
Leon mengurung dirinya di kamar, ia merasa kesal karena Kris selalu saja melarangnya untuk bermain keluar. Ia butuh teman juga ingin melihat bagaimana keadaan sekitarnya, selama tinggal di Korea Leon hanya bisa diam di rumah tanpa tahu keadaan luar seperti apa.
Haeun tak mengajaknya keluar karena wanita itu sudah mulai kerepotan dengan kehamilannya yang mulai mendekati hari persalinan.
Bahkan jika di hitung, maka besok adalah hari Haeun untuk melahirkan. Dari pagi wanita itu diam saja merasakan kontraksi yang kadang terasa beberapa jam sekali itu.
Terlihat jelas jika dia menahan sakit itu, matanya akan terpejam dan nafasnya sedikit tak beraturan.
Sebagai seorang suami yang siaga, Kris pun tak jauh dari dekatnya. Ia meminta para pengajar les privat Leon untuk libur sementara karena tak ingin mengganggu keadaan istrinya.
"apa Leon sudah makan?" Tanya Haeun khawatir, karena dari pagi ia tak melihat sosok mungil itu.
Kris tak peduli dengan Leon, saat ini yang ia pikirkan hanya Haeun dan janin dalam kandungannya.
"jangan pikirkan dia. dia sedang ku hukum karena terus saja merengek sedari bangun tidur."
"kenapa kau melakukan itu?" Haeun tak suka. "aku harus melihatnya. dia pasti belum makan apapun."
Hendak bangkit dari duduknya dari Kris menahannya dengan cepat. Kesal karena Haeun masih saja memperdulikan Leon meski sekarang keadaannya sedang seperti ini.
"duduklah, kau tak perlu khawatir kan dia."
"Kris, Leon..."
"aku tahu. kau duduklah, biar aku yang lihat keadaannya."
"kau serius?"
"ya. jadi duduklah dan jangan coba-coba untuk menemui Leon."
Kris berucap dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tak ingin di bantah. Haeun menghela nafas panjang lalu mengangguk, mencoba untuk percaya pada Kris.
Pria itu bangkit lalu pergi kekamar Leon. Mengerutkan keningnya begitu masuk kedalam. Ia melihat bocah itu tengah duduk termenung di dekat jendela.
Tak menangis seperti biasanya, Leon tak bersuara sedikit pun. Ia melirik Kris sekilas lalu kembali menatap keluar dengan tatapan mata yang sulit sekali di artikan.
"kau belum makan?" Tanya Kris seperti orang bodoh.
Tentu saja Leon belum mengisi perutnya sedikitpun bahkan minum saja ia belum. Bagaimana bisa makan jika tak ada apa-apa.
"hei..aku bertanya kepada mu?" Kris kembali bersuara karena Leon diam saja.
Anak lelaki kecil itu melirik Kris dengan diam. Tak menjawab ataupun melakukan pergerakan lain.
Kris mendengus, entah kenapa melihat sikap Leon yang seperti ini membuatnya sedikit merasa tak enak. Berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"dimana mamah?" Tanya Leon dengan cepat, ekspresi wajahnya berubah ketakutan saat Kris mendekatinya.
Membuat Kris mengurungkan niatnya untuk semakin mendekat.
"sedang tak enak badan jadi jangan membuat ulah. jika kau ingin makan buatlah sendiri." Ujarnya, Kris tak sadar jika bocah sekecil ini pasti tak akan bisa melakukan apapun untuk mengisi perutnya.
Leon diam, mengangguk pelan. Kris memutar matanya, lalu meninggalkan Leon yang kini tengah memegang perutnya.
"Leon lapar." Cicitnya sendu.
Tentu saja perutnya terasa sakit dan perih. Tapi, bagaimana caranya dia memberitahu Kris. Ia terlalu takut pada pria itu.
...*******************...
Rahel tersenyum tipis melihat Arfian yang tengah uring-uringan ketika bangun tidur. Ia tebak jika pria itu pasti karena semalam tak bisa melepaskan hasratnya maka bertingkah seperti ini.
"ayo makan sarapannya." Rahel mengelus kepala Echa yang baru saja duduk di kursi.
"mommy, Daddy kenapa?" Tanya Echa, melihat Arfian yang menggerutu tak jelas di dekat kulkas.
Pagi-pagi pria itu sudah meneguk segelas air dingin.
"jangan hiraukan Daddy. makan sarapanmu lalu berangkat sekolah. Om Rega akan mengantar Echa, nanti mommy kesana saat jam pelajaran kedua." Jelas Rahel. Merasa jika ia harus menenangkan dulu singa yang tengah merasa risau itu.
Arfian duduk dengan tampang kusut. Nafsu makannya hilang dan saat ini hanya merasa tak nyaman karena sesuatu yang tak tersalurkan.
"kak Ar tak makan?"
"buatkan teh hangat saja." Pintanya.
Rahel segera membuatnya tanpa bertanya lagi. Echa menyudahi sarapannya saat mendengar suara motor dari luar.
"mommy, om Rega sudah datang. Echa berangkat ya." Echa mencium pipi Rahel lalu menghampiri Arfian. "Daddy Echa berangkat."
"iya sayang."
Rahel tersenyum, meletakkan cangkir teh di depan Arfian. Pria itu pun ikut tersenyum.
"kak Ar kenapa?" Tanya Rahel pura-pura tak tahu, menarik kursi lain lalu duduk.
Arfian meneguk tehnya sedikit yang terasa manis itu lalu menghela nafas berat.
"ada apa?" Rahel mengelus punggung tangan Arfian. "humm...kak Ar merasa tak enak badan?"
Arfian tersenyum lalu menggenggam tangan Rahel. Menatap wajah wanita manis itu dengan seksama. Rahel nampak cantik pagi ini, rambutnya di sanggul dan bibirnya yang berwarna pink sedikit basah itu membuatnya menelan ludah.
__ADS_1
Perlahan mendekatkan wajahnya, Rahel tak menolak. Memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan lembut yang di berikan oleh Arfian.
Keduanya terhanyut dalam c*uman yang hangat di pagi hari. Kemeja depan Arfian bahkan sudah berantakan karena rematan jemari Rahel.
"uuhhmm.." Rahel menepuk pundak Arfian saat merasakan sesak.
Arfian tersenyum puas melihat wajah Rahel yang bersemu. Kecantikan nya bertambah, matanya nampak sayu dengan bibir yang merah karena perbuatannya.
"lihat, kau telah membangunkan nya." Goda Arfian.
Rahel mengikuti arah pandang Arfian. Wanita itu melotot lalu segera memalingkan pandangannya, malu sekali meski bukan untuk pertama kalinya.
"kau ingin bertanggung jawab?" Bisik Arfian.
Dengan wajah merah dan perasaan malu Rahel mengangguk pelan. Arfian tersenyum lebar, dengan cepat ia bangkit lalu mengangkat tubuh Rahel. Ia sudah tak sabar lagi untuk melepaskan semuanya. Berjalan menuju kamarnya sambil terus mengecupi wajah Rahel.
...****************...
Rega menghentikan motornya tepat di depan gerbang sekolah Echa. Pria itu melambaikan tangannya begitu Echa berlari masuk kedalam.
"dadah om.." Seru Echa.
"ya. belajar dengan baik." Seru Rega.
Seorang wanita berbaju kuning menghampiri Echa dengan cepat. Matanya melirik sekilas ke arah Rega yang masih setia memperhatikan gadis kecil itu seolah tak ingin terjadi sesuatu padanya.
"sayang, mana mommy? tak di antar oleh nya?"
"tidak. mommy akan datang di jam kedua."
"um.. begitu. terus..itu siapa?"
Echa melihat kearah Rega yang sedang mencoba menyalakan motornya kembali.
"Om Rega."
Wanita itu mengulum bibir nya, lalu segera mengajak Echa untuk masuk kedalam. Echa mengeryit heran karena guru mudanya yang selalu menatapnya dengan tatapan tak suka itu kini malah bersikap dengan lembut.
Dengan tak nyaman ia menarik tangannya yang di pegang oleh wanita itu.
"Echa sama Bu Wanda saja." Ujarnya lalu berlari pada guru wanita yang memang biasanya selalu bersama dirinya.
Wanda adalah guru pertama yang menyambut kehadirannya di sekolah ini. Wanita itu mendengus kesal melihat Echa yang meninggalkannya.
...**************...
__ADS_1