
"jadi.. malam pertama yang tertunda itu... bagaimana rasanya?" Rega menatap wajah Arfian dengan tampang tak bersalahnya.
Tak peduli meskipun Arfian saat ini tengah kesal padanya. Ia tahu sudah sangat keterlaluan karena memberikan obat seperti itu pada Arfian, tapi yang dia lakukan hanya untuk membuat hubungan kedua pengantin baru itu harmonis.
Niatnya baik tapi cara yang di lakukannya adalah sebuah kesalahan.
"kau sengaja melakukannya?" Desis Arfian.
"hehehe..." Rega menggaruk tengkuknya. "aku .. hanya ingin Echa cepat-cepat memiliki adik.."
"ck..kau ini. kau tahu apa yang terjadi semalam?"
Rega menggelengkan kepalanya. Mana tahu apa yang terjadi karena dia tak berada di sana kan. Arfian menghela nafas panjang, lalu menjewer telinga yang lebih muda itu dengan jengkel.
"gara-gara dirimu anu..itu..aku..iisshhh.." Rasanya malu mengatakannya dengan jelas. "milikku tak bisa tidur. dia terus berdiri semalaman."
Rega meringis karena jeweran di telinganya begitu keras tapi di saat yang bersamaan juga dia menahan tawanya. Tak tahu jika obat itu akan membuat Arfian seperti itu.
"aadduuuhhh.. iya-iya. aku akan minta maaf, apa pun yang kakak minta aku akan melakukannya."
Arfian melepaskan jeweranya.
"cih... sudahlah, kau pulang saja. aku harus bekerja." Usir Arfian.
Pekerjaan kantor nya menumpuk karena beberapa hari bolos demi mempertemukan Leon dengan Hanum. Tapi, semua sia-sia saja karena Kris sungguh bukan lawan yang harus dia singkirkan.
"baiklah. aku harus berangkat kuliah." Rega mengusap telinganya yang memerah. "sakit sekali." Keluhnya.
Dan di rumah, Rahel nampak meringis menangis sakit di pinggangnya. Semuanya terasa sakit karena perbuatan Arfian. Pria itu sungguh bersikap terlalu liar.
"mommy.." Panggil Echa heran, menatap Rahel yang sepertinya kesulitan sekali berjalan.
"ah..sayang. mommy hari ini tak mengantar sekolah ya?"
"ummm... mommy sakit ya?"
Rahel tersenyum sambil mengangguk. Echa menghampiri Rahel yang sedang bersandar pada pintu. Gadis itu meraih tangan Rahel lalu tersenyum lebar.
"iya. mommy telpon kak Sena saja. biar Echa kesekolah sama kak Sena."
"pintar. kalau begitu, Echa habiskan makannya dulu." Mengusap wajahnya lembut.
Rahel berjalan dengan susah payah menaiki tangga untuk bisa menuju kamarnya yang berada di lantai dua, mengambil ponselnya untuk menghubungi Sena.
"iishsh.. kak Ar benar-benar deh." Keluhnya.
Memegang pinggangnya yang serasa mau patah. Duduk perlahan di atas kasur lalu segera menekan tombol hijau untuk menghubungi Sena.
Drt..Drt...
Sena segera memakai bajunya lalu mengambil ponselnya.
__ADS_1
"iya kak Rahel."
"......................"
"aku mau kepasar. tapi, tenang saja aku akan mengantarkan Echa. lagi pula hari ini toko tutup."
"......................"
"hum...aku akan kepasar setelah mengantar Echa saja. iya..jangan sungkan, tak merepotkan kok."
".................."
"aku akan segera kesana."
Panggilan pun terputus. Sena langsung memberitahukan kepada Rada jika Rahel memintanya untuk mengantarkan Echa kesekolah.
"mah, aku akan mengantarkan Echa. Kak Rahel kurang enak badan katanya."
Rada yang sedang menikmati teh hijau nya langsung berdiri.
"apa? mamah ikut ya, sekalian mau lihat keadaan Rahel."
"baiklah."
Pada akhirnya mereka berangkat berdua. Rada hanya takut Rahel sakit parah sehingga tak bisa bangun dari tempat tidur jadi ia pun segera pergi kerumah nya untuk memastikan semuanya.
...****************...
"apa ini benar? Hanum..." Tubuhnya meresot kelantai, ponselnya pun sampai terlepas dari genggamannya.
"tidak. pasti ini hanya lelucon saja."
Mengambil kembali ponselnya lalu mengecek isi pesan itu dengan perasaan tak karuan. Sebuah pesan yang mengatakan jika Hanum telah meninggal.
Rena merasa ini sebuah guyonan saja, mana mungkin orang yang begitu sehat meninggal secara mendadak, meskipun ia tahu jika kematian bukanlah hal yang bisa di rencanakan.
Membaca ulang pesannya, mengirimkan balasannya dengan cepat. Tak butuh waktu yang lama pesan balasan kembali ia terima.
Temannya mengatakan jika tak tahu dengan jelas tentang kematian Hanum. Mereka pun merasa terkejut karena berita duka itu datang begitu saja.
"apa dia sudah bertemu Leon atau tidak?" Gumam Rena.
Leon merenggut lelah, ini sudah 2 jam lebih ia duduk di kursi. Matanya bahkan terasa perih karena menahan kantuk. Dengan malas ia melihat kedepan, memperhatikan papan tulis.
"mamah, Leon ngantuk." Adanya pada Haeun yang baru masuk membawa beberapa cemilan juga jus buah.
Haeun tersenyum, mengusap kepala Leon.
"setelah semuanya selesai kau bisa tidur sepuasnya. Ini pelajaran terakhir kan?"
"humm..."
__ADS_1
Guru les Leon menatap bocah itu dengan pendangan kasihan. Tak seharusnya anak usia 3 seperti ini di paksa untuk terus belajar karena di usianya sekarang seharusnya sedang asyik bermain.
"tuan muda. hari ini cukup sampai di sana sini." Membereskan semua buku. Sebenarnya masih ada waktu setengah jam untuk mereka belajar. .
Haeun mengeryit, melihat jam di dinding. Guru cantik itu berdeham pelan.
"sepertinya Leon mengantuk jadi aku rasa cukup sampai di sini saja belajar nya." Jelasnya sebelum Haeun melontarkan pertanyaannya.
Haeun tersenyum. Rupanya guru Leon lebih pengertian di banding Kris, yang merupakan ayah nya sendiri.
...*****************...
Echa duduk termenung di bangku taman belakang sekolah. Ia merasa kesepian, di sini meskipun banyak sekali orang. Sudah jelas karena di sekolah Echa tak memiliki teman, sifatnya yang tempramen saat bersama orang lain membuat teman-teman sekelasnya tak mau berteman ataupun hanya sekedar untuk menyapa.
Sena yang melihat itu langsung menghampirinya, duduk di samping Echa.
"Echa, tak main ayunan atau perosotan?"
Echa menggelengkan kepalanya. Jadi teringat Leon begitu melihat dua permainan itu.
"kenapa?" Tanya Sena khawatir.
"kakak, teman ku hanya Leon. tapi dia pergi sekarang."
"humm.." Sena tak bisa berkata lagi. Iya pun ikut diam, wanita tak terlalu pandai menghibur seorang anak kecil.
Sementara itu Rahel tengah di buat malu oleh Rada. Wanita paruh baya itu terus saja menggodanya. Terlalu senang karena akhirnya keduanya telah melakukan hal yang seharusnya. Meskipun Rahel tak mengatakannya tapi Rada bisa tahu dengan sangat jelas.
Apalagi begitu melihat leher dan juga cara jalan Rahel yang sedikit aneh. Ia menebak jika Arfian telah mendapatkan haknya sebagai seorang suami.
"apa sehebat itu Arfian, sampai pinggangmu sakit?"
"mamah."
"hahha.. iya-iya. tak usah malu, mamah juga pernah kok merasakannya."
Rahel menunduk dalam, malu sekali rasanya.
"ingat, kalian harus sering melakukannya agar segera...."
"mamah sudah, aku malu." Sela Rahel cepat. Buru-buru masuk kembali kedalam kamarnya.
"anak muda zaman sekarang. tenaganya kuat-kuat." Ujarnya sambil membuat bubur.
Ia pikir Rahel benar-benar sakit seperti apa yang di katakan Sena, jadi dia langsung membuat bubur begitu tiba. Tapi, rupanya Rahel baik-baik saja, hanya merasa kurang sehat di bagian pinggang yang serasa mau patah.
Rahel berdiri di depan cermin, memperhatikan tanda merah yang cukup banyak di bagian leher juga tulang selangka nya.
"ihh..kak Ar keterlaluan." Gerutunya.
Merasa jika dia harus menutupi bagian itu, mencari baju yang cukup tertutup. Takut jika Echa melihatnya maka di pastikan gadis yang selalu ingin tahu itu akan banyak melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
...*****************...