan Hanum.


Arfian dan Echa langsung berjalan kearah keduanya. Leon langsung memeluk Echa begitu Hanum menurunkan tubuhnya, sementara dirinya menarik Arfian menjauh dari kedua anak itu.


"kenapa kau membawanya?" Bisik Hanum tak suka, tak sadar jika dirinya sudah mengatakan hal yang tak masuk akal.


Arfian mengerutkan keningnya.


"tentu saja karena dia putriku. apa ada yang salah?"


Hanum mendengus kesal. Lalu segera membawa Leon kedalam dengan paksa. Tak peduli jika putranya itu berontak tak mau. Terlanjur kesal karena Arfian membawa Echa, padahal dia hanya ingin pergi bertiga saja.

__ADS_1


Echa terdiam melihat Leon yang di seret Hanum. Melihat Arfian lalu segera menarik ujung kemeja ayahnya itu.


"Daddy, kenapa ibu Leon seperti itu?"


"tidak sayang. masuklah dulu kedalam mobil, nanti Daddy menyusul." Arfian mengusap pucuk kepala Echa. Ia tak ingin Echa merasa di sisihkan oleh Hanum jika dibawa masuk kedalam rumah.


Echa mengangguk mengerti. Gadis kecil itu sebenarnya sadar akan sesuatu. Dia tahu jika Hanum tak menyukainya jadi bersifat seperti itu.


"humm...kak Rahel sih tak mau ikut, jadi Echa kesepian." Gumamnya sambil masuk kedalam mobil.


Rahel memang menolak untuk ikut saat Arfian mengajaknya untuk ikut bersama. Wanita itu beralasan ada urusan penting hingga tak bisa ikut.


Arfian berjalan dengan langkah yang lebar menuju kamar Hanum. Ia tak bisa menahan lagi kesabarannya. Sikap Hanum sudah sangat keterlaluan kali ini. Ia dengan terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya pada Echa.


"Hanum, aku ingin bicara." Ujarnya tegas.


Hanum melirik sekilas.


"katakan saja."


Arfian melambaikan tangan pada Leon.


"Leon, bisa keluar sebentar kan?" Pintanya dengan lembut. Leon mengangguk lalu turun dari kasur.


Setelah Leon di pastikan tak ada lagi di kamar. Arfian langsung menarik tangan Hanum dengan paksa hingga wanita itu berdiri.


"kau tak menyukai putri ku, kenapa?"


"tentu saja. karena dia putri Rena."


Arfian menarik nafas dalam-dalam.


"jadi.. karena dia putri Rena kau berhak membencinya? jangan egois Hanum. Aku tak meminta apapun dari mu, cukup perlakuan Echa sama dengan Leon. anggap dia seperti anakmu sendiri."


"apa kau gila? aku tak bisa melakukan itu." Teriak Hanum.


"baik, jika begitu pernikahan kontrak kita batalkan saja. sebelum semuanya terjadi kita akhiri hari ini. untung saja aku belum menikahimu." Ucap Arfian tajam.


Hanum tak terima, ia mendorong tubuh Arfian lalu mengacungkan jarinya ke arah pria itu. Matanya menatap Arfian tajam.


"kau memang selalu seenaknya. Dulu kau memutuskan ku karena hanya melihatku dengan pria yang belum tentu aku selingkuh. Lalu kau tiba-tiba meminta ku bekerja sama dengan mu begitu bertemu dan sekarang kau mengatakan ingin mengakhiri nya? sungguh luarbiasa Arfian, kau selalu seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan ku." Cerca Hanum mengeluarkan semua unek-unek yang ada di kepalanya.


Arfian diam, ia tak mau lagi mendengar apapun. Berjalan meninggalkan Hanum yang kini menangis.

__ADS_1


"tidak bisa, Leon harus mendapatkan masa depan yang cerah. Arfian.. tunggu..."


...********************...


__ADS_2