Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 77


__ADS_3

Rahel menarik napas dalam, semuanya membutuhkan waktu bagi wanita yang baru saja memutuskan untuk menikah dengan Arfian itu. Di saat seperti ini dirinya malah harus kedatangan tamu. Ia duduk di samping Arfian sambil terus mengelus perutnya yang terasa tak nyaman.


Arfian yang menyadari itu langsung menyentuh tangan Rahel.


"ada apa? apa kau merasa lapar?" Tanyanya, mengira jika pengantin wanitanya kelaparan karena terus memegang perut.


Rahel menggeleng. Ingin mengatakannya tapi merasa malu. Melirik Rada yang ada di depan bersama Rega dan Sena. Lalu melirik Echa yang ada di sebelah kanannya.


"sayang, bisa panggilkan nenek kesini?" Pintanya.


Echa pun turun dari kursi pengantin. Lalu segera menghampiri Rada. Arfian mengeryit, lalu kembali bertanya pada Rahel.


"ada apa Rahel? kau benar-benar ingin makan?" Tebaknya.


"tidak kak Ar. aku hanya ingin ketoilet saja."


"kenapa harus memanggil mamah. aku..."


"aku akan sama mamah saja." Sela Rahel cepat dengan wajah memerah.


Arfian tersenyum, ia mengerti sesuatu hanya dengan melihat wajah Rahel yang bersemu.


"kau masih malu. padahal satu jam yang lalu kau sudah sah jadi istri ku." Ujarnya.


"ada apa Rahel?" Rada naik keatas lalu segera menghampiri Rahel.


Wanita itu berbisik pada Rada, tak ingin Arfian mendengarnya. Lalu segera menuntun Rahel yang kesulitan melangkah karena bajunya yang begitu menutupi seluruh kakinya.


Sementara itu Echa duduk di pangkuan Rega. Mendengarkan percakapan Rega dan Sena.


"saat kita menikah nanti berapa anak yang kau inginkan?" Tanya Rega.


"dua saja. ini Echa makanlah.". Jawab Sena seraya menyuapkan jeruk pada Echa.


"sedikit sekali." Keluh Rega yang memang sangat menyukai anak-anak itu.


Sena memukul lengannya keras.


"kau pikir aku ini mesin bisa melahirkan banyak anak."


Echa menarik tangan Sena.


"kucing tetangga nenek kemarin melahirkan 6 anak sekaligus. Dia kucing bukan mesin." Ujarnya dengan begitu polos.


Rega ingin tertawa mendengarnya. Tapi di tahan begitu melihat wajah Sena yang seperti akan menelannya.


"dengar sayang. manusia itu berbeda dengan kucing." Jelas Sena. "kalau pun ada yang melahirkan banyak, tapi itu sangat tidaklah mudah."

__ADS_1


"apa nanti mommy Rahel juga bisa melahirkan?" Tanya Echa tak mendengar penjelasan Sena sama sekali.


Sena menghembuskan nafas.


"iya tentu saja."


"humm...apa nanti malam bisa?"


"hahha..dasar kau ini." Rega mengacak rambut Echa. "tentu saja tidak."


Echa langsung cemberut, padahal dia ingin segera memiliki seorang adik yang lucu dan kalau bisa bayi itu nanti adalah laki-laki seperti Leon. Gadis kecil itu begitu menyukai Leon sehingga berharap jika adiknya kelak akan sama persis.


Di toilet nampak Rahel yang kesulitan menggunakan sesuatu agar tamu yang rutin datang tiap bulan itu tak tembus dan mempermalukan dirinya di depan para tamu undangan.


Rada pun ikut membantu, awalnya Rahel sempat ragu karena malu tapi karena Rada mengatakan itu hal biasa bagi wanita dan jangan sungkan maka Rahel pun segera melakukannya.


"di hari yang begitu penting malah datang." ******* kecewa Rada sangat terdengar jelas oleh Rahel.


"maafkan aku mamah."


"sudah-sudah, itu hal yang wajar. tapi, bagaimana dengan Arfian nanti malam."


Rahel langsung terbatuk, wajahnya memerah karena malu. Kenapa Rada selalu saja mengucapkan kata-kata yang begitu membuatnya tak bisa berkutik.


Sementara itu, Arfian nampak senang saat melihat Rahel kembali dan duduk di sampingnya.


Rahel mengangguk. Sedikit lebih nyaman. baginya.


Tamu undangan masih saja berdatangan. Rahel sampai kewalahan dari pagi duduk lalu berdiri setiap ada yang ingin bersalaman dan berfoto bersama. Kakinya serasa kebas dan pinggangnya sungguh sakit. Apalagi di saat ada tamu bulanan seperti ini, begitu menyiksa baginya.


...***************...


Hanum mengelus foto Leon dengan airmatanya yang tak bisa di hentikan. Ia begitu merindukan sosok anak kecil itu. Hatinya sangat sakit saat ingat dia sering sekali memarahi atau bahkan memukulnya jika Leon benar-benar sulit di atur.


"Hanum, kau tak ingin memberikan selamat pada Arfian dan Rahel?" Rada menghampirinya.


Hanum menggelengkan kepalanya. Baginya hanya duduk di pojokan dan melihat kedua pengantin itu saja sudah cukup. Melihat wajah bahagia keduanya membuat Hanum sedikit merasa iri tapi juga senang karena pada akhirnya dia bisa menerima dengan lapang atas pilihan Arfian.


Wanita sepertinya memang tak pantas di bandingkan Rahel.


"kau merindukannya?" Rada melihat ponsel Hanum yang menampilkan wajah Leon.


"humm..."


Grep..


Hanum sedikit tersentak dengan gerakan Rada yang tiba-tiba memeluknya. Ia jadi tak kuasa untuk menahan tangisnya, membalas pelukan Rada dan kembali menangis.

__ADS_1


"Arfian sudah berjanji bukan akan membawanya kembali kehadapan mu."


"iya. hanya saja aku takut, saat Arfian berhasil menemukan Leon, aku sudah tak ada di sini lagi."


"jangan berkata begitu." Rada melepaskan pelukannya. "lihat sekarang, ini hari bahagia Arfian dan Rahel. seharusnya kau juga bahagia."


"iya." Hanum menghapus airmatanya.


Rada tahu seorang ibu yang jauh dari anaknya akan sangat menderita. Dia merasakan hal yang sama waktu Rena memilih untuk pergi dengan Ben.


Hatinya terluka tapi juga sangat sakit saat kenangan-kenangan tentangnya berputar di kepala.


...******************...


Rena kembali merasa heran ketika kedua kalinya dia melihat seorang anak laki-laki yang begitu mirip dengan Leon. Tapi, di sampingnya selalu ada seorang wanita yang di panggilnya mommy.


"kenapa?" Tanya Ben heran karena sedari tadi Rena diam memperhatikan ibu dan anak yang ada di depan mereka.


"aku hanya merasa jika anak itu sangat mirip dengan putra temanku. bahkan namanya pun sama."


"bagaimana bisa tahu namanya sama?"


"aku tak bertemu mereka di supermarket kemarin pagi."


"sudahlah, jangan pikirkan orang lain. Kita kesini untuk makan."


Rena mengangguk, melanjutkan kembali makan malam nya.


"김하은, 밤에 나가지 말라고 했잖아."


(gimha-eun, bam-e nagaji mallago haessjanh-a.)(Kim Haeun, sudah aku katakan jangan keluar malam-malam.)


Seorang pria berteriak kearah wanita yang duduk bersama putranya itu. Ia menarik wanita yang di panggilnya Kim Haeun itu lalu membentak anak lelakinya.


"그것을 강요한 것은 당신이어야합니다. 멍청한 꼬마."


(geugeos-eul gang-yohan geos-eun dangsin-ieoyahabnida. meongcheonghan kkoma.)(ini pasti kau yang memaksanya, dasar bodoh.)


"yaaakk..kenapa kau memarahi putramu. dia tak salah." Kim Haeun berkata dengan keras.


Rena awalnya tak tahu apa yang di katakan pria itu karena memakai bahasa Korea, tapi begitu Kim Haeun berucap dalam bahasa Indonesia, ia bisa menebak jika pria itu adalah suaminya.


"Leon, ayo sayang." Anak memegang tangan Haeun lalu berjalan dengan kepala tertunduk.


"ck..kau ini kejam sekali. membawanya dari Indonesia kesini karena aku tak kunjung hamil. tapi sekarang kau malah memarahinya setiap saat begitu tahu di perutku ada bayi." Haeun sangat marah.


Pria itu hanya diam. Lalu berjalan mengikutinya. Rena jadi semakin penasaran dengan anak lelaki itu. Sebenarnya siapa dia? apa benar putra Hanum atau hanya kebetulan mirip saja.

__ADS_1


...*********************...


__ADS_2