
Hanum sudah sebulan ini menjalani pengobatan, meski dokter mengatakan kemungkinan untuk sembuh hanya 3 persen saja tapi wanita ini tetap semangat menjalankan hidupnya. Ia tak ingin menyerah hanya karena sebuah penyakit dalam tubuhnya, harus bisa bertahan demi bisa bertemu kembali dengan Leon.
Arfian dan Rahel pun akan menikah besok. Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Bahkan Hanum ikut membantu mendekorasi kamar pengantin untuk mereka.
Rada menghela nafas panjang. Menatap Hanum yang sedang menaburkan bunga mawar di atas kasur busa itu.
"Hanum, bagaimana kabar mu selama ini?"
Hanum meremat jemarinya. Lalu berbalik memandang Rada, mereka adalah saudara seharusnya tak secanggung ini. Masa lalu yang membuat semua jadi menjauh. Rada akui, ibu Hanum adalah wanita licik yang sudah suami orang.
Kakaknya pergi dengan ibu Hanum dan meninggalkan istrinya begitu saja hingga kematian menjemputnya. Itulah yang membuat Rada tak menyukai Hanum atau pun ibunya.
"aku baik. bibi.." Dengan canggung menyebut Rada dengan sebutan bibi.
Rada pun sedikit terhenyak.
"iya. apa kau ingin mengatakan sesuatu?"
Hanum diam. Masih jelas bayangan masa lalu saat dia masih kecil tiba-tiba saja di usir dari rumahnya. Ibunya bahkan di maki habis-habisan oleh Rada juga nenek dan kakeknya.
Mereka begitu kasar memperlakukan dirinya dan ibunya. Sehingga ayahnya marah dan mengajak keduanya pergi dari rumah.
"apa bibi masih membenci ibu dan ayah?" Pertanyaan Hanum membuat Rada terdiam.
Tak hanya membencinya, dia berharap tak pernah lagu untuk melihat mereka. Tapi, jika di pikir lagi Rada tak seharusnya membenci Hanum. Menarik napas dalam lalu merentangkan tangannya.
"maafkan bibi Hanum. seharusnya bibi tak membencimu. apa ibu dan ayah mu sehat?"
Hanum langsung memeluk Rada. Ia menggelengkan kepalanya.
"mereka sudah istirahat dengan tenang."
Rada terkejut. Menatap Hanum tak percaya. Dia mengira jika kedua orang itu masih hidup dan mungkin sedang berbahagia.
"mamah.. Hanum.." Rega mengeryit melihat Rada dan Hanum yang berpelukan.
"Rega, bagaimana persiapannya?" Tanya Rada.
"sudah selesai. kak Rahel sedang di salon dan kak Ar melihat gedung pernikahannya. besok harus sempurna bukan?" Jawab Rega.
Hanum tersenyum.
"kau benar. Rahel adalah gadis yang baik. aku mengenalnya sejak lama, dia baik, pintar juga sangat lembut. Arfian beruntung mendapatkannya." Puji Hanum.
__ADS_1
Rega justru malah merasa aneh mendengar Hanum mengeluarkan kata-kata pujian seperti ini. Biasanya wanita ini hanya bisa memaki saja dan melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan.
Selain mereka, beberapa orang juga nampak bahagia. Rena dan Ben sedang menikmati liburannya di Korea Selatan. Mereka berencana untuk tinggal di negara ini dan berganti kewarganegaraan.
Rihanna juga nampak sedang bahagia. Setelah benar-benar melupakan Arfian, dia fokus pada pekerjaannya. Meneruskan perusahaan keluarganya karena Ben sudah jelas tak ingin lagi jadi penerus.
Pria itu lebih memilih untuk tinggal bersama Rena. Membangun kembali perusahaannya dari nol.
Rada kembali memeluk Hanum. Hatinya sudah menerima kenyataan bahwa Hanum adalah putri dari kakaknya. Ia akan menjaga Hanum seperti dia menjaga Rena dulu.
Sena menepuk pundak Rega yang diam memperhatikan keduanya. Pria itu nampak masih belum bisa menerima kehadiran Hanum. Baginya Hanum masih lah orang asing.
"dia saudaramu juga. cobalah untuk menerimanya." Ujar Sena.
Rega menghela nafas panjang.
"entahlah, aku sulit dekat dengan seorang wanita. jadi..haaaahhhhh..." Menghembuskan nafas kasar. "kita tinggalkan saja mereka."
Rega dan Sena pun pergi meninggalkan Rada dan Hanum.
...********************...
Arfian tersenyum puas melihat hasil WO yang di pesannya. Mereka melakukan semuanya dengan baik, sesuai dengan seleranya. Tak terlalu mewah tapi kesannya sangat elegan. Rahel meminta warna yang tak terlalu mencolok untuk hiasannya, wanita itu lebih menyukai warna-warna yang soft.
"ya, saya menyukainya." Arfian puas sekali. "tapi jika bisa..tolong letakkan foto itu di sebelah sana."
Petugas WO itu mengangguk. Segera memindahkan foto berukuran besar itu kesebelah kanan. Arfian mengangguk, menatap foto dirinya dan Rahel yang nampak serasi.
Sementara itu Rahel baru saja selesai memotong rambutnya. Ia sengaja merubah gaya rambutnya agar besok terlihat lebih fresh.
Segera menghubungi Arfian untuk menjemputnya.
"baiklah, aku tunggu di cafe depan." Ujarnya lalu menutup telponnya dan segera keluar dari salon.
Echa yang memang sedari tadi menunggu hanya tersenyum saja begitu Rahel menuntun dirinya keluar.
"mommy, apa besok begitu penting?" Tanyanya. "nenek bilang, besok aku harus menginap di rumah nenek karena akan ada sesuatu di rumah. mommy dan daddy akan melakukan kegiatan olahraga agar Echa punya teman nanti."
Rahel hampir saja tersedak mendengarnya. Rada memang selalu saja mengatakan hal-hal yang aneh. Bahkan pada gadis sekecil Echa.
"humm...pantas saja Echa tak punya teman di sekolah karena Daddy tak punya teman olahraga." Ujarnya lagi membuat Rahel ingin sekali menutup mulut kecil itu.
Berkata dengan keras di tempat umum seperti ini sungguh memalukan. Dengan cepat Rahel mengajak masuk Echa kedalam cafe yang ada di dekat salon.
__ADS_1
...*****************...
Udara di Korea sedikit lebih dingin. Rena memakai jaketnya lalu segera keluar dari kamar. Sedang Ben masih saja bergelung dengan selimut, terlihat begitu nyaman sehingga Rena tak tega untuk membangunkannya.
Ia menulis di sebuah note kecil lalu meletakkannya di atas meja. Segera keluar untuk mencari sesuatu buat sarapan sekaligus berolahraga di pagi hari.
Berjalan menuju sebuah supermarket. Untuk membeli beberapa sayur juga buah.
"어서 오십시오 (eoseo osibsio)." Penjaga toko langsung menyambut kedatangannya.
Rena hanya tersenyum, sebenarnya dia tak begitu bisa berbahasa Korea. Selama ini Ben yang selalu jadi penerjemahnya.
"huum...." Rena mencoba untuk bicara pada kasir menanyakan letak sayuran di sebelah mana.
"야채는 어디에 놓나요? (yachaeneun eodie nohnayo?)"
Kasir pria itu tersenyum. Ia bisa menebak dari cara bicara Rena yang agak kaku jika wanita ini tak terlalu bisa berbicara bahasa Korea.
"You can speak English if you have trouble asking questions." Ujar kasir itu membuat Rena menghela nafas lega. "you can go to the right and go up, that's where all the fresh vegetables are."
"ooh..okey, thanks."
Rena pun segera berjalan dengan membawa troli belanjaannya. Saat akan hendak naik tangga ia menghentikan langkahnya.
"dia seperti...aah..tidak mungkin." Menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Anak lelaki itu tetap diam di ujung tangga sambil terus terisak. Ia tak mau turun karena ingin di gendong. Sementara wanita yang bersamanya nampak keberatan karena membawa banyak barang belanjaan.
"oh..ayolah Leon. mommy tak bisa menggendong mu." Ujarnya.
"Leon mau gendong." Isaknya.
Leon lebih manja akhir-akhir ini semenjak tahu jika ibu sambungnya tengah mengandung. Padahal awal-awal bertemu anak kecil ini begitu ketakutan bahkan sampai tak ingin di sentuh.
"mommy telpon Daddy ya?"
"humm..."
Rena yang mendengar nama anak itu di sebut pun langsung terdiam. Ia melihat wanita berwajah asli keturunan Korea yang fasih berbahasa Indonesia itu sendiri alis berkerut, hanya merasa aneh saja kenapa wanita ini memiliki putra yang begitu persis dengan putra Hanum.
Dari wajahnya, nama bahkan sepertinya usia mereka pun sama. Ingin memastikan tapi ragu saat ia ingat jika di dunia ini masih banyak orang yang berwajah mirip bahkan nama yang begitu sama.
...********************...
__ADS_1