
Cahaya matahari menembus jendela di kamar apartemen yang berada di lantai lima, menyoroti Attar yang sedang tertidur pulas. Kamar yang cukup luas tampak amburadul, sepasang sepatu putih dan stilletto berada di sofa, beberapa botol minuman kosong di lantai kamar dan beberapa bungkus snack yang isinya hanya sisa-sisa saja, berhamburan.
Perlahan, laki-laki yang tertidur tanpa mengenakan kemeja itu mengerjapkan matanya. Pandangannya samar, pengar. Ia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan, menebak-nebak di mana keberadaannya sekarang.
Tiba-tiba seorang wanita menyembul dari balik selimut putih. Wajah yang masih dipenuhi riasan itu tersenyum pada Attar.
"Pagi," ucapnya dengan suara parau.
Attar tersenyum sambil mengingat-ingat nama wanita yang berada di sampingnya. Rekaman kejadian tentang pesta semalam menyeruak bagaikan kepingan puzzle yang berhamburan kemudian perlahan-lahan menemui pasangannya kembali. Ia mulai ingat awal mula pertemuannya dengan gadis di sebelahnya hingga berakhir di ranjang.
"Mau sarapan bareng di bawah?" suara parau itu memecah kilas balik dari ruang pikir Attar.
Attar melirik arlojinya.
"Gue harus balik," jawabnya mengusap wajah.
"Ada janji lagi?" wanita itu mendelik seraya menarik lengannya.
Attar mengangguk canggung, melepaskan tangan wanita itu pelan-pelan seraya beranjak dari ranjang, mengencangkan celana jeans-nya lalu menyambar kemeja berwarna hitam dan sneakers miliknya.
"Apa kita bisa bertemu lagi?" Kali ini suaranya lantang.
"We'll see, ok?"
Ia membalas dengan senyuman lantas menenggelamkan diri ke dalam selimut. Sementara, Attar berjalan terhuyung menuju pintu kamar.
"Eh, kalau kamu haus ada air mineral botol di dapur, Tar." Wanita berambut ikal berwarna brunette itu menyembul kembali.
"Ok. Thank you." Attar menghilang dari balik pintu.
Beberapa temannya terkapar di lantai dan Ziko, sahabatnya tertidur di sofa ruang keluarga. Attar bergerak perlahan ke dapur si empunya apartemen mewah ini. Ia menyambar dua botol air mineral yang tidak tersusun rapi, buru-buru membuka dan meneguknya perlahan. Lalu, ia melangkah menghampiri Ziko yang mendengkur keras.
"Ko!" panggilnya berjalan mendekati Ziko.
Laki-laki blasteran Thailand-Medan itu hanya menjawab dengan dengkuran.
Attar menepuk-nepuk punggung Ziko.
"Hah?!" sontak Ziko terbangun. Dengan berat mengumpulkan kesadarannya.
"Cabut sekarang," ujar Attar kembali meneguk air mineral hingga tandas.
Ziko terduduk seraya menggosok-gosok kedua matanya.
"Bro, masih pagi banget ini sih!" protesnya setelah melihat arloji miliknya.
Attar menyodorkan air mineral botol pada sahabatnya.
"Thanks!" ucapnya.
"Gue balik duluan kalau gitu soalnya nyokap mau datang siang ini."
"Ada acara sama nyokap?"
"Cuma makan siang bareng aja."
"Oke, mobil lo tinggal aja nanti gue yang bawa balik ke rumah lo," usulnya. "Eh, tapi nanti malamnya jadi kan party di klub Xnight?"
"Jadi, tapi nggak usah bilang sama dia kalau nanti malam ada acara," tegas Attar seraya menyerahkan kunci mobilnya.
"Amela?"
__ADS_1
Attar mengangguk seraya melangkah melewati Ziko.
"Aye-aye, Capt!"
Attar memang selalu bersikap masa bodoh dengan wanita-wanita yang tidak ingin dikencaninya lagi. Lagipula, kejadian semalam sama seperti malam-malam lainnya, di bawah pengaruh alkohol. Ia hanya menjaga jarak agar tidak terjerembab dalam hubungan yang rumit.
**
Attar melangkah gontai memasuki lobi apartemen. Ia tersenyum ramah pada security yang membukakan pintu.
"Mas Attar, Ibu sudah menunggu," ujarnya sopan.
"Udah dari tadi, Pak?"
"Sekitar satu jam yang lalu," jawabnya.
"Oke. Terima kasih Pak Jamal."
"Sama-sama, Mas."
Ia mempercepat langkahnya. Benar saja, wanita yang mengenakan kemeja putih, jeans biru muda dan sneakers berwarna senada dengan kemejanya, terlihat duduk santai seraya menyentuh ponsel pintarnya.
"Bun, kenapa enggak telepon Attar sih?"
"Hey, handsome!" wanita yang rambutnya mulai di dominasi keperakan itu kemudian menghampiri Attar. Menciuminya dengan penuh kasih sayang.
"Handphone kamu enggak aktif," ujar sang Ibu santai. "Happy birthday, ya. Bunda doakan yang terbaik untuk segala hal, termasuk kamu jadi lebih baik lagi dalam berperilaku. Aamiin." Ia kembali mendaratkan kecupan di kening Attar.
"Aamiin!" jawab Attar. "Handphone ku lowbatt, Bun, lupa nge-charge semalam," jawabnya lagi setelah mengambil ponsel dari waist bag-nya.
"Kamu bau banget deh, Nak!"
Attar tertawa dan baru menyadari kalau tadi sebelum beranjak dari apartemen teman kencannya, ia lupa untuk mencuci wajah.
"nggak kok, aku pulang naik taksi. Mobil nanti dibawa sama Ziko."
"Oh, Tolong bawain dong," ujar wanita itu memberikan dua tas belanja besar.
"Bawa apa aja sih, Bun?" Ia menenteng kedua tas itu.
"Banyak deh dan pasti kamu suka!" ucapnya antusias.
"Yeah right!" cibir Attar yang harus siap dengan berbagai makanan yang akan dijejali sang Bunda.
"Ayah sudah telepon?"
"Belum. Mungkin nanti. Buat Ayah nggak ada yang lebih penting dari pekerjaannya."
"Pasti telepon kamu kok, percaya deh sama Bunda," Ia mengusap lembut punggung Attar.
"Kita lihat aja nanti, Bun." Nada suara Attar terdengar ragu.
Sang ayah adalah seorang pekerja keras dan kerap kali lupa akan momentum kecil tetapi sebenarnya sangat berarti seperti hari ulang tahun atau peringatan hari pernikahan. Bahkan, sering sekali ia lupa akan hari ulang tahunnya sendiri dan beruntungnya laki-laki yang berusia 65 tahun itu menikahi wanita yang mampu melengkapinya.
**
Ponsel Attar berdering. Ia meraihnya dengan malas kemudian terkesiap saat melihat nama seorang di panggilan masuk. Ia terduduk di tepi ranjang sambil terus menatap ragu pada layar yang menyala terang.
Attar berdeham, "Halo..." jawabnya.
"Hey, apa kabar?" suara renyah itu kembali didengarnya setelah beberapa tahun berlalu.
__ADS_1
"Baik. Kamu apa kabar?" tanya Attar sambil menjauhkan ponsel dan menarik serta mengembuskan napas.
"Baik. Happy birthday, ya!"
"Makasih, La."
"Sehat selalu dan cepat menikah. Aamiin."
"Aamiin. Kamu sudah selesai studinya?" hatinya mencelus ketika mendengar doa yang kedua darinya.
"Udah dong. Kamu ngadain party atau nggak tahun ini?"
Ia membisu.
"Tar?"
"Hmm... nggak sih," bohongnya.
"Sounds great. Gitu dong! Ziko gimana tuh? masih sering party?"
"Kamu tanya aja sendiri sama dia."
Wanita yang pernah membuat dirinya kehilangan arah, terkekeh di seberang sana.
"Anyway, aku mau kirim undangan acara makan malam untuk kamu, Panji, Erika, dan beberapa teman lainnya mih. Aku kirim semua ke alamat kamu boleh ya?"
Wanita yang bernama Ella ini memang pernah singgah di hatinya. Berawal dari pertemuannya di sebuah klub dan untuk pertama kalinya ia menaruh perhatian lebih pada wanita yang ternyata satu kampus dengannya. Dulu, Ella ingin menikah dengan Attar ketika usia mereka sama-sama masih terbilang muda karena ia tidak ingin berpisah darinya saat akan studi program pasca sarjana di luar negeri, meskipun hanya memakan waktu sekitar dua tahunan.
Pada waktu itu, Attar belum memikirkan sebuah pernikahan meskipun ia menyayangi Ella dan menyudahi kencan satu malam dengan gadis manapun. Sampai akhirnya, Attar memilih untuk melepaskannya sebab ia terlalu ciut mendengar kata “pernikahan”. Ada sedikit rasa bersalah dan menyesal dalam hatinya ketika mendengar Ella akan menikah dengan laki-laki lain karena terakhir kali, saat menjelang hari pernikahan Ella, ia menerima chat yang berisi kalau mantan kekasihnya itu masih mencintainya. Namun, Attar memilih hanya membaca isi chat-nya tersebut.
"Harus banget diadain acara seperti itu? Kan nikahnya sudah lama." Attar terkekeh.
"Kamu tuh. Dulu waktu nikah aku kan ada nggak resepsi, Tar. Langsung terbang ke Aussie."
"I see," ucapnya singkat.
"Kamu harus datang ya!" perintahnya.
"Aku usahakan ya."
"Ih! Emang lagi sibuk apa sih?" nada suara manjanya tetap sama seperti saat mereka masih bersama.
"Skedul party padat merayap," guraunya.
Tawa renyah Ella menggema, lalu berkata, "katanya udah nggak party?"
"Kan nggak ngadain tapi datang ke party teman-teman," kilahnya terkekeh.
"Dasar kamu. Pokoknya nggak mau tahu gimana caranya, kamu harus datang!"
"Oke...oke, nanti aku datang." Attar terkekeh. "Anyway, Ayu sebentar lagi mau nikah, Erika jadi wedding organizer-nya. Kamu diundang dia?"
"Nggak sih. Mungkin karena Ayu belum tahu juga kalau aku udah di Jakarta." Suara bising di seberang sana memberikan jeda bagi Attar untuk menghela napas.
"Iya juga...padahal seru tuh bisa reuni."
"Kan Nanti juga bisa reuni di acaraku. Eh, Tar, aku harus pergi, kalau gitu sampai ketemu lagi dan makasih ya udah mau direpotin. Bye, Tar!"
"Ok. Bye, La." Ia mengakhiri percakapan di ponsel seraya terdiam karena ruang pikirnya membuka kembali lembaran-lembaran usang kisah mereka berdua.
“Apa sebaiknya gue nggak usah datang aja?” gumamnya dilema.
__ADS_1
***