Terjerat Cinta

Terjerat Cinta
Bab 103


__ADS_3

Echa sangat banyak memilih gaun untuk ia coba, mencari yang pas dan terlihat paling bagus. Rahel dan Arfian tersenyum melihat bagaimana semangatnya putri mereka.


"ini bagaimana?" Echa keluar dari ruang ganti.


Sebuah gaun berwarna gading dengan hiasan pita di bagian belakangnya. Nampak sederhana tapi terlihat sangat pas dengannya.


Echa terlihat cantik juga dewasa.


"bagus, kau mau pilih satu lagi?" Tawar Rahel. Menyerahkan putranya pada Arfian lalu berjalan ke arah Echa sambil mengambil satu gaun lagi untuk di coba.


"apa tak kebanyakan. aku sudah mengambil 3."


"tak apa, hari ini beli apa saja yang kau mau."


Echa melirik Arfian. Pria dewasa itu mengangguk menyetujui perkataan Rahel. Lagipula, sudah lama Echa tak di ajak belanja seperti ini, semenjak Rahel hamil dan melahirkan.


Mereka lebih banyak diam di rumah.


Akhirnya Echa membeli 5 gaun, merasa sudah cukup ia pun meminta izin pada Rahel dan Arfian untuk pergi ke suatu tempat. Tak ikut pulang dengan mereka.


Menarik napas dalam-dalam menikmati udara yang terasa begitu sejuk. Hari ini dia ingin pergi untuk jalan-jalan. Setelah sekian lama tak keluar rumah untuk mencari udara segar akhirnya bisa juga.


Echa menyetop taksi lalu segera naik. Tujuannya adalah sebuah tempat dimana dirinya dulu dan adik kecilnya yang telah lama pergi sering kesana. Ia merindukan sosok pria kecil itu. Melihat adiknya selalu mengingatkan dirinya akan Leon.


"di depan." Serunya pada supir taksi.


Echa tersenyum lebar melihat bangunan yang dulu sering dia datangi itu. Banyak kenangan di sana yang tak akan pernah ia lupakan.


"eh...siapa itu?" Keningnya mengeryit melihat seorang pria bertubuh tinggi berdiri tepat di depan pintu masuk.


Echa pun segera berjalan menghampirinya lalu menegurnya dengan sopan.


"permisi..kau sedang apa?" Tanyanya penasaran melihat pria itu yang sedari tadi memegang gagang pintu tapi tak kunjung membukanya.


Pria itu menoleh. Menatap wajah Echa dengan wajah datarnya nyaris tak berekspresi.


"hei..aku bertanya padamu?" Seru Echa lagi.


"bukan urusan mu." Pria itu mendengus cukup keras.

__ADS_1


Ia hendak berjalan melewati Echa saat tak sengaja pandangan matanya jatuh pada sebuah jepitan yang Echa kenakan. Pria itu berhenti sebentar lalu mengepalkan tangannya erat.


"kakak..." Gumamnya pelan.


Pria itu Leon. Dia ingat jepitan rambut itu ia sengaja berikan pada Echa. Kakaknya yang dulu sering menjaga dirinya. Meski bukan kakak kandungnya tapi Leon merasa jika Echa adalah seseorang yang mampu membuatnya nyaman sewaktu kecil.


Echa mengerutkan keningnya melihat Leon yang berdiri membelakanginya. Ia sama sekali tak mengenal pria ini, baru pertama melihatnya.


"hei...kau baik? aku baru melihat mu." Echa menepuk punggungnya.


Leon terhenyak dan dengan kasarnya menepis tangan Echa membuat gadis itu terkejut.


"jangan sok dekat. mengerti." Ketusnya lalu pergi.


Echa menghela nafas berat. Ia mengendikkan bahunya begitu Leon sudah tak ada lagi di sana.


"dasar pria aneh." Cibirnya. "tapi tampan juga...hehehe..." Echa akui kalau pria tadi sangat tampan.


Tubuhnya tinggi, rahangnya tegas dan satu lagi suaranya yang begitu indah untuk didengar. Bukannya kesal atas sikapnya tadi justru Echa malah merasa tertarik.


...***************...


"Ben, apa kau tak lelah?"


"aku merasa sangat gugup."


"gugup? Kenapa?"


Ben duduk di samping Rena. Tangannya mengelus rambut Rena lalu ia segera berdiri kembali. Tingkahnya membuat Rena bingung saja.


"kau ini kenapa?" Rena bangun lalu segera menarik tangan Ben agar duduk di sampingnya.


Ben menghembuskan nafas.


"besok kita akan bertemu dengan putri kita. kau tahu, sudah sangat lama kita tak bertemu dengannya. Dulu...aku terlalu kejam karena tak mengakui keberadaannya." Tutur Ben membuat Rena terdiam.


Wanita itu pun menjadi gelisah. Ia tahu, selama bertahun-tahun telah menjadi ibu yang egois. Bahkan meninggalkan putrinya hanya demi kesenangan dirinya.


"Rena..apa Echa akan mengakui kita sebagai orangtua nya?"

__ADS_1


Rena menggelengkan kepalanya. Tak tahu harus berkata apa. Dulu saja Echa tak menolak untuk ikut bersamanya dan tak mau berdekatan dengan Ben. Apalagi sekarang, gadis itu sudah besar dan pasti sudah bisa mengutarakan pendapatnya tanpa harus melalui oranglain.


Rena takut mendengar penolakan. Ia tak sanggup jika nanti Echa masih saja tak mengakuinya sebagai ibu.


Ceklek...


Pintu terbuka dari luar. Nampak Leon masuk dengan cepat. Pria muda itu tanpa mengucapkan apapun langsung berjalan melewati keduanya.


"Leon, ada apa?" Rena segera mengejarnya karena merasa ada yang tidak beres dengan Leon.


"tidak." Jawabnya sambil mengambil air minum lalu meneguknya habis.


Ben menarik tangan Rena lembut.


"biarkan dia sendiri." Ben lebih peka darinya.


Sebagai sesama pria, ia bisa merasakan apa yang tengah Leon rasakan. Ben mengira jika Leon sepertinya tengah bimbang karena ini pertama kali baginya kembali lagi ketempat dimana ia di lahirkan. Setidaknya akan banyak kenangan yang pria muda itu rasakan.


Rena mengangguk.


"Leon, kita akan keluar untuk mencari makan malam. kau ingin sesuatu?" Tanya Rena.


"aku bisa membelinya sendiri."


Rena dan Ben pun pergi. Leon mendudukkan tubuhnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, pertemuan dengan wanita tadi membuatnya merasa semakin tak terkendali saja. Jantungnya terus berpacu dengan cepat.


Ia tahu jika wanita itu adalah Echa. Tapi, kenapa sulit baginya untuk mengaku kalau ia adalah Leon. Adik kecil yang selalu menangis di pelukannya.


...*******************...


Kris membanting semua barang yang ada di dekatnya. Ia marah besar saat tahu jika Leon sudah pergi meninggalkan rumah.


Haeun yang melihat itu hanya menunduk kepala. Meski tahu Kris tak akan memukulnya tapi tetap saja melihat pria itu seperti ini membuatnya takut.


"br*ngsek. kenapa kau membiarkannya pergi?" Teriak Kris keras.


Haeun semakin takut di buatnya. Tubuhnya bergetar hebat. Kris benar-benar murka.


...******************...

__ADS_1


__ADS_2