
Sepanjang menikah dengan Rena, tak pernah dapur ini tersentuh. Wanita itu selalu membeli makanan cepat saji karena tak terlalu pandai memasak. Tapi, pagi aroma masakan tercium dari dapur.
Arfian segera bangun dan buru-buru keluar kamar tanpa mencuci muka terlebih dahulu. Ia penasaran, siapa yang sedang menggunakan dapur.
Nampak Rahel sedang serius memotong sayuran. Di kompor bahkan sudah ada sayur sop yang sebentar lagi matang.
Arfian memejamkan matanya, aroma sayur yang tengah di masak sungguh membuatnya lapar. Ia tersenyum tipis, melihat Rahel yang sedang menyiapkan sarapan membuatnya berkhayal.
Jika saja mereka sepasang suami istri, pasti akan lebih baik.
"iishsh.. pagi-pagi sudah berpikir yang aneh-aneh." Arfian menggelengkan kepalanya.
Merasa jika pikirannya sudah tak wajar. Rahel yang mendengar gumaman Arfian langsung berbalik.
"kak Ar, humm..aku sudah memasak. ayo sarapan."
"ah..iya. aku akan mandi dulu sebentar."
Rahel tersenyum melihat Arfian yang buru-buru masuk ke kamarnya. Wanita itu membuka celemeknya setelah selesai menata semua di atas meja. Ia pun segera menuju kamar Echa.
"sayang, ayo bangun." Rahel menyibakkan selimut Hello Kitty berwarna pink itu.
Echa menggeliat lalu membuka matanya.
"kakak..."
"umm... ayo bangun. cuci muka dan gosok gigi."
Rahel mengangkat tubuh kecil itu kekamar mandi. Perlakuannya sangat lembut. Echa menjadi senang karena Rahel lebih mirip seorang ibu di banding pengasuh.
Ini hari pertama Rahel bekerja sebagai pengasuh Echa, tapi mereka seperti sudah kenal lama di lihat dari cara keduanya berinteraksi.
Arfian sudah selesai membersihkan tubuhnya. Karena ini hari libur jadi dia hanya menggunakan pakaian santai.
"baru jam 7. sepertinya Echa masih belum bangun." Arfian pun keluar, dia berjalan menuju kamar putrinya.
Biasanya semua Arfian lakukan sendiri. Memandikan Echa, membuat sarapan yang hanya roti saja. Apalagi setelah bercerai dengan Rena, ia berperan sebagai ibu dan ayah.
Mengeryit saat melihat pintu bercat pink itu terbuka sedikit.
"Echa.." Panggilnya.
Arfian merasa aneh, karena tempat tidur berbentuk bulat itu kosong. Ia masuk kedalam. Terdengar gemericik air dari kamar mandi.
"sudah, Sekarang Echa lap dulu tangannya biar kering." Terdengar suara Rahel dari dalam kamar mandi.
Tersenyum lebar saat tahu, jika Rahel sudah mengurus semuanya dengan sangat cepat. Arfian duduk di ranjang Echa, menunggu keduanya.
Ceklek..
__ADS_1
Rahel yang menggendong Echa nampak terkejut saat membuka pintu.
"kak Ar, kenapa di sini?" Tanyanya sambil menurunkan Echa.
"aku pikir putriku masih tidur." Arfian mengecup pipi Echa. "kau melakukan semuanya dengan baik, Rahel." Pujinya.
"umm..ini sudah menjadi tugasku. bukankah aku di gaji untuk mengurus putri cantik ini." Rahel mencubit gemas pipi Echa.
Rasanya sangat hangat. Arfian sepintas merasa seperti keluarga yang bahagia. Andai saja pernikahannya tak gagal dan dia mendapat wanita yang tepat, pasti momen seperti ini akan terjadi setiap hari.
"Echa laper." Rengeknya sambil memegang perut.
"ah..iya sayang. ayo..kita makan." Arfian mengangkat tubuh Echa lalu mendudukkan tubuhnya di atas pundak.
Gadis kecil itu nampak senang. Tertawa riang dengan perlakuan Arfian. Rahel ikut tertawa, ternyata ia baru tahu jika Arfian begitu lembut dan hangat terhadap anaknya.
Ia jadi penasaran dengan apa yang Hanum katakan saat bertengkar dengan Arfian di rumahnya.
Apa benar Echa bukan putri kandungnya? tapi kenapa Arfian begitu menyayanginya, bahkan sama sekali tak terlihat jika dia seorang ayah sambung. Kasih sayangnya begitu tulus terhadap Echa. Tapi, Rahel tak memiliki keberanian sebesar itu untuk bertanya pada Arfian.
Takut pria itu akan marah dan menganggap dirinya sama saja dengan Hanum.
"loh, kok diem. ayo..kau juga ikut sarapan dengan kami." Arfian menghentikan langkahnya, melihat kebelakang.
Karena merasa jika Rahel tak ikut pergi dengan mereka. Rahel langsung mengangguk dan berjalan mengikuti Arfian.
...*******************...
Prang...
Prang...
Hanum kembali melempar piring ke lantai. Ia marah dan kesal karena Arfian sulit sekali di hubungi. Dari semalam ponselnya tak aktif.
"kenapa? kenapa harus Rahel yang kau pilih." Teriaknya sambil menangis.
Ia tak terima karena Arfian lebih memilih Rahel. Dari dulu Hanum selalu lebih unggul dari wanita itu, tapi sekarang dengan mudahnya Rahel menggeser posisi nya.
"s*alan, wanita tak tahu diri. br*ngsek." Makinya.
Tak sadar jika Leon melihat semuanya. Hanum terlalu kesal sehingga tak mengingat jika hari ini Leon ada di rumah. Putranya itu tak menginap di panti asuhan.
"bunda..." Isak Leon ketakutan. Ia berjalan mengendap-endap melewati Hanum yang tengah berteriak dan memecahkan beberapa barang yang ada di sana.
Bocah kecil itu membuka pintu pelan-pelan.
"Leon mau Cali Daddy." Isaknya.
Tanpa Hanum ketahui Leon sudah pergi meninggalkan rumah. Anak laki-laki yang bulan depan berusia 3 tahun itu berjalan di pinggir trotoar sambil menangis.
__ADS_1
Dia ingin bertemu dengan Arfian. Karena menurutnya hanya Arfian yang bisa menolongnya dan membuat ibunya tak marah-marah lagi.
...******************...
"Rahel, kau pandai sekali memasak." Puji Arfian.
Baru kali ini makan dengan kenyang di pagi hari. Sop iga buatan Rahel sangat enak hingga membuatnya tak bisa berhenti makan. Begitu juga dengan Echa.
"biasa saja kak Ar. umm..aku menggunakan bahan-bahan yang ada di kulkas. semuanya sudah habis, nanti siang mau makan apa?"
Arfian tersenyum. Bahan-bahan itu sisa stok sayuran bulan lalu. Sepertinya memang sudah waktunya untuk mengisi kulkas lagi dan membeli beberapa bumbu dapur yang mulai habis.
"kita belanja saja." Tutur Arfian.
"asyik, Echa ikut ya dad."
"iya sayang."
Rahel merasa senang, ternyata tinggal bersama Arfian tak seburuk yang dia bayangkan. Ia sempat berpikir, pasti akan sangat canggung dan mungkin tak akan bisa makan dengan tenang karena malu. Tapi nyatanya semua mengalir begitu saja.
Echa bahkan begitu menyukai kehadirannya. Gadis itu mengajaknya berkeliling rumah, memberi tahukan letak- letak ruangan yang ada di rumah ini.
Rahel berpikir, kenapa Hanum begitu bodoh. Jika saja dia tak berpikir buruk dan licik terhadap Echa, pasti saat ini dia lah yang ada di rumah ini dengan status sebagai istri Arfian.
"Rahel, ada apa?" Arfian mengeryit melihat Rahel yang tiba-tiba diam.
"ah..tidak." Rahel segera bangkit. "aku akan mencuci piringnya. kalian tunggu lah di luar."
"baiklah, ayo..sayang." Arfian mengajak Echa pergi.
"ketaman depan dad, kita main bola."
"oke."
Keduanya berlarian menuju luar. Echa mengambil bola yang ada di dekat pagar masuk. Ia terdiam saat melihat wanita yang dia ingat pernah bertemu dengannya beberapa kali.
"Tante..." Echa hendak membuka pintu pagar besi itu tapi Arfian segera menghampiri dan menahan tangan Echa.
"Echa, temui kak Rahel. minta buah jeruk padanya." Titah Arfian sengaja membuat Echa pergi.
Wanita itu menatap Arfian tak suka. Dia hanya ingin datang bertamu, bukan untuk mencari masalah. Kenapa harus di perlakukan seperti seorang penjahatnya. Bahkan ia tak di perbolehkan masuk, Arfian keluar dan menutup pintu pagarnya.
Ia tak membiarkannya masuk karena takut akan terjadi hal yang tak diinginkan apalagi jika nanti ia melihat Rahel.
Untuk menghindari pertengkaran Arfian harus membuat wanita ini pergi secepatnya.
"apa aku terlihat seperti pencuri yang akan merampok rumah mu? kenapa kau begitu tak sopan?" Ucapnya.
"kau lebih parah dari itu. keberadaan mu selalu membuat masalah." Balas Arfian.
__ADS_1
Keduanya saling menatap. Arfian sangat keras jika soal melindungi putrinya. Tak akan membiarkan siapapun mendekatinya.
...***********************...